Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Terenggut
Asap kimia berwarna abu-abu pekat memenuhi setiap sudut gudang, membuat paru-paru terasa terbakar dan pandangan menjadi buram. Di tengah kekacauan itu, Arabella berada di titik nadir hidupnya. Di depannya, dua pria yang mencintainya dengan cara yang berbeda mengulurkan tangan.
"Ara, ambil tanganku! Kita harus keluar sekarang!" Alaska berteriak, suaranya parau tertutup masker darurat yang ia pasang.
"Ara, maafkan aku... pegang tanganku, kumohon!" Suara Devan terdengar pecah, penuh keputusasaan yang tidak pernah ia tunjukkan selama lima tahun pernikahan mereka.
Ara menatap kedua uluran tangan itu dengan bimbang. Oksigen di sekitarnya menipis, dan kepalanya mulai berputar. Namun, saat jemarinya nyaris menyentuh salah satu dari mereka, sebuah tarikan kasar dari kegelapan di belakangnya merenggut tubuhnya.
"Akh!" Ara menjerit pelan sebelum sebuah sapu tangan beraroma kloroform membungkam mulutnya.
"Ara!" Devan dan Alaska berteriak bersamaan. Mereka menerjang ke titik di mana Ara berdiri tadi, namun tangan mereka hanya menangkap udara kosong. Asap itu terlalu tebal, menyembunyikan sosok penculik yang menyeret Ara masuk ke dalam lorong bawah tanah yang tersembunyi.
"Brengsek! Dia dibawa ke mana?!" Alaska mengayunkan senjatanya membabi buta ke arah bayangan, namun sebuah tawa dingin menggema dari pengeras suara gudang.
"Permainan ini belum selesai, anak muda," suara Kakek Wren terdengar begitu dekat.
DOR!
Sebuah tembakan menyalak dari arah kantor lantai atas yang tersembunyi. Alaska tersentak, tubuhnya terdorong ke belakang saat timah panas menembus perut bagian sampingnya.
"Alaska!" Devan menangkap tubuh pria itu sebelum menghantam lantai.
"Sial... Ara... kejar Ara, Devan!" Alaska mengerang, tangannya menekan luka yang mulai mengalirkan darah segar ke kemeja putihnya.
"Diam! Jangan banyak bicara!" Devan merobek lengan bajunya sendiri dengan gerakan cepat, insting dokternya mengambil alih kendali. "Kau bisa mati kalau arterinya kena!"
"Persetan dengan nyawaku! Selamatkan istrimu, Bodoh!" Alaska mencengkeram jas Devan, matanya menatap tajam di tengah rasa sakit. "Dia diculik... dan kau malah mengurusku?"
Devan menatap ke arah lubang pelarian di mana Ara menghilang, lalu menatap Alaska yang mulai pucat. Ini adalah dilema terbesar dalam hidupnya. Sebagai suami, ia ingin mengejar Ara sampai ke ujung dunia. Tapi sebagai dokter, ia tidak bisa membiarkan seseorang mati di depan matanya—terutama pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa untuk istrinya.
"Dengar, Alaska," suara Devan mendingin, kembali ke mode klinis. "Aku tidak bisa mengejarnya jika kau mati di sini. Kau adalah satu-satunya saksi yang legal untuk menjerat kakekku."
"Kau... kau memang robot tanpa perasaan," bisik Alaska sambil meringis saat Devan menekan lukanya dengan keras menggunakan kain robekan baju.
"Memang. Dan robot ini yang akan memastikan kau tetap hidup untuk melihatku membawa Ara kembali," balas Devan tajam. Ia mengambil tas forensiknya, mengeluarkan klem dan cairan antiseptik darurat. "Tahan ini. Ini akan sangat sakit."
Di tengah desing peluru anak buah Kakek Wren yang mulai mendekat, Devan bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di kepalanya, ia menghitung detik. Setiap detik yang ia gunakan untuk menjahit luka Alaska adalah satu meter jarak yang menjauhkan Ara darinya.
"Kenapa kakekmu melakukan ini?" Alaska bertanya dengan suara yang kian melemah.
"Karena dia bukan manusia. Dia menganggap nyawa orang tua kita hanya sekadar angka di buku besar perusahaannya," jawab Devan sambil mengikat simpul perban terakhir dengan sangat kuat. "Bisa berdiri?"
Alaska mencoba bangkit, bertumpu pada bahu Devan. Di tengah asap yang mulai menipis, mereka melihat gudang itu kini kosong. Ara telah hilang. Kakek Wren telah lenyap.
"Siapa yang menariknya tadi?" tanya Alaska parau.
"Aku tidak tahu," Devan menatap lantai yang retak. "Tapi dia tidak ditarik untuk dibunuh di sini. Mereka membawanya sebagai sandera. Dan selama dia masih berguna bagi Kakek, dia masih hidup."
Devan memandang telapak tangannya yang kini bersimbah darah Alaska. Rasa bersalah, amarah, dan rindu bercampur menjadi satu racun yang lebih mematikan dari apa pun.
"Kita pergi dari sini. Aku harus membawamu ke rumah sakit rahasia sebelum orang-orang Kakek menemukan kita lagi," ucap Devan.
"Dan Ara?"
Devan menatap langit malam yang kelam dari celah atap gudang. "Dia sedang dalam perjalanannya sendiri menuju kebenaran. Dan aku... aku akan menjadi bayangan yang tidak akan pernah berhenti mengejarnya."
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/