NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Di dapur rumahnya yang sederhana namun hangat, Freya Aurelia sedang melakukan satu-satunya hal yang ia kuasai selain melukis: merayu ibunya. Ia bergelayut di lengan Bu Larasati yang sedang sibuk memotong wortel, wajahnya dibuat semelas mungkin, persis seperti kucing yang meminta ikan.

"Ibu yang cantik, yang manis, yang paling baik sedunia... please..." rengek Freya dengan nada suara yang sengaja dipanjangkan. "Bilang sama keluarga kerajaan itu ya, Bu. Bilang kalau Freya nggak mau dijodohin sama Kaisar robot kaku itu. Freya masih mau jadi pelukis terkenal, Bu! Masa depan aku itu di depan kanvas, bukan di depan meja perjamuan sambil senyum-senyum palsu."

Bu Larasati menghela napas, meletakkan pisaunya sebentar untuk menatap putri tunggalnya itu. "Frey, kamu pikir Ibu punya kuasa apa buat nolak titah Buyut? Beliau itu orang paling dihormati. Lagipula, Pangeran Kaisar itu orangnya bertanggung jawab. Dia sudah janji akan menjaga nama baik kita."

"Menjaga nama baik atau mengurung aku dalam sangkar emas?!" Freya melepaskan pegangannya dan mengacak rambutnya frustrasi. "Dia itu kaku, Bu! Kalau dia jadi lukisan, dia itu cuma garis lurus yang membosankan. Nggak ada gradasi warnanya sama sekali. Pokoknya aku nggak mau!"

Penjemputan yang Menggemparkan

Senin sore yang terik di kampus Seni Budaya. Freya baru saja keluar dari gedung studio dengan bercak cat minyak biru di pipinya dan kaos yang sedikit kedodoran. Ia sedang asyik mengobrol dengan Jihan tentang rencana pameran kecil-kecilan minggu depan, sampai sebuah pemandangan di depan gerbang kampus menghentikan detak jantungnya.

Sebuah sedan hitam mengilap dengan pelat nomor istana terparkir gagah. Dan di sampingnya, bersandar dengan keanggunan yang menyebalkan, berdiri Kaisar Welas.

Pria itu mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuh tegapnya, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dan jam tangan mewah yang berkilat tertimpa sinar matahari. Ratusan mahasiswa berhenti berjalan. Kamera ponsel mulai bermunculan dari segala arah.

"Frey... itu... Pangeran Robot lo beneran jemput?" bisik Jihan dengan mulut menganga.

Freya menggeram. Ia melangkah lebar menuju Kaisar dengan langkah yang menghentak-hentak bumi.

"Puas lo?!" semprot Freya tepat di depan wajah Kaisar, tanpa mempedulikan bisikan-bisikan histeris di sekelilingnya. "Lo sama keluarga lo bikin hidup gue jadi nggak tenang, tahu nggak! Lihat tuh!" Freya menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa yang merekam mereka. "Gue ke kampus mau kuliah, bukan mau jadi konten gosip!"

Kaisar melepaskan kacamata hitamnya perlahan, menatap Freya dengan ekspresi tenang yang justru membuat Freya makin ingin meledak. "Masuk ke mobil, Freya. Kita bicara di dalam."

"Gue nggak mau! Gue punya motor sendiri!"

"Motor kamu sudah dibawa oleh supirku ke rumahmu," ucap Kaisar pendek sambil membukakan pintu mobil untuknya. "Masuk, atau kerumunan ini akan semakin besar."

Freya menghentakkan kakinya dengan kesal lalu masuk ke dalam mobil dengan kasar. Kaisar menyusul, menutup pintu yang kedap suara itu, seketika membungkam hiruk-pikuk kampus di luar.

Mobil melaju membelah jalanan kota. Di dalam, aura ketegangan begitu kental hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau. Freya duduk bersandar di pojok, menatap keluar jendela dengan tangan bersedekap.

"Gue benci lo," gumam Freya tanpa menoleh.

"Aku tahu," sahut Kaisar singkat. Ia sedang memeriksa tabletnya, masih sempat-sempatnya bekerja di tengah kekacauan ini.

"Kenapa lo nggak nolak? Lo kan calon Raja! Harusnya lo punya hak buat bilang 'nggak' ke Buyut," cecar Freya, kini menoleh ke arah Kaisar dengan mata berkilat.

Kaisar meletakkan tabletnya. Ia menatap Freya dengan tatapan yang dalam dan sedikit... letih. "Dengar, Freya. Dalam duniaku, keinginan pribadi seringkali harus dikalahkan oleh stabilitas keluarga. Buyut melihatmu sebagai 'angin segar' untuk citra kerajaan yang belakangan dianggap terlalu kaku oleh publik. Baginya, ini strategi."

"Jadi gue cuma alat branding? Gila ya," Freya tertawa sinis. "Terus lo? Lo mau-mau aja dijadiin pion?"

"Aku tidak bilang aku mau," suara Kaisar sedikit merendah, menunjukkan sisi manusiawi yang jarang ia perlihatkan. "Tapi aku juga tidak bisa membiarkan keluargamu dalam bahaya hanya karena ego kita berdua. Kita jalani ini satu bulan. Jika dalam satu bulan kita bisa membuktikan pada Buyut bahwa kita benar-benar tidak cocok, aku sendiri yang akan meminta perjodohan ini dibatalkan."

Freya menyipitkan mata. "Satu bulan? Lo serius?"

"Satu bulan. Kita harus terlihat berusaha di depan mereka. Tapi di belakang mereka, kita tetap kita yang sekarang."

Freya mulai berpikir. Satu bulan bukan waktu yang terlalu lama. Ia bisa menggunakan waktu itu untuk membuat Kaisar muak padanya. "Oke. Deal. Tapi jangan harap gue bakal jadi tunangan yang manis. Gue bakal bikin lo nyesel udah bawa gue ke dunia lo."

"Lakukan sesukamu," balas Kaisar. "Tapi setidaknya, hapus dulu cat di pipimu. Kamu terlihat seperti badut yang tersesat."

Freya refleks memegang pipinya dan menyadari ada bekas cat biru di sana. "Ini namanya seni, Robot! Lo nggak bakal paham!"

Kaisar tidak membawa Freya kembali ke istana, melainkan ke sebuah bangunan modern di pinggiran kota yang ternyata adalah galeri seni pribadinya yang jarang diketahui publik.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Freya curiga saat mereka turun dari mobil.

"Tugas pertama kita dari Buyut: 'Membangun Chemistry'. Aku pikir daripada membawamu ke restoran mahal yang akan membuatmu mengomel sepanjang waktu, lebih baik membawamu ke tempat yang tidak akan membuatmu ingin melompat dari gedung," jelas Kaisar.

Di dalam galeri itu, terdapat sebuah kanvas kosong yang sangat besar dan berbagai macam cat berkualitas tinggi.

"Gue disuruh ngelukis?" Freya menaikkan alisnya.

"Kita. Kita yang harus melakukannya," koreksi Kaisar sambil mulai melepas jam tangannya dan menggulung lengan kemejanya. "Buyut ingin hasil karya 'kolaborasi' kita untuk dipajang di ruang kerjanya minggu depan."

Freya menatap Kaisar yang kini berdiri di depan kanvas dengan kuas di tangan. Sosok pria kaku itu tampak sangat asing berada di lingkungan penuh warna seperti ini.

"Lo bisa ngelukis?" tanya Freya sangsi.

"Aku belajar dasar-dasarnya saat kecil. Tapi aku yakin, teknikmu yang 'berantakan' itu akan mendominasi," sindir Kaisar.

Freya tersenyum licik. Ia mengambil sekaleng cat merah dan tanpa peringatan, ia mencelupkan tangannya lalu menempelkannya ke kemeja biru navy milik Kaisar.

Plak!

Bekas telapak tangan merah tercetak jelas di dada sang Pangeran.

Kaisar membeku. Matanya menatap noda itu, lalu menatap Freya yang sedang tertawa penuh kemenangan.

"Itu warna pertama buat kolaborasi kita, Robot!" tantang Freya.

Kaisar menarik napas panjang. Alih-alih marah seperti yang Freya harapkan, ia justru mengambil kuas, mencelupkannya ke warna biru tua, dan dengan gerakan cepat mencoret hidung Freya dengan cat tersebut.

"Hei!" teriak Freya terkejut.

"Warna kedua," ucap Kaisar dengan seringai tipis yang baru pertama kali Freya lihat. Seringai yang tidak kaku, tidak dingin, tapi penuh tantangan.

Malam itu, di dalam studio yang sunyi, perang cat dimulai. Mereka belum saling cinta—mungkin jauh dari itu—tapi di antara tawa mengejek Freya dan ketenangan Kaisar yang mulai retak, sebuah warna baru mulai tercipta di atas kanvas kehidupan mereka yang tadinya berbeda kutub.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!