NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Mafia
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. MULAI M3N!KMATI

Gairah yang menyulut udara di lapangan tembak itu seolah membakar oksigen di sekitar mereka. Ciuman Dipta terasa begitu dominan, penuh dengan rasa lapar yang telah ia pendam sejak pertama kali ia melihat Keyla mengenakan pakaian taktis yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya.

Keyla, meski terbuai, tiba-tiba merasa sisa-sisa kewarasannya mengetuk dinding kesadarannya. Ia mencoba melepaskan diri sejenak, napasnya memburu dengan bibir yang sedikit bengkak.

"Dipta... tunggu," bisik Keyla parau, matanya bergerak gelisah melirik ke arah barisan pria berpakaian hitam yang tadinya berdiri tegak di sekeliling lapangan. "Para pengawal... mereka melihat kita."

Dipta tidak langsung menjauh. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Keyla, menghirup aroma keringat dan parfum yang bercampur menjadi aroma yang memabukkan baginya. Ia terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di kulit leher Keyla.

"Tidak ada yang berani menatap ke arah sini, Keyla," gumam Dipta. "Dan tidak ada yang berani mengusik apa yang sudah menjadi milikku. Mereka tahu batasannya."

"Tapi tetap saja..." Kalimat Keyla terputus saat Dipta kembali menyambar bibirnya. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut.

Tangan Dipta mulai bergerak lincah di atas kain baju ketat yang dikenakan Keyla. Jemarinya menekan titik-titik sensitif di pinggang dan punggung Keyla, membuat gadis itu membusur pelan sambil mengeluarkan lenguhan kecil yang tertahan. Pakaian taktis yang ketat itu memang memberikan pemandangan yang menggoda bagi Dipta, namun kini pakaian itu menjadi penghalang yang menyebalkan bagi hasratnya yang memuncak.

Dipta melepaskan tautan bibir mereka sejenak, matanya yang gelap menatap Keyla dengan intensitas yang seolah bisa melelehkan apapun. Tanpa aba-aba, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Keyla, mengangkatnya dalam gendongan bridal style.

"Dipta! Mau ke mana?" seru Keyla pelan, secara insting melingkarkan tangannya di leher kokoh Dipta.

"Ke tempat di mana tidak ada yang bisa mengganggu kita," jawab Dipta singkat. Ia melangkah dengan mantap menuju gedung utama mansion, tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya dari wajah Keyla yang memerah.

*

Saat mereka melewati selasar utama menuju lantai atas, para maid yang sedang membersihkan vas bunga dan pengawal yang berjaga di koridor dalam segera menundukkan kepala sedalam mungkin. Tidak ada suara, tidak ada bisikan. Mereka seolah menjadi patung saat sang tuan lewat dengan membawa permaisurinya.

Meskipun mereka tampak dingin, di dalam hati para pelayan tua itu terselip rasa syukur. Mereka telah bertahun-tahun melihat Dipta tumbuh menjadi pria yang kaku dan penuh kebencian. Melihat cara Dipta menggendong Keyla—begitu protektif namun penuh damba—membuat mereka berharap bahwa kehadiran Keyla adalah obat bagi jiwa Dipta yang sakit.

Dipta menendang pintu kayu ek raksasa di lantai paling atas hingga terbuka lebar, lalu menutupnya kembali dengan tumit kakinya. Bunyi klik dari kunci otomatis bergema di ruangan itu.

Keyla tertegun saat Dipta menurunkannya di tengah ruangan. Kamar itu luar biasa luas, namun suasananya sangat berbeda dengan penthouse mereka di Jakarta. Dekorasi di sini sangat maskulin dan berat. Dindingnya dilapisi panel kayu gelap dan batu alam kelabu. Sebuah tempat tidur raksasa dengan tiang-tiang besi hitam berdiri di tengah, dikelilingi oleh tirai beludru merah darah yang tebal. Di sudut ruangan, terdapat lemari senjata berlapis kaca dan meja kerja dari kayu solid yang tampak kuno.

"Kamar ini... sangat menyeramkan," bisik Keyla, matanya menyapu sekeliling. "Persis seperti markas penjahat di film."

Dipta berjalan mendekat, mulai melepas rompi pelindungnya sendiri hingga tersisa kaos hitam yang merekat di dadanya yang bidang. "Ini adalah tempatku yang paling jujur, Keyla. Tidak ada sandiwara bisnis di sini. Hanya ada aku. Dan sekarang, ada kau."

Dipta membantu Keyla membuka ritsleting baju ketatnya yang berada di bagian belakang. Suara tarikan ritsleting itu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi. Begitu kain itu melonggar, Dipta mengupasnya perlahan, membiarkan pakaian itu jatuh di lantai marmer yang dingin.

"Dipta..." Keyla berdesah saat tangan hangat Dipta menyentuh kulit bahunya yang polos.

Dipta kembali mencumbu istrinya, kali ini dengan tempo yang lebih lambat namun jauh lebih intens. Ia membimbing Keyla menuju tempat tidur raksasa itu. Keyla, yang tadinya selalu merasa terintimidasi, kini mulai merasakan dorongan adrenalin yang berbeda. Mungkin suasana mansion yang liar ini, atau mungkin karena ia baru saja merasakan sensasi memegang senjata, jiwanya merasa lebih bebas.

Ia mulai menikmati permainan tangan Dipta. Keyla menarik kaos Dipta ke atas, ingin merasakan kulit suaminya bersentuhan langsung dengan kulitnya.

"Kau menginginkanku, Keyla?" bisik Dipta, suaranya serak di telinga Keyla, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"I-iya..." jawab Keyla lirih, napasnya mulai tidak beraturan. "Jangan berhenti..."

Dipta tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan. Ia merebahkan Keyla di atas sprei sutra hitam yang dingin. Kontras antara kulit putih bersih Keyla dan kain gelap itu membuat Dipta nyaris kehilangan kendali.

"Ah... Dipta..." lenguh Keyla saat bibir Dipta mulai menjajahi leher dan tulang selangkanya. Sentuhan itu bukan lagi terasa seperti paksaan, melainkan seperti sebuah tarian yang membakar.

"Katakan namaku," tuntut Dipta, suaranya berat dengan gairah. Ia menekan titik-titik sensitif di paha dalam Keyla, membuat gadis itu menggeliat gelisah.

"Dipta... Oh, Dipta... ahhh..." Keyla mendesah panjang, matanya terpejam saat ia merasakan sensasi yang menjalar ke seluruh sarafnya. Tangannya meremas rambut Dipta, menarik pria itu lebih dekat padanya.

Ruangan itu kini dipenuhi dengan suara napas yang memburu dan desahan yang menggairahkan. Dipta memberikan ciuman-ciuman panas di setiap inci tubuh Keyla, seolah sedang memetakan wilayah kekuasaannya yang paling berharga.

"Kau sangat indah, Keyla," gumam Dipta di sela-sela cumbuan mereka. "Aku bisa gila jika harus berbagi dirimu dengan dunia."

"Maka jangan bagikan aku..." jawab Keyla berani, menarik Dipta untuk menyatukan bibir mereka kembali.

Gairah yang memuncak di dalam kamar bernuansa gelap itu kini berada di titik didihnya. Suara gesekan sprei sutra hitam terdengar selaras dengan napas mereka yang kian memburu. Dipta tidak lagi memberikan celah bagi Keyla untuk berpikir; ia ingin seluruh indra istrinya hanya terfokus pada kehadirannya.

Dipta memposisikan dirinya di atas Keyla, menatap mata gadis itu dengan tatapan yang sarat akan proteksi dan kepemilikan mutlak. "Kau milikku, Keyla. Seutuhnya," bisiknya dengan suara serak yang menggetarkan dada.

"Iya, Dipta... Aku milikmu," jawab Keyla hampir tak terdengar, tenggelam dalam tatapan mata Dipta yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.

Tanpa melepaskan kontak mata, Dipta mulai menyatu dengan Keyla secara perlahan. Keyla menarik napas tajam, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Dipta hingga kuku-kukunya memutih. Sebuah rintihan panjang yang menggairahkan lolos dari bibir Keyla, menggema di luasnya kamar yang sunyi itu.

"Ahhh... Dipta..." lenguh Keyla, kepalanya mendongak, matanya terpejam saat merasakan sensasi yang begitu penuh dan intens menyelimuti dirinya.

Dipta berhenti sejenak, membiarkan Keyla terbiasa dengan kehadirannya. Ia mengecup kening Keyla dengan penuh kelembutan yang kontras dengan suasana kamar yang maskulin. "Bernapaslah, Sayang... Lihat aku," tuntutnya lembut.

Saat Keyla membuka matanya yang berair karena puncak emosi, Dipta mulai bergerak kembali. Awalnya perlahan, kemudian tempo itu kian meningkat, mengikuti irama jantung mereka yang berdegup selaras.

"Mmmhh... lebih cepat, Dipta... kumohon," desah Keyla, suaranya pecah di antara napas yang tersengal.

Dipta mengerang rendah, sebuah suara yang terdengar sangat primitif dan jantan. Ia mempercepat gerakannya, membuat tempat tidur besar itu sedikit berderit di bawah beban gairah mereka. Setiap sentuhan kulit mereka yang berkeringat menciptakan percikan listrik yang membakar segalanya.

"Katakan lagi, Keyla... katakan siapa yang memilikimu," bisik Dipta sambil menciumi ceruk leher Keyla, memberikan tanda-tanda merah yang akan menjadi saksi bisu malam itu.

"Hanya kau... ahhh! Hanya kau, Dipta Mahendra!" jerit Keyla kecil saat ia merasakan gelombang kenikmatan mulai menghantam kesadarannya.

Seluruh tubuh Keyla menegang, kakinya melingkar erat di pinggang Dipta, menarik pria itu sedalam mungkin ke dalam dirinya. Desahan dan erangan mereka menyatu menjadi harmoni yang memenuhi ruangan. Dipta pun mencapai titik puncaknya, ia membenamkan wajahnya di rambut Keyla, meneriakkan nama istrinya dengan suara yang serak dan penuh rasa syukur.

Hening kemudian menyergap. Hanya suara napas yang terengah-engah dan detak jantung yang masih berlari kencang. Dipta tidak segera menjauh; ia membiarkan berat tubuhnya menimpa Keyla sejenak, memberikan kehangatan yang jujur.

Ia mengecup pelipis Keyla yang basah oleh keringat. "Terima kasih, Keyla," bisiknya tulus.

Keyla hanya bisa mengangguk lemah, tangannya masih mengusap punggung Dipta yang bidang. Di kamar yang "menyeramkan" bagi orang awam ini, ia justru menemukan sebuah kenyamanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menyadari bahwa di balik senjata, pengawal, dan kekuasaan yang dingin, Dipta hanyalah seorang pria yang ingin dicintai secara utuh.

***

Bersambung...

1
Nanik Arifin
jangan sampai Keyla diapa-apain Dipta Krn Rendy. Keyla dh berusaha menghindar & menjauh
Fbian Danish
lanjut Thor.....🔥🔥
Nanik Arifin
kau hanya butuh raganya kan ? ambil raganya Dipta, janga harap tawa & senyumnya untukmu. senyum & tawa da karena rasa.
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Nanik Arifin
pengen banget penggal pala Dipta😠
Nanik Arifin
monster itu g peka, klo kau sedang sakit Key, jangan berharap banyak. sadarlah, keras kepalamu membuatnya brutal. berdamailah kalian.
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
Nanik Arifin
sungguh luar biasa kau melukai psikis Keyla, Dipta. kau memperkosanya lagi, apakah otakmu tak bisa berpikir ? kau hanya bisa menunjukkan dominasimu, perasaanmu. kau hanya uang & kuasa, tak lebih. akal sehat, akhlaq, empati bahkan kecerdasan juga kau tak punya. kamu tak peka. hati & otakmu mati. karma spt yg layak kau dapatkan ??
Nanik Arifin
kau bukan manusia Dipta. aku yakin, kau lahir buka dari wanita baik". wanita baik" & terhormat akan melahirkan & mendidik anaknya menjadi manusia baik" yang terkendali, memiliki adab + kesopanan & empati, bukan melahirkan monster yg jauh lebih mengerikan dr iblis.
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu
Nanik Arifin
karmamu segera otw Dipta. kau ciptakan trauma tanpa penyembuhan pd diri Keyla. iblis aj tunduk & bakal berguru padamu
Fbian Danish
lanjut Thor.... ayo semangat🔥🔥🔥💪💪
Fbian Danish
lanjut Thor.... ceritanya seruuuu🔥
Nda
novelmu selalu keren thor😍
MissSHalalalal: terimakasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!