Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANGKAP DI BALIK KEGELAPAN
Malam yang seharusnya menjadi awal ketenangan di vila baru itu berubah menjadi mencekam dalam hitungan detik. Haris, yang sedang memeriksa laporan keamanan di ruang kerjanya, mendapatkan sinyal darurat dari salah satu anak buah Farel. Penyerangan di perkebunan warga bukan sekadar gertakan sambal. Darwis benar-benar mengirimkan pasukannya untuk membumihanguskan mata pencaharian penduduk desa.
Wajah Haris mengeras. Ia tidak langsung gegabah berlari ke lokasi. Tangannya dengan cepat mendial nomor Nabila, adiknya yang bertugas di kepolisian.
"Nabila, bergerak sekarang ke koordinat yang Kakak kirimkan. Juragan Darwis melakukan serangan anarkis di kebun warga. Pastikan kepolisian setempat mengepung seluruh area. Aku ingin bukti ini nyata dan transparan di depan hukum," perintah Haris dengan nada dingin yang tidak terbantahkan.
Setelah menutup telepon, Haris mengambil jaket kulit hitamnya. Ia menatap Haniyah dan Ratih yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah penuh tanya. Haris menghampiri istrinya, memegang kedua bahunya dengan lembut namun tegas.
"Hani, dengarkan aku. Ada sedikit kerusuhan di kebun warga. Mas harus menyusul Farel ke sana. Kamu tetap di dalam vila, jangan keluar sama sekali. Ratih, tolong temani Haniyah. Jangan biarkan dia sendirian," ucap Haris cepat.
Ratih tampak bingung dan sedikit cemas. "Tunggu, Haris! Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa wajahmu tegang begitu?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Tim keamanan sudah berjaga di sekeliling vila. Tetaplah di dalam dan kunci semua pintu!" Haris tidak menunggu jawaban lagi. Ia segera melesat pergi bersama beberapa orang anak buahnya yang sudah bersiap di halaman.
Perjalanan menuju perkebunan hanya memakan waktu sepuluh menit, namun pemandangan di sana sudah sangat kacau. Haris melihat Farel sedang bertarung dengan sangat lincah, meringkus para anak buah Darwis satu per satu. Suara teriakan dan dentaman kayu yang beradu memecah keheningan malam. Haris tanpa ragu langsung terjun ke dalam baku hantam tersebut. Meskipun ia seorang bos besar, kemampuan bela dirinya yang ia latih sejak muda tidak pernah luntur.
Sepuluh menit pertempuran sengit itu berlangsung, hingga tiba-tiba sirene mobil polisi memecah udara malam. Lampu biru dan merah berputar-putar di kejauhan, menciptakan kepanikan di kubu anak buah Darwis.
"Polisi! Lari!" teriak salah satu centeng Darwis dengan ketakutan.
Namun, strategi Nabila sangat rapi. Seluruh area sudah terkepung rapat. Para penjahat itu tidak berkutik dan satu per satu mulai diborgol. Farel yang napasnya masih terengah, menghampiri Haris yang baru saja menjatuhkan lawan terakhirnya.
"Bos, Anda baik-baik saja?" tanya Farel sambil menyeka keringat di dahinya.
"Aku tidak apa-apa. Farel, di mana juragan Darwis? Apa kamu melihat si bandot tua itu tadi?" tanya Haris dengan mata yang menyisir kerumunan orang yang diringkus.
Farel tertegun. Ia mencoba mengingat-ingat. "Tadi saya melihatnya di garis belakang, Bos. Dia yang memberikan perintah dengan wajah sombongnya. Tapi tunggu, kenapa dia tidak ada di antara mereka?"
Haris berjalan mendekati barisan tawanan, memeriksa wajah mereka satu per satu di bawah lampu senter polisi. Jantungnya mulai berdegup kencang karena firasat buruk yang tiba-tiba menyerang. Nama Darwis tidak ada di daftar mereka. Sosok tua itu seolah lenyap ditelan bumi.
"Sial! Ini hanya pengalihan!" seru Haris tiba-tiba. Suaranya terdengar penuh kepanikan. "Farel, kembali ke vila sekarang! Darwis memancing kita keluar agar vila dalam keadaan lemah!"
Tanpa menunggu perintah dua kali, mereka semua berlari menuju mobil jip milik Farel. Haris melompat ke kursi penumpang, sementara Farel menginjak gas sedalam mungkin. Mobil SUV hitam anak buah lainnya mengikuti di belakang. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan berbatu, debu beterbangan di belakang mereka.
Sesampainya di kaki bukit, Haris tidak menunggu mobil berhenti sempurna. Ia langsung meloncat keluar dan mendaki lereng menuju vilanya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dua anak buahnya tergeletak di tanah bersimbah darah.
"Mereka ditembak dari jarak jauh. Sniper," gumam Farel yang sudah mengeluarkan senjatanya.
Haris berlari masuk ke dalam vila yang pintunya sudah terbuka lebar. Ruangan itu tampak berantakan, beberapa vas bunga pecah berserakan di lantai.
"Haniyah! Ratih! Di mana kalian!" teriak Haris dengan suara yang parau.
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Hanya suara angin malam yang berdesir masuk melalui pintu yang rusak. Haris meninju tembok dengan keras hingga tangannya berdarah. Ia merasa sangat bodoh karena telah terpancing permainan murahan Darwis.
Di saat yang sama, Kakek Usman datang dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi melihat kekacauan di vila tersebut. "Nak Haris, apa yang terjadi? Ke mana Haniyah?"
"Mereka dibawa, Kek. Si tua bangka itu membawa istri saya! Kakek, tolong tunjukkan di mana markas tersembunyi Darwis sekarang!" tuntut Haris dengan tatapan mata yang sudah dipenuhi amarah yang membara.
Kakek Usman mengangguk cepat. "Ikut saya, Nak. Ada sebuah gudang tua di balik lembah yang sering ia gunakan."
Mereka segera bergerak menuju lokasi yang dimaksud. Namun, sesampainya di rumah besar milik Darwis yang terletak di pinggiran desa, mereka mendapati tempat itu kosong melompong. Pintu gerbang terbuka lebar, dan semua barang berharga seolah sudah dipindahkan.
Haris menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. "Sial! Dia benar-benar sudah merencanakan ini dengan sangat matang. Dia tahu polisi akan datang ke kebun, jadi dia mengosongkan rumahnya lebih dulu!"
"Farel, lacak GPS ponsel Haniyah sekarang!" perintah Haris dengan nada yang sudah hampir hilang kendali.
"Sudah saya coba, Bos. Ponsel Ibu Haniyah sudah tidak aktif sejak mereka pindah ke sini. GPS-nya mati total," jawab Farel dengan suara rendah.
Haris terengah, otaknya berputar cepat di tengah keputusasaan. Kemudian, sebuah secercah cahaya muncul di pikirannya. "Ponsel Ratih! Lacak ponsel Ratih! Dia wanita yang pintar, aku yakin dia akan mencari cara agar kita bisa menemukannya!"
Farel segera mengetikkan koordinat di tablet canggihnya. Jarinya bergerak cepat di atas layar. "Sinyalnya masih ada, Bos! Tapi sangat lemah. Sepertinya mereka bergerak ke arah hutan pinus di perbatasan provinsi. Mereka tidak diam di satu tempat!"
Haris menatap ke arah kegelapan hutan di kejauhan. Wajahnya yang tadi tampak frustasi kini berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. "Kejar mereka. Dan Farel, jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku, pastikan Darwis tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi."
"Siap, Bos. Kita berangkat sekarang," jawab Farel dengan aura yang sama dinginnya.
Mobil mereka kembali menderu, membelah malam menuju hutan pinus yang sunyi. Di dalam kegelapan itu, Haniyah dan Ratih sedang berjuang mempertahankan nyawa mereka di tangan seorang pria yang sudah tidak lagi memiliki hati nurani
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪