Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
#21
Secepat kilat, Lilis membersihkan singkong yang masih segar tersebut. Membumbuinya hingga terhidang di meja dengan aroma bawang yang wangi, serta lezat di santap.
“Wanginya, sepertinya enak, di kota jarang ada makanan otentik semacam ini.”
“Eh, iya, silahkan, Nyonya, singkongnya juga masih segar, barusan Mas Rayyan yang bantu panen dari kebun di belakang rumah.”
Rosa menelan ludah, melotot tak percaya menatap anak majikannya, “Beneran, Ray?”
Rayyan mengangguk, sedikit bangga walau efeknya, pinggang sedikit nyut-nyutan. “Hehehe, kan biasanya tugasku juga merawat kebun di rumah, Tante.”
Rosa menyeringai, mengikuti sandiwara lucu atas permintaan Rayyan. Tak apalah, toh tujuan utamanya adalah berkenalan dengan wanita yang kini menjadi istri Rayyan.
Ketiga orang itu berbincang dengan suasana hangat, serta akrab, sementara Bu Saodah yang juga ikut bergabung di meja makan, justru terabaikan. Wajahnya ketus dan menampakkan ketidaksukaan yang amat nyata. “Cih, bisa cabut singkong saja, bangganya kayak habis dapet harta karun,” dengusnya dalam hati.
Sebenarnya Lilis, Rayyan ataupun Rosa tak berniat mengabaikan, tapi karena Bu Saodah sendiri yang tetap bersikap judes, jadi, apa boleh buat.
Uap panas dari Kopi hitam di hadapan Rayyan sudah mulai berkurang, pria itu mulai menyeruput cairan hitam kental sedikit manis buatan istrinya tersebut. Surprise banget, ternyata kopi buatan istrinya memang lebih sedap dibandingkan buatan ART di rumah.
Pantas saja pelanggan warung kopi Lilis betah nongkrong di warung, “Wah, kopi buatanmu juga enak, loh. Tante suka. Iya, kan, Ray?”
“Uhuk! Uhuk!”
Tiba-tiba Rayyan terbatuk, karena pria itu masih tenggelam dalam lamunannya.
Dengan cekatan Lilis memijat tengkuk Rayyan, lembut namun ditekan dengan kekuatan yang pas, lagi-lagi hal itu mampu membuat bulu kuduk Rayyan makin semriwing.
“I-iya, enak— kopinya,” jawab Rayyan gugup, dengan perlahan pria itu menepis tangan Lilis. “Sudah, aku tak apa-apa.”
Adegan itu disaksikan Rosa dengan mata kepalanya sendiri. Mau tak mau, ia jadi teringat dirinya dulu ketika awal-awal menikah dengan Agung. Mungkin perasaan Rayyan sama dengan perasaannya saat itu, gugup, malu, bingung, hendak mulai dari mana dulu, karena semua terjadi secara tiba-tiba.
Tapi, pada akhirnya semua tumbuh, dan berjalan secara alami, tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
“Yakin, sudah tak apa-apa?”
“Iya, terima kasih, kopi dan singkong gorengnya enak. Tapi aku harus pergi sekarang,” pamit Rayyan, bukan lari, tapi menjaga jangan sampai kelepasan, ada Rosa dan Bu Saodah di sekitar mereka. Pasti tak akan leluasa. “Oh, iya. Mana kartu keluargamu, mumpung ke kota, aku akan mampir KUA mengurus surat nikah juga.”
Kedua mata Lilis membola, kenapa Rayyan mengurus buku nikah? Bukannya ini hanya pernikahan sementara?
“Eh, itu, mmmm— maaf, Nyonya, kami perlu bicara berdua sebentar.”
“Silahkan, lama juga tak apa.” Rosa mempersilahkan.
Blush!
Ucapan Rosa membuat wajah Lilis merona, wanita itu pun berjalan lebih dulu ke kamarnya. Rayyan menyusul kemudian.
“Kenapa?”
“Mas lupa perkataanku sebelum akad?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa Mas bersikap seakan ini pernikahan sungguhan?”
Keduanya bicara dengan suara berbisik, takut jikalau Rosa mendengarnya.
Rayyan menatap kedua mata bulat istrinya, “Tatap kedua mataku, Lis. Amati wajahku dengan benar, dan tanyakan ada dirimu. Apa kamu rela melepaskan pria setampan diriku? Apa kamu rela jika kelak melihatku menyanding wanita lain? Kamu belum mengenal sepenuhnya siapa aku, kenapa buru-buru ingin berpisah, hmm?”
Deg!
Rayyan sombong? Benar.
Tapi ia hanya ingin Lilis tahu, bahwa dirinya tak bermaksud sombong dalam arti kata yang sesungguhnya. Hanya ingin membuat Lilis memikirkan kembali niatnya sebelum mengawali pernikahan.
“T-tapi, Mas—”
“Di luar sana banyak wanita yang menginginkan posisimu saat ini, apa kamu masih ingin menyandang gelar janda, sementara ada pria yang bersedia menerimamu apa adanya?” Rayyan tak memberi kesempatan Lilis untuk melanjutkan kalimatnya.
Deg!
Deg!
Jantung Lilis berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya, sejujurnya Lilis pun tak sanggup menampik kenyataan. Bahwa setelah beberapa mengenal Rayyan, pria itu tak sekedar pria bertanggung jawab, tapi Rayyan juga tampan, dan baik hatinya.
Apakah Lilis rela melihat pria yang telah menerima status jandanya, bersanding dengan wanita lain?
Jelas tak rela, tapi Lilis tak mau melambungkan angan terlalu tinggi, takut bila nanti ia hanya dihempas kekecewaan seperti pengalaman pernikahan pertamanya.
“Bagaimana?” ulang Rayyan.
Lilis menggeleng pelan, membuat Rayyan tersenyum senang, “Good, sekarang berikan padaku semua dokumen yang aku butuhkan untuk mendaftarkan pernikahan kita secara resmi.
“Boleh aku bertanya, Mas?”
“Hmm, tanyakan apa yang ingin kamu ketahui.”
“Apa Mas tidak akan menyesalinya?”
“Aku memulainya dengan bismillahirrahmanirrahim, yakin bahwa Allah sudah menyiapkan segala macam kemudahan ketika kita berniat memulai suatu kebaikan.”
Tes!
Air mata Lilis menetes tanpa ia sadari, layakkah ia mendapatkan pria sebaik ini? Padahal mantan suaminya saja pernah menghina dan menganggapnya rendah, seolah ia tak layak menjadi istri, hanya karena ia dari desa dan tak memiliki pendidikan layaknya wanita dari kota.
“Kenapa menangis?” Rayyan mengusap air mata yang meluncur dari kelopak mata bulat Lilis. “Apakah dulu, suamimu tak pernah memperlakukanmu dengan baik?”
Lilis menggeleng, “Tidak apa-apa, Mas, aku ingin melupakan yang sudah berlalu.”
Kemudian Lilis membuka laci mejanya, dan mengeluarkan beberapa dokumen yang Rayyan butuhkan untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Kemarin penghulu desa sudah memberi Rayyan surat kuasa, serta tanda tangan yang menyatakan bahwa telah terjadi pernikahan.
Dan surat kuasa itu sah, akan diterima pihak KUA untuk diproses ke tahap berikutnya.
“Ini, Mas.”
Lilis menyerahkan Kartu Keluarga, KTP, akta cerai, serta dokumen lain yang nanti akan Rayyan butuhkan.
“Baiklah, Mas pergi dulu,” pamit Rayyan, setelah mendapatkan semua dokumen yang ia butuhkan. Namun, gerakannya terhenti ketika ingat sesuatu.
“Apa lagi, Mas?”
“Salim.” Rayyan mengulurkan tangannya. Seperti kemarin pagi ketika ia pamitan pada Lilis. Lilis tersenyum, tapi tetap mencium punggung tangan suaminya dengan ikhlas.
Tiba-tiba Rayyan melakukan hal yang membuat jantung Lilis kembali melompat keluar dari tempatnya.
Cup
Sebuah kecupan lembut Rayyan tinggalkan di kening, di kedua pipinya, lalu berakhir di bibir. Ciuman pertama yang lembut, namun membuat detak jantung berdebar menggila seperti genderang di medan perang.
“Sekarang baru bisa benar-benar pergi,” ucap Rayyan, setelah mengakhiri aksi nekatnya untuk kali pertama. Meninggalkan Lilis yang masih terdiam, belum sadar sepenuhnya bahwa yang ia alami barusan adalah kenyataan, bukanlah mimpi belaka.
Lilis meraba bibirnya, bagi Lilis, ciuman lembut itu seperti sengatan listrik yang membuat konslet seluruh aliran pembuluh darah serta otaknya.
Tak jauh beda dengan Lilis, Rayyan pun hanya pamit sekedarnya pada Rosa, karena wajahnya pun sudah merah padam, menahan rasa panas dan gejolak di dada. “Jalan, Pak. Tapi kita harus menangkap tikus kecil dulu.”
“Baik, Tuan Muda.”
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Desa Kembang Turi, Rayyan mampir sejenak ke rumah Nanang guna mengambil laptop dan perlengkapan kerjanya. Ada anak ingusan yang berani bermain-main dengan barang pribadinya. Rayyan tak akan tinggal diam, akan ia pastikan ini akan jadi pengalaman paling pahit dalam hidup Arimbi.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭