Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Yang Menyenangkan
🕊
Hari itu, seluruh pagi terasa seperti napas yang menahan kebahagiaan. Olimpiade Matematika selesai, dan pengumuman hasilnya membuat jantungku berdebar tak terkendali. Aku menahan napas ketika nama peserta juara diumumkan, dan… namaku terdengar.
Aku juara pertama. Dua kata itu berulang di kepalaku, menari-nari seperti musik yang memenuhi seluruh ruang kelas. Tangannya gemetar, tetapi senyumku tak bisa kusembunyikan. Semua malam panjang menulis rumus, semua latihan diam-diam setelah OSIS, semua pengorbanan—akhirnya membuahkan hasil.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan dari biasanya. Langkah kakiku seakan menari sendiri, meski tubuhku lelah. Aku memikirkan siapa yang pertama ingin ku beri kabar bahagia ini. Tante Gita—selalu hangat, selalu ada, selalu menyayangiku—langsung muncul di benakku. Aku memutuskan untuk mengunjunginya terlebih dahulu, sebelum menghadapi rumah yang kadang penuh ketegangan.
Setibanya di rumah Tante Gita, aku mengetuk pintu dengan hati berdebar. “Tante Gita… aku… aku juara!” seruku begitu pintu terbuka, suara hampir pecah karena kebahagiaan yang tak bisa kusembunyikan.
Tante Gita menatapku, matanya bersinar. “Kaka Alea, serius? Wah, tante bangga banget sama kamu!” Dia menarikku dalam pelukan hangat. Aroma sabunnya dan kehangatan rumahnya membuatku merasa aman, seolah dunia luar tidak ada. Aku meneteskan beberapa tetes air mata—bukan kesedihan, tapi lega dan bahagia.
“Ini semua hasil kerja kerasmu, Kaka. Tante tahu kamu berjuang keras di sekolah, di OSIS, dan latihan matematika. Tante senang bisa melihatmu bahagia,” kata Tante Gita sambil mengelus rambutku. Hatiku terasa hangat, seolah luka-luka lama yang selalu menghantui rumah sementara menghilang.
Aku tersenyum lebar, menahan tawa bahagia yang hampir keluar. “Tante… aku nggak tahu harus bilang ke siapa. Rasanya… lega banget.”
Tante Gita menatapku dengan penuh kasih. “Nah, lihat? Dunia ini bisa hangat, Kaka. Ada orang yang peduli. Dan ingat, kemenanganmu bukan cuma soal angka, tapi tentang ketekunan dan hati yang kuat.”
Setelah beberapa menit, aku memikirkan saudara-saudaraku. Chandrika, si bungsu yang selalu polos dan manis; Adikara, yang kadang sinis tapi tetap saudaraku dan Dahayu, kakak perempuan yang selalu mendapat perhatian lebih. Aku memutuskan untuk memberi mereka kabar, tapi dengan cara yang berbeda. Bukan untuk pamer, tapi untuk berbagi kebahagiaan tulus.
Di rumah, Ara yang kecil pertama kali menemuiku di depan pintu. “Kaka… ada apa? Kok senyum-senyum gitu?” tanyanya polos. Aku menekannya, tersenyum, dan menatap matanya. “Ara… Kaka juara Olimpiade Matematika.”
Matanya membesar, senyum lebar muncul di wajahnya. “Wah! Kaka hebat banget!” Dia langsung memelukku erat, dan aku merasakan kehangatan yang tidak pernah kurasakan dari Papa atau ibu tiriku. Pelukan kecil itu membuat hatiku terasa penuh.
Tak lama kemudian, Dika datang, melirikku dengan curiga tapi penasaran. “Eh… serius, Kaka Alea? Kamu juara? Gimana bisa sih?” Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya… Aku juara. Aku latihan keras, dan akhirnya berhasil.”
Adikara tersenyum, sedikit bangga. “Wah, Kaka memang nggak pernah remeh. Aku salut sama Kaka. Selamat ya!” katanya sambil menepuk bahuku.
Dahayu, kakak sulung yang biasanya selalu sinis, menatapku diam sejenak. Aku bisa membaca ekspresinya—sedikit kagum, sedikit tersentak. Aku hanya tersenyum, diam, tidak perlu berkata banyak. Senyumku cukup menjadi jawaban.
Namun ketika memikirkan Papa dan ibu tiriku, aku sengaja menahan diri. Kata-kata mereka bisa merusak semua kebahagiaan ini. Jika aku bilang, pasti ada komentar merendahkan atau sindiran yang menusuk hati. Jadi aku memilih diam. Kemenangan ini adalah milikku, milik mereka yang benar-benar peduli—Tante Gita dan saudara-saudaraku.
Sore itu, kami duduk di ruang tamu Tante Gita. Chandrika terus meloncat-loncat di sekitarku, tak henti-hentinya bersorak. Adikara duduk di sampingku, menatap catatan dan medali yang baru kuterima. Dahayu duduk di kursi seberang, diam, tapi sesekali menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kusebut sinis.
“Lihat, Kaka Alea, ini semua hasil kerja kerasmu,” kata Tante Gita sambil menunjukkan senyum bangga. “Jangan pernah ragu dengan kemampuanmu sendiri. Dunia ini bisa keras, tapi Kakak sudah membuktikan kalau ketekunanmu bisa membawa hasil.”
Aku menatap medali yang tergantung di leherku, merasakan campuran lega dan bangga. “Aku… aku nggak pernah merasa sebahagia ini, Tante,” jawabku, suara sedikit bergetar. Dahayu menatapku lagi, lalu berkata pelan, “Aku… nggak nyangka, Alea. Tapi memang… kamu hebat. Aku bangga punya adik kayak kamu.” Aku tersenyum, menerima kata-kata itu tanpa membalas lebih panjang.
Chandrika melompat ke pangkuanku, memeluk erat. “Kaka Alea keren banget! Aku mau ikut latihan matematika juga biar bisa kayak Kaka!”
Aku tertawa kecil, mengelus rambutnya. “Tenang, Chandrika. Nanti Kakak ajarin. Tapi sekarang kita rayakan dulu, ya.” Adikara menepuk bahuku lagi. “Kaka, aku bangga sama kamu. Semoga besok-besok kamu makin hebat, ya.”
Aku menatap mereka bertiga, merasakan kehangatan yang selama ini jarang kudapat. Di momen itu, aku merasa utuh—bukan sekadar juara Olimpiade, tapi seorang gadis yang bisa merasakan cinta tulus dari orang-orang yang peduli padanya.
Aku menoleh ke Chandrika yang sedang bermain dengan bonekanya. “Ara, kamu mau ikut makan sama Kakak?” tanyaku sambil tersenyum. Chandrika meloncat-loncat kegirangan. “Mau! Mau! Aku lapar!” Adikara yang duduk di sofa mengangkat alisnya. “Makan? Maksudmu, kamu mau traktir kita, Kaka Alea?”
Aku mengangguk. “Iya, Dika. Kita makan besar. Aku tahu satu kedai yang terkenal di internet—namanya ‘Antara Rasa dan Aturan’. Aku pernah lihat ulasannya. Katanya enak banget. Aku mau traktir kalian semua.”
Dahayu, yang biasanya selalu sinis, hanya tersenyum tipis tapi tidak berkata apa-apa. Aku sengaja tidak terlalu peduli. Hari ini adalah tentang kami, bukan komentar atau kritikan.
Kami segera bersiap. Aku memastikan medali dan beberapa dokumen kecil latihan tersimpan rapi di tas sebelum kami berangkat. Perjalanan ke kedai itu terasa menyenangkan, walaupun aku harus memastikan semua adik dan kakak tetap di sampingku. Chandrika terus mengoceh tentang makanan yang ingin ia coba, sedangkan Adikara dan Dahayu tampak lebih santai dari biasanya.
Begitu sampai di kedai “Antara Rasa dan Aturan”, aroma rempah dan masakan menggugah selera langsung menyapa hidung kami. Lampu gantung hangat memantulkan cahaya lembut di meja panjang, seakan menyambut kedatangan kami.
“Wah, ini tempatnya! Aku lihat di internet, tapi nggak nyangka tempatnya sebagus ini,” kata Dahayu, sedikit takjub. Chandrika meloncat dari kursi, matanya berbinar-binar. “Aku mau pizza! Aku mau pasta! Aku mau es krim!”
Adikara tertawa kecil. “Santai, Ara. Kita duduk dulu, lihat menu, baru pesan semua.” Aku tersenyum sambil menarik kursi untuk mereka. “Ayo, pilih yang kalian suka. Hari ini, semua traktiran. Kita rayakan kemenangan kecil ini.”
Pelayan datang, dan kami mulai memesan satu per satu. Aku memilih beberapa hidangan spesial yang terkenal di kedai itu, pizza tipis renyah, pasta creamy dengan saus khas, dan beberapa menu unik yang namanya terdengar lucu tapi menggoda selera.
Sambil menunggu, aku menatap mereka satu per satu. Rasanya hangat melihat mereka tertawa dan bercakap-cakap tanpa ada tekanan atau kritik. Chandrika terus menatap medali di leherku dengan mata berbinar. “Kaka Alea… aku bangga sama Kaka!”
Aku tersenyum. “Terima kasih, Ara. Ini semua karena kita saling dukung, ya.” Adikara menepuk bahuku lagi. “Kaka, aku salut sama kamu. Kemenangan ini memang pantas kamu dapatkan.” Dahayu mengangguk pelan, tanpa komentar lebih lanjut. Aku tidak kecewa. Senyumnya yang tipis saja sudah cukup bagiku hari ini.
Hidangan datang satu per satu. Aroma pizza dan pasta memenuhi meja, membuat perut kami keroncongan. Kami mulai makan dengan lahap, bercanda, dan tertawa. Untuk sesaat, rumah yang kadang sunyi dan penuh ketegangan terasa jauh. Yang ada hanya kami—kakak, adik, dan aku, bersama dalam momen bahagia yang sederhana tapi berarti.
“Wah, Alea, ini enak banget! Pizza-nya tipis tapi renyah, sausnya pas banget,” kata Dahayu sambil menatapku. Chandrika mengangguk-angguk, mulut penuh pasta. “Aku mau lagi! Aku mau lagi!” Aku tertawa. “Sabar, Ara. Nanti kita tambah lagi.” Adikara menatapku sambil tersenyum tipis. “Kaka… aku nggak nyangka kamu bisa atur semuanya. Aku bangga sama kamu.”
Aku merasakan hangatnya hati yang tak pernah kurasakan sebelumnya di rumah. Hari ini, aku tidak hanya merayakan kemenangan akademik, tapi juga merayakan kehangatan keluarga—mereka yang benar-benar peduli, yang tidak menilai dengan standar Papa dan Sita.
Di sela tawa dan obrolan, aku menatap medali di meja. “Ini… bukan cuma tentang aku juara. Ini tentang kita. Tentang dukungan kalian semua,” kataku pelan.
Tante Gita yang ikut hadir hari ini tersenyum bangga. “Benar, Alea. Kadang kemenangan terbesar bukan hanya soal angka atau prestasi, tapi tentang bagaimana kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang yang kita cintai. Dan kalian semua sudah membuat hari Kaka Alea menjadi istimewa.”
Kami melanjutkan makan malam dengan lebih santai. Aku membiarkan mereka memilih menu favorit mereka, bercanda dengan Chandrika yang masih bersemangat, dan tersenyum melihat Dahayu dan Adikara yang menikmati hidangan tanpa terlalu banyak komentar sinis.
Ketika malam tiba dan aku kembali ke rumah sendiri, aku menaruh tas dan medali di meja belajarku. Aku menatap keluarga yang lain… Papa sedang membaca koran, Sita sibuk di dapur, tampak tak peduli dengan kemenangan kecilku. Aku tersenyum tipis. Tidak apa-apa. Mereka tidak perlu tahu. Hari ini, kebahagiaanku tetap utuh karena aku memilih untuk tidak menyerah pada kata-kata mereka yang sering membuat hatiku sesak.
Aku membuka buku catatan, menuliskan refleksi hari ini: "Hari ini aku juara. Bukan untuk Papa atau Sita, tapi untuk diriku sendiri. Untuk mereka yang benar-benar peduli—Tante Gita, Dahayu, Adikara, Chandrika. Aku belajar, aku berjuang, dan aku bisa bersinar. Dunia boleh keras, tapi aku… aku tetap bertahan. Dan hari ini, aku bahagia."
Aku menutup buku catatan, menarik napas panjang, dan tersenyum. Kebahagiaan sederhana itu terasa cukup. Aku tahu, perjalanan ini masih panjang. Masih banyak tantangan yang menunggu—OSIS, sekolah, latihan matematika, dan tentu saja keluarga. Tapi malam ini, aku membiarkan diriku merasa menang, bahagia, dan utuh.
Dan aku sadar, walau Papa dan Sita tidak akan tahu hari ini, aku tetap juara. Bukan hanya di Olimpiade, tapi juga di hatiku sendiri.
☀️☀️