NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Retakan di Balik Kaca

Pagi itu terasa terlalu tenang. Tidak ada notifikasi bertubi-tubi. Tidak ada panggilan panik. Seolah kota memutuskan untuk menarik napas setelah ledakan kemarin. Aruna duduk di kursinya, menatap layar yang menampilkan grafik penurunan saham. Garis merah itu seperti luka terbuka—nyata, tapi tidak mematikan. Belum.

Ketukan terdengar di pintu.

“Masuk.”

Bukan Calvin.

Kepala divisi IT berdiri di ambang, wajahnya tegang.

“Bu… ada sesuatu yang perlu Anda lihat.” Nada suaranya tidak biasa. Bukan panik. Lebih seperti orang yang baru saja menemukan retakan di kaca tebal.

Aruna bangkit.

Ruang server selalu terasa dingin. Bau logam dan listrik tipis bercampur di udara. Lampu putih menyinari deretan mesin yang berdengung pelan.

“Kami menemukan aktivitas tak wajar sejak dini hari,” jelas kepala IT. “Bukan peretasan. Lebih seperti penghapusan bertahap.”

“Penghapusan apa?” tanya Aruna.

“File arsip lama. Khususnya yang terkait persetujuan proyek-proyek lima tahun terakhir.”

Jantung Aruna berdetak satu kali lebih keras.

“Siapa yang punya akses?”

“Hanya dua level tertinggi.”

Nama itu tidak perlu disebut.

Calvin.

Dan pemegang saham mayoritas.

“Kami sudah mengunci akses sementara,” lanjutnya.

“Tapi beberapa file hilang.”

Aruna menatap layar monitor yang menampilkan daftar file yang terhapus. Ia tidak terlihat panik. Tapi matanya bergerak cepat, membaca pola. “Mereka membersihkan sebelum dipanggil,” gumamnya.

“Regulator belum meminta data periode itu,” kata kepala IT.

“Tapi mereka tahu akan sampai ke sana.”

Aruna menatap deretan server yang berdengung. Mesin-mesin itu menyimpan rahasia lebih banyak dari manusia.

“Pulihkan apa pun yang bisa dipulihkan,” katanya tegas. “Dan buat salinan eksternal. Offline.”

“Baik, Bu.”

Saat ia berbalik keluar, hawa dingin ruangan masih menempel di kulitnya. Ini bukan reaksi spontan. Ini langkah terencana. Calvin sudah menunggunya di ruangannya ketika Aruna masuk tanpa mengetuk.

“Aku dengar,” katanya.

“Tentu saja kamu dengar.”

Ia menutup pintu.

“Mereka mulai menghapus jejak sebelum regulator minta,” kata Aruna langsung.

Calvin bersandar di meja, wajahnya keras. “Artinya mereka tahu sesuatu yang kita tidak tahu.”

“Atau mereka takut sesuatu yang kita tahu.”

Sunyi.

Aruna berjalan mendekati jendela. Kota terlihat normal dari atas sini. Mobil bergerak, orang berlalu-lalang, hidup berjalan. Di dalam gedung ini, fondasi sedang diguncang.

“Kamu yakin tidak ada yang bocor dari internal?” tanya Calvin.

Aruna menoleh. “Aku tidak lagi yakin tentang apa pun.” Kalimat itu jujur.

Sejak semua ini dimulai, ada rasa kecil yang mengganggu. Bukan takut. Curiga. Terhadap siapa pun.

Menjelang siang, panggilan dari regulator datang.

Mereka meminta akses penuh ke server dalam 48 jam.

“Cepat,” gumam Calvin setelah menutup telepon.

“Terlalu cepat,” sahut Aruna.

Seolah ada yang mempercepat ritme permainan.

Pintu ruangannya kembali diketuk.

Kali ini Raka.

Ia terlihat lebih segar dibanding pertama kali Aruna melihatnya di basement. Tapi bayangan kelelahan masih ada di matanya.

“Aku dengar soal penghapusan file,” katanya tanpa basa-basi.

“Kabar menyebar cepat,” jawab Aruna.

“Ada orang dalam yang membantu mereka,” lanjut Raka pelan.

Aruna menatapnya tajam. “Kamu menuduh siapa?”

“Aku tidak menuduh. Aku membaca pola. Setiap kali kita bergerak, mereka selangkah lebih dulu.”

Kata-kata itu seperti serpihan kaca kecil tidak melukai dalam, tapi cukup untuk menggores.

Calvin berdiri. “Kalau kamu punya nama, sebutkan.”

Raka menggeleng. “Belum. Tapi aku tahu ini bukan cuma tentang uang. Ini tentang kontrol.”

Kontrol.

Aruna merasakan kata itu mengendap. Dua tahun manipulasi. Penghapusan sistematis. Tawaran suap. Ancaman personal. Ini bukan sekadar penggelapan.

Ini jaringan.

...****************...

Sore hari, Aruna menerima email anonim. Tidak ada ancaman kali ini. Hanya satu file terlampir. Ia membukanya perlahan. Dokumen internal lama.

Proposal merger yang gagal tiga tahun lalu.

Dengan tanda tangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Nama pemegang saham mayoritas muncul di sana.

Dan di bawahnya—Persetujuan digital atas pengalihan aset anak perusahaan. Nilainya jauh lebih besar dari proyek Eastbay.

Napas Aruna tertahan. “Calvin,” panggilnya.

Ia mendekat, membaca layar. Wajahnya tidak berubah, tapi rahangnya mengeras. “Kalau ini asli…”

“Eastbay cuma permukaan,” sambung Aruna.

File itu seperti pintu kecil yang terbuka ke lorong yang lebih gelap.

“Ada metadata?” tanya Calvin.

“Masih utuh.”

“Siapa yang kirim?”

“Anonim.”

Sunyi turun lagi.

Tapi kali ini bukan sunyi sebelum badai. Ini sunyi sebelum gempa.

Malam datang lebih cepat dari biasanya. Kantor mulai kosong ketika Aruna masih duduk di depan layar. Cahaya monitor memantul di wajahnya.

Ia membaca ulang dokumen itu. Setiap angka. Setiap tanda tangan. Ini bisa menghancurkan bukan hanya satu orang. Tapi seluruh struktur.

Pintu terbuka pelan.

Calvin masuk tanpa suara. “Kamu tidak pulang?”

“Belum.”

Ia berdiri di sampingnya. “Kalau ini benar,” katanya pelan, “kita akan menghadapi sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira.”

Aruna menatap refleksi mereka di layar hitam. “Aku tidak takut besar,” katanya.

“Aku tahu.”

“Yang aku takutkan cuma satu.”

Calvin menoleh. “Apa?”

“Kalau ternyata ada orang di dekat kita yang ikut bermain.”

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada jawaban mudah.

Di dunia seperti ini, kepercayaan adalah kaca. Sekali retak, tidak pernah benar-benar utuh lagi.

Tiba-tiba ponsel Calvin bergetar.

Ia melihat layar.

Ekspresinya berubah sepersekian detik.

“Apa?” tanya Aruna.

Calvin menelan napas. “Regulator baru saja menahan pemegang saham mayoritas untuk pemeriksaan resmi.”

Ruangan terasa lebih hening dari sebelumnya. Aruna berdiri perlahan. Langkah besar sudah terjadi.

Tapi perasaannya tidak sepenuhnya lega.

“Ini terlalu cepat,” gumamnya.

“Ya.”

Mereka berdiri berdampingan di depan jendela. Di bawah, lampu-lampu kota menyala seperti lautan cahaya.

“Kalau dia jatuh,” kata Aruna pelan, “orang-orang di belakangnya akan bergerak.”

Calvin mengangguk. “Dan kita belum tahu siapa saja mereka.”

Angin malam menyentuh kaca jendela. Di balik kaca itu, retakan mungkin belum terlihat. Tapi Aruna tahu

ketika satu lapisan pelindung runtuh, lapisan lain akan terbuka. Dan apa pun yang tersembunyi di baliknya…akan jauh lebih berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!