Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia-manusia Picik
Narendra berdiri terpaku di depan pintu yang tertutup rapat itu selama beberapa saat, ia bisa mendengar isak tangis tertahan dari balik pintu, suara yang menyayat hatinya lebih dalam daripada caci maki dewan direksi rumah sakit.
Narendra sadar, memaksa masuk hanya akan menambah beban mental Kanaya. Namun, membiarkannya menahan perih sendirian adalah hal terakhir yang akan Narendra lakukan, pria itu berbalik dan melangkah cepat menuju mobilnya lalu ia mengemudi ke apotek terdekat dan membeli kapas, cairan antiseptik, salep memar, beberapa lembar kompres instan hingga makanan hangat dan minuman vitamin.
Sekitar lima belas menit kemudian, Narendra kembali ke kos Kanaya "Kanaya," panggil Narendra dan tidak ada jawaban.
"Aku taruh plastik berisi obat dan makanan di depan pintu, ada salep untuk memar di pipimu agar tidak membiru besok pagi, tolong dipakai ya, aku pamit pergi," ucap Narendan menaruh plastik tersebut di meja depan samping pintu Kanaya.
Setelah itu, Narendra pergi ke mobilnya, namun ia menghentikan langkahnya tepat di tengah lorong gang yang remang-remang dan suara tawa sumbang dan bisik-bisik yang sengaja dikeraskan itu tertangkap jelas oleh indranya.
"Tuh kan, bener kata saya. Mana ada laki-laki ganteng, kaya, mau datang ke sini kalau bukan karena ada apa-apanya. Si Kanaya itu pinter akting saja depan kita, sok polos jadi guru," celetuk Bu Ratna sambil melipat tangan di dada.
"Iya, tadi lihat kan? Pakai peluk-pelukan segala, emang nggak tahu malu, guru macam apa begitu, ngerusak moral anak didik saja. Pantesan tadi Shinta emosi, mungkin dia iri saingan pasar kali," timpal ibu lainnya yang disambut tawa renyah kelompok itu.
"Iyalah, palingan pelanggannya Kanaya sekarang banyak dan dari kalangan orang kaya. Ya jelas, Shinta iri dan nggak terima," ucap Bu Sari.
"Ternyata Kanaya juga wanita murahan ya," ucap Bu Ratna.
Narendra berhenti melangkah, punggungnya menegang dan tangannya mengepal begitu kuat hingga kukunya memutih, setiap kata yang keluar dari mulut ibu-ibu itu terasa seperti racun yang menyiram api amarahnya yang baru saja coba ia redam.
Narendra berbalik perlahan, tatapannya yang tajam dan dingin kini tertuju tepat pada kerumunan itu, aura intimidasi yang biasa ia gunakan di ruang rapat direksi kini ia keluarkan sepenuhnya di gang sempit tersebut.
Langkahnya mendekat dan membuat tawa riuh tadi seketika tercekik di tenggorokan, "Ulangi sekali lagi, ulangi apa yang kalian katakan tentang Kanaya," ucap Narendra.
Bu Ratna yang tadi paling vokal mendadak kehilangan keberaniannya. Ia mencoba mundur, namun langkah Narendra lebih cepat, Narendra berdiri menjulang di depan mereka dan membuat ibu-ibu itu takut.
"Tadi kalian menyebutnya apa? Murahan? Pelanggan? Kalian sadar tidak dengan apa yang kalian bicarakan? Kalian seenaknya menuduh Kanaya tanpa tahu apa yang kalian bicarakan itu benar atau tidak," ucap Narendra dan matanya menyapu wajah mereka satu per satu dengan hina.
"Bagaimana perasaan kalian jika kalian atau anak kalian difitnah habis-habisan oleh orang lain?" tanya Narendra.
Bu Ratna mencoba membuka mulut dan mencoba membela diri meski suaranya gemetar, "Ki-kita kan cuma bicara apa yang kita lihat, lagipula mana ada laki-laki kaya kayak anda mau datang ke tempat begini," ucap Bu Ratna.
"Memangnya kenapa kalau saya datang kesini? Apa kalian selalu berpikir jika saya kesini dan bertemu dengan Kanaya itu artinya Kanaya wanita nggak bener? Kolot sekali pikiran kalian, pantas saja kalian tidak bisa keluar dari tempat ini," ucap Narendra.
Ibu-ibu itu terdiam, nyali mereka menciut total. Bu Ratna yang tadinya berdiri tegak kini menunduk, pura-pura memperbaiki letak sandalnya karena tidak sanggup menatap mata Narendra yang berkilat penuh amarah.
"Bukan tempatnya yang rendah, tapi pikiran kalian yang kotor. Kalian bicara soal moral anak didik, tapi kalian sendiri memberi contoh bagaimana cara menghancurkan hidup orang lain dengan perkataan kalian," lanjut Narendra
"Dengar baik-baik, jika besok pagi saya masih mendengar kalian merendahkan Kanaya atau jika saya melihat kalian mengusik ketenangannya lagi, saya tidak akan ragu membawa urusan ini ke meja hukum atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan," ancam Narendra.
"Ka-kami tadi cuma bercanda," ucap Bu Sari.
"Bercanda? Kalian sudah dewasa, harusnya tahu mana yang bercanda dan mana yang menghina," ucap Narendra.
"Jangan laporkan kami, kami janji gak akan buat masalah lagi sama Kanaya," ucap Bu Ratna.
"Harusnya memang begitu, awas saja sampai Kanaya sedih karena kalian. Saya tidak akan diam saja," ucap Narendra lalu pergi dari gang sempit itu dan kembali ke mobilnya.
Narendra masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu dengan keras, napasnya masih menderu, dadanya terasa sesak oleh amarah yang belum sepenuhnya padam.
Narendra mencengkeram kemudi dan menatap lurus ke arah gang sempit yang gelap itu, baginya tempat ini bukan sekadar pemukiman padat, tapi sebuah lubang yang perlahan-lahan menghisap keceriaan dan harga diri Kanaya.
Narendra melirik ke arah kaca spion dan melihat ibu-ibu tadi yang masih berdiri mematung di tempatnya, mereka tampak saling menyalahkan dengan bisikan pelan.
"Manusia-manusia picik," desis Narendra.
Narendra mengembuskan napas panjang untuk menetralkan emosinya yang masih meluap, ia baru saja hendak menyalakan mesin mobil ketika ponselnya yang baru saja hidup kembali itu bergetar. dan sebuah pesan singkat dari ayahnya, Papa Wira, muncul di layar.
[Narendra, segera ke rumah Om Rafa. Papa dan Mama ada disini sekarang]
"Papa, Mama ada di kota B? Bukannya mereka di luar negeri, kenapa nggak ngabarin aku kalau pulang?" gumam Narendra.
Narendra menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut, orangtuanya Memilih untuk menetap di negara C dan tiba-tiba mereka datang ke kota B, tentu saja Narendra penasaran.
Sejenak pandangannya kembali ke arah gang kos Kanaya, ada keinginan kuat untuk kembali ke sana dan memastikan Kanaya sudah memakan makanannya dan mengobati lukanya. Namun, pesan dari Papa Wira adalah titah yang tidak bisa dibantah.
Dengan berat hati, Narendra menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan kawasan kumuh itu, namun pikirannya tertuju pada Kanaya.
Tiga puluh menit kemudian, Narendra tiba di kediaman mewah milik Om Rafa. Begitu memasuki ruang tamu yang luas dan berlantai marmer, ia melihat Papa Wira Mama Clara sudah duduk bersama Om Rafa dan Tante Nita. Namun, yang membuat langkah Narendra terhenti adalah sosok wanita muda yang duduk di samping Mama Clara.
"Narendra, akhirnya kamu datang," sapa Papa Wira.
"Pa, Ma. Kenapa tidak mengabari kalau pulang?" tanya Narendra sambil menyalami mereka satu per satu, namun matanya menatap dingin ke arah wanita asing itu.
"Kejutan, oh ya kenalkan ini Vania anaknya Om Gilbert temannya Om Rafa, Vania inj baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri," ucap Mama Clara.
.
.
.
Bersambung.....