Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Dimensi
Lin Xi menyadari satu hal penting: balas dendam adalah hidangan yang paling nikmat disajikan saat dingin, dan yang lebih penting lagi, saat dompet penuh. Menyerang keluarga Lin sekarang dengan pakaian kulit serigala dan wajah penuh debu hanya akan membuatnya terlihat seperti orang gila, bukan seorang dewi pembalas dendam.
"Sabar, Lin Xi. Biarkan tikus-tikus itu berpesta sedikit lebih lama," gumamnya sambil melangkah menuju toko obat terbesar di Desa Awan Kelabu yang bernama Paviliun Tabib Medis.
Begitu masuk, bau harum rempah-rempah langsung menyambutnya. Seorang pelayan tua dengan kacamata bertengger di hidungnya memandang Lin Xi dengan sebelah mata.
"Gadis kecil, jika kau mencari obat luka luar, ada di rak sebelah kiri. Harganya dua keping perak," ucap pelayan itu malas.
Lin Xi tidak menjawab. Ia langsung membuka bungkusan kainnya di atas meja konter. Gubrak!
Mata pelayan tua itu hampir melompat keluar dari bingkainya. Lima helai Rumput Embun Surga yang masih segar, tiga Jamur Lingzhi Ungu, dan beberapa tanaman langka lainnya berjejer rapi.
"Ini... ini kan..." Suara pelayan itu bergetar. Ia segera berlari ke belakang dan memanggil pemilik toko.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan pakaian sutra mewah keluar dengan tergesa-gesa. Ia memeriksa tanaman itu dengan tangan gemetar. "Kualitas tingkat tinggi! Semua energinya masih terjaga! Nona, dari mana Anda mendapatkan ini?"
"Hutan Terlarang," jawab Lin Xi singkat. "Berapa kau mau bayar? Aku tidak punya banyak waktu."
Setelah negosiasi yang alot, Lin Xi keluar dari toko itu dengan kantong berisi 5.000 keping emas dan sebuah kartu anggota perunggu Paviliun Tabib. Bagi penduduk desa, uang itu cukup untuk hidup mewah selama sepuluh tahun. Namun bagi Lin Xi, ini hanyalah modal awal untuk membeli peralatan medis dan bahan kimia yang ia butuhkan.
Malam harinya, Lin Xi menyewa kamar terbaik di penginapan desa. Ia duduk bersila di atas tempat tidur, mencoba memulihkan tenaganya setelah perjalanan jauh. Saat ia sedang bermeditasi, dadanya tiba-tiba terasa sangat panas.
Sumber panas itu berasal dari sebuah kalung giok kusam yang sejak awal melingkar di leher pemilik tubuh asli. Lin Xi mengira itu hanya perhiasan murahan, tapi saat setetes darah dari lukanya yang belum kering di tangan secara tidak sengaja mengenai giok itu...
WUUUUSSSHHH!
Pandangan Lin Xi menjadi gelap sekejap. Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di kamar penginapan. Ia berdiri di sebuah padang rumput yang sangat luas dengan udara yang begitu murni hingga membuat paru-parunya terasa sejuk. Di tengah padang itu, terdapat sebuah mata air jernih dan sebuah gubuk bambu kecil.
"Ini... Ruang Dimensi?" Lin Xi tertegun.
Sebagai pembaca novel medis di masa depan, ia tahu persis apa ini. Ini adalah harta karun legendaris! Sebuah ruang yang terikat dengan jiwanya.
Ia segera berlari ke arah mata air tersebut. Di sampingnya terdapat sebuah prasasti batu bertuliskan: "Mata Air Rohani Kehidupan - Mempercepat Pertumbuhan Tanaman Seribu Kali Lipat dan Memurnikan Racun."
"Gila! Kalau aku menanam obat di sini, aku tidak perlu lagi mempertaruhkan nyawa di hutan!" seru Lin Xi kegirangan.
Ia masuk ke dalam gubuk bambu dan menemukan sebuah meja alkimia kuno serta sebuah buku tua berjudul "Katalog Jarum Dewa dan Racun Langit". Buku ini berisi teknik pengobatan dan pembuatan racun yang jauh lebih canggih daripada pengetahuan medis modern sekalipun.
Lin Xi menyadari bahwa ruang dimensi ini adalah kunci kemenangannya. Aliran waktu di dalam ruang ini terasa lebih lambat daripada di dunia luar. Satu hari di luar mungkin terasa seperti satu minggu di sini.
"Sempurna. Keluarga Lin punya ribuan prajurit dan dukungan para tetua. Jika aku ingin menang, aku tidak boleh hanya mengandalkan keberuntungan," pikir Lin Xi dengan mata berkilat.
Ia menghabiskan "waktu" di dalam ruang dimensinya untuk mulai menanam bibit Teratai Api yang sempat ia simpan akarnya. Ia juga meminum air dari mata air rohani tersebut. Seketika, rasa sakit sisa-sisa kultivasi di tubuhnya menghilang, digantikan dengan kekuatan yang lebih padat dan murni.
Kultivasinya yang tadinya mentok di Tingkat Penguatan Sumsum, kini perlahan mulai menyentuh ambang Tingkat Pengumpulan Qi.
"Besok, aku akan membeli pakaian terbaik di desa ini. Aku akan membeli kuda tercepat. Dan aku akan meracik racun yang bahkan tidak bisa dideteksi oleh kultivator tingkat tinggi sekalipun," gumam Lin Xi sambil menutup buku kuno itu.
Penundaan ini bukan karena ia takut. Ia hanya sedang mempertajam taringnya. Saat ia melangkah keluar dari Desa Awan Kelabu nanti, ia bukan lagi seorang pelarian, melainkan seorang penguasa takhta yang sedang berjalan pulang untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.
"Keluarga Lin, nikmatilah hari-hari terakhir kalian sebagai bangsawan. Karena saat aku tiba, rumah megah kalian hanya akan menjadi kuburan massal."