NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Matahari pagi menembus jendela kamarku, membangunkanku dengan semangat yang berbeda. Aku bersiap dengan cepat, mengenakan kemeja putih rapi dan rok selutut. Tak lupa, aku melipat jaket Kaelen dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tas jinjing untuk dikembalikan padanya.

Sesampainya di kampus, suasana sangat ramai. Setelah sesi pengenalan fakultas oleh Kaelen yang super kaku namun memesona itu selesai, kami diberi waktu istirahat di taman kampus sebelum masuk ke jam laboratorium.

"Zu, aku ke kantin bentar ya, titip kursi!" seru Salsa sambil berlari menjauh.

Aku duduk sendirian di bangku taman, memperhatikan daftar mata kuliah. Tiba-tiba, seorang mahasiswa tingkat atas dengan wajah yang cukup populer di kampus menghampiriku. Ia membawa setangkai bunga mawar merah yang sangat mencolok.

"Hai, kamu mahasiswa baru yang tadi di barisan depan, kan? Aku Rian," ucapnya dengan percaya diri sambil duduk di sampingku.

"Eh, iya... aku Kazumi," jawabku kaget.

"Jujur saja, dari tadi aku tidak bisa berhenti memperhatikanmu. Kamu terlihat sangat... berbeda. Lebih tenang dan anggun," Rian tersenyum lebar, lalu menyodorkan mawar itu padaku. "Aku tahu ini terlalu cepat, tapi maukah kamu jadi pacarku? Aku ingin menjagamu selama kamu kuliah di sini."

Aku membeku. Hah? Nyatakan perasaan di hari pertama?

Tiba-tiba, bayangan besar menutupi kami berdua. Suasana taman yang tadinya hangat mendadak terasa sedingin kutub utara.

"Dia sudah ada yang menjaga," sebuah suara bariton yang berat dan penuh penekanan terdengar dari belakangku.

Aku menoleh dan mendapati Kaelen berdiri di sana. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat sangat mengerikan; rahangnya mengeras, matanya yang biru elektrik berkilat tajam menatap Rian seolah ingin menelannya hidup-hidup.

"Maaf, siapa ya? Aku lagi bicara sama Kazumi," ucap Rian, mencoba tetap terlihat keren meski suaranya sedikit bergetar.

Kaelen tidak menjawab Rian. Sebaliknya, ia melangkah maju, menarik bahuku lembut agar berdiri, lalu dengan protektif merangkul pinggangku dengan tangannya yang besar—menarikku sangat dekat hingga tubuhku menempel pada dada bidangnya.

"Aku pacarnya," ucap Kaelen pendek, padat, dan sangat dingin. "Dan mawar itu... tidak cocok untuknya. Dia lebih suka bunga Han biru yang tidak bisa kau temukan di toko mana pun."

Rian melongo, wajahnya pucat pasi melihat aura dominan Kaelen yang luar biasa. Tanpa sepatah kata pun, si kakak tingkat itu langsung berdiri dan pergi terbirit-birit.

Begitu Rian hilang dari pandangan, Kaelen melepaskan rangkulannya namun tangannya tetap menggenggam jemariku erat. Ia menunduk menatapku, tatapannya kini berubah menjadi cemburu yang menggemaskan.

"Baru ditinggal sepuluh menit, sudah ada yang mencoba mencurimu?" gumamnya kesal. "Besok-besok aku akan memasang tanda 'Milik Kaelen' di tas kuliahmu."

Aku tertawa kecil, rasa hangat menjalar di dadaku. "Katanya tidak ada sihir, tapi kenapa auramu tadi seram sekali?"

"Itu bukan sihir, Kazumi sayang," bisiknya sambil menarikku menuju laboratorium. "Itu insting seorang pria yang tidak ingin miliknya disentuh."

Salsa yang baru kembali dari kantin hanya bisa mematung dengan mulut terbuka lebar melihat tanganku yang digenggam erat oleh si 'Asisten Lab Gunung Es'.

Aku tersenyum jahil, menatap wajah Kaelen yang masih terlihat gusar setelah mengusir Rian tadi.

"Emang kita pacaran ya, Kael? Kapan kamu ngajak aku jadian? Seingatku, kamu cuma asisten dosen yang galak," godaku sambil menaikkan sebelah alisku.

Kaelen menghentikan langkahnya. Ia berbalik sepenuhnya menghadapku, menatap mataku dengan intensitas yang membuat napas seolah tertahan. Ia tidak terlihat malu, justru sangat bertekad.

"Ya sudah, kalau begitu kita jadian sekarang," jawabnya lugas tanpa keraguan sedikit pun. "Mulai detik ini, menit ini, kamu pacarku. Dan aku tidak menerima penolakan, Kazumi sayang."

Aku tertegun, tidak menyangka dia akan menembakku dengan cara se-"bar-bar" itu di tengah taman kampus yang ramai.

Sementara itu, tepat di belakang kami, Salsa berdiri mematung tak percaya. Botol minuman mineral yang ia pegang hampir saja jatuh dari tangannya. Mulutnya menganga lebar, matanya berkedip-kali kali seolah sedang menyaksikan adegan drama Korea yang muncul tiba-tiba di dunia nyata.

"K-kazumi..." Salsa terbata, suaranya naik satu oktaf. "Tadi itu... Kak Kaelen... barusan... APA?!"

Salsa akhirnya berteriak histeris, membuat beberapa mahasiswa lain menoleh ke arah kami. Ia berlari mendekat, mengitari aku dan Kaelen dengan wajah penuh rasa tidak percaya yang campur aduk dengan kegembiraan.

"Gila! Gila! Jadi gosip di grup angkatan itu beneran? Asisten lab paling dingin se-fakultas baru saja melakukan public declaration?" Salsa menangkup wajahnya sendiri. "Kazumi! Kamu kok nggak bilang kalau kamu adalah pemegang kunci hati si Gunung Es ini!"

Kaelen berdeham, kembali ke mode formalnya namun tetap tidak melepaskan genggaman tangannya di jemariku. "Salsa, kan? Tolong jaga bicaramu, ini lingkungan kampus. Dan tolong... jangan buat pacarku merasa tidak nyaman dengan teriakanmu."

Salsa langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tapi matanya masih memancarkan aura fangirl yang meledak-ledak. "Siap, Kak Kael! Eh, maksudku, Kakak Ipar!"

Kaelen menarikku menjauh sebelum Salsa sempat bertanya lebih banyak. "Ayo masuk ke lab. Aku tidak ingin kamu duduk dekat pria mana pun di kelas botani nanti."

"Kamu benar-benar posesif ya sekarang," bisikku sambil tertawa kecil saat kami berjalan di koridor.

"Hanya padamu," balasnya pendek, namun ia meremas tanganku dengan lembut seolah tidak ingin melepaskannya lagi—baik di dunia ini, maupun di dunia mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!