NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - Jatuh Tanpa Suara

"Nama kamu disebut."

Kalimat itu diucapkan lirih oleh Rendi di pantry kantor riset. Mesin kopi berdengung, bau kertas dan gula memenuhi ruangan.

"Disebut di mana?" Tanya Nadira sambil menuang air panas.

"Forum internal. Katanya kamu... sulit diajak kerja sama."

Nadira berhenti menuang. "Siapa yang bilang?"

Rendi mengangkat bahu. 'Tidak disebut. Tapi kalimatnya beredar pelan-pelan."

Nadira mengangguk. "Oke."

"Itu saja?" Rendi tampak heran. "Kamu tidak marah?"

"Aku tidak bisa marah pada sesuatu yang tidak bisa kutunjuk."

Rendi menatapnya lama. "Mereka rapi, Nad."

"Aku tahu."

Beberapa jam kemudian, Nadira menerima email.

[Terima kasih atas ketertarikan Anda. Saat ini kami memilih kandidat dengan pengalaman kolaborasi tim yang lebih fleksibel.]

Dia membaca tanpa perubahan ekspresi.

Email kedua masuk lima menit setelahnya.

[Kami mendengar Anda cukup kompeten, tapi ada kekhawatiran terkait attitude kerja.]

Nadira menutup laptop. Kemudian berjalan keluar gedung, menghirup udara sore.

"Ini sudah dimulai." Gumamnya.

Sore itu, Nadira bertemu Dr. Arvin di taman kampus.

"Kamu kelihatan sedang dihukum." Kata Arvin tanpa basa-basi.

"Mereka menyebarkan narasi."

"Yang tidak sepenuhnya bohong." Sambung Arvin.

Nadira menatapnya.

"Kamu memang tidak fleksibel." Kata Arvin jujur. "Tapi mereka menghilangkan alasannya."

Nadira tersenyum pahit. "Klasik."

"Pertanyaannya." Lanjut Arvin. "kamu mau melawan atau bertahan?"

"Apa bedanya?"

"Melawan itu frontal. Bertahan itu strategis."

Nadira berpikir sejenak. "Aku lelah melawan. Tapi aku tidak mau hancur diam-diam."

Arvin mengangguk. "Kalau begitu, dokumentasikan segalanya."

"Email, rapat, komentar?"

"Semua."

Nadira menghela napas. "Aku tidak mau jadi paranoid."

"Ini bukan paranoia." Kata Arvin lembut. 'Ini bertahan hidup."

***

Raka berdiri di depan gedung BEM lama tempat yang dulu begitu akrab. Dia menekan bel pintu. Seorang junior membuka.

"Oh. Kak Raka."

"Ketua ada?"

Junior itu ragu. "Sebentar."

Beberapa menit kemudian, Ketua BEM keluar. "Kamu ngapain ke sini?" Tanyanya datar.

"Aku cuma mau minta rekomendasi. Kerja."

Ketua menyilangkan tangan. "Kamu tahu kan namamu sekarang... sensitif."

"Karena aku mundur?"

"Karena kamu tidak main aman." Jawabnya jujur.

Raka mengangguk. "Aku tidak minta dibela. Cuma rekomendasi sesuai kinerja."

Ketua tertawa pendek. "Kinerja kamu bagus. Tapi reputasi itu soal persepsi."

"Jadi?"

"Jadi aku tidak bisa bantu."

Raka terdiam. "Baik."

Saat ia berbalik, Ketua menambahkan,

"Dulu kamu punya segalanya, Rak. Sekarang kamu sendirian."

Raka berhenti sejenak. "Dulu aku juga sendirian." Katanya pelan. "Cuma tidak sadar."

Lalu Raka pergi.

Malam itu, Raka duduk di kamar kos, membuka daftar kontak. Satu per satu nama lama. Dia mengirim pesan singkat.

[Hai, ada waktu?]

Sebagian tidak dibalas. Sebagian dibaca tanpa jawaban. Satu menjawab...

[Maaf, Rak. Lagi nggak enak posisi.]

Raka menutup ponsel.

Dia tertawa kecil bukan karena lucu, tapi karena akhirnya jelas. "Aku bukan kehilangan mereka." Gumamnya. "Aku cuma berhenti berguna."

***

Aluna duduk di dalam kamar gelap, laptop terbuka. Layar menampilkan folder lama.

"Dokumen Kegiatan 2021."

Dia mengklik satu per satu. "Kalau aku jatuh." Bisiknya, "kalian ikut."

Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. "Aluna Prameswari?" Suara di seberang tegas.

"Iya."

"Kami dari lembaga audit independen. Kami perlu klarifikasi tambahan."

Aluna menelan ludah. "Tentang apa?"

"Beberapa nama yang Anda sebutkan."

"Termasuk?

"Termasuk Nadira Savitri."

Aluna membeku. "Itu salah." Katanya cepat. "Nadira tidak terlibat."

"Kami hanya menindaklanjuti pernyataan Anda sebelumnya."

Aluna menutup mata. "Saya... saya perlu bicara dengan pengacara."

"Silakan."

Telepon terputus.

Aluna menatap layar laptop. Dia membuka file baru, kemudian jemarinya mengetik. "Alternatif Narasi."

***

Nadira duduk di ruang rapat kecil bersama dua peneliti senior.

"Kami ingin jujur." Kata salah satunya. "Nama kamu membuat sponsor ragu."

"Karena?"

"Kamu dianggap sulit diarahkan."

Nadira tersenyum tipis. "Itu kalimat yang sama."

"Kami sarankan kamu mengambil peran administratif dulu."

"Tanpa riset?"

"Untuk sementara."

Nadira menatap meja. "Apakah ada kesalahan kerjaku?"

"Tidak."

"Apakah ada pelanggaran?"

"Tidak."

"Jadi ini murni persepsi."

Hening.

"Anggap saja fase." Kata peneliti itu.

Nadira berdiri. "Terima kasih atas kejujurannya."

Saat dia keluar, langkahnya mantap tapi perutnya mual.

***

Di luar gedung, Nadira menelepon Raka. "Kamu sibuk?"

"Shift malam. Ada apa?"

"Aku sedang dijatuhkan pelan-pelan."

Raka terdiam. "Aku tahu rasanya."

"Kamu bertahan bagaimana?"

"Aku berhenti berharap diselamatkan."

Nadira tersenyum kecil. "Itu jawaban paling jujur hari ini."

"Kamu tidak sendiri." Tambah Raka cepat. "Walaupun rasanya begitu."

"Aku tahu." Kata Nadira. "Terima kasih."

Telepon ditutup. Mereka sama-sama menatap ruang kosong di depan masing-masing.

***

Aluna duduk di kafe pinggir jalan, berhadapan dengan pria berjaket gelap.

"Kamu yakin dengan ini?" Tanya pria itu.

"Aku tidak punya pilihan."

"Kami bisa bantu mengalihkan sorotan."

"Dengan syarat?"

"Kamu serahkan data mentah. Semua."

Aluna ragu. "Itu bisa menghancurkan banyak orang."

Pria itu tersenyum tipis. "Termasuk kamu, kalau tidak."

Aluna mengangguk pelan.

"Oke."

Saat pria itu pergi, Aluna memeluk tasnya erat-erat. Tangannya gemetar. "Aku cuma mau bertahan." Bisiknya. "Kenapa selalu jadi seperti ini?"

***

Beberapa hari kemudian, Nadira dan Raka bertemu di warung kecil.

"Kamu kelihatan capek." Kata Raka.

"Kamu juga."

Mereka tertawa kecil.

"Aku tidak punya jaringan lagi." Kata Raka.

"Aku tidak punya proyek lagi."

"Lucu ya." Katanya. "Kita jujur, tapi yang dihukum."

Nadira menyesap teh.

"Mungkin bukan sekarang manfaatnya."

"Dan kalau tidak pernah?"

Nadira menatapnya.

"Setidaknya aku tidak hidup dengan ketakutan."

Raka mengangguk. "Itu mahal."

"Tapi aku sanggup bayar."

Malam itu Nadira menyusun portofolio baru, tanpa logo besar, tanpa nama pelindung.

Raka menerima slip gaji yang lebih kecil dan tidur lebih nyenyak.

Aluna menyerahkan data ke tangan yang salah, percaya itu satu-satunya jalan keluar.

Upaya menjatuhkan Nadira berjalan rapi. Jaringan Raka benar-benar runtuh.

Dan Aluna melangkah terlalu jauh, tanpa sadar menarik banyak orang ke jurang yang sama.

Kisah ini tidak berakhir dengan ledakan. Tapi berakhir dengan keputusan-keputusan kecil yang akan menuntut bayaran besar.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!