Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Retak di Dalam Perisai
Suara dari interkom itu seperti sayatan pisau di tengah kesunyian ruangan kantor Marco yang megah. Aruna tetap berdiri tegak, meski ia merasakan ujung jarinya mulai mendingin. Di hadapannya, Marco tampak kembali menemukan kepercayaan dirinya. Pria tua itu menyandarkan tubuh tambunnya ke kursi kulit, memutar-mutar cerutu yang belum dinyalakan dengan senyum kemenangan yang memuakkan.
"Angkat panggilannya," perintah Marco pada asistennya melalui tombol di meja.
Suara di seberang sana terdistorsi oleh alat pengubah suara, namun nadanya dingin dan penuh perhitungan. "Tuan Marco, jangan terburu-buru menyerah pada gertakan wanita itu. Flashdisk yang ia bawa memang asli, tapi kuncinya bukan pada data tersebut. Kuncinya ada pada putra kecilnya yang baru saja meninggalkan bunker."
Jantung Aruna seolah berhenti berdetak. Bumi.
"Apa maksudmu?" tanya Marco, matanya kini berkilat menatap Aruna yang wajahnya mulai memucat.
"Dante Valerius terlalu lemah untuk menjaga gerbangnya sendiri. Ada orang dalam yang baru saja membawa bocah itu keluar dengan alasan pemindahan darurat ke lokasi aman. Jika Anda ingin Aruna bertekuk lutut, Anda hanya perlu menunggu sepuluh menit lagi sampai bocah itu tiba di tangan orang-orang saya."
Sambungan terputus.
Marco tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di ruangan kaca itu. "Lihatlah, Aruna. Kau mencoba bermain catur denganku, tapi kau lupa bahwa pionmu sangat mudah untuk diculik. Siapa pria yang kau cintai itu? Dante si Vulture? Ternyata dia hanyalah seekor burung yang sayapnya sudah patah dan tidak bisa menjaga sarangnya sendiri."
Aruna merasakan kemarahan yang luar biasa membuncah di dadanya. Namun, di balik kemarahan itu, otaknya bekerja cepat. Siapa yang bisa membawa Bumi keluar? Enzo? Tidak mungkin. Martha? Martha sangat setia. Hanya satu orang yang memiliki akses dan motivasi untuk menghancurkan Dante dari dalam setelah kematian Bianca.
"Siapa yang meneleponmu, Marco?" tanya Aruna, suaranya kini rendah dan berbahaya.
"Kenapa aku harus memberitahumu? Sebentar lagi, kau akan memberikan flashdisk itu, memberikan kata sandinya, dan memohon padaku untuk tidak menguliti anakmu," Marco meraih telepon di mejanya. "Berikan flashdisk itu sekarang, atau aku akan memerintahkan mereka untuk tidak perlu membawa anakmu dalam keadaan hidup."
Aruna menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kelembutan adalah dosa. Ia menatap Marco dengan tatapan yang membuat tawa pria itu perlahan surut.
"Kau pikir aku datang ke sini tanpa rencana cadangan bagi anakku?" Aruna melangkah maju, menumpukan kedua tangannya di meja kaca Marco, menatap langsung ke mata pria itu. "Dante memang terluka, tapi dia tidak bodoh. Dan aku... aku bukan lagi wanita yang kau kenal dua tahun lalu."
Aruna menyentuh cincin di jari manisnya—cincin yang diberikan Enzo tadi. Ia memutar permata kecil di atasnya. "Enzo, sekarang!" bisiknya.
Tiba-tiba, lampu di seluruh Menara Obsidian padam. Suara alarm tanda bahaya meraung-raung, dan sistem pencegah kebakaran mulai menyemprotkan air di lorong-lorong luar. Di layar monitor Marco, semua sistem keamanan menjadi blur terkena gangguan frekuensi tinggi.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Marco, ia mencoba meraih laci mejanya, kemungkinan besar mencari senjata.
Aruna lebih cepat. Ia meraih asbak kristal berat di atas meja dan menghantamkannya ke tangan Marco sebelum pria itu sempat membuka laci. Marco mengerang kesakitan, memegangi jemarinya yang patah.
"Anakku tidak pernah meninggalkan bunker, Marco," desis Aruna. "Suara telepon tadi? Itu adalah umpan yang kami buat untuk memancing siapa saja di pihakmu yang masih berani berkomunikasi dengan orang dalam Dante. Dan tebak apa? Sistem pelacak Dante baru saja mengunci lokasi penelepon itu."
Di tengah kegelapan yang hanya diterangi lampu darurat kemerahan, Aruna tampak seperti malaikat maut. "Penelepon itu tidak berada di luar. Dia ada di gedung ini. Di lantai bawah."
Pintu ruangan terbuka kasar. Dua penjaga Marco merangsek masuk, namun mereka langsung dijatuhkan oleh tembakan presisi dari arah jendela yang pecah. Dua sosok berpakaian taktis hitam meluncur masuk menggunakan tali rappel. Itu adalah Enzo dan satu anggota tim elit lainnya.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya Enzo sambil mengarahkan senjatanya ke kepala Marco.
"Aku baik-baik saja. Mana Dante?"
"Tuan Dante memimpin tim pembersihan di lantai 40. Penelepon itu tertangkap," jawab Enzo.
Aruna mendekati Marco yang kini gemetar di sudut kursinya. Ia mengambil kembali flashdisk perak itu. "Kau kalah, Marco. Kau terlalu tua untuk permainan ini. Kau terlalu mengandalkan rasa takut orang lain, sampai kau lupa bahwa orang yang tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan adalah musuh yang paling mematikan."
Sepuluh menit kemudian, Aruna dibawa menuju lantai 40. Di sana, di sebuah ruang server yang dingin, ia melihat Dante. Pria itu duduk di sebuah kursi besi, masih mengenakan perban yang mulai merembes darah, namun tangannya memegang pistol dengan sangat stabil. Di depannya, berlutut seorang pria yang Aruna kenali sebagai salah satu orang kepercayaan Dante di bidang keuangan, Silas.
"Silas..." Aruna berbisik tak percaya. "Kau yang mengkhianati Dante?"
Silas mendongak, wajahnya penuh keringat dingin. "Dante sudah gila! Dia menghancurkan bisnis kita demi kau! Marco menawarkan stabilitas! Aku hanya ingin menyelamatkan organisasi ini!"
Dante tidak berkata apa-apa. Ia menoleh ke arah Aruna. "Dia yang memberikan koordinat jalan buta pada Bianca. Dia yang mengatur agar tim Marco bisa masuk ke mansion."
"Dante, biarkan aku yang menyelesaikannya," ucap Aruna tiba-tiba.
Dante sedikit terkejut, namun ia memberikan senjatanya pada Aruna. Seluruh ruangan menjadi sunyi. Para penjaga menahan napas. Aruna memegang pistol itu, beratnya terasa asing namun pas di tangannya.
Ia menodongkan moncong senjata itu ke arah Silas. "Kau membahayakan nyawa anakku untuk uang, Silas? Kau menjual kesetiaanmu pada pria yang membunuh suamiku?"
"Aruna, tolong... aku punya keluarga..." rintih Silas.
"Suamiku juga punya keluarga! Dan kau membantunya dikubur lebih dalam!" Aruna meletakkan jarinya di pelatuk. Selama beberapa detik, ia berada di ambang kegelapan yang sesungguhnya. Jika ia menarik pelatuk ini, ia akan menjadi sama dengan mereka. Ia akan menjadi bagian dari rantai darah yang tak berujung.
Dante berdiri, ia melangkah di belakang Aruna dan meletakkan tangannya di atas tangan Aruna yang memegang pistol. "Jangan lakukan ini jika kau tidak siap menanggung hantunya, Aruna. Biar aku yang melakukannya."
Aruna menatap mata Dante. Ia melihat cinta dan keinginan pria itu untuk menjaga sisa-sisa kemanusiaan di dalam diri Aruna. Perlahan, Aruna menurunkan senjatanya.
"Tidak," ucap Aruna. "Kematian terlalu mudah baginya. Enzo, serahkan Silas dan semua data pengkhianatannya pada detektif Miller. Biarkan dia membusuk di penjara paling bawah, di mana semua orang yang pernah dikhianatinya menunggu."
Dante tersenyum tipis. Ia mengambil kembali senjatanya. "Kau dengar dia? Bawa dia pergi."
Setelah ruangan dikosongkan, Dante limbung. Aruna segera menangkapnya, membiarkan kepala pria itu bersandar di bahunya.
"Kau gila, Dante. Kau seharusnya di ambulans," bisik Aruna sambil menangis.
"Aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi Marco sendirian," gumam Dante. "Kau terlalu berharga untuk duniaku yang busuk ini."
"Kita harus pergi dari sini. Sekarang," Aruna memapah Dante menuju lift.
Malam itu, Menara Obsidian terbakar hebat. Bukan oleh bom, melainkan oleh kehancuran reputasi Marco yang datanya mulai bocor ke publik. Polisi mengepung gedung itu, namun Dante dan Aruna sudah menghilang dalam kegelapan malam.
Di dalam sebuah mobil yang melaju menuju perbatasan, Aruna memeluk Bumi yang akhirnya terbangun. Di sampingnya, Dante tertidur karena pengaruh obat bius setelah luka-lukanya dijahit kembali oleh tim medis di dalam mobil.
Aruna melihat ke luar jendela, ke arah cahaya kota yang kian menjauh. Ia tahu, Marco mungkin sudah jatuh, tapi dunia mafia memiliki seribu kepala. Jatuhnya satu raja berarti akan muncul sepuluh calon raja baru yang lebih haus darah.
Ia menggenggam tangan Dante yang kasar. Perjalanan 80 bab yang ia bayangkan sebelumnya baru saja dimulai di Bab 16 ini. Mereka bukan lagi pelarian; mereka adalah dua orang yang mencoba membangun surga di atas tumpukan bara api.
"Ibu, kita mau ke mana?" tanya Bumi pelan.
"Ke tempat yang jauh, Sayang. Di mana tidak ada lagi suara kembang api yang keras," jawab Aruna.
Namun, di dalam saku jasnya, ponsel Aruna bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk: "Kau pikir ini sudah berakhir? Marco hanyalah boneka. Pemilik Menara Obsidian yang sebenarnya baru saja mendarat di kota ini. Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Aruna Valerius."
Aruna mematikan ponselnya. Ia tidak akan memberitahu Dante—belum saatnya. Ia menatap lurus ke depan. Jika ia harus menjadi ratu mafia untuk melindungi keluarganya, maka biarlah dunia gemetar melihatnya.