NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelengahan

Hari-hari berlalu dengan ritme yang menipu, dan aku mulai membiarkan kewaspadaanku memudar. Itu adalah kesalahan fatal, kesalahan seorang amatir yang terbuai oleh keheningan sesaat. Di tempat seperti neraka, keheningan bukanlah kedamaian; itu hanyalah jeda sebelum badai mencabik-cabik segalanya.

Hari itu, kesibukanku dengan pemeliharaan senjata membuatku lalai. Cloudet, dengan rasa ingin tahunya yang terus tumbuh, turun ke aula utama tanpa pengawasan. Aku baru menyadarinya ketika atmosfer di kejauhan berubah frekuensi suara di aula mendadak menjadi gaduh, tidak beraturan, dan penuh dengan aura yang tajam. Bukan langkah kecil yang biasanya kukenal, melainkan suara gesekan kasar dan tawa rendah yang mengejek.

Cloudet sedang dalam wujud anak hellhound kecilnya. Ia melompat-lompat dengan canggung, telinga hitamnya yang besar mengepak tak karuan saat ia mencoba mengejar bayangannya sendiri. Ia tertawa kecil, suara parau yang terlalu polos untuk tempat yang dibangun dari penderitaan ini. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, terlalu buta untuk menyadari bahwa predator sedang mengawasinya dari bayang-bayang.

Dan saat itulah segalanya hancur.

Ia menabrak sesuatu atau lebih tepatnya, ia tertendang. Aku melihatnya dari kejauhan, sebuah gerakan kasar yang mengirim tubuh kecil itu melayang ke samping, berguling-guling pendek di atas lantai batu yang kasar sebelum berhenti dengan posisi meringkuk.

“Whii—!”

Ringkihan menyakitkan dari seekor anak anjing yang terluka membelah udara. Suara itu menghantam dadaku lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Aku membeku di tempat, darahku terasa mendidih seketika.

Calona berdiri di sana, menjulang tinggi di atas makhluk kecil yang gemetar itu. Ia menatap Cloudet dengan ekspresi jijik yang murni, seolah-olah ia baru saja menginjak sesuatu yang sangat kotor dan menjijikkan yang menempel di tumit sepatunya.

“Menjijikkan,” desisnya dingin, suaranya mengandung racun yang mematikan.

Cloudet berusaha bangkit. Kakinya yang mungil bergetar hebat, tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri karena trauma serangan mendadak itu. Ia meringkuk secara refleks, mencoba mengecilkan dirinya semaksimal mungkin, sementara ringkihan kecilnya melemah menjadi isakan yang tertahan.

Calona mengangkat tangannya, energi gelap mulai berputar-putar di ujung jarinya. Matanya berkilat dengan niat membunuh yang tidak disembunyikan.

“Dasar anak gundik,” ucapnya dengan nada yang begitu tajam hingga bisa merobek jiwa. “Berani-beraninya kau mengotori aula ini dengan keberadaanmu yang cacat—”

“JANGAN.”

Suaraku meledak melintasi aula sebelum akal sehatku sempat mengejarnya. Aku tidak sekadar berlari; aku meluncur seperti kilat hitam. Dalam sekejap mata, aku sudah berdiri di antara mereka, memunggungi Cloudet dan menghadapi ibuku sendiri.

Mataku menyala dengan cahaya kuning yang menyakitkan, taringku memanjang melewati bibir, dan napas yang keluar dari tenggorokanku terasa seperti uap belerang yang panas. Api neraka mendesir hebat di sekelilingku, menghanguskan lantai batu di bawah kakiku. Saat itu, aku tidak peduli pada hierarki. Aku tidak peduli pada rasa hormat. Siapapun yang berdiri di depanku adalah musuh yang harus dihancurkan.

“Jangan. Sentuh. Dia,”

kataku dengan suara rendah dan parau.

Calona terdiam sesaat, keterkejutan melintas di wajahnya yang cantik namun dingin. Lalu, ekspresi itu berubah menjadi senyum marah yang bengis.

“Kau mengancam ibumu sendiri? Demi makhluk rendah ini?”

Ia tidak menunggu jawabanku.

Plak!

Pukulan itu begitu cepat dan bertenaga, mengandung sihir penekan yang menghantam wajahku dengan kekuatan penuh. Aku terhuyung, kehilangan keseimbangan sesaat, dan jatuh tersungkur ke lantai batu. Dunia di sekitarku berputar tak beraturan, rasa panas yang menyengat menjalar dari rahangku yang terasa hampir patah.

Namun, aku tidak diam. Aku bangkit dengan posisi bertumpu pada satu tangan, langsung menoleh ke belakang untuk memastikan satu hal.

Cloudet.

Ia masih di sana, meringkuk dalam gumpalan bulu hitam yang bergetar hebat. Matanya yang besar, kini penuh dengan air mata ketakutan, menatapku dengan tatapan yang menghancurkan hatiku ia menatapku seolah-olah aku adalah satu-satunya hal yang tersisa di dunia ini, satu-satunya penghalang antara dirinya dan kematian.

Calona melangkah melewatiku, mengabaikan keberadaanku seolah aku hanyalah debu. “Kalau begitu,” katanya dengan nada yang datar namun mematikan, “aku akan menyelesaikan masalah ini langsung dari akarnya.”

Ia mengangkat tangannya lagi, bersiap untuk menghancurkan segalanya.

“BERHENTI.”

Suara itu tidak hanya terdengar; itu bergema di dalam tulang sumsum. Aula itu bergetar hebat. Berat, dalam, dan dipenuhi dengan otoritas purba yang membuat setiap makhluk di sana tunduk secara insting.

Calona membeku total. Tangannya tertahan di udara.

Aku menoleh perlahan ke arah sumber suara. Gerbang obsidian yang besar itu terbuka lebar, dan sosok yang berdiri di sana membuat suhu ruangan turun drastis.

Jover. Ayah telah kembali.

Aura yang sudah lama menghilang kini kembali memenuhi ruangan dengan tekanan yang begitu pekat hingga api di pilar-pilar besar meredup, seolah tunduk pada kehadirannya. Matanya yang dingin menatap lurus ke arah kekacauan di tengah aula, lalu turun ke bawah, tertuju pada makhluk kecil yang masih meringkuk ketakutan di lantai.

Cloudet.

“Apa yang sedang terjadi di sini,” tanya Jover

pelan. Namun, tidak ada satu pun dari kami yang berani menganggap itu sebagai pertanyaan biasa. Itu adalah tuntutan penjelasan yang bisa berujung pada eksekusi.

Calona menurunkan tangannya perlahan, mencoba menguasai dirinya kembali

“Dia hanyalah pengganggu, Jover. Dia—”

Jover mengangkat satu tangan, dan seketika itu juga, Calona terdiam. Sunyi total.

Ia melangkah masuk, setiap langkahnya menciptakan dentuman sunyi yang menekan dada. Ia melewati Calona tanpa meliriknya sedikit pun, seolah istrinya itu tidak lebih penting dari pilar batu di sampingnya. Ia kemudian berhenti tepat di depan Cloudet dan berlutut. Tangannya yang besar dan kasar terulur, namun ia menghentikannya tepat beberapa senti sebelum menyentuh bulu Cloudet, seolah ragu apakah tangannya yang pernah berlumuran darah pantas menyentuh kemurnian itu.

Cloudet menatap pria dihadapan dengan mata berkaca-kaca. insting hibridanya meneriakkan sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

“…Ayah,” ucapnya lirih.

Satu kata itu cukup untuk membuat aula yang luas itu menjadi sunyi senyap. Aku melihat rahang Jover mengeras seketika, otot-otot di lehernya menegang. Ada sesuatu yang bergejolak di balik tatapan matanya yang biasanya sedingin es.

Lalu ia berdiri perlahan. Transformasi auranya begitu nyata hingga aku melihat Calona, untuk pertama kalinya seumur hidupku, dia mundur satu langkah dengan wajah pucat.

“Tidak ada yang,” kata Jover dengan suara yang sangat dingin dan mutlak, “boleh menyentuh anakku.”

Aku menghela napas panjang, seluruh ketegangan yang menopang tubuhku runtuh seketika, membuat lututku terasa lemah. Cloudet, menyadari ketegangan mereda, segera merangkak ke arahku dan memeluk lenganku erat-erat. Aku menariknya ke dalam dekapanku, menyembunyikan wajahnya di dadaku tanpa berpikir panjang.

Jover menatap kami berdua cukup lama. Tatapannya padaku sulit diartikan, ada sedikit pengakuan di sana, namun tertutup oleh otoritas yang tak tergoyahkan. Lalu ia menoleh pada Calona.

“Kita akan bicara,” katanya singkat, namun nadanya mengisyaratkan bahwa percakapan itu akan menjadi sangat menakutkan bagi siapa pun yang bersalah. “Sekarang.”

Beberapa saat kemudian, suasana di koridor luar kamar utama terasa begitu mencekam. Pintu kamar ayah dan ibu tertutup rapat, namun aura mereka merembes keluar melalui celah-celah pintu tebal, berat, dan penuh dengan tekanan yang membuat para pelayan iblis melarikan diri sejauh mungkin.

Aku tidak perlu mendengar teriakan atau perdebatan mereka untuk tahu bahwa tatanan istana ini sedang diguncang hingga ke akarnya. Neraka jarang membisikkan rahasia; ia biasanya meneriakkannya melalui darah dan kehancuran.

Aku tidak ingin tahu apa yang mereka debatkan. Saat ini, fokusku hanya pada satu hal: menjauh dari racun mereka.

Aku kembali ke kamarku sendiri, menutup pintu dengan perlahan seolah takut membangunkan monster yang sedang tertidur. Untuk pertama kalinya hari itu, keheningan di dalam kamar terasa seperti anugerah yang sangat diperlukan.

Cloudet masih berada di pelukanku. Dalam wujud hellhound-nya, tubuhnya meringkuk sangat rapat, hidungnya tersembunyi di lipatan lenganku seolah mencari perlindungan dari dunia luar. Bulu hitamnya yang lembut naik turun dengan ritme yang belum sepenuhnya stabil; sisa-sisa isakan masih terasa di tubuhnya yang kecil.

Ia masih gemetar.

Aku duduk di tepi ranjang batu yang dingin, menyandarkan punggungku ke dinding yang kasar. Secara refleks, tanganku mulai mengusap punggung kecil itu gerakan berulang yang pelan, tanpa ritme yang kusadari, mencoba menyalurkan ketenangan yang aku sendiri sebenarnya tidak miliki.

“Tenanglah,” gumamku dengan suara serak. “Sudah selesai. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi di sini.”

Ia meringkik kecil, sebuah suara yang sangat rapuh, lalu bergerak lebih dekat hingga kepalanya menyelip tepat di bawah daguku. Ia mencengkeram kain bajuku dengan cakar mungilnya, mencari kehangatan di tengah dinginnya istana ini.

Aku membeku sesaat. Kontak fisik ini seharusnya terasa menjijikkan atau merepotkan bagiku. Namun, yang kurasakan hanyalah dorongan protektif. Aku menghela napas panjang, melepaskan sisa-sisa amarah yang masih mengendap.

“…Kau benar-benar membuat masalah besar hari ini, bocah,” kataku lirih, menatap bulu hitamnya. “Aku hampir membakar seluruh aula utama gara-gara kau.”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata, namun ekornya bergerak sedikit satu kibasan kecil yang lemah namun cukup untuk memberitahuku bahwa ia mendengarku.

Aku menunduk, menempelkan dahiku ke kepalanya yang hangat. Api neraka di dadaku akhirnya mereda, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih tenang, namun jauh lebih berbahaya bagi seorang prajurit sepertiku.

Kasih sayang. Sebuah kelemahan yang mematikan di dunia ini.

Aku menutup mata dengan rapat. Di balik dinding kamar ini, di dalam ruang tertutup itu, ayah dan ibu mungkin sedang menentukan masa depannya. Mereka mungkin sedang menimbang-nimbang apakah seorang hibrida darah campuran pantas untuk terus bernapas, atau apakah keberadaannya harus dihapuskan demi menjaga kemurnian dan tatanan neraka yang mereka agungkan.

Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku. Jika mereka berpikir aku akan berdiri diam sementara mereka membuangnya seperti sampah, mereka salah besar. Aku telah memilih pihak, bahkan sebelum aku menyadarinya.

Cloudet menguap kecil, lidah kecilnya menjilat lenganku sekali—sebuah tanda kepercayaan yang nyaris menyakitkan untuk diterima. Tubuhnya perlahan mulai mengendur, dan tak lama kemudian, napasnya menjadi teratur. Ia tertidur dalam dekapanku, menyerahkan seluruh hidupnya padaku.

Aku membuka mata, menatap kosong ke arah dinding batu yang dipenuhi bayangan dari api obor yang menari-nari.

“Tidurlah,” bisikku pelan ke telinganya. “Apa pun keputusan yang mereka ambil di sana, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi itu sendirian.”

Api di dalam ruangan itu berdenyut dengan ritme yang lambat. Di balik pintu yang terkunci, intrik besar sedang disusun, namun untuk saat ini, di dalam kamar yang sunyi ini, hanya ada aku dan beban kecil yang teetidur lelap.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!