"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Lumpur di Atas Mahkota
BAB 12: Lumpur di Atas Mahkota
Jakarta tidak pernah peduli pada hati yang patah, apalagi pada mereka yang baru saja jatuh dari takhta. Matahari pagi menyengat kulit Rangga saat ia berdiri di depan sebuah gedung perkantoran kusam di daerah Jakarta Barat. Tidak ada lagi supir pribadi yang membukakan pintu, tidak ada lagi mobil sport yang menderu. Rangga baru saja turun dari bus kota yang sesak, kemeja putihnya yang dulu disetrika rapi kini sedikit lembap oleh keringat.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca lobi gedung. Ia masih terlihat seperti Rangga yang dulu, namun ada sesuatu yang hilang: kebanggaan. Hari ini, ia akan menjalani wawancara di sebuah perusahaan distribusi alat medis skala menengah. Ia butuh pekerjaan ini karena asuransi pribadinya sudah diputus, dan simpanan dari penjualan asetnya akan cepat menguap untuk biaya kemoterapi intensif Arini.
"Rangga Adiguna?" panggil seorang resepsionis dengan nada bosan.
Rangga menarik napas panjang, merapikan kerahnya, dan masuk ke ruang wawancara. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat siapa yang duduk di kursi direktur pemasaran perusahaan itu.
Hendry. Mantan bawahannya di Grup Sarah yang tiga bulan lalu ia pecat karena terbukti melakukan penggelapan dana kecil-kecilan.
Hendry menyeringai lebar, menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang ukurannya terlalu besar untuk tubuhnya. "Wah, wah... lihat siapa yang mengemis pekerjaan di kantorku. Sang Pangeran Mahkota yang sombong itu ternyata bisa jatuh ke lumpur juga."
Rangga mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa pusing yang dipicu oleh amarah mulai menyerang pelipisnya. "Aku di sini untuk melamar posisi staf senior pemasaran, Hendry. Aku punya kualifikasinya."
"Tentu, tentu. Kamu punya kualifikasi untuk jadi direktur, tapi di sini? Kamu cuma seorang pengangguran yang dibuang ibunya sendiri," Hendry tertawa mengejek, suaranya memenuhi ruangan yang sempit itu. "Aku bisa saja menerimamu, Rangga. Tapi ada syaratnya."
Hendry mengambil segelas kopi hitam panas dan sengaja menyenggolnya hingga tumpah di lantai keramik yang mengkilap. "Bersihkan itu. Tunjukkan padaku kalau kamu benar-benar butuh uang dan sudah tidak punya harga diri lagi. Kalau kamu mau melakukannya, aku akan kasih kamu gaji dua kali lipat dari staf biasa."
Hening mencekam. Rangga menatap tumpahan kopi itu, lalu menatap wajah Hendry yang penuh kemenangan. Harga diri Rangga berteriak untuk memukul wajah pria di depannya, lalu pergi dengan kepala tegak. Namun, di kepalanya, bayangan Arini yang sedang merintih kesakitan karena efek obat-obatan kembali muncul. Ia ingat tagihan rumah sakit yang terus berjalan, obat-obatan impor yang tidak murah, dan janji yang ia buat untuk tidak membiarkan Arini kedinginan di bangsal umum.
Dengan gerakan lambat yang terasa seperti ribuan ton beban, Rangga berlutut. Ia mengambil beberapa lembar tisu dari meja, dan mulai menyeka tumpahan kopi itu di bawah kaki Hendry.
"Bagus... bagus sekali, Rangga. Ternyata cinta memang bisa membuat singa jadi kucing domestik, ya?" ejek Hendry puas.
"Sudah selesai," ujar Rangga datar, suaranya dingin tanpa emosi saat ia berdiri kembali. "Kapan aku bisa mulai bekerja?"
"Besok pagi. Jam delapan tajam. Dan ingat, di sini aku bosnya, bukan kamu."
Rangga kembali ke rumah sakit sore itu dengan tubuh yang luar biasa lelah. Namun, ia segera memasang topeng keceriaannya sebelum masuk ke kamar 702. Ia membeli setangkai bunga mawar merah di depan rumah sakit, sebuah kemewahan kecil yang masih bisa ia usahakan.
"Rin, lihat aku bawa apa," ujar Rangga sambil masuk ke kamar.
Arini sedang duduk bersandar, ia baru saja selesai menjalani sesi fisioterapi singkat untuk kakinya yang mulai mati rasa. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar, meski matanya tetap sayu. "Bunga lagi? Boros, Ga."
"Hanya satu tangkai, tidak akan membuat kita bangkrut," Rangga mencium kening Arini dan meletakkan bunga itu di vas bunga di samping tempat tidur. "Aku punya kabar baik. Aku sudah dapat pekerjaan. Mulai besok aku mulai masuk."
Arini menatap Rangga dengan teliti. Ia melihat bekas luka kecil di buku jari Rangga—bekas luka yang didapat Rangga saat memukul tembok tempo hari—dan juga melihat ada sedikit noda kopi di ujung lengan kemeja Rangga.
"Pekerjaan apa, Ga? Kamu jadi apa di sana?" tanya Arini curiga.
"Sama seperti dulu, di bidang pemasaran. Hanya perusahaannya lebih kecil, jadi suasananya lebih santai," bohong Rangga sambil mengelus pipi Arini.
"Kamu bohong, kan? Kamu pasti dihina di sana.
Kamu kan Rangga Adiguna... orang-orang pasti menertawakanmu karena jatuh miskin," air mata Arini mulai mengalir. "Ga, aku mohon... jangan lakukan ini. Aku lebih baik mati sekarang daripada melihatmu direndahkan orang lain karena aku."
Rangga menarik Arini ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan rasa bersalah wanita itu. "Dengar, Arini. Tidak ada yang merendahkanku. Aku melakukan ini karena aku ingin. Aku bahagia bisa bekerja untukmu. Kamu bukan beban, kamu adalah motivasi. Paham?"
"Tapi aku takut, Ga... aku takut penyakit ini cuma bakal menghabiskan semua yang kamu punya, lalu akhirnya aku tetap pergi meninggalkanmu tanpa apa-apa."
"Kalau pun itu terjadi," bisik Rangga dengan nada yang sangat dalam, "aku tidak akan menyesal. Karena aku tahu aku sudah melakukan segalanya untuk wanita yang paling kucintai. Aku tidak peduli pada harta, Rin. Aku hanya peduli padamu."
Malam itu, rasa pusing kembali menghantam Arini. Namun kali ini, ia tidak merintih. Ia mencoba menahannya, mencengkeram sprei agar Rangga yang sedang tertidur di kursi tidak terbangun. Ia menatap wajah Rangga dalam kegelapan. Laki-laki itu terlihat sangat lelah.
Arini meraih ponselnya yang selama ini ia matikan. Ia membukanya, mencari satu nomor yang paling ia hindari. Nomor Ibu Sarah.
“Ibu, tolong temui saya besok pagi saat Rangga bekerja. Kita harus bicara. Saya akan menuruti apa pun keinginan Ibu, asalkan Ibu mengembalikan hidup Rangga seperti dulu.”
Pesan terkirim. Arini mematikan ponselnya dan menangis dalam diam. Ia menyadari satu hal pahit: cintanya pada Rangga tidak boleh membuatnya menjadi penghancur masa depan pria itu. Jika mencintai berarti harus melepaskan, maka Arini siap melakukan pengorbanan terakhirnya, meski itu berarti ia harus menghadapi maut sendirian.
Di sisi lain, Rangga terbangun sebentar, ia membenarkan selimut Arini tanpa menyadari pesan mematikan yang baru saja dikirimkan tunangannya. Badai yang lebih besar dari kanker sedang menuju ke arah mereka, dan kali ini, cinta mungkin tidak akan cukup untuk membendungnya.