Sinopsis.
David Lorenzo CEO perusahaan Switch Company. Dia mempunyai banyak kepribadian yang berbeda akibat trauma masa lalu.
Dia bertemu dengan Michelle, yang berkerja di perusahaannya, pertemuan mereka tidak di sengaja dan banyak kesalahpahaman.
Lambat Laun mereka semakin dekat, dan perlahan saling menyembuhkan luka.
Banyak tingkah lucu dan kocak di antara mereka.
penasaran jangan lupa baca, like dan komen.
Update setiap hari Senin.
Follow Ig: @Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryy Heryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang menerobos tirai kamar tidur David.
Dia perlahan membuka mata, merentangkan tubuh tinggi dan kekarnya yang penuh dengan otot terdefinisi, mulai dari bahu yang lebar, lengan yang kuat, hingga otot perutnya yang jelas terlihat seperti roti sobek (sixpack) saat dia mengangkat badan dari tempat tidur.
David berjalan ke kamar mandi yang luas dengan langkah santai. Dia membuka keran pancuran dengan suhu air yang pas, lalu menikmati aliran air yang menyiram tubuhnya secara perlahan, membantu menghilangkan rasa kantuk dan membuatnya lebih segar.
Setelah mandi, dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk besar berbahan katun lembut, lalu pergi ke lemari pakaian untuk memilih pakaian kerja hari ini.
Dia memilih kemeja panjang berwarna biru dongker dengan bahan sutra mewah yang menyentuh kulitnya dengan nyaman, kemudian memasangkan dasi bergambar motif geometris yang cocok dengan warna kemejanya.
Dengan cermat dia menyetrika setiap bagian pakaiannya hingga rapi tanpa sedikit pun kerutan, menunjukkan sifatnya yang sangat teliti dalam hal penampilan.
Tiba-tiba suara jeritan keras dari luar kamar membuat David terkejut.
"DAVID! DAVID! DIMANA KAMU?! DASAR CUCU BRENGSEK, KELUAR KAMU DAVID!"
Suara kakeknya, Lorenzo, pendiri Switch Company yang sekarang sudah memasuki usia lanjut, terdengar jelas dan penuh kemarahan.
David segera menyelesaikan berpakaian dan keluar dari kamarnya dengan langkah cepat.
Di ruang tamu, kakek Lorenzo berdiri dengan bantuannya tongkat kayu tua yang selalu ia gunakan untuk berjalan.
Wajahnya yang penuh dengan kerutan menunjukkan kemarahan yang luar biasa, matanya memerah dan bibirnya menggigil karena marah.
"Kakek! Tenang dulu ya Kakek, dengar penjelasan ku dulu dong!" ucap David dengan cepat, mendekati kakeknya dengan hati-hati takut dia akan semakin marah.
Namun sang kakek tidak mau mendengarkan apa-apa. Dia mengangkat tongkat kayu nya dan dengan lembut namun tegas memukul pundak David berkali-kali.
"K-KAMU! DATANG KEMBALI DARI LUAR NEGERI TIDAK MENGABARI KU! SEKARANG KAMU MENJADI CEO MENGGANTIKAN KU, TAPI KAMU TIDAK PERNAH DATANG MENEMUI KAKEK MU INI!" teriaknya dengan suara yang masih kuat meskipun usianya sudah lanjut.
"Kakek tenang dulu saja. Aku memang harus segera mengambil alih perusahaan karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku sudah berencana untuk mengunjungi Kakek minggu depan ," ucap David dengan nada yang penuh rasa hormat, mencoba menenangkan kakeknya yang sedang marah besar.
"Apa lagi alasan kamu?! Kamu selalu saja kabur dan mencari alasan setiap kali aku mencarikan jodoh untukmu bukan?!" sang kakek tidak mau mundur, menunjuk jempolnya ke arah David dengan wajah yang masih penuh kemarahan.
David menghela nafas panjang, dia sudah sangat bosan mendengar pembicaraan tentang pernikahan dari mulut kakeknya.
"Ayolah Kek, aku baru saja berusia 30 tahun! Masih muda sekali untuk menikah. Aku ingin fokus dulu pada perusahaan dan mengembangkannya menjadi lebih besar dari sekarang," ucapnya dengan suara yang sedikit meningkat, menunjukkan bahwa dia juga mulai merasa kesal.
"TIDAK ADA ALASAN LAIN DAVID! KAKEK INGIN KAMU SEGERA MENIKAH! KAMU ADALAH CUCU KAKEK SATU-SATUNYA! KAPAN KAMU MAU MEMBERI KAKEK CICIT YANG AKAN MENERUSKAN GARIS KEKAYAAN KAMI?!" teriak sang kakek dengan suara yang menggema di seluruh ruang tamu.
Setelah merasa cukup bosan mendengar omelan yang terus berulang dari kakeknya, David memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan lagi.
Dia segera berlari menuju garasi, mengambil kunci mobil sportnya, dan mengendarainya dengan cepat meninggalkan rumahnya menyisakan kakeknya yang masih berdiri dengan marah-marah di depan pintu rumah.
"DASAR CUCU DURHAKA! AWAS SAJA KAMU DAVID! JIKA TIDAK MENIKAH DALAM WAKTU SEBULAN, AKU AKAN AMBIL KEMBALI PERUSAHAAN DARI KAMU!" teriak sang kakek dengan suara yang sudah mulai melemah, melihat mobil David yang semakin jauh dan hilang di kejauhan.
Di dalam mobil, David menghela nafas panjang dengan wajah yang penuh kesal dan kekhawatiran.
Dia mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kantor, sementara benaknya teringat pada semua pengalaman buruk yang dia alami setiap kali harus bertemu dengan wanita yang di jodohkan oleh kakeknya.
"Setiap kali aku harus menemui wanita yang diatur oleh Kakek, penyakitku selalu kambuh tanpa terkendali," gumamnya pelan sambil mengerutkan kening.
Dia ingat betul bagaimana kondisi kepribadiannya bisa berubah secara tiba-tiba kadang menjadi seperti anak kecil yang suka bermain dan menangis, kadang menjadi seorang pemarah yang tidak bisa mengontrol emosinya, bahkan pernah sekali menjadi seperti wanita yang suka berbicara panjang lebar tentang hal-hal sepele.
Karena itulah, setiap kali pertemuan kencan yang diatur oleh kakeknya dimulai, David selalu memilih untuk pergi dan menghilang tanpa berkata-kata, membuat sang kakek semakin marah dan merasa bahwa cucunya adalah orang yang tidak menghargai usahanya.
"Aku tidak bisa menikah dengan wanita yang aku tidak kenal dan tidak aku cintai. Apalagi kalau kondisi ku seperti ini, bagaimana bisa aku menjaga dan mencintai seorang istri jika aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri?" ucapnya dengan suara yang penuh kekhawatiran, melihat ke arah jalan yang ramai di depannya.
Tanpa disadari, mobilnya sudah sampai di depan gedung Switch Company. David menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum memasuki kantor.
Bersambung....