Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - Jatuh Tanpa Suara
"Nama kamu disebut."
Kalimat itu diucapkan lirih oleh Rendi di pantry kantor riset. Mesin kopi berdengung, bau kertas dan gula memenuhi ruangan.
"Disebut di mana?" Tanya Nadira sambil menuang air panas.
"Forum internal. Katanya kamu... sulit diajak kerja sama."
Nadira berhenti menuang. "Siapa yang bilang?"
Rendi mengangkat bahu. 'Tidak disebut. Tapi kalimatnya beredar pelan-pelan."
Nadira mengangguk. "Oke."
"Itu saja?" Rendi tampak heran. "Kamu tidak marah?"
"Aku tidak bisa marah pada sesuatu yang tidak bisa kutunjuk."
Rendi menatapnya lama. "Mereka rapi, Nad."
"Aku tahu."
Beberapa jam kemudian, Nadira menerima email.
[Terima kasih atas ketertarikan Anda. Saat ini kami memilih kandidat dengan pengalaman kolaborasi tim yang lebih fleksibel.]
Dia membaca tanpa perubahan ekspresi.
Email kedua masuk lima menit setelahnya.
[Kami mendengar Anda cukup kompeten, tapi ada kekhawatiran terkait attitude kerja.]
Nadira menutup laptop. Kemudian berjalan keluar gedung, menghirup udara sore.
"Ini sudah dimulai." Gumamnya.
Sore itu, Nadira bertemu Dr. Arvin di taman kampus.
"Kamu kelihatan sedang dihukum." Kata Arvin tanpa basa-basi.
"Mereka menyebarkan narasi."
"Yang tidak sepenuhnya bohong." Sambung Arvin.
Nadira menatapnya.
"Kamu memang tidak fleksibel." Kata Arvin jujur. "Tapi mereka menghilangkan alasannya."
Nadira tersenyum pahit. "Klasik."
"Pertanyaannya." Lanjut Arvin. "kamu mau melawan atau bertahan?"
"Apa bedanya?"
"Melawan itu frontal. Bertahan itu strategis."
Nadira berpikir sejenak. "Aku lelah melawan. Tapi aku tidak mau hancur diam-diam."
Arvin mengangguk. "Kalau begitu, dokumentasikan segalanya."
"Email, rapat, komentar?"
"Semua."
Nadira menghela napas. "Aku tidak mau jadi paranoid."
"Ini bukan paranoia." Kata Arvin lembut. 'Ini bertahan hidup."
***
Raka berdiri di depan gedung BEM lama tempat yang dulu begitu akrab. Dia menekan bel pintu. Seorang junior membuka.
"Oh. Kak Raka."
"Ketua ada?"
Junior itu ragu. "Sebentar."
Beberapa menit kemudian, Ketua BEM keluar. "Kamu ngapain ke sini?" Tanyanya datar.
"Aku cuma mau minta rekomendasi. Kerja."
Ketua menyilangkan tangan. "Kamu tahu kan namamu sekarang... sensitif."
"Karena aku mundur?"
"Karena kamu tidak main aman." Jawabnya jujur.
Raka mengangguk. "Aku tidak minta dibela. Cuma rekomendasi sesuai kinerja."
Ketua tertawa pendek. "Kinerja kamu bagus. Tapi reputasi itu soal persepsi."
"Jadi?"
"Jadi aku tidak bisa bantu."
Raka terdiam. "Baik."
Saat ia berbalik, Ketua menambahkan,
"Dulu kamu punya segalanya, Rak. Sekarang kamu sendirian."
Raka berhenti sejenak. "Dulu aku juga sendirian." Katanya pelan. "Cuma tidak sadar."
Lalu Raka pergi.
Malam itu, Raka duduk di kamar kos, membuka daftar kontak. Satu per satu nama lama. Dia mengirim pesan singkat.
[Hai, ada waktu?]
Sebagian tidak dibalas. Sebagian dibaca tanpa jawaban. Satu menjawab...
[Maaf, Rak. Lagi nggak enak posisi.]
Raka menutup ponsel.
Dia tertawa kecil bukan karena lucu, tapi karena akhirnya jelas. "Aku bukan kehilangan mereka." Gumamnya. "Aku cuma berhenti berguna."
***
Aluna duduk di dalam kamar gelap, laptop terbuka. Layar menampilkan folder lama.
"Dokumen Kegiatan 2021."
Dia mengklik satu per satu. "Kalau aku jatuh." Bisiknya, "kalian ikut."
Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. "Aluna Prameswari?" Suara di seberang tegas.
"Iya."
"Kami dari lembaga audit independen. Kami perlu klarifikasi tambahan."
Aluna menelan ludah. "Tentang apa?"
"Beberapa nama yang Anda sebutkan."
"Termasuk?
"Termasuk Nadira Savitri."
Aluna membeku. "Itu salah." Katanya cepat. "Nadira tidak terlibat."
"Kami hanya menindaklanjuti pernyataan Anda sebelumnya."
Aluna menutup mata. "Saya... saya perlu bicara dengan pengacara."
"Silakan."
Telepon terputus.
Aluna menatap layar laptop. Dia membuka file baru, kemudian jemarinya mengetik. "Alternatif Narasi."
***
Nadira duduk di ruang rapat kecil bersama dua peneliti senior.
"Kami ingin jujur." Kata salah satunya. "Nama kamu membuat sponsor ragu."
"Karena?"
"Kamu dianggap sulit diarahkan."
Nadira tersenyum tipis. "Itu kalimat yang sama."
"Kami sarankan kamu mengambil peran administratif dulu."
"Tanpa riset?"
"Untuk sementara."
Nadira menatap meja. "Apakah ada kesalahan kerjaku?"
"Tidak."
"Apakah ada pelanggaran?"
"Tidak."
"Jadi ini murni persepsi."
Hening.
"Anggap saja fase." Kata peneliti itu.
Nadira berdiri. "Terima kasih atas kejujurannya."
Saat dia keluar, langkahnya mantap tapi perutnya mual.
***
Di luar gedung, Nadira menelepon Raka. "Kamu sibuk?"
"Shift malam. Ada apa?"
"Aku sedang dijatuhkan pelan-pelan."
Raka terdiam. "Aku tahu rasanya."
"Kamu bertahan bagaimana?"
"Aku berhenti berharap diselamatkan."
Nadira tersenyum kecil. "Itu jawaban paling jujur hari ini."
"Kamu tidak sendiri." Tambah Raka cepat. "Walaupun rasanya begitu."
"Aku tahu." Kata Nadira. "Terima kasih."
Telepon ditutup. Mereka sama-sama menatap ruang kosong di depan masing-masing.
***
Aluna duduk di kafe pinggir jalan, berhadapan dengan pria berjaket gelap.
"Kamu yakin dengan ini?" Tanya pria itu.
"Aku tidak punya pilihan."
"Kami bisa bantu mengalihkan sorotan."
"Dengan syarat?"
"Kamu serahkan data mentah. Semua."
Aluna ragu. "Itu bisa menghancurkan banyak orang."
Pria itu tersenyum tipis. "Termasuk kamu, kalau tidak."
Aluna mengangguk pelan.
"Oke."
Saat pria itu pergi, Aluna memeluk tasnya erat-erat. Tangannya gemetar. "Aku cuma mau bertahan." Bisiknya. "Kenapa selalu jadi seperti ini?"
***
Beberapa hari kemudian, Nadira dan Raka bertemu di warung kecil.
"Kamu kelihatan capek." Kata Raka.
"Kamu juga."
Mereka tertawa kecil.
"Aku tidak punya jaringan lagi." Kata Raka.
"Aku tidak punya proyek lagi."
"Lucu ya." Katanya. "Kita jujur, tapi yang dihukum."
Nadira menyesap teh.
"Mungkin bukan sekarang manfaatnya."
"Dan kalau tidak pernah?"
Nadira menatapnya.
"Setidaknya aku tidak hidup dengan ketakutan."
Raka mengangguk. "Itu mahal."
"Tapi aku sanggup bayar."
Malam itu Nadira menyusun portofolio baru, tanpa logo besar, tanpa nama pelindung.
Raka menerima slip gaji yang lebih kecil dan tidur lebih nyenyak.
Aluna menyerahkan data ke tangan yang salah, percaya itu satu-satunya jalan keluar.
Upaya menjatuhkan Nadira berjalan rapi. Jaringan Raka benar-benar runtuh.
Dan Aluna melangkah terlalu jauh, tanpa sadar menarik banyak orang ke jurang yang sama.
Kisah ini tidak berakhir dengan ledakan. Tapi berakhir dengan keputusan-keputusan kecil yang akan menuntut bayaran besar.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍