"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 (Bidadari)
Fania sudah membuka cadarnya di depan suami dan ibu mertuanya. Ibu dan anak itu sangat terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Raditya terpesona dengan istri yang dibencinya itu. "Masya Allah, Nak. Kamu cantik sekali, Mama tidak menyangka jika kamu sangat menawan, Nak," ucap Rima pada menantunya.
Fania tersenyum dengan lembut, dia tidak menghiraukan tatapan suaminya. "Mama jangan terlalu banyak memuji. Di luar sana masih banyak yang cantik lagi. Saya hanya orang dari kampung yang tidak ada kelebihan apapun, Ma."
Rima sangat bangga dengan menantunya. Dia semakin suka dengan keberadaan Fania. "Jika boleh jujur, jarang sekali ada wanita sepertimu, Nak. Mama sangat beruntung sekali. Semoga kamu segera mempunyai anak, soalnya Mama ingin sekali menimang cucu."
Fania hanya diam sja saat disinggung tentang mempunyai anak. Dia tidak terganggu sedikitpun karena bukan inginnya. Raditya tidak bisa berkata apapun. Pikirannya kacau sejak melihat wajah istrinya tadi. Keduanya berada dalam pikiran masing-masing. Lalu, Rima menanyai mereka dan membuat lamunannya buyar.
"Radit, kamu tidak ada rencana buat bulan madu gitu? Kamu harus kesampingkan dulu pekerjaan di kantor, bawa istrimu ke tempat yang indah," ucap Rima penuh harap.
Raditya ingin menjawab, tapi segera disahut oleh Fania. "Saya tidak perlu berbulan madu ke tempat jauh, Ma. Cukup di rumah saja, saya tidak begitu suka perjalanan jauh. Lagian, Mas Radit pasti sibuk. Tidak apa-apa jika harus di rumah."
Rima terlihat kecewa dengan keputusan itu, tapi mau tidak mau dia harus menghargai keputusan menantunya. "Baiklah, Mama mengerti. Sayang jika kamu bosan di rumah, kamu boleh kok main ke rumah. Terkadang Mama bosan dan butuh teman. Besok Mama ada acara arisan, kamu ikut, ya? Mama mau kenalin kamu sama teman-teman Mama."
"Fania tergantung Mas Radit, Ma. Jika diizinin, Fania mau kok," ujar Fania sambil suaminya.
Raditya meletakkan sendoknya, dia mengambil minum yang ada disampingnya. "Boleh, kok. Mama bawa saja, lagipula dia di rumah sendirian pasti juga bosan."
Rima sangat senang bisa mendapatkan izin membawa menantunya. Dia melanjutkan makan dan terlihat bahagia sekali. Raditya masih merasakan perasaan yang aneh. Dia tidak bisa mengalihkan pandanganya pada Fania. "Ada apa ini? Kenapa perasaanku jadi kacau? Radit, kamu harus sadar. Jangan sampai terpikat hanya karena Fania lebih cantik."
Kecantikan Fania mampu memecah konsentrasi Raditya hingga membuat makan malam penuh kecanggungan. Selesai makan, Rima masih sibuk mengobrol dengan menantunya. Sementara Raditya sedang berbalas pesan dengan Zelina. Dia sedang membahas pernikahan keduanya. Keputusan untuk berpoligami sudah ditekatkan tanpa bisa ditunda lagi. Akan tetapi, muncul sedikit keraguan saat melihat Fania akrab dengan Rima.
Dalam pesan tersebut, Zelina sangat senang sekali. Dia bahagia akan menikah dengan pria yang dicintainya sejak lama itu. Beberapa jam berlalu, Rima berpamitan untuk pulang. Dia sangat berat sekali meninggalkan menantunya. Fania pun dengan sigap menghibur.
"Ma, jangan sedih. Toh, besok kita bisa ketemu lagi. Apa Mama besok jemput saya?" tanya Fania dengan suara lembut.
"Tentu saja Mama akan jemput kamu, Sayang," balas Rima, dia mencium pipi menantunya. "Kamu cepat istirahat, ya."
Fania mengangguk patuh, dia menyalami tangan Ibu mertuanya. "Iya, Ma. Saya akan segera beristirahat."
"Radit, Mama pulang dulu. Kamu harus jaga istrimu dengan baik. Dia adalah gadis yang sempurna dan tentunya sangat langka di jaman sekarang." Rima keluar dari rumah putranya, dia masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
Fania masuk ke dalam, dia segera membereskan meja makan. Dari kejauhan, Raditya mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Dia menghampiri istrinya yang mengelap meja makan. "Ambil itu, aku tidak mau Mama curiga dengan akting ini. Kamu boleh menggunakannya untuk belanja keperluanmu dan juga rumah. Itu unlimited, jadi jangan takut kehabisan. Sesuai dalam perjanjian, aku akan menafkahimu. Tetap jaga batasan."
Raditya pergi dari sana, dia meninggalkan istrinya yang masih bersih-bersih. Fania menghela napas dalam untuk menetralkan rasa sesak di dada. Meski bisa bersikap biasa tetap saja dia adalah seorang wanita yang mempunya perasaan lembut. "Astagfirullah, Fania kamu harus bisa melawan ketidakadilan. Jangan sampai kamu menyerah dan dirugikan."
*******
Keesokan harinya, Fania sudah bangun dia menunaikan ibadah wajib. Setelah itu dia memasak untuk menyiapkan sarapan karena Raditya akan pergi bekerja. Meski tidak dianggap sebagai seorang istri, tidak membuat Fania lalai dalam kewajibannya. Dia tetap menyediakan sarapan sebagaimana tugas para istri semestinya. Selesai menyiapkan, Raditya keluar dari kamarnya. Dia melihat masakan yang sudah tersaji di meja.
Raditya mendekat dan melihat menu yang ada di meja makan. Sangat mengugah selera. Dia duduk kemudian memakan sandwich penuh sayuran segar itu. Fania masih berada di dapur, dia sedang membuat kue kering untuk dibawa ke arisan. Dia tidak menemani suaminya sarapan karena harus menjaga batasan.
Selesai sarapan, Raditya masuk ke dapur untuk minum. Dia melirik istrinya yang sibuk dengan mixer. Meski penasaran, tapi rasa gengsi mengalahkan segalanya. Dia pergi tanpa bertanya apapun. Fania juga berusaha acuh, dia hanya menjalankan apa yang dia bisa saja. Selesa mengadon, Fania membereskan meja makan. Dia melihat piring yang sudah kosong dan mencucinya di dapur. Dia harus segera menyelesaikan kue keringnya sebelum ibu mertuanya datang menjemput.
Hampir dua jam, Fania berkutat di dapur. Untung saja kue keringnya matang tepat waktu. Fania mengeluarkannya dari dalam oven. Setelah itu, dia segera membaginya menjadi tiga bagian. Satu toples untuk isi meja makan, lalu dua toples lagi untuk ibu mertuanya dan tempat arisan. "Akhirnya selesai juga, saatnya siap-siap. Sebentar lagi Mama pasti sampai sini."
Setengah jam berlalu, Rima sudah sampai di rumah putranya. Dia masuk ke dalam dan mencari keberadaan menantunya. "Fania, kamu di mana, Nak? Ehh, apa ini? Kue kering, apa dia mau bawa kue ini ke tempat arisan?"
Tidak lama kemudian, Fania muncul dari lantai atas. Dia sudah berpakaian rapi dan tampak wangi. "Mama sudah lama? Tadi saya siap-siap."
"Mama baru sja sampai kok, ini kamu yang buat? Kayaknya enak sekali?" tanya Rima pada menantunya.
Fania menjawab, "Iya, Ma. Tadi saya sempatin buat, ini buat Mama. Terus yang satunya buat temen Mama. Semoga suka dengan rasanya."
"Mama kagum sama kamu, ternyata kamu pinter masak dan buat ginian. Pasti teman arisan Mama nanti akan iri. Soalnya Mama punya menantu yang pintar seperti kamu." Rima terus memuji menantunya.
Fania tersipu malu, dia merasa tidak enak selalu dipuji. "Ma, jangan puji saya berlebihan. Saya melakukannya karena ingin saja."
"Ya sudah. Sekarang kita berangkat."
Mobil keluar dari halaman, perjalanan ditempuh kurang lebih dua puluh menit. Fania memakai gamis syar'i berwarna merah muda. Cadarnya juga senada dengan warna pakaiannya. Tanpa make up yang mencolok, tetap saja terlihat cantik. Akhirnya mereka sampai juga di lokasi. Keduanya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam.
Keduanya disambut ramah oleh pemilik rumah. "Jeng Rima, aku kira kamu tidak datang loh. Tunggu, ini siapa, Jeng?"
"Kenalin, ini menantuku."
Fania langsung menyapa, "Assalamualaikum, Tante. Perkenalkan nama saya Fania."
"Fania, Masya Allah, cantik dan anggun sekali. Jeng, kamu dapat dari mana menantu seperti ini? Jika ada lagi, infoin ke aku, ya? Biar bujangku itu cepat menikah," bisik teman arisan Rima.
Rima mencolek temannya, dia membalas dengan kedipan. "Tidak ada lagi karena ini limited edition. Sudah, jangan buat menantuku menunggu."
Ketiga wanita itu masuk ke dalam untuk bergabung dengan semuanya. Saat ingin duduk, Fania meminta izin untuk pergi ke toilet. "Maaf, Tante, apa saya boleh ke toilet?"
"Toilet ada di belakang, Sayang. Kamu lurus saja, nanti sampai."
"Terima kasih, Tante." Fania segera ke toilet. Di masuk ke dalam sekitar dua menit. Setelah itu dia keluar dan hampir bertabrakan dengan seseorang.
"Astagfirullah, maaf saya tidak sengaja!" seru Fania, dan terkejut saat melihat siapa yang ditabraknya.
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡