Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 - Nelangsa
Pagi itu, terasa berbeda seperti biasanya.
Karina...
Wajah baru semenjak kejadian yang merobek jiwanya.
Ia tersenyum, tapi bukan senyum bangga meraih sesuatu.
Di tempat pemakaman, Karina duduk di samping makan Adelia yang belum kering, dengan ditemani Arga. Karina mengusap pelan tanah coklat yang baru ditaburi bunga warna warni.
"Jujur aku masih ga nyangka, del---," ucap Karina memecah keheningan sambil mengusap mata, "Semalem kita masih tertawa mengingat momen indah bersama... Jujur aku gabisa, del... Aku masih butuh kamu disini..."
Karina tidak bisa menahan air matanya, Arga yang melihat hanya bisa diam sesekali ikut terlarut kesedihan.
Nelangsa.
Kata itu cukup menggambarkan Karina saat ini. Karina bingung, apa maunya pelaku ini?
"Kar, dia udah tenang disana, dia selalu disisi kamu," ucap Arga sambil mencoba memberi dukungan, "Jadikanlah aku tempat pelarianmu, tempatmu bercerita, tempat... Dimana kamu bisa jujur dengan diri kamu, aku tau pasti gabisa gantiin posisi sahabat kamu, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin, agar kamu ga--- aku ga mau kamu ngerasa sendirian lagi."
"Makasih ya. Ga... Aku tau berat banget ngeikhlasin kepergian sahabat sejak SMA aku," balas Karina dengan senyuman tipis, "Makasih udah berada disisi aku terus."
"Aku akan selalu berada disisi kamu, Kar, apapun yang terjadi," ucap Arga memberikan janji.
Mereka pun akhirnya memutuskan pulang, Arga mengantar Karina ke rumahnya.
...----------------...
Rumah itu sunyi.
Bukan sunyi karena kosong,
tapi sunyi karena tidak ada lagi yang berani bersuara.
Karina duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada sofa.
Pakaian sudah diganti, tapi tubuhnya masih terasa seperti di TKP waktu itu.
Arga berdiri di dekat jendela.
Ia tidak membuka tirai.
Ia tahu Karina tidak ingin dunia luar masuk dulu.
“Kalau kamu mau sendirian,” ucap Arga pelan,
“aku bisa tunggu di luar.”
Karina menggeleng lemah.
“Jangan.”
Satu kata.
Pendek.
Tapi cukup.
Arga tetap di situ.
Tidak mendekat.
Tidak pergi.
...----------------...
“Aneh ya…”
Karina tersenyum kecil, senyum yang salah tempat.
“Semua orang bilang aku kuat.”
Ia menunduk.
“Padahal… aku cuma tahu caranya bertahan.”
Tangannya meremas ujung lengan baju.
“Adelia itu… satu-satunya tempat aku berhenti pura-pura.”
“Di depan dia, aku nggak perlu jadi Karina yang ‘harus’ apa-apa.”
Napasnya terputus sebentar.
“Sekarang aku pulang ke rumah ini…”
“…dan nggak ada suara dia.”
Arga akhirnya duduk.
Tetap menjaga jarak, tapi cukup dekat untuk didengar.
“Kehilangan orang yang jadi rumah,” katanya,
“selalu terasa kayak kehilangan arah.”
Karina menoleh.
Matanya merah, tapi kering.
Air matanya sudah habis untuk hari itu.
“Aku takut,” ucapnya jujur.
“Kalau suatu hari nanti aku lupa suaranya.”
Kalimat itu menghantam Arga lebih keras dari yang ia duga.
“Kamu nggak akan,” jawabnya mantap.
“Orang kayak dia… nggak hilang begitu aja.”
...----------------...
Karina menutup wajahnya.
Tangisnya tidak keras.
Tidak dramatis.
Ia ambruk ke dalam dirinya sendiri.
Dan kali ini, Arga tidak menunggu izin.
Ia mendekat, perlahan,
membiarkan Karina bersandar di bahunya.
Tidak ada pelukan erat.
Hanya kehadiran yang tidak pergi.
“Aku capek, Ga…”
suara Karina hampir tidak terdengar.
“Capek banget.”
“Aku tahu,” jawab Arga.
Dan untuk pertama kalinya…
itu bukan jawaban profesional.
...----------------...
Waktu bergerak tanpa mereka sadari.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Karina tertidur di sofa, tubuhnya kelelahan oleh duka yang belum selesai.
Arga menatapnya lama.
Bukan sebagai rekan.
Bukan sebagai atasan atau bawahan.
Tapi sebagai seseorang yang melihat Karina tanpa topengnya.
Ia mengambil selimut dari kamar, menutupkan pelan.
Lalu berjalan keluar rumah.
...----------------...
Arga berdiri di halaman depan rumah Karina.
Udara malam dingin, sunyi.
Ia tidak tahu…
sejak tadi, mereka sedang diperhatikan.
Dari seberang jalan, di balik bayangan pagar dan pohon yang gelap,
seseorang berdiri diam.
Ia mengenal rumah ini.
Ia mengenal langkah Arga.
Ia mengenal cara Karina menundukkan kepala saat lelah.
Tatapan itu tidak marah.
Tidak panik.
Justru… tenang.
Jadi sekarang kamu tidak sendiri, batinnya.
Menarik.
Ia mengingat wajah Karina pagi itu.
Ia mengingat Arga yang berdiri terlalu dekat.
Kedekatan adalah kelemahan.
Dan juga… umpan.
Sosok itu berbalik pergi.
Tidak tergesa.
Tidak meninggalkan jejak.
Permainan belum selesai.
Ia baru saja memetakan ulang papan catur.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y