NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Romansa
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Preman Pasar Sewon part 3

"Beneran kamu kuat dan sanggup untuk melakukan pekerjaan ini ya Rom? Jangan sampai kamu terlalu capek atau bahkan terluka dalam prosesnya nanti ya nak, karena jika hal itu terjadi emaak kamu pasti akan sangat marah dan mungkin akan menyalahkan saya karena tidak bisa menjaga keselamatanmu," ucap Bang Rokib dengan suara penuh perhatian dan rasa khawatir kepada Romi, melihat tubuh anak muda tersebut yang memang terlihat cukup kuat dan bugar untuk usianya, namun ia tetap khawatir dengan keselamatan Romi selama proses pembongkaran dan pengantaran berlangsung.

"Tidak perlu kuatir sama sekali bang Rokib, saya sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini dan saya juga akan bekerja dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jawab Romi dengan suara yang penuh keyakinan dan semangat yang tinggi, matanya yang cerah menunjukkan keseriusannya untuk membantu dalam pekerjaan tersebut, "Daripada kita hanya berdiri diam dan menunggu tanpa melakukan apa-apa sehingga sayuran menjadi layu atau busuk, lebih baik kita melakukan sesuatu yang bisa membantu menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan efisien kan bang?"

"Baiklah kalau begitu Rom, jika kamu memang benar-benar ingin membantu dan merasa mampu untuk melakukan pekerjaan ini, saya akan memberikan kamu bayaran sebesar 100 ribu rupiah per rit sayuran yang kamu bongkar dan angkut dengan selamat ya," ucap Bang Rokib dengan suara tegas dan penuh kepastian, memberikan jaminan kepada Romi tentang imbalan yang akan ia terima setelah pekerjaan selesai, "Itu termasuk tambahan dari saya sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasmu yang akan kamu lakukan nanti ya nak."

"Kami dari pihak perusahaan juga akan memberikan tambahan uang kuli sebesar 50 ribu rupiah per rit sayuran untuk setiap mobil yang kamu bongkar ya Rom," tambah Pak Anton dengan suara yang ramah dan penuh dukungan kepada Romi, "Jadi jika kamu membantu membongkar sayuran dari kedua mobil truck yang ada hari ini, kamu akan mendapatkan tambahan uang sebesar 50 ribu rupiah dari perusahaan kami sebagai bentuk ucapan terima kasih atas bantuanmu."

Tak lama kemudian, empat orang pria lain yang biasanya bekerja sebagai tukang panggul di sekitar Pasar Sewon mendengar kabar tentang kebutuhan akan bantuan dalam proses pembongkaran sayuran dan segera mendaftarkan diri untuk membantu. Mereka adalah Pak Darmawan yang sudah bekerja sebagai tukang panggul selama lebih dari lima belas tahun, Pak Surya yang masih relatif muda namun sudah memiliki pengalaman yang cukup banyak, serta dua orang muda lainnya bernama Rio dan Dani yang baru saja mulai bekerja sebagai tukang panggul untuk mencari penghasilan tambahan bagi keluarga mereka. Jadi total ada lima orang termasuk Romi yang siap membantu dalam proses pembongkaran dan pengantaran sayuran dari dalam mobil truck ke lapak-lapak pedagang yang sudah memesan.

Mereka segera memulai pekerjaannya dengan sangat cepat dan teratur, masing-masing mengambil bagian yang berbeda sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Pak Darmawan dan Pak Surya bertugas untuk membuka dan mengatur ulang karung-karung sayuran di dalam bagian belakang truck agar lebih mudah dijangkau dan diangkat oleh yang lain. Sementara itu, Romi, Rio, dan Dani bertugas untuk mengangkat karung-karung sayuran tersebut dengan hati-hati dan mengangkutnya ke lapak-lapak pedagang yang sudah ditentukan sebelumnya – mulai dari lapak Bang Rokib sendiri, hingga lapak Emak Susi, Mpok Wati, dan para pedagang lain yang sudah menunggu dengan penuh harapan.

Dalam waktu kurang lebih 2 jam 15 menit saja, seluruh sayuran dari kedua mobil truck tersebut sudah berhasil dibongkar dan ditempatkan dengan rapi di lapak-lapak yang sudah ditentukan. Proses tersebut berjalan dengan sangat lancar tanpa ada satu pun masalah atau kecelakaan yang terjadi selama pelaksanaannya – semua karung sayuran sampai dengan selamat tanpa ada kerusakan atau kebocoran sedikit pun.

Romi memang terlihat jauh lebih kuat dan tangkas daripada anak seusianya. Ia mampu memanggul hingga 25 rit sayuran tanpa banyak mengeluh atau menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang berlebihan, hal ini karena ia sudah terbiasa membantu ayahnya semenjak usia enam tahun. Ayahnya, Bayu Buana, dulunya dikenal sebagai preman Pasar Sewon pertama yang sebenarnya tidak pernah menyakiti atau mengganggu para pedagang maupun pembeli yang datang ke pasar. Sebaliknya, ia sering melindungi mereka dari gangguan orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin membuat kerusuhan atau mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar di dalam area pasar.

Setelah seluruh pekerjaan pembongkaran dan pengantaran selesai dilakukan dengan sukses, kelima tukang panggul tersebut memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah naungan pohon beringin besar yang tumbuh di tengah area pasar – pohon tersebut sudah ada sejak lama dan menjadi tempat berteduh yang populer bagi para pedagang dan pembeli ketika cuaca sedang panas atau saat mereka ingin beristirahat sejenak dari aktivitas berjualan atau berbelanja. Bang Rokib yang melihat kondisi mereka dengan cermat segera memberikan air mineral dingin yang dibeli dari warung kecil di dekat pintu masuk pasar kepada kelima dari mereka, sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

"Segar sekali rasanya minum air mineral dingin setelah bekerja dengan keras seperti ini ya," ucap Romi dengan suara yang penuh dengan kepuasan, sambil meniup peluh yang menetes deras di dahinya dan pipinya akibat panasnya matahari dan kerja keras yang telah dilakukannya. Tak lama kemudian, Bang Rokib bersama dengan kedua supir truck yaitu Pak Sugeng dan Pak Anton datang mendekati mereka dengan membawa amplop-amplop kecil yang berisi uang pembayaran untuk kerja keras mereka selama ini.

"Terima kasih banyak bang Rokib dan juga mas supir Pak Sugeng serta Pak Anton atas uang pembayaran dan juga bantuan yang diberikan kepada kami hari ini," ucap Romi dengan senyum lebar dan suara penuh rasa syukur saat menerima amplop yang diberikan oleh Bang Rokib, "Semoga rejeki kita semua selalu lancar dan berkah ya semuanya."

Namun sayangnya, suasana yang baru saja menjadi riang dan penuh dengan kegembiraan kembali berubah menjadi tegang dan penuh dengan ketakutan ketika beberapa orang pria dengan wajah kasar dan penampilan yang tidak sedap dipandang mendekati arah mereka dengan langkah yang santai namun penuh dengan kesombongan. Mereka mengenakan pakaian kasar seperti jaket kulit hitam tanpa lengan, celana jeans sobek, dan sepatu bot yang kotor, serta membawa barang-barang yang mencurigakan di dalam kantong mereka.

"Jatah preman... jatah preman... uang keamanan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di dalam pasar Sewon ini harus kalian bayarkan sekarang juga!" ucap salah satu pria tersebut dengan suara kasar dan menyakitkan telinga, ia adalah Toha yang baru saja mulai bertugas sebagai anak buah dari Bang Bedil dan Bang Jabrik untuk mengumpulkan uang di dalam pasar selama seminggu terakhir ini.

"Woi loe yang jadi supir kan? Segera turun dari dalam mobil dan datang ke sini sekarang juga!" teriak Sadeli, teman sekampung dan juga teman kerja dari Toha yang berdiri di sebelahnya dengan wajah yang marah tanpa sebab jelas, matanya yang memerah menunjukkan rasa kemarahan yang sedang meluap-luap darinya.

"Ya bang apa ada masalah atau kebutuhan khusus yang bisa kami bantu ya?" tanya Pak Sugeng dengan suara sedikit gemetar akibat rasa ketakutan yang muncul di dalam hatinya, melihat wajah kasar dan ekspresi marah dari kedua pria tersebut.

"Eeh bujug dah malah berani bertanya ke gue ya? Cepetan kasih uang jatah preman untuk gue dan juga teman gue si Toha yang sedang menangani urusan keamanan dan ketertiban di dalam pasar Sewon ini!" teriak Sadeli semakin keras dan kasar, membuat beberapa pedagang dan pembeli yang berada di sekitarnya mulai merasa takut dan mulai mencari tempat untuk berlindung.

"Maaf sekali lagi bang, kami sudah memberikan uang pembayaran untuk pekerjaan yang telah dilakukan kepada Romi dan juga teman-temannya yang membantu membongkar serta mengangkut sayuran dari dalam mobil ke lapak-lapak pedagang tadi malam – atau tepatnya pagi ini ya bang," jelas Pak Anton dengan suara tetap sopan dan ramah meskipun dirinya juga merasa sangat takut dengan kondisi yang terjadi saat ini, "Uang tersebut diberikan sebagai bentuk imbalan atas kerja keras dan kontribusi mereka dalam membantu menyelesaikan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh para kenek kami yang sedang tidak bisa membantu hari ini."

"Brengsek sekali kamu semua! Jangan berani main memberikan uang yang seharusnya menjadi hak kami kepada para pedagang kecil atau bocah kampungan yang tidak tahu diri seperti itu!" marah Toha dengan suara yang sangat keras dan penuh dengan kemarahan, sambil menggeram seperti binatang buas yang sedang marah besar, "Cepetan saja panggil bocah bernama Romi itu untuk datang menghadap saya sekarang juga! Jangan sampai dia bersembunyi atau lari karena jika hal itu terjadi, saya akan mencari dia dimana pun dia berada dan memberikan hukuman yang pantas baginya!"

"Baiklah bang, saya akan segera memanggilnya untuk datang menghadap abang sekalian ya," jawab Pak Anton dengan suara yang terpaksa dan penuh rasa takut, sambil melihat ke arah Romi yang masih duduk di bawah naungan pohon beringin besar bersama dengan teman-temannya yang lain. Sementara itu, Bang Rokib yang melihat kejadian ini dengan cermat hanya berdiri diam dengan wajah yang mulai memerah karena kemarahan yang muncul di dalam dirinya – ia sangat tidak suka dengan sikap dan perilaku dari kedua pria tersebut yang datang dengan memaksa dan ingin mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar di dalam area pasar yang selama ini ia jaga dengan baik.

"Heeey kamu yang jadi agen sayuran terbesar di pasar ini kan? Kamu juga harus memberikan uang jatah preman untuk gue sekarang juga!" ucap Sadeli dengan suara yang penuh dengan kesombongan dan ancaman, sambil mendekati Bang Rokib dengan langkah yang lambat namun penuh dengan ancaman, "Kalau loe tidak mau memberikan uang tersebut kepada gue sekarang juga, gue akan menggunakan golok besar yang saya bawa ini untuk menyerang dan melukai loe dengan sangat parah! Kamu pasti tidak ingin hal buruk seperti itu terjadi bukan?" ucapnya lagi sambil mengeluarkan golok besar dengan bilah tajam dari sabuk pinggangnya yang sudah mulai aus akibat digunakan selama bertahun-tahun.

1
ceuceu
masih bertele" ceritanya,blm sesuai judul
Kang Ottoy: Terima kasih masukannya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!