NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Prinsip yang Tak Bisa Ditawar

Di sebuah kafe yang tak terlalu ramai, suara musik mengalun pelan, aroma kopi yang baru diseduh menguar di udara. Fahri duduk menyandar di kursinya, jaket Levis masih melekat di tubuhnya. Bagus dan Fikri ada di seberang meja, masing-masing sibuk dengan gelas minum dan makanan ringan.

“Sumpah, Ri,” kata Bagus sambil tertawa kecil, “aksi lo kemarin tuh… gila sih.”

"Bener," sahut Fikri. "Jantung gue rasanya mau copot waktu lihat lo masuk kolong truk gandeng. Gue pikir gak bakal bisa lihat lo lagi."

Fahri tidak menanggapi. Ia menatap kosong kaca jendela kafe yang menampilkan lalu lalang kendaraan.

Suara high heels terdengar mendekat. Seseorang berhenti di sisi meja mereka. “Boleh aku duduk?”

Bagus dan Fikri refleks mendongak lebih dulu. Senyum mereka sempat membeku sesaat. Mereka saling lirik.

Mereka tahu itu perempuan yang kemarin. Yang dipeluk mesra oleh kakaknya Fahri di depan minimarket.

Fahri mengangkat wajahnya pelan.

Zahra berdiri di sana. Rapi, tenang, tanpa raut canggung. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Fahri, dan ia tidak menghindar.

“Silakan,” jawab Fikri akhirnya, agak kikuk.

Zahra menarik kursi kemudian duduk. Ia tidak langsung bicara. Matanya menyapu mereka bertiga, lalu berhenti di Fahri lebih lama dari yang lain.

“Aku pernah lihat kalian balapan,” katanya akhirnya. Suaranya datar, tidak menggurui. “Beberapa kali.”

Bagus terkekeh kecil. “Serius, Kak?”

Zahra mengangguk. “Terutama kamu.” Tatapannya ke Fahri. “Cara kamu ambil tikungan… itu bukan nekat. Itu insting.”

Fikri dan Bagus langsung saling pandang. Mata mereka berbinar.

“Gue bilang juga apa!” Bagus menyikut Fikri. “Fahri emang beda.”

Fahri tetap diam. Wajahnya datar. Sama sekali tak terlihat bangga atau pun tertarik.

Zahra melanjutkan, “Aku punya kenalan di dunia balap. Legal. Sirkuit. Tim kecil, tapi serius. Kalau kalian berminat, aku bisa bantu kenalin.”

Bagus langsung condong ke depan. “Balap legal?”

“Iya,” sahut Zahra. “Tanpa kejar-kejaran polisi. Tanpa nyawa dipertaruhkan di jalan umum. Ada yang kasih arahan buat mengasah bakat. Prospek jadi pembalap nasional, bahkan internasional bisa terbuka.”

Fikri tersenyum lebar. “Kalau ini beneran,… gila sih.”

Zahra tersenyum tipis. “Aku nggak bercanda.”

Ia menoleh ke Fahri lagi. Menunggu.

Fahri akhirnya bergerak. Ia menyandarkan punggung lebih dalam ke kursi, lalu menyilangkan tangan di dada.

“Lo tahu Ayza?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Tajam, tanpa emosi, dan justru karena itulah berbahaya.

Zahra tidak terlihat kaget. Ia mengangguk kecil. “Tahu.”

Bagus dan Fikri saling pandang lagi, bingung.

Fahri menatap Zahra lama. Lalu tertawa pendek, kering.

“Kalau lo tahu,” katanya pelan, “kenapa lo nggak menjauh dari kakak gue?”

Tiba-tiba meja itu hening. Hanya terdengar suara musik yang mengalun pelan, dan mesin kopi yang mendesis dari balik bar.

Zahra menatap Fahri tanpa defensif. Tidak membela diri, tidak menyangkal. Tapi juga tidak menunduk.

“Itu urusan orang dewasa,” jawabnya tenang.

Fahri mengangguk pelan. “Iya.”

Ia berdiri, mendorong kursinya ke belakang. “Dan ini urusan prinsip.”

Ia menatap Bagus dan Fikri sekilas. “Gue cabut.”

“Ri—” Bagus refleks berdiri setengah.

Tapi Fahri sudah melangkah pergi.

Zahra mengikuti punggungnya dengan pandangan yang sulit dibaca. Bukan marah, bukan pula malu. Lebih seperti… memahami.

Bagus menggaruk tengkuknya. “Kak… Fahri emang gitu.”

Zahra tersenyum tipis. “Aku tahu.” Ia meraih tasnya dan ikut berdiri. “Kalau kalian masih tertarik,” katanya pada Bagus dan Fikri, “pintu itu tetap ada.”

Lalu ia melangkah pergi.

Di luar kafe, Fahri menyalakan motornya. Mesin meraung. Di dadanya, ada sesuatu yang bergejolak, bukan tentang balap. Bukan tentang masa depan.

"Ada satu hal yang gak bisa gue toleransi, bahkan dari orang yang datang membawa peluang." batinnya. "Kemudahan tanpa batas moral."

Dan itu, baginya, lebih berbahaya dari kecepatan apa pun.

---

Sementara itu di parkiran kafe, di dalam mobilnya, Zahra tersenyum kecil.

"Aku tak percaya bocah itu bisa bersikap sedingin itu."

Biasanya, laki-laki seperti Fahri akan mudah terpancing, uang, koneksi, atau sekadar janji masa depan yang lebih terang.

“Cepat atau lambat, laki-laki selalu memilih jalan yang paling menguntungkan." Ia tersenyum penuh keyakinan.

Namun senyum itu perlahan memudar.

Reaksi Fahri tadi… bukan sekadar penolakan.

Selama ini Fahri selalu acuh. Tak pernah benar-benar peduli pada hubungannya dengan Reza, apalagi ikut campur. Tapi tadi—

Ia menyebut nama Ayza.

Zahra mengepalkan jemarinya di atas setir. Bukan hanya menyebut. Nada suaranya jelas. Tegas. Dan berpihak.

Ayza.

Dan entah kenapa, hal itu mengusik lebih dari yang ia duga.

"Jika bocah itu berdiri di sisi Ayza, ini bukan kabar baik."

Bukan untuk rencananya.

Bukan untuk hubungannya dengan Reza yang selama ini ia jaga agar tetap stabil, atau setidaknya, tampak stabil.

Zahra menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Tenang, Zahra." ucapnya pada dirinya sendiri. "Satu penolakan bukan kekalahan. Dan Fahri… hanya belum melihat keuntungan yang sesungguhnya."

Ia kembali tersenyum, kali ini lebih tipis. "Kita lihat nanti."

***

Reza keluar dari ruang kerjanya tepat saat jam kantor usai. Jasnya masih rapi, langkahnya tenang.

Di lobby, Zahra sudah menunggu. Gaunnya sederhana tapi jatuh sempurna di tubuhnya. Rambut tergerai rapi, senyum memesona terukir begitu mata mereka bertemu. Tanpa ragu, ia menghampiri dan langsung memeluk lengan Reza, seolah itu hal paling wajar di dunia.

“Udah lama nunggu?” tanya Reza, menoleh sekilas.

“Belum kok,” jawab Zahra ringan, senyumnya tak pudar.

Mereka melangkah berdampingan menuju parkiran. Langkah mereka seirama dan terlihat serasi. Terlalu serasi.

Beberapa karyawan yang berpapasan mulai berbisik-bisik. Tatapan mata mengikuti mereka. Ada yang tersenyum, ada yang berdecak kagum.

“Cocok banget ya.”

“CEO sama fotomodel.”

“Pantes.”

Cantik dan tampan. Pasangan berkelas yang ideal, seolah diciptakan untuk dipamerkan.

Sementara di rumah, ada perempuan lain yang menyiapkan makan malam tanpa pernah menuntut tempat di sampingnya. Dan bahkan tak ada yang tahu posisinya di sisi Reza.

Dan Reza tak sadar atau pura-pura lupa, siapa yang seharusnya ia tempatkan di sisinya. Kesalahan yang suatu hari nanti tak akan pernah bisa ia tebus dengan apapun. Karena kesempatan kedua, tak selalu ada.

***

Fahri berdiri di tepi pantai, menatap laut yang berkilau di bawah sinar bulan. Debur ombak menerjang karang berulang-ulang. Suaranya riuh, seperti isi dadanya.

Ingatannya kembali pada kata-kata Zahra siang tadi.

Kesempatan emas.

Ia menghela napas panjang. Rahangnya mengeras saat bayangan itu muncul, wanita bercadar di rumah. Wanita yang selalu ada, tenang, dan memastikan rumah rapi, memastikan mereka baik-baik saja.

“Gue gak suka dia karena terlalu ngatur,” gumam Fahri lirih. “Tapi gue juga gak suka dia… dikhianati.”

Ia menghembuskan napas kasar, lalu berjalan menyusuri garis pantai. Air laut menjilat telapak kakinya. Pandangannya kosong, sampai sesuatu menarik perhatiannya.

Sebuah mobil.

Fahri memperlambat langkah. Mobil itu familiar. Terlalu familiar.

Ia berhenti. Dadanya berdegup lebih cepat. Tatapannya mengeras saat ia mengenali bentuk bodi, warna, bahkan plat nomor yang sudah terlalu sering ia lihat di rumah.

---

...🔸🔸🔸...

...“Kecepatan bisa dibayar dengan nyawa. Tapi kehilangan prinsip, dibayar dengan diri sendiri.”...

...“Ada kemudahan yang harganya terlalu mahal untuk diterima.”...

...“Yang paling berbahaya bukan jalanan, tapi orang yang tahu salah, tapi tetap melangkah.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
phity
tentu sja zahra tdk akan mau merawatmu krn kerjaannya lbh penting drpd mo merawat orng sakit nanti tangan nya jd kasar kuku cantiknya jadi rusak...
asih
cantik Karna visual akan rapuh saat bertambahnya usia
LibraGirls
Oh my god gk sangup sampai ayza tau wlpn dia gk ada perasaan sm rezza tp dia udah bertangung jwb sebagai istri sirih nya reza
LibraGirls
Km percaya dia tertidur pules bisa² dia clubbing ma teman² nya dunia model begitu kenapa elo bego banget si za gk suruh org ngikutin si Zahra 😤
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!