kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Benang Takdir dan Panggilan yang Lebih Dalam
Tahun-tahun berlalu, dan Aethelgard berkembang menjadi mercusuar kedamaian dan harmoni, diakui di seluruh dunia sebagai kerajaan yang menganut keseimbangan dan kehendak bebas. Aliansi dengan Valoria dan kerajaan-kerajaan tetangga lainnya semakin erat, didasari oleh rasa saling hormat dan pemahaman yang Ryo tanamkan melalui "Anyaman Pemahaman" miliknya. Ordo Penjaga Benang telah menjadi institusi global, mengirimkan anggotanya ke berbagai wilayah untuk membantu memulihkan benang-benang yang terdistorsi dan mengajarkan filosofi Dalang Jiwa yang baru.
Ryo kini telah sepenuhnya menerima perannya sebagai seorang Dalang, bukan lagi yang terasing, melainkan yang terhubung. Ia sering kali ditemukan di menaranya, bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk merasakan anyaman kehidupan global, mendeteksi ketidakseimbangan, dan menenun solusi melalui diplomasi atau intervensi halus. Lyra selalu di sisinya, sebagai permaisuri (mereka menikah setahun setelah konferensi besar), penasihat utama, dan jangkarnya. Cinta mereka berdua adalah benang yang paling kuat dalam anyaman kehidupan Ryo, memberinya kekuatan dan kejelasan di saat-saat paling sulit.
Meskipun demikian, dalam keheningan malam, Ryo kadang-kadang merasakan bisikan aneh. Bukan Kekosongan, bukan pula manipulasi Kresna. Bisikan ini terasa... tua. Sangat tua. Seperti gema dari benang-benang yang teranyam sebelum Aethelgard ada, sebelum peradaban apa pun muncul.
Lyra merasakan keresahan Ryo. "Ada apa, suamiku?" tanyanya suatu malam, saat Ryo tampak termenung menatap boneka Elara yang kini diletakkan di meja belajarnya sebagai pengingat damai.
"Aku merasakan sebuah panggilan, Lyra," Ryo menjawab, matanya memancarkan kedalaman yang tak terhingga. "Sebuah panggilan dari benang-benang yang berada di luar anyaman yang kita kenal. Dari benang-benang yang membentuk keberadaan itu sendiri, di luar alam fana ini."
Lyra mengernyit. "Maksudmu... dari Alam Eterik yang lebih tinggi? Atau dari Alam Astral?"
"Lebih dalam," Ryo mengoreksi. "Dari benang yang menopang Alam Eterik itu sendiri. Seperti fondasi dari segala fondasi. Ada ketidakseimbangan di sana. Sebuah keretakan dalam benang keberadaan."
Gulungan kuno "Chronica Animarum" memang membahas tentang benang-benang fundamental alam semesta, yang disebut "Benang Kosmik". Konon, benang-benang ini adalah esensi penciptaan, dan sangat jarang ada Dalang yang bisa merasakannya, apalagi berinteraksi dengannya.
"Apakah ini seperti Mulut Jurang, tapi di tingkat kosmik?" Lyra bertanya, merasakan firasat yang tak menyenangkan.
Ryo mengangguk. "Mungkin. Tapi ini terasa berbeda. Lebih dari sekadar kehampaan. Ini seperti... disonansi dalam melodi utama alam semesta. Dan aku merasa... aku harus menjawab panggilan ini."
Lyra merasakan benang tekad Ryo, yang kini teranyam dengan sebuah rasa ingin tahu dan tanggung jawab yang melampaui Aethelgard. Ia tahu ini adalah takdir Ryo yang sebenarnya, sebuah panggilan yang tidak bisa ia tolak.
"Apa yang harus kita lakukan?" Lyra bertanya, siap untuk menemaninya ke mana pun.
"Aku tidak bisa pergi sendiri," Ryo menjelaskan. "Benang-benang itu terlalu besar, terlalu fundamental. Aku membutuhkan Anyaman yang lebih besar. Anyaman yang melampaui Dalang Jiwa dan bahkan Ordo Penjaga Benang."
Ryo kemudian mengumpulkan para pemimpin spiritual dan Dalang-Dalang lain dari seluruh dunia, yang telah datang ke Aethelgard untuk belajar dari Ordo Penjaga Benang. Para Dalang dari Valoria, para penyihir dari kerajaan utara, bahkan para biarawan dari pegunungan timur yang memiliki kepekaan eterik, semua berkumpul.
Ia menjelaskan kepada mereka tentang Benang Kosmik, tentang panggilan yang ia rasakan, dan tentang keretakan dalam fondasi keberadaan. Ia meminta mereka untuk menyatukan kekuatan mereka, untuk membentuk "Anyaman Kosmik" yang lebih besar, dengan dirinya sebagai inti.
"Ini adalah risiko terbesar yang pernah kita ambil," Master Eldrin memperingatkan. "Berinteraksi dengan Benang Kosmik bisa mengubah realitas itu sendiri, atau bahkan menghancurkan mereka yang tidak siap."
"Tapi jika kita tidak menjawab panggilan ini," Ryo membalas, "ketidakseimbangan itu akan tumbuh, dan akhirnya akan menghancurkan anyaman realitas yang kita kenal."
Lyra, sebagai permaisuri dan penasihat, membantu Ryo mempersiapkan diri dan memimpin ritual yang rumit. Ia bekerja sama dengan Master Eldrin untuk menemukan artefak-artefak kuno yang mungkin bisa membantu, dan dengan para Dalang lainnya untuk memahami bagaimana menyelaraskan benang-benang mereka dalam skala kosmik.
Ritual itu diadakan di sebuah lembah tersembunyi yang disiapkan khusus, jauh dari peradaban. Ratusan Dalang dan pemimpin spiritual duduk dalam formasi yang kompleks, benang-benang mereka beresonansi dalam harmoni yang luar biasa. Ryo duduk di pusatnya, ditemani oleh Lyra, yang menggenggam tangannya, seperti biasa. Boneka Elara diletakkan di samping mereka, cahayanya kini stabil dan menenangkan.
Ryo memejamkan mata, memproyeksikan kesadarannya, tidak lagi hanya ke benang-benang Aethelgard, atau bahkan ke benang-benang dunia. Ia memproyeksikan kesadarannya melampaui alam fana, melampaui alam eterik, ke arah Benang Kosmik yang fundamental.
Ia merasakan keagungan yang tak terhingga, sebuah anyaman energi dan informasi yang membentuk segalanya. Galaksi-galaksi, bintang-bintang, planet-planet, kehidupan, waktu, ruang—semua hanyalah simpul dalam anyaman raksasa ini. Dan di tengah keagungan itu, ia merasakan keretakan. Sebuah disonansi.
Bukan kehampaan seperti Mulut Jurang, bukan pula manipulasi seperti Kresna. Ini terasa seperti... sebuah "lupa". Sebuah bagian penting dari melodi penciptaan yang telah hilang, menyebabkan seluruh simfoni menjadi tidak lengkap, tidak stabil.
Ryo berusaha untuk memahami, untuk merasakan esensi dari "lupa" ini. Ia merasa ditarik ke dalam samudra informasi yang tak terbatas, mengancam untuk memecah belah akalnya. Namun, ia berpegangan pada Anyaman Kosmik yang telah ia bentuk, pada benang-benang yang mendukungnya, dan pada genggaman Lyra yang kuat.
"Aku merasakannya," Ryo berbisik, tubuhnya gemetar. "Ini adalah 'Benang Asal'. Benang yang hilang dari anyaman keberadaan. Benang yang telah dilupakan."
"Bisakah kau mengikatnya kembali?" Lyra bertanya, khawatir.
Ryo menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak tahu. Benang ini... ia bukan hanya bagian dari penciptaan. Ia adalah sebagian dari inti penciptaan itu sendiri. Jika aku salah mengikatnya, seluruh realitas bisa runtuh."
Ini adalah tantangan pamungkas bagi Ryo, Dalang Jiwa. Bukan lagi melawan musuh eksternal, melainkan memperbaiki cacat pada kain realitas itu sendiri. Ia harus menemukan Benang Asal yang hilang, memahami esensinya, dan mengikatnya kembali ke dalam Anyaman Kosmik, memastikan harmoni dan stabilitas alam semesta. Nasib Aethelgard, dan mungkin seluruh keberadaan, kini bergantung pada kemampuan seorang Dalang Jiwa untuk menenun kembali benang-benang takdir yang paling fundamental.