Di pesta 1 tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri.
Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya.
Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman.
"Kubeli tubuhmu seharga 3M." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya,
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf
"Apa gapapa, kalau saya ga minta maaf?"
Ana mendongak, menatap punggung pria yang berjalan di depannya.
"Gapapa." Max menjawab singkat,
Terus diikuti sampai masuk ke dalam villa. Di sana mereka berhenti di depan kamar tamu,
"Kamu urus semua koper, pindahkan keluar. Akanku panggil pelayan yang bisa membantu kita membawanya turun,"
"Lho, kenapa---kan kita menginap selama 3 hari?" Ana mengernyit bingung.
"Aku akan mundur dari proyek ini. Jadi kita ga perlu menginap,"
Max hendak berbalik namun tangannya ditahan, Ana menggenggam erat seakan menunggu penjelasan.
Selama ini dia melihat sendiri bagaimana pria itu menahan dan rela merendahkan diri demi proyek tersebut.
Lalu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran? Bahkan dengan santainya mengajak pulang.
Ana melangkah maju, berdiri menghadap Max.
"Apa ini, ada hubungannya dengan saya yang tidak mau minta maaf?"
"Proyek ini melibatkan 5 perusahaan, dan perusahaanku lah yang paling kecil di antara mereka."
"Jika Perusahaan K mengungkit masalah tadi, yang lain pasti menyudutkanku dan akhirnya LITE akan diusir dari proyek ini."
"Jadi lebih baik, kita pulang sekarang biar ga buang-buang waktu." sahut Max menjelaskan,
"Jadi, benar-benar karena saya?"
"..." Max hanya diam tak menjawab, langsung menarik tangan agar terlepas dari genggaman.
Winda tercengang tak mengira Max memilih mundur demi menuruti keputusannya. Padahal sebagai bos, dia bisa memaksa.
"Hh!" Dia mendengus kesal, melihat sikap Max.
Entah kenapa pria itu tampak berubah di matanya. Max bukanlah pria yang dikenalnya dulu, sosok hebat, tegas dan tak ragu menyingkirkan lawan yang berani mengusik.
Kini, Ana hanya melihat pria lemah yang mudah goyah. Kemana perginya semua prinsip kaku milik Max?
"Kita tidak akan pulang." tegas Ana menatap tajam,
"Saya tidak mau proyek ini batal. Saya akan minta maaf sekarang,"
Tubuhnya sigap berbalik pergi ke lantai atas. Ruang yang dijadikan tempat berkumpulnya para pengusaha,
Dari anak tangga, Ana mendongak mendengar canda tawa beberapa orang.
Di belakang terlihat Max yang membuntuti, tak habis pikir kenapa gadis itu berubah pikiran?
Menyusul dan melihat secara langsung, saat Ana menundukkan kepala di depan semuanya.
"Saya minta maaf, soal kejadian tadi."
"Saya harap Bapak mau memaafkan bocah labil seperti saya," imbuh Ana bersungguh-sungguh.
Terlihat Ryan yang duduk sambil memegang gelas, ditemani 3 direktur lain. Syla yang berdiri sibuk meletakkan piring cemilan di atas meja,
Lalu di sisi lain ada 5 wanita bayaran yang sudah berganti baju, memakai kostum kelinci tampak memegang sebotol anggur di tangan masing-masing.
Semuanya tertegun menatap ke arah Ana,
"Apa ada masalah?" sontak Ryan bertanya dengan wajah polos,
"Haha, tidak ada. Cuma masalah kecil," jawab Wira mengibaskan tangan sambil tertawa canggung.
"Oh, kalau gitu aku tidak perlu ikut campur." mengangkat bahu santai,
Ryan kembali menikmati seteguk minuman dari gelasnya.
Ucapan itu membuat Wira semakin leluasa, tak segan memandangi Ana dengan senyum licik.
"Asal kamu berjanji untuk tidak mengulanginya, masalah tadi kuanggap tak pernah terjadi."
"Hh, saya berjanji tidak akan mengulanginya!" sahut Ana dengan lantang,
"Hm, kata-kata saja tidak cukup. Bagaimana kalau kamu duduk dan menuangkan anggur untukku," seru Wira merendahkan suara.
Menepuk singkat bagian sofa yang tersisa setengah jengkal.
"Dasar keparat!" umpat Max dalam hati,
Tangannya mengepal kuat, kakinya bersiap maju namun terkejut mendapati Ana yang sudah melangkah, menuruti perintah.
Ana mendekat, berbalik dan perlahan menduduki tempat yang hanya cukup ditempati separuh bokong.
"Hh!" Ana tersentak, saat lengan gelambir itu merangkul tubuhnya.
Sentuhan yang membuatnya jijik, jemari Wira bergerak memijat, nyaris menyentuh sela ketiak.
"Padahal aku ingin mencicipinya, tapi sudah keduluan." batin Ryan mengangkat alis,
"Ya sudahlah, sama saja. Aku sudah berhasil mempermalukannya di depan semua orang,"
Melirik ke arah Max yang mematung, langsung menertawainya. "Hh!"
Menggerakkan telunjuk yang membuat Syla paham. Dia langsung mendorong sofa beroda tambahan untuk seseorang,
Sengaja diletakkan agar berhadapan dengan Wira.
"Silahkan..."
Max menatap singkat, terpaksa setuju dan mendudukkan diri.
"Ng!" Ana memejamkan mata, berusaha menahan diri, agar emosinya tak meluap.
"Sial! Seharusnya aku tidak mengajaknya ke sini." benak Max menghardik diri sendiri,
Menggertak geram, melihat pria yang tersenyum puas merangkuli Ana bahkan tangan lainnya mulai bergerak menepuk paha.
Suara Max tercekat, tubuhnya kaku, dadanya terasa sesak. Berulang kali merasa bersalah sebab menyeret gadis kecil itu ke dalam masalahnya.
Andai dia tak berpura-pura demi mendekati Ryan...
"Jauh kan tanganmu dariku!" batin Ana, mengernyit, menatap sinis tangan berkerut yang semakin bergerak liar.
DAP!
Ana bangkit, langsung menghela nafas. Rahangnya menganga pelan, memiringkan kepala guna menenangkan diri.
Ditolehnya wanita di samping, lalu merebut botol anggur yang dipegang. Semoga cara ini berhasil,
"Silahkan, biar saya bantu..." lugas Ana tersenyum sepat.
Tetap berdiri sembari menuangkan anggur dalam gelas kosong milik Wira.
"..." Wira mengangguk lirih dan menggapai gelas.
"Kenapa masih berdiri, duduklah lagi." Tangannya meraih paksa hingga tubuh Ana goyah,
Namun Ana masih bersikeras menahan, tak membiarkan tubuhnya dipegang-pegang.
"Saya sudah menuangkan minuman sesuai perintah anda. Bukankah kalian akan membahas masalah bisnis? Lebih baik, saya pergi--"
"Dia benar, bagaimana kalau kita mulai pembahasannya?" imbuh Max menoleh pada Ryan,
"Soal bisnis...minggu depan kita bahas di kantor. Nanti kalian akan diundang ke perusahaan Sidney," Ryan menjawab santai.
Seakan sengaja membiarkan Wira melanjutkan aksi,
"Tenang saja, kerja sama kita sudah ditetapkan." lanjutnya mengangkat gelas ke arah Max, mengajak bersulang.
"Perusahaan Sidney dan 4 perusahaan kalian akan bekerja sama dalam proyek besar. Jadi perjalanan bisnis ini sengaja kuadakan untuk merayakan kerja sama kita,"
"Haha! Menyediakan villa semewah ini bahkan menyediakan anggur mahal---"
"Pak Ryan memang dermawan." ucap Wira terus memuji,
2 direktur lain ikut tersenyum, sepertinya mereka juga tak berani berselisih dengan Wira.
"Kamu dengar sendiri, kan? Kemarilah, duduk dan temani aku minum." Menoleh ke arah Ana,
"Sial. Bajingan itu sengaja mempermainkanku! Dia pasti membalas dendam soal kejadian di restoran." Mengumpat dalam hati, menatap sinis Ryan yang duduk tenang menonton dari jauh.
BRUK!
Tangan Wira menarik paksa tubuh Ana hingga duduk kembali. Lengannya merangkul semakin erat, membuat Ana tercekik.
"Kamu pasti belum pernah mencicipi anggur mahal. Cobalah..." Sambil menyodorkan gelas,
"Mm... Saya tidak mau," tolak Ana menggeleng, langsung menutupi mulut.
Kedua telapaknya sibuk menghadang, sambil mendorong mundur gelas yang terus dijejalkan.
"Ayolah, sedikit saja..."
Ana singkat melirik, melihat Max tengah menundukkan kepala. Sungguh seperti pria tanpa kuasa,
"Aku sendiri yang mengajukan diri. Jadi apa boleh buat?" batinnya sempat mengharapkan pertolongan.
"Ayo, cobalah sedikit saja."
Wira bersikeras, menarik dan menahan telapak Ana. Berhasil menempelkan ujung gelas pada bibir,
Ryan tersenyum puas, begitu juga Syla. Sedangkan yang lain tampak bengong melihat gadis itu berjuang,
Memalingkan muka, namun sigap ditahan. Akhirnya Ana tak ada pilihan selain menuruti,
Matanya terpejam erat, perlahan membuka mulut nyaris menyentuh gelas bekas bibir Wira.
GREP!
"Biar, aku saja yang meminumnya." tegas Max, merebut segelas anggur dan dihabiskan dalam sekali teguk.
"Eh?" Ana tertegun, mendapat pembelaan dari pria yang telah berdiri di depannya.
"Padahal cuma anggur, kenapa tidak dibiarkan saja? Dia malah berani menentang Pak Wira," bisik Hasan direktur Perusahaan S.
"Sudah kita duduk dan lihat saja. Ga usah ikut campur," tegur direktur lain, tak berani berkomentar.
Bisikan mereka terdengar, namun tak menggoyahkan Max. Dia masih berani melawan,
Ana menyambut uluran tangan Max, beranjak bangun dan bersembunyi di balik punggungnya.
"Saya dengar bulan lalu, ada satu diplomat yang terkena kasus karena salah mengenali pelayan. Apa Pak Wira pernah dengar berita ini?"
"Ha? Ng, iya--sepertinya, aku pernah mendengarnya." Wira menjawab asal,
"Apa anda tahu? Ternyata yang dia ajak minum adalah mahasiswi yang sedang kerja sambilan."
"Saya dengar berita ini sangat viral lalu muncul gadis-gadis lain yang mengaku pernah menjadi korbannya."
"Akhirnya diplomat itu diberhentikan dari jabatan dan dikenakan denda sebesar 2M."
"Kebetulan asisten saya masih mahasiswa, dia tidak boleh minum alkohol---karena, setiap malam harus menulis laporan magang dan mengerjakan tugas yang diberikan dosennya." gumam Max mencubit dagu,
"Saya tahu Pak Wira bijaksana dan tidak mungkin memaksanya. Benar, kan?"
""Ng, Benar--benar. Aku tidak akan memaksanya," Wira mengangguk cepat,
Dibuat kikuk, tubuhnya bergidik ngeri. Entah kenapa wajah dan aura Max membuat ucapan tadi terdengar seperti ancaman,
"Jadi...bagaimana, kalau saya saja yang menemani anda minum?" tawar Max mengangkat alis, memasang senyum ramah.
"T-tentu saja, aku juga senang bisa minum dengan pengusaha muda sepertimu."
jangan lupa mampir juga di novel saya judul nya"Dialah sang pewaris" di tunggu yah kaka semua