Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Dibalik Telpon
Berita tentang foto misterius itu membuat markas bengkel geger. Dio, Hendi, dan Bima langsung melakukan "operasi intelijen" ala mekanik.
Mereka melacak IP Address dan lokasi pengiriman foto tersebut menggunakan koneksi teman-teman peretas mereka.
"Hasilnya di Los Angeles, Mbak Amy. Di sebuah kawasan medis elit," lapor Dio dengan napas memburu.
Sementara itu di Amerika, Zayden yang terlalu memaksakan diri untuk berdiri demi membuktikan kekuatannya, tiba-tiba ambruk. Sarafnya yang belum pulih total mengalami syok. Ia tergeletak di lantai medis, napasnya tersengal, bahkan untuk duduk tegak pun ia merasa dunianya berputar.
Elisa berteriak memanggil dokter, namun Zayden mencengkeram ponselnya. Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.
Di Jakarta, ponsel Amy berdering.
Nomor internasional. Amy mengangkatnya dengan tangan yang bergetar hebat.
"Halo...?" suara Amy nyaris hilang.
Hening sejenak, hanya terdengar suara napas berat di seberang sana. Lalu, sebuah suara parau yang sangat dirindukannya terdengar, "Hai... Satu Derajat Celcius."
Air mata Amy langsung jatuh tanpa permisi.
"Zayden...? Ini beneran kamu?"
Di tengah tangisnya yang mulai pecah, Amy mencoba menutupi rasa sesaknya dengan candaan pahit yang selama ini ia simpan.
"Zayden... jawab aku jujur. Si Pitter... dia masih perjaka, kan? Kamu nggak macam-macam di sana, kan?"
Zayden, yang sedang menahan sakit luar biasa di punggungnya, terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar menyakitkan. Ia harus menghela napas panjang agar perutnya tidak terlalu melilit saat tertawa. "Pitter... dia setia, My. Dia cuma mau bangun kalau denger suara kamu. Tapi sekarang dia lagi lemes... sama kayak tuannya."
"Kamu di mana, ay? Kenapa kamu hilang dua tahun?!" teriak Amy, tangisnya kini meledak.
"Aku... aku baru bangun, My," bisik Zayden. Suaranya mulai bergetar. "Aku koma Dua tahun. Sisanya... aku belajar cara napas dan cara gerakin jari lagi, Kecelakaan hari itu... semuanya gelap, My. Pas aku buka mata, aku udah di negeri orang, dan aku nggak tahu aku ini siapa."
Amy menutup mulutnya, dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya menghilang. "Dua tahun koma...? Jadi selama aku nunggu di gerbang sekolah, selama aku belajar buat ujian sendirian, kamu... kamu lagi berjuang antara hidup dan mati?"
"Maafin aku My..." suara Zayden melemah. "Aku mau pulang, Amy. Aku mau pulang buat janji-janji kita yang belum lunas. Tapi kakiku... dia belum mau dengerin perintahku. Aku ngerasa jadi pecundang yang bahkan nggak bisa dateng buat meluk kamu."
"Enggak, Ay! Kamu bukan pecundang!" Amy terisak hebat, tubuhnya merosot ke lantai. "Aku nggak peduli kalau kamu nggak bisa jalan, aku nggak peduli kalau kamu harus pake kursi roda seumur hidup. Aku cuma mau kamu ada! Aku mau jantung kamu yang mau aku goreng itu ada di sini!"
Tiba-tiba, ponsel Amy ditarik dengan lembut dari tangannya. Amy mendongak dan melihat ayahnya, Tuan Pratama, berdiri di sana dengan mata yang berkaca-kaca. Rupanya sang ayah sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi dan mendengar segalanya.
Tuan Pratama mendekatkan ponsel itu ke telinganya. "Zayden?"
Zayden di seberang sana terdiam, ia mengenali suara dingin namun kini terdengar bergetar itu. "Tuan Pratama..."
"Zayden Abbey," ucap Tuan Pratama dengan nada otoritas yang perlahan mencair. "Aku dengar semua ceritamu. Aku tidak tahu perjuanganmu seberat itu di sana. Kamu sudah membuktikan kalau kamu bukan sekadar Panglima Jalanan, tapi kamu adalah pejuang sejati."
Ada jeda panjang sebelum Tuan Pratama melanjutkan.
"Sembuhlah. Jangan paksa dirimu jika belum kuat. Fokuslah pada rehabilitasi mu. Dan dengarkan ini baik-baik..." Tuan Pratama melirik Amy yang menatapnya penuh harap. "Kalau nanti kamu kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat dan berdiri tegak... aku batalkan aturan kencan di rumah. Aku merestui kalian berkencan di mana pun, tanpa pengawal, tanpa jarak satu meter."
Di Los Angeles, Zayden menutup matanya, membiarkan satu tetes air mata jatuh. Restu yang ia kejar dengan darah dan nyawa akhirnya ia dapatkan.
"Terima kasih... Papa," bisik Zayden parau.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰😍😍😍