NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Auvy

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Tamu di Koridor Hotel

Setelah obrolan yang cukup menguras perasaan emosional di dalam mobil tadi siang, Bela benar-benar memanfaatkan waktu istirahatnya di hotel. Tidur siangnya terasa begitu lelap, seolah tubuhnya sedang mengisi ulang daya setelah dipaksa fokus menyetir Jakarta-Bandung. Ia baru terbangun saat jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam.

Ajaibnya, Bela tidak merasa mual atau pening sama sekali. Sebaliknya, ia terbangun dengan rasa lapar yang luar biasa spesifik. Moodnya untuk ngemil benar-benar meledak. Entah karena pengaruh hormon kehamilan atau efek samping kelelahan menyetir, Bela merasa seperti ada monster kecil di perutnya yang menuntut untuk segera diberikan asupan makanan enak.

Tanpa membuang waktu, Bela segera turun menuju restoran hotel. Ia sempat melakukan riset singkat melalui media sosial dan banyak orang memuji varian menu di sini. Begitu sampai di restoran, ia mendapati suasana yang cukup tenang karena jam makan malam utama sudah hampir berakhir. Pilihan menunya masih tertata rapi di atas meja saji, menggugah selera dengan aroma yang menggoda.

Bela benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski duduk sendirian, ia tampak begitu heboh menikmati setiap suapan. Setiap jenis camilan dan hidangan yang menarik perhatiannya langsung ia pindahkan ke atas piring. Mulai dari hidangan pembuka yang gurih, makanan berat yang kaya bumbu, hingga deretan dessert yang manis, semuanya masuk ke dalam mulut dengan penuh kemenangan. Jika dibandingkan dengan makanan di kafe milik Melani siang tadi, Bela harus mengakui bahwa makanan hotel ini jauh lebih nikmat dan masuk di lidahnya yang sedang sensitif.

Hampir satu jam Bela menghabiskan waktu di sana, sampai staf restoran mulai memberikan isyarat halus bahwa mereka akan segera tutup. Dengan perut yang kini terasa penuh sesak, Bela pun memutuskan untuk kembali ke kamar.

Ia berjalan begitu lambat menyusuri lobi menuju lift. Langkahnya berat akibat kekenyangan, kepalanya menunduk fokus menatap layar ponsel, sibuk menyusuri linimasa media sosial untuk mengusir rasa sunyi. Bela baru benar-benar mengangkat wajahnya saat ia sudah sampai di koridor depan kamarnya di lantai atas.

Tepat saat ia hendak merogoh kartu akses untuk membuka pintu, ia tersentak kaget. Saking asyiknya bermain ponsel, ia baru menyadari bahwa ada sesosok pria berdiri tepat di sampingnya, di depan pintu kamar nomor sebelah.

"Oh, hai! Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?" sapa pria itu dengan senyuman yang tampak ramah.

Bela mematung, wajahnya menunjukkan kebingungan yang nyata sebelum ingatannya bekerja cepat. Pria itu adalah sang Chef bule yang siang tadi mereka temui di kafe. Ikon dari bisnis baru Melani. Dan sekarang, dia muncul di sini bukan di depan pintu kamar Bela, melainkan tepat di depan pintu kamar Melani.

'Dia habis keluar dari dalam kamar atau baru saja datang?' pertanyaan itu langsung berputar di kepala Bela.

"Anda cari Ibu Melani?" tanya Bela memastikan, alih-alih menggubris kalimat sebelumnya yang diucapkan di chef bule itu. Bela mencoba menjaga nada bicaranya agar tetap profesional meski hatinya mulai curiga.

"Oh, iya! Saya telepon dia, tapi tidak ada kabarnya. Jadi saya ke sini untuk mengambil dokumen yang tertinggal," ucapnya.

Namun, ada sesuatu yang janggal. Gerakan tubuh pria itu nampak mulai gugup, tangannya bergerak gelisah dan ia tidak berani menatap mata Bela secara langsung usai dilemparkan pertanyaan. Kegugupan itu terpancar sangat jelas di bawah temaram lampu koridor.

"Kalau begitu, saya bantu teleponkan ya, Bu Melaninya. Supaya dia tahu Anda sudah di sini," ucap Bela dengan inisiatif, tangannya sudah bersiap membuka kunci ponsel.

"Jangan!" Seru pria itu dengan cepat, nadanya sedikit meninggi hingga menggema di koridor yang sepi.

Melihat reaksi agresif itu, Bela langsung mematung. Pria itu nampak sadar bahwa suaranya barusan terlalu keras dan mencurigakan. Ia segera menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya makin memerah karena salah tingkah.

"Maksud saya... saya bisa hubungi dia nanti saja. Tidak perlu repot-repot," jawabnya dengan aksen bule yang khas.

Setelah itu, ia langsung berpamitan dengan terburu-buru dan berjalan cepat menuju arah lift tanpa menoleh lagi. Bela pun memasuki kamarnya dengan seribu prasangka yang berdesakan di kepala.

"Kenapa juga harus datang ke hotel malam-malam begini, hanya buat ambil dokumen? Sampai nekat berdiri di depan pintu kamar Ibu Melani pula! Padahal kan tadi siang juga dia lama ngobrol sama ibu Melani" gumam batin Bela. Dia memilih bergumam karena takut komentarnya di dengar oleh bule tadi, meski Bela tahu bahwa pria itu sudah jauh menuruni lift.

Tapi! Siapa yang tahu? Siapa yang bisa memastikan pria itu sudah betul-betul pergi? Mau mengecek kembali ke arah luar saja rasanya berat, melangkah pun rasanya was-was sampai kaki Bela bergetar.

Ia segera mengunci pintu kamar dan melakukan pemeriksaan mendalam ke setiap sudut ruangan. Di bawah tempat tidur, di balik tirai, hingga memastikan semua jendela terkunci rapat. Rasa takut mulai merayap. Meski ia baru mengenal pria itu sebagai rekan bisnis bosnya, pertemuan di tempat privat seperti hotel membangkitkan trauma Bela terhadap laki-laki. Ia merasa tidak aman sama sekali.

"Apakah Ibu Melani baik-baik saja? Apakah murni Chef itu mencarinya untuk urusan pekerjaan?" Pikirannya terus berputar. Di jaman sekarang, kriminalitas bisa terjadi di mana saja dan pelakunya seringkali adalah orang yang dikenal.

Detik itu juga, Bela tidak tahan untuk tidak memastikan keadaan Melani. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kamar sebelah. Dengan tangan gemetar, ia mencari kontak Melani dan melakukan panggilan.

'tut...tuttt...tuttt' suara dering telfon. Semakin berdering, semakin muncul rasa takut Bela.

"Iya, halo Bel?" jawab Melani setelah beberapa nada sambung.

Mendengar suara Melani yang tenang dan santai, Bela langsung mengembuskan napas lega yang luar biasa. Tidak ada tanda-tanda ketegangan atau bahaya dari nada bicara bosnya itu.

"Oh... astaga! Maaf Ibu, saya salah pencet. Maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Bela segera berbohong, lalu mematikan sambungan telepon dengan cepat.

Setelah memastikan semuanya aman dan melakukan double check, barulah Bela bisa merebahkan diri. Namun, bayangan wajah gugup sang Chef di depan pintu Melani tetap menghantuinya. Ada rasa janggal yang terus menggerogoti logika sehatnya.

Padahal, yang dikunjungi oleh pria bule itu adalah kamar sebelah, bukan kamarnya. Secara logika, Melani yang seharusnya merasa terancam atau waspada. Namun, justru Bela yang kini menggigil ketakutan.

Semua ini terjadi karena ingatan Bela kembali ditarik paksa pada malam terkutuk itu, malam yang menghancurkan seluruh hidup dan masa depannya dalam sekejap.

Bela merasakan tangannya mulai mendingin, keringat dingin keluar dari pori-porinya meskipun AC kamar hotel berhembus cukup kuat.

Dengan gerakan panik, Bela langsung melompat ke dalam kasur. Ia menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh kepala, menciptakan gua kecil yang gelap sebagai tempat persembunyiannya. Seolah-olah dengan bersembunyi dalam selimut, dunia luar yang kejam tidak akan bisa menemukannya.

Bela memejamkan mata kuat-kuat, merapalkan doa-doa pendek agar ia segera terlelap. Ia hanya ingin tidur. Ia ingin segera kehilangan kesadaran agar pikirannya tidak lagi berkelana ke mana-mana, agar ia tidak perlu overthinking tentang apa yang sedang terjadi.

1
Siti Amalia
kerennnn novelnya thorrrrr...semoga bela berjodoh sama raka
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Queen: haloo...🥰
total 1 replies
Queen
Hai guys, jangan lupa kasih hadiah dan komen²nya biar author semangat 🥰
Blackforest
ditunggu kelanjutannya thor 😍
Queen: siip ☺️ jangan lupa like, komen, share ke teman² kalian dan giftnya yah 🫰🏻
total 1 replies
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
Queen: halooo terimakasih dukungannya 😊 baca terus yah sampai tamat 🫰🏻
total 1 replies
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!