Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pukul satu dini hari. Keheningan di markas mewah Hernand terasa begitu berat dan tidak alami, hanya dipecah oleh suara dengkur halus dari beberapa tubuh yang terkapar di sofa ruang tengah.
Di lantai atas, di sebuah kamar tamu khusus dengan akses pintu baja yang kedap suara, Archelo St. Clair baru saja memejamkan matanya. Ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa bersembunyi saat dunia di luar sana, dan di dalam kepalanya, terasa terlalu hancur untuk dihadapi.
Namun, tidurnya yang baru sekejap itu terkoyak oleh sebuah benturan keras di pintu depan, disusul suara langkah-langkah kaki yang berat dan terorganisir.
Brak!
Pintu kamar tamunya terbuka paksa. Archelo yang memiliki insting waspada tinggi berkat pelatihan bela diri yang dipaksakan Andreas padanya sejak kecil, bereaksi dalam hitungan detik.
Dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu koridor, ia melihat bayangan seseorang dengan perlengkapan taktis lengkap mendekat ke arah ranjangnya.
Saat tangan orang asing itu hendak meraih lengannya, Archelo bergerak secepat kilat. Ia menangkap pergelangan tangan tersebut, memutarnya dengan tenaga yang brutal, dan sedetik kemudian ia sudah berada di belakang sosok itu, melilit tangannya ke belakang punggung dalam kuncian yang mematikan.
"Sampah seperti kau ingin apa?" desis Archelo, suaranya parau dan dingin, menekan wajah orang itu ke permukaan ranjang. "Kau salah masuk kamar, Brengsek."
Namun, Archelo terdiam sejenak. Orang di bawah kunciannya ini terasa... berbeda. Postur tubuhnya lebih ramping, dan aroma yang menguar bukan bau keringat pria petugas lapangan, melainkan aroma tipis seperti peppermint dan sabun bayi.
"Lepaskan aku, kau menyakitiku!" suara itu melengking tinggi namun tegas.
Archelo tertegun. Seorang wanita?
"Apa ini penggrebekan? Siapa yang berani melaporkan tempat ini?" tuntut Archelo, perlahan melonggarkan kunciannya namun tetap menjaga jarak waspada.
Wanita itu memutar tubuhnya dengan cepat begitu dilepaskan, merapikan rompi taktisnya yang terlihat sedikit kebesaran di tubuhnya yang atletis. Ia melepas helm taktisnya, membiarkan rambut cokelat gelapnya tergerai berantakan. Matanya yang tajam menatap Archelo tanpa rasa takut sedikit pun.
"Tanya pada orang tua kalian masing-masing," jawab gadis itu dengan nada sinis, sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Mereka sudah muak mendapati putra-putra mereka membusuk di gudang penuh racun ini."
Ia melangkah maju, memindai wajah Archelo di bawah cahaya temaram. "Apa kau Julian? Si pecandu minyak itu?"
Archelo berdiri tegak, merapikan kemejanya yang berantakan dengan gerakan elegan yang tidak bisa disembunyikan. "Bukan. Aku Archelo."
Gadis itu terdiam sejenak. "Archelo? St. Clair? Pewaris emas yang katanya jenius itu? Wah, ternyata rumor tentang kau yang bersih itu hanya omong kosong. Kau tetap saja tikus kelab malam."
Archelo tidak menanggapi hinaan itu. Matanya beralih ke arah luar kamar, di mana ia bisa mendengar suara teman-temannya yang meracau saat dipaksa bangun oleh petugas. "Kau bukan polisi. Gerakanmu terlalu ceroboh saat masuk tadi. Siapa kau?"
Gadis itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat menantang di wajahnya yang cantik namun galak. "Florence Edison, panggil saja Flo. Dan kau benar, aku bukan petugas. Kakak laki-lakiku yang memimpin operasi ini, dan aku bosan hanya duduk di rumah menonton berita tentang anak-anak kaya yang overdosis."
Florence bukan gadis biasa. Berasal dari keluarga Edison yang dikenal di dunia kepolisian dan militer, ia telah dibekali ilmu bela diri sejak ia bisa berjalan. Baginya, ikut dalam penggrebekan seperti ini adalah latihan lapangan yang diizinkan oleh keluarganya, selama ia berada di bawah pengawasan kakaknya.
"Jadi, Flo," Archelo melangkah mendekat, auranya yang mengintimidasi kini beradu dengan keberanian Flo. "Kau di sini untuk menjadi pahlawan bagi anak-anak hancur ini?"
"Aku di sini untuk melihat apakah kalian benar-benar berharga untuk diselamatkan," balas Flo, menatap tepat ke mata Archelo.
"Tapi melihatmu... kau tidak tampak mabuk. Kau sadar sepenuhnya. Itu jauh lebih buruk, Archelo. Kau sadar, tapi kau memilih untuk tetap di sini. Itu pengecut namanya."
Kalimat Flo menghantam Archelo lebih keras daripada alkohol mana pun yang pernah ia minum. Ia terbiasa dipuja atau ditakuti, namun tidak pernah ada yang menyebutnya pengecut tepat di depan wajahnya.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang duniaku," desis Archelo.
"Dan aku tidak butuh tahu," sahut Flo sambil berbalik menuju pintu. "Ayo ikut. Kakakku sudah menunggu di bawah. Dan jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan tahu bagaimana rasanya kuncian yang sebenarnya dari seorang Edison."
Archelo mengikuti langkah Flo keluar dari kamar. Di ruang tengah, pemandangannya benar-benar miris. Hernand sedang menangis tersedu-sedu saat tangannya diborgol, sementara Julian muntah-muntah di pojokan. Ke sepuluh anak konglomerat itu kini tampak seperti pecundang kecil di bawah sorot lampu senter petugas.
Archelo melihat ayahnya, Andreas St. Clair, berdiri di depan pintu markas dengan wajah yang begitu dingin hingga sanggup membekukan ruangan. Di sampingnya ada ayah Hernand dan beberapa pria berkuasa lainnya.
Florence melirik Archelo yang tetap berjalan dengan tenang di tengah kekacauan itu. Ada rasa penasaran yang muncul di benak Flo.
Pria ini, Archelo, tidak tampak hancur seperti yang lain. Ia tampak seperti seorang pangeran yang sengaja menceburkan diri ke dalam lumpur hanya untuk melihat apakah ia bisa tetap bersih.
"Selamat datang di dunia nyata, Pangeran," bisik Flo saat mereka sampai di hadapan Andreas.
Andreas menatap putranya, lalu beralih ke arah Florence. "Terima kasih sudah membawanya turun. Maaf jika dia menyusahkanmu."
"Dia tidak menyusahkanku, Tuan St. Clair," Flo melirik Archelo dengan senyum mengejek. "Hanya sedikit... keras kepala."
Malam itu, markas kebanggaan Hernand resmi ditutup. Namun bagi Archelo, malam itu bukan hanya akhir dari pelariannya, tapi awal dari pertemuan yang akan mengubah hidupnya.
Pertemuan dengan satu-satunya wanita yang berani menyebutnya pengecut, dan satu-satunya orang yang melihat bahwa di balik kemegahan St. Clair, ada jiwa yang butuh diselamatkan, atau mungkin, butuh ditantang.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰