Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBALASAN
Dari balik kabut debu yang pekat, terdengar suara seretan.
Srak... srak... srak...
Langkah kaki itu pelan, tapi setiap langkahnya membuat jantung Rina serasa berhenti berdetak. Dari dalam kabut debu, Kenzo muncul kembali. Bajunya sudah tidak berbentuk, compang camping tertutup cairan hitam bercampur debu.
Tapi matanya... mata yang dulunya redup dan penuh rasa takut itu kini menyala keemasan, dingin dan tajam seperti mata pisau.
Di tangan kirinya, Kenzo menyeret sebuah kepala raksasa Black Shadow Wolf. Kepala itu hancur, matanya pecah, dan Kenzo melemparkannya begitu saja ke depan sepatu mewah Binsar.
Plok.
Darah hitam monster itu mengotori sepatu mahal Binsar.
"Tadi lo bilang apa, Bang hah, coba sekali lagi lu bilang apa tadi pas di dalem bang?" suara Kenzo rendah, tapi membuat pengap di dada mereka. "Nyawa gue kaga berharga, gue cuma beban, nyawa gue cuma lu anggap sampah bang hah?"
Binsar mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Tapi egonya sebagai Hunter peringkat Rank D masih memberontak.
"Lo... lo dapet cheat apa di dalem bangsat? kaga usah sok jago lo ya, dasar sampah! Balikin sini jarahan gue! Itu monster jatah tim gue!" teriak Binsar.
Sambil meraung ketakutan, Binsar menghunus pedang besarnya. Dia mengayunkan teknik Power Slash dengan membabi buta ke arah leher Kenzo.
Kenzo tidak berkedip, tenang dan penuh kontrol diri. Saat pedang itu nyaris menyentuh kulitnya, tubuhnya mendadak buyar seperti asap hitam.
Syuut.
Binsar menghantam angin. Dia terhuyung, nyaris tersungkur. "Mana dia?! Mana si brengsek itu?! Keluar lu sampah sialan!"
"Di sini, woi Kapten gblk!," bisik Kenzo tepat di lubang telinga Binsar.
Sebelum Binsar sempat berbalik, Kenzo sudah mencengkeram pergelangan tangan Binsar. Bukan sekadar pegangan, tapi cengkeraman yang bisa meremukkan.
KREK!
Bunyi tulang yang hancur itu terdengar sangat renyah. Binsar menjerit melengking, jatuh berlutut saat pedangnya jatuh berdenting. Rina dan yang lain cuma bisa mematung, menonton saja mereka.
Saat mereka mencoba mengintip status Kenzo lewat scouter di mata mereka, alat itu cuma menampilkan angka-angka acak yang kemudian pecah. Terus Error.
Kenzo menatap Binsar yang kini menangis, ingusnya yg berwarna ijo mengalir campur debu.
"Lo tahu kaga bang apa yang paling lucu?" Kenzo menjambak rambut Binsar, memaksanya mendongak ke atas.
"Di dalem sana, gue sadar satu hal. Dunia ini emang tempat predator makan mangsanya. Dan hari ini, Binsar... lo cuma daging di meja makan gue."
Kenzo menempelkan telapak tangannya ke dada Binsar. Kabut hitam keluar dari pori-pori kulitnya, merayap masuk ke dalam tubuh Binsar seperti parasit.
Binsar tidak bisa berteriak lagi; suaranya hilang saat ia merasakan kekuatan Mana-nya disedot habis. Kulitnya keriput dalam hitungan detik, ototnya menyusut, dan rambutnya memutih dengan cepat.
Kenzo melepaskannya. Binsar terkapar, bernapas tersengal seperti orang tua yang sedang sekarat.
"Gue kaga bakal bunuh lo bang," ucap Kenzo tanpa emosi.
"Mati itu terlalu enak. Nikmatin hidup lo jadi manusia biasa di Jakarta yang kejam ini. Tanpa kekuatan, tanpa harta, tanpa harga diri. Mampus lu bang kalo banyak tingkah lagi Ama orang lain." Seringai Kenzo.
Kenzo menoleh ke arah Rina yang gemetar di tanah. "Bawa orang tua ini pergi. Kasih tahu juga asosiasi... ada predator baru yang lagi kelaperan di Jakarta nih."
Tanpa menunggu jawaban, Kenzo berjalan masuk ke kegelapan hutan. Dia tidak butuh mobil. Tubuhnya menyatu dengan bayangan pepohonan, menghilang lebih cepat dari kedipan mata.
Layar hologram muncul di depan matanya tipis, hampir transparan.
[Misi Baru nih bos : Pembersihan Sarang.]
[Hadiahnya keren loh : Necromancy Extraction.]
Kenzo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sanggup membuat siapa pun merinding.
"Pembersihan? Njir Itu kan kerjaan gue dari dulu hahaha kocak bener nih layar." tawa Kenzo.
Matahari Jakarta tidak pernah benar-benar tenggelam dengan indah. Di pinggiran kota yang terlihat kumuh, matahari hanya tampak seperti cahaya yang menyilaukan di area gelap, sebelum akhirnya kalah oleh tingginya kubah energi biru yang sudah menyelimuti gedung gedung pencakar langit bertahun tahun milik para elite dan Hunter papan atas.
Kenzo berjalan menyeret langkahnya. Sandal jepitnya yang sudah sangat tipis sesekali tersangkut di aspal yang retak. Bajunya kaga layak disebut pakaian, melainkan kain rombeng yang dikeraskan oleh darah kering dan lendir para monster. Bau amis yang menguar dari tubuhnya begitu tajam sampai-sampai lalat pun segan untuk mendekat.
Di sepanjang trotoar, para preman pasar yang biasanya beringas mendadak diam saja saat Kenzo lewat. Mereka bukan takut pada tubuh kurus itu, tapi pada suasana yang sejak tadi dibawa Kenzo.
Ada sesuatu yang salah dengan bayangan pemuda itu bayangan itu tampak lebih pekat dan hitam, lebih lebar, dan bergerak sedikit lebih lambat dari gerakan aslinya. Seperti ada sesuatu yang mengintai di balik punggung Kenzo.
Sakit, batin Kenzo.
Setiap kali dia melangkah, ada denyut panas di belakang matanya. Di sana, sebuah antarmuka buram muncul, berkedip seperti tv rusak.
[Statistik Terupdate: Agility 72... Strength 45...]
Kenzo meringis. Angka-angka itu bukan cuma sekadar data; dia memang merasakannya. Otot kakinya terasa seperti ditarik-tarik, seluruh syarafnya dipaksa melebar untuk menampung energi yang baru saja doi "curi" dari monster serigala di dalam Dungeon tadi.
Rasanya seperti mencoba memasukkan mesin Ferrari ke dalam bodi mobil rongsokan. Jika dia tidak segera mendapatkan perlengkapan yang bisa menstabilkan Mana nya, tubuhnya bisa meledak sebelum dia sempat membalas dendam.
Tujuannya adalah gang sempit di balik deretan bengkel ilegal. Sebuah toko tanpa papan nama dengan pintu kayu jati yang sudah keropos.
"The Clockwork".
Kring.
Bel tua di atas pintu berbunyi sumbang. Kenzo disambut oleh suara detak ribuan jam dinding yang tidak sinkron sebuah suara berantakan yang sengaja dipasang untuk mengacaukan pendengaran para Hunter yang mencoba memata-matai tempat ini.
"Tutup. Balik lagi besok kalau jam lo mati," sebuah suara perempuan terdengar datar di balik tumpukan gigi roda jam yang berserakan.
Elara. Gadis itu duduk dengan kacamata besar yang melorot di hidung, sibuk menyolder sesuatu yang mirip alat pacu jantung, tapi dengan sirkuit Mana yang rumit. Rambut pirang pucatnya yang berantakan diikat asal asalan saja dengan sebuah pensil.
"Gue nggak punya waktu buat nunggu besok, El," sahut Kenzo pelan.
Elara membeku. Suara itu familier, tapi auranya sungguh berbeda. Dia meletakkan soldernya dan menoleh. Matanya yang tajam langsung memindai penampilan Kenzo. Sebagai broker pasar gelap, dia sudah biasa melihat orang sekarat, tapi Kenzo terlihat seperti seseorang yang baru saja merangkak keluar dari neraka dan membawa sedikit api nerakanya ke sini.
"Kenzo?" Elara menyipitkan mata. "Lo... lo seharusnya udah mati. Gue denger Tim Garuda balik dari Dungeon Level E tanpa cleaner mereka. Binsar bilang lo dimakan monster."
"Binsar terlalu banyak omong," Kenzo berjalan mendekat, setiap langkahnya menyebarkan bau tanah basah dan besi. "Gue cuma mau dagang nawarin ke lu."
Gubrak.
Kenzo menjatuhkan kantong kain di atas meja kayu jati Elara. Beratnya membuat meja itu sedikit berderit. Dengan gerakan waspada, Elara menarik kantong itu dan membuka talinya.