Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: FALSE FLAG
"Bangun, Silas. Waktumu untuk menjadi berguna telah tiba."
Suara Elara dingin, sedingin lantai semen sel Julian. Silas mengerang, matanya yang lumpuh sebelah terbuka perlahan, menatap bayangan Elara yang kini tampak seperti malaikat maut di bawah lampu redup. Ia mencoba bergerak, namun rasa sakit di lehernya membuatnya tersedak.
"Kau... apa yang kau lakukan?" rintih Silas.
"Aku melakukan apa yang seharusnya kau lakukan sejak dulu," Elara menarik kerah baju Silas, memaksanya duduk di kursi rodanya kembali. "Kau akan membawa kami keluar dari sini. Sebagai tahananmu. Sebagai bukti kesetiaanmu pada Paman Baron."
Julian, yang masih bersandar pada dinding sel, menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melihat bagaimana Elara mengikat tangan Silas ke kursi roda dengan kabel baja—sangat kencang hingga memutus aliran darah—dan bagaimana Elara menyembunyikan belati peraknya tepat di belakang tengkuk Silas, tertutup oleh sandaran kursi.
"Elara," bisik Julian, suaranya parau. "Ini terlalu berisiko. Jika satu sensor biometrik mendeteksi kegelisahan Silas—"
"Maka aku akan memastikan dia mati sebelum alarm pertama berbunyi," potong Elara tanpa menoleh. Ia berbalik, menatap Julian. "Gunakan jubah penjaga di sudut itu. Tundukkan kepalamu. Jangan bicara kecuali aku yang memintanya."
Julian tertegun. Nada bicara Elara bukan lagi permintaan, melainkan komando.
Koridor sayap barat markas Dewan terasa sangat panjang. Silas duduk di kursi rodanya, wajahnya pucat pasi, sementara Elara berjalan di sampingnya dengan langkah tenang—kembali menjadi Elena Vancroft yang elegan. Di belakang mereka, Julian berjalan dengan langkah terseok yang disamarkan, kepalanya tertunduk di balik tudung seragam penjaga.
"Ingat, Silas," bisik Elara, jemarinya meraba kendali kursi roda, namun matanya tetap lurus ke depan. "Satu kata yang salah, dan saraf tulang belakangmu akan terputus."
Mereka sampai di pos pemeriksaan pertama. Dua penjaga bersenjata lengkap menghalangi jalan.
"Tuan Silas? Protokol pemindahan tahanan belum dijadwalkan," ucap salah satu penjaga, menatap Julian yang terborgol di belakang.
Silas menelan ludah. Ia merasakan ujung tajam belati Elara menusuk kulit lehernya melalui celah kursi roda. "Baron... Baron ingin pengkhianat ini dipindahkan ke fasilitas interogasi luar. Sekarang. Nona Vancroft di sini untuk mengawasi... serah terima aset."
Penjaga itu ragu. Ia menatap Elara. "Nona Vancroft?"
Elara mengangkat alisnya, memancarkan aura otoritas yang mematikan. "Waktu saya sangat mahal, Sersan. Apakah Anda ingin menjelaskan pada Baron Vane kenapa investor utamanya harus menunggu di lorong yang berbau pengap ini hanya karena Anda tidak bisa membaca situasi?"
Tekanan itu berhasil. Penjaga tersebut segera menempelkan kartu aksesnya. Pintu baja terbuka.
Julian, di balik tudungnya, bisa merasakan keringat dingin bercucuran. Ia melihat Elara bermain peran dengan sangat sempurna—dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Ini bukan lagi Elara yang gemetar saat memegang pistol latihan. Ini adalah monster yang ia ciptakan sendiri.
Di pos pemeriksaan terakhir—gerbang utama—ketegangan mencapai puncaknya. Marcus, yang kini menjabat sebagai kepala keamanan baru Dewan, berdiri di sana. Matanya yang tajam langsung mengenali ada yang tidak beres dengan cara Silas duduk.
"Berhenti," perintah Marcus.
Elara menghentikan kursi roda Silas. Ia menatap Marcus, pria yang dulu sering membawakannya bunga di mansion. Marcus tidak mengenalnya dengan mata barunya, tapi ia mengenal ritme gerakan.
"Ada masalah, Kapten?" tanya Elara tenang.
Marcus mendekati Silas, mencondongkan tubuhnya. "Tuan Silas, Anda terlihat... tidak sehat."
Silas membuka mulutnya, matanya melirik ke arah Elara dengan putus asa. Belati Elara menusuk sedikit lebih dalam, darah segar mulai mengalir di balik kerah baju Silas.
"Aku... aku hanya ingin ini cepat selesai, Marcus," suara Silas bergetar. "Buka gerbangnya."
Marcus menatap Julian, lalu kembali ke Elara. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Marcus melihat tangan Elara yang mencengkeram kendali kursi roda—posisi jemari yang siap melakukan serangan balik.
Marcus terdiam. Ia tahu. Ia mengenali ketajaman itu. Namun, Marcus juga tahu apa yang telah dilakukan Dewan pada Julian.
"Maafkan saya, Nona Vancroft," ucap Marcus tiba-tiba. Ia berbalik dan memberi kode pada ruang kendali. "Buka gerbang. Tuan Silas akan melakukan pengiriman pribadi."
Saat gerbang besar itu terbuka, udara dingin London menyambut mereka. Elara tidak berlari. Ia tetap berjalan tenang menuju mobil hitam yang sudah menunggu di seberang jalan.
Begitu pintu mobil tertutup dan mesin menderu menjauh, Elara mendorong Silas hingga terjatuh dari kursi rodanya ke lantai mobil. Ia segera merobek borgol Julian dengan kunci yang ia curi dari Silas tadi.
Julian langsung memeluk Elara—sebuah pelukan yang penuh dengan keputusasaan dan rasa syukur. Namun Elara tetap kaku.
Matanya yang digital masih menyisir jendela belakang, memastikan tidak ada pengejaran.
"Kita belum aman, Julian," ucap Elara datar.
Julian melepaskan pelukannya, menatap mata Elara yang kini bersinar redup dalam kegelapan mobil. "Kau berubah, Elara."
Elara menoleh, menatap Julian dengan kejujuran yang menyakitkan. "Kau yang mengajariku, Julian. Bahwa di dunia ini, hanya ada dua pilihan: menjadi orang yang memegang pisau, atau menjadi orang yang ditusuk. Aku hanya memilih untuk tidak lagi berdarah."
Di lantai mobil, Silas merintih kesakitan, namun Elara bahkan tidak meliriknya. Ia hanya menatap lampu-lampu London yang berlalu cepat, sementara di dalam markas Dewan, alarm mulai melolong keras.
Perang bukan lagi sebuah kemungkinan. Perang telah dimulai.