"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: CINTA PALSU, TOPENG RUNYUH
Kau dekap aku dengan senyum yang kau pinjam dari malaikat
Sementara di punggungmu, ular-ular kecil menari
Kau kira aku buta pada bisik mereka?
Atau kau pikir hatiku telah mati?
Kau peluk aku erat, wahai pemburu harta
Sementara jarimu masih basah oleh darah pengkhianatan
Dan aku? Aku tersenyum manis dalam dekapanmu
Sebab kau tak tahu—dalam pelukan ini, akulah ularnya.
Kau kira kau sedang memeluk korbanmu?
Maaf, sayang. Kau sedang memeluk cambukmu sendiri.
---
Malam itu, Richard Hartanto pulang lebih awal.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia membawa sekotak kue sus kesukaan Alana—bukan karena ia ingat, tapi karena Viola menyebutnya sambil lalu pagi tadi. "Kue sus itu dulu kesukaan Alana pas SMA. Dulu aku selalu iri kalau dia ngemil itu di kantin." Richard hanya mengangguk, mencatat dalam备忘录 ponselnya: Beli kue sus, buat Alana.
Sekarang ia berdiri di ambang pintu kamar utama, setengah ragu. Di tangannya, kotak kue sus dengan pita merah muda. Di dadanya, debaran aneh yang tak bisa ia jelaskan—antara rasa bersalah, kepura-puraan, dan entah mengapa, sedikit getir.
Alana sedang duduk di kursi rias, membelakangi pintu. Gaun tidur sutra ungu muda membalut tubuhnya yang mulai kembali berisi. Ia tengah menyisir rambut panjangnya—gerakan lambat, tenang, seperti air di danau yang tak pernah terusik badai.
"Cantik," ucap Richard pelan.
Alana menoleh, dan senyum itu muncul. Senyum yang sama seperti sepuluh tahun lalu, saat ia pertama kali melihat Alana di pesta ulang tahunnya. Lembut, tulus, penuh cahaya.
"Kamu pulang cepat," kata Alana, suaranya manis seperti gula aren. "Ada rapat dibatalkan?"
Richard mengangguk, melangkah masuk. Ia letakkan kotak kue di meja rias, lalu berlutut di samping kursi Alana—posisi yang tak pantas untuk seorang suami, tapi sangat pantas untuk seorang pria yang sedang mencari ampunan.
"Aku bawain kue kesukaan kamu," katanya, suara dibuat selembut mungkin. "Ingat, dulu pas kita pacaran, aku sering beliin ini? Kamu selalu bilang, 'Richard, kamu tahu cara ke hatiku lewat perut.'"
Alana tertawa kecil. Tawanya renyah seperti kaca pecah. "Masih ingat? Aku pikir kamu lupa."
Richard meraih tangannya, mencium punggung jemari Alana. Matanya ditutup rapat, menghayati peran sebagai suami yang menyesal.
"Aku minta maaf, Lan," bisiknya. "Aku tahu akhir-akhir ini aku sibuk banget. Jarang pulang. Jarang ada buat kamu. Tapi aku mau bilang... aku sayang kamu. Masih. Dan akan selalu."
Alana diam sejenak.
Di dalam kepalanya, suara lain berteriak: Kau tahu apa yang dilakukan jarimu setelah kau mencium tanganku? Jarimu tadi meremas pinggang Viola di dapur, sebelum pulang. Bibirmu ini baru saja mengecup lehernya. Dan kau berani bilang sayang padaku?
Tapi di luar, ia hanya tersenyum lebih manis. Matanya berkaca-kaca—bukan karena haru, tapi karena menahan tawa getir.
"Aku tahu, Rich," jawabnya lirih. "Aku juga sayang kamu."
Richard tersentak. Ada kelegaan luar biasa di dadanya. Ia bangkit, menarik Alana berdiri, lalu memeluknya erat. Pelukan yang lama, hangat, seolah ingin menebus ribuan malam yang ia lewatkan di kamar Viola.
"Makasih, Lan. Makasih masih mau sama aku. Aku janji, bakal jadi suami yang lebih baik."
Alana membalas pelukannya. Tangannya naik perlahan ke punggung Richard, mengusap-usap lembut. Wajahnya menempel di dada bidang suaminya, mencium aroma parfum yang sama seperti di bantal Viola.
Kau tahu apa yang indah dari pelukan? pikir Alana dalam hati. Kau bisa tersenyum selebar apapun dan mereka tak akan melihatnya.
"Richard," bisiknya.
"Ya, Sayang?"
"Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
Alana menarik wajahnya sedikit, menatap mata Richard lekat-lekat. Matanya bening, tanpa cela. Tapi di sudut bibirnya, ada getar halus—hampir tak terlihat.
"Kamu bahagia sama aku?"
Richard tertegun. Pertanyaan sederhana, tapi menusuk tepat di ulu hati. Ia menelan ludah.
"Tentu, Lan. Kenapa tanya begitu?"
"Kadang... aku merasa kamu jauh." Suara Alana bergetar—sempurna. "Seperti ada bagian dirimu yang nggak pernah benar-benar jadi milikku."
Karena memang ada, batin Richard. Karena separuh diriku ada di kamar sebelah, di tubuh Viola.
Tapi ia hanya tersenyum, mengusap pipi Alana. "Nggak, Sayang. Aku seratus persen milik kamu."
Alana tersenyum. Manis. Tulus. Bahkan mungkin terlalu tulus untuk ukuran istri yang dikhianati tiga tahun.
"Syukurlah," katanya.
Lalu ia kembali memeluk Richard. Kali ini lebih erat. Tangannya merayap naik ke tengkuk, masuk ke sela-sela rambut suaminya yang lembut.
Dan tepat di belakang punggung Richard, di mana tak ada mata yang bisa melihat, senyum Alana berubah.
Bukan senyum manis lagi.
Tapi senyum ular yang baru saja menelan mangsa utuh-utuh.
DI KAMAR SEBELAH...
Viola mengamuk diam-diam.
Ia tahu Richard pulang lebih awal. Ia tahu Richard membeli kue sus. Ia bahkan tahu Richard berlutut di depan Alana—karena kamarnya persis di sebelah kamar utama, dan dinding rumah ini tipis.
Ia duduk di tepi ranjang, tangan mengepal erat. Ponsel di tangannya menampilkan foto Richard dan dirinya—foto mesra yang mereka ambil dua jam lalu, di dapur, saat Alana sedang "tidur siang".
Kenapa dia balik ke pelukan wanita itu? pikir Viola panas. Bukannya dia bilang Alana cuma formalitas? Bukannya dia bilang aku yang berarti?
Ia ingin berlari ke kamar utama, membuka pintu, dan berteriak pada Richard: "KAU BOONG! KAU BILANG CINTA PADAKU, KENAPA KAU PELUK DIA?!"
Tapi ia tahu, itu bodoh.
Richard butuh Alana—setidaknya sampai semua aset berpindah nama. Dan Viola butuh Richard—setidaknya sampai ia bisa menguasai separuh harta yang dijanjikan.
Jadi ia hanya diam. Menggigit bibir. Menahan amarah.
Di luar, suara tawa kecil Alana terdengar samar. Tawa itu seperti duri di telinga Viola.
Tertawalah sekarang, batin Viola. Nanti kau akan menangis di kuburanmu sendiri.
DI DALAM KAMAR UTAMA...
Richard melepaskan pelukannya, menatap Alana dengan pandangan yang ia usahakan selembut mungkin. "Aku mau mandi dulu, ya? Capek."
Alana mengangguk. "Aku bikinin teh hangat."
"Makasih, Sayang."
Richard masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup. Air mengalir.
Dan Alana...
Alana berdiri di tengah kamar, menatap kotak kue sus di meja rias. Pita merah muda itu mengilap terkena lampu. Kelihatan polos. Manis. Seperti semua hal yang Richard berikan padanya—selalu ada pita, selalu ada senyum, tapi di dalamnya... kosong. Atau mungkin beracun.
Ia berjalan mendekati meja rias. Tangannya meraih kotak itu, membukanya pelan. Satu kue sus mungil dengan taburan cokelat di atasnya.
Kau tahu apa yang membuatku paling muak? pikirnya. Bukan perselingkuhanmu. Bukan pengkhianatanmu. Tapi caramu berpura-pura semuanya baik-baik saja. Caramu datang dengan kue sus, seolah tiga tahun malam-malam sunyi bisa terhapus dengan gula.
Ia mengambil satu kue, menggigitnya kecil.
Rasanya manis. Sangat manis. Manis seperti senyum Viola setiap kali bertemu dengannya.
Dan tiba-tiba, tanpa Alana duga, matanya basah.
Bukan karena haru. Bukan karena bahagia.
Tapi karena lelah.
Lelah memainkan peran ini. Lelah tersenyum pada ular. Lelah menjadi "istri yang baik" sementara di dalam hancur berkeping-keping.
Air mata itu jatuh, tepat di atas meja rias, membasahi pigura foto pernikahan mereka. Di foto itu, Richard muda tersenyum bahagia, memeluk Alana yang tersipu. Gaun putih. Bunga mawar. Janji setia.
Dulu aku benar-benar mencintaimu, bisik hati Alana. Dulu aku benar-benar percaya kita akan tua bersama.
Ia memejamkan mata, menghapus air mata itu kasar. Lalu menarik napas panjang.
Saat matanya terbuka lagi, semua kelemahan sudah lenyap.
Yang tersisa hanya Alana—si mawar berduri. Yang tahu persis bagaimana rasanya dipeluk ular, dan sedang menyiapkan racun di balik senyumnya.
Ia rapi-rapi mengembalikan kue sus ke kotaknya, menutup pita, lalu berjalan ke dapur untuk membuat teh.
Di kamar mandi, Richard sedang bersiul kecil, bahagia karena berhasil "memperbaiki" hubungan dengan istrinya.
Ia tak tahu, di luar sana, Alana menuangkan sesuatu ke dalam gelas tehnya.
Bukan racun. Tidak. Alana bukan pembunuh.
Tapi sesuatu yang lebih kejam: kesabaran yang mulai habis.
Saat Richard keluar dengan handuk melilit di pinggang, Alana menyodorkan teh hangat dengan senyum sempurna.
"Ini, Sayang. Biar rileks."
Richard menerimanya, meminumnya sampai habis.
"Kamu istri terbaik," katanya.
Alana tersenyum.
Kau benar, batinnya. Aku istri terbaik. Yang terbaik dalam berpura-pura. Yang terbaik dalam menunggu. Dan yang terbaik... dalam membalaskan dendam.
Malam itu, Richard tidur pulas di samping Alana, mendengkur kecil seperti bayi yang tak berdosa.
Dan Alana?
Ia terbangun sampai pukul tiga pagi, menatap langit-langit, tersenyum dalam gelap.
Selamat tidur, suamiku. Nikmati malam-malam tenangmu. Karena sebentar lagi... kau akan merasakan bagaimana rasanya tidur dengan satu mata terbuka.
Takut.
Seperti aku selama ini.
[BERSAMBUNG](ノ゚0゚)ノ→
---
kalimat paling epik
"Kau kira kau sedang memeluk korbanmu? Maaf, sayang. Kau sedang memeluk cambukmu sendiri."
"Yang paling menyakitkan dari pengkhianatan bukanlah lukanya. Tapi senyum manis yang kau lihat setiap hari, sementara kau tahu di baliknya ada racun."
"Aku tersenyum padamu setiap hari. Bukan karena aku baik. Tapi karena aku sedang menghitung hari."
---
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄