Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 — Petaka Petir
Beberapa hari berlalu. Kabar tentang Xinyi yang akan menghadapi petaka petir menyebar dengan cepat, seperti angin yang membawa bisik-bisik ke setiap sudut desa. Dengan mudahnya, banyak orang mengetahui berita itu.
Di antara mereka, ada yang meremehkan, menertawakan, merasa takut, khawatir, dan berbagai reaksi lainnya.
Meski begitu, tidak ada satu pun yang berani berbicara secara langsung. Semua hanya berakhir sebagai gosip yang beredar di balik punggung.
Sementara itu, di sebuah rumah kecil tempat Xinyi beristirahat selama beberapa hari terakhir, suasana terasa jauh lebih sunyi dan hangat.
Xun'er sedang membantu memakaikan pakaian baru untuk Xinyi.
Dengan gerakan yang lihai, ia menarik baju putih itu dan perlahan memakaikannya ke tubuh Xinyi. Setelah selesai, Xun'er mundur beberapa langkah. Di hadapannya, Xinyi menatap pantulan dirinya di cermin.
"Hmm... terlihat pas." Xinyi memutar tubuhnya perlahan, mengamati dirinya dari berbagai sisi.
"Pakaian pilihan Xun'er memang sangat cocok untukku."
"Fuh... sudahlah. Ini adalah harinya, kau benar-benar mau melakukannya?" Tatapan Xun'er berubah khawatir. "Xinyi, jika kau merasa tidak sanggup katakan saja padaku sekarang. Jangan menanggung beban ini sendirian."
"Tenang saja, Xun'er." Xinyi tersenyum menenangkan Xun'er.
"Aku tau sesuatu. Jalan ini adalah jalan yang paling cocok untukku. Setelah mendengar tentang 'petaka petir' entah kenapa aku langsung terdorong untuk melakukannya."
Xinyi tidak berbohong. Perasaan itu nyata. Ia benar-benar merasa bahwa jika tidak menantang petaka petir, ia akan menyesal seumur hidup. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terus berbisik, mengatakan bahwa ini adalah takdirnya—sebuah persimpangan yang tak boleh ia lewati begitu saja.
"Pokoknya, Xun'er tenang saja. Aku tidak akan mati, aku janji. Aku akan menerobos batasku, aku tidak akan terhenti di sini."
Ucapan penuh keyakinan itu membuat Xun'er hanya bisa menghela napas pelan. Ia benar-benar tidak habis pikir dari mana kepercayaan diri Xinyi berasal.
Bagaimanapun juga, di matanya, Xinyi hanyalah seorang asing yang kehilangan ingatan. Namun kini ia justru dengan berani memilih menghadapi petaka petir tanpa ragu. Tentu saja hal itu membuat Xun'er tak bisa menahan rasa cemas di dadanya.
"Entah dari mana kepercayaan dirimu itu, Xinyi." Ia melangkah mendekat, lalu perlahan memutar tubuhnya dan memeluk Xinyi dari belakang.
"Kau tidak boleh mati, kau mengerti?" bisiknya.
Xinyi hanya tersenyum, sambil menyentuh tangan Xun'er yang melingkar di tubuhnya. "Aku tahu."
...---...
Arena Kuno Xuan.
Arena kuno itu tampak retak, dipenuhi lumut, dan sedikit kotor. Tempat ini akan menjadi lokasi Xinyi menerima petaka petir, sebuah arena yang telah lama ditinggalkan karena tak ada lagi yang sanggup menantang kekuatan langit.
Aturannya hanya dua. Berhasil dan menjadi lebih kuat, atau gagal dan mati. Terdengar sederhana, namun sudah tak terhitung berapa banyak nyawa yang gugur karenanya.
Mereka yang serakah akan kekuatan, yang haus kekuasaan, yang merasa mampu menaklukkan segalanya. Orang-orang seperti itu telah lama menjadi santapan petaka petir.
Warga desa berkumpul di tempat yang dianggap paling aman. Mereka berdiri di pinggiran arena yang tinggi, menyaksikan dari atas, menunggu kejamnya takdir turun dari langit.
Tak ada sorak sorai. Yang terdengar hanyalah bisikan penuh ketidakpercayaan.
"Tidak mungkin, ini sudah yang keberapa kalinya. Orang bodoh mana lagi yang mau melawan petaka petir?"
"Hmph, mungkin ingin memberikan nyawanya secara cuma-cuma."
"Aku yakin dia akan takut bahkan sebelum petaka petir menyambarnya, hahaha!"
Tawa buruk itu menyebar di udara. Meski begitu, tidak sedikit pula yang diam-diam berharap pada Xinyi. Wanita tua dan pria tua yang pernah bertemu dengannya turut mendukung dalam hati mereka, berharap ia bisa bertahan hidup.
Anak-anak yang sempat bermain dengannya, meski hanya sebentar, juga datang dengan wajah penuh kecemasan. Mereka ingin melihat Xinyi, meski tak berani mendekat.
Di antara kerumunan, Tetua Miju Xie berdiri dengan wajah datar. Tak tampak emosi berlebihan di rautnya. Namun itu bukan berarti ia tidak tertarik. Ia hanya belum sepenuhnya mempercayai perasaan yang muncul di dalam dirinya.
"Apa dia akan menjadi 'orang itu'?" gumamnya.
Di sisi lain, Yao Li, Xun'er, dan Yuan Xi berkumpul seperti biasa. Mereka berdiri berdekatan, meski hubungan Xun'er dan Yuan Xi belum sepenuhnya membaik.
Yuan Xi masih belum mempercayai Xinyi, sangat bertolak belakang dengan Xun'er. Sementara Yao Li hanya bisa menghela napas melihat sikap keduanya. Ia berdiri di tengah, berjaga agar tidak terjadi pertengkaran di momen sepenting ini.
Tak lama kemudian, seorang wanita melangkah masuk ke arena.
Ia mengenakan atasan putih berlengan lebar dengan potongan longgar dan kerah V yang memberi kesan ringan serta mengalir. Bahannya tampak tipis dan halus, membentuk siluet yang lembut namun tetap rapi.
Bagian bawahnya adalah celana hitam longgar model high waist dengan lipatan halus yang memberi volume pada kaki. Celana itu dipadukan dengan sabuk hitam beraksen gesper logam dan tali gantung dekoratif, menambah kesan tegas sekaligus praktis.
Ia adalah Xinyi.
Tak ada keraguan di wajahnya. Ia menatap ke arah atas dan samping, ke tempat orang-orang memandangnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Hal itu tak mengganggunya. Perhatiannya hanya tertuju pada mereka yang ia kenal. Mereka yang mendukungnya. Xinyi membalas dengan senyum tipis yang memancarkan kepercayaan diri.
"Huh... lakukan, Xinyi. Tidak ada jalan mundur lagi," gumamnya.
Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar. "Aku Lin Xinyi, menentang petaka petir, menentang langit!"
Tatapan Tetua Miju Xie mengeras. "Dia masih memiliki keraguan dalam dirinya, dia tidak akan berhasil. Pada akhirnya... tidak ada yang bisa melewati petaka itu. Aku hanya membuang-buang waktuku," batinnya.
Langit mulai berubah. Awan hitam berputar perlahan di atas arena. Kilatan petir kecil mulai menyambar, suaranya menggelegar seperti monster raksasa yang terbangun dari tidur panjangnya.
Di udara, perlahan terbentuk tulisan dari aura petir yang berputar-putar.
'tiga dosa, tiga hukuman'.
Xinyi melihatnya dengan tenang. Tak ada rasa takut di matanya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Datanglah! Aku sudah siap!"
Di sisi lain, Xun'er hampir melompat ke depan untuk menghentikannya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Rasa tidak berdaya itu membuat dadanya terasa sesak.
"Dia akan mati setelah petir pertama," ucap Yuan Xi sambil melipat tangan di dada dengan ekspresi angkuh.
Xun'er langsung menoleh tajam. "Berisik. Dia tidak akan mati."
Yao Li sedikit terkejut mendengar ucapan itu. Tidak biasanya Xun'er berbicara setegas dan sekasar itu. Namun ia memilih diam, tak ingin memperkeruh suasana di saat genting seperti ini.
Kembali ke arena.
Xinyi berdiri tegap. Ia bisa merasakannya. Petir pertama akan segera turun.
"Ini dia," gumamnya.
Langit mendadak menyala terang selama beberapa saat. Dari pusaran awan hitam, sebuah lingkaran sihir raksasa perlahan terbentuk.
Detik berikutnya, petir itu turun.
Dengan kekuatan yang tak terkendali, sambaran itu menghantam tepat ke tubuh Xinyi yang berdiri di tengah arena.
BOOM—!
apa ada sejarah dengan nama itu?