NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Tiba-tiba bunyi ponsel Abimana menyita perhatian Arunika.

​"Ma, Abi izin angkat telepon sebentar." pamit Abimana singkat. Liana hanya mengangguk sembari terus mengajak Arunika melihat-lihat koleksi perhiasannya.

​Abimana bergegas menjauh ke arah balkon belakang yang cukup sepi. Ekspresi wajahnya yang tadi kaku kini tampak sedikit tegang saat melihat layar ponselnya.

​Namun, fokus Arunika sudah tidak lagi pada kalung zamrud di depannya. Matanya melirik ke arah punggung Abimana yang menjauh. Pasti dari dia, batin Arunika. Rasa curiga itu membakar keingintahuannya. Ia tidak ingin masuk ke dalam pernikahan yang ternyata hanyalah penjara karena suaminya masih terikat dengan wanita lain.

​"Tante, maaf, boleh Nika ke kamar mandi sebentar?" tanya Arunika dengan suara yang sangat halus agar tidak menimbulkan kecurigaan.

​"Oh, tentu sayang. Lewat lorong itu, di sebelah kiri ya." jawab Liana ramah.

​Arunika melangkah pelan. Alih-alih ke kamar mandi, ia justru berbelok ke arah lorong yang terhubung dengan pintu balkon. Ia bersembunyi di balik pilar besar, menahan napasnya agar tidak terdengar. Dari posisi ini, ia bisa mendengar suara Abimana dengan cukup jelas.

​"Sudah kubilang jangan telepon sekarang, Claudia." suara Abimana terdengar rendah namun penuh penekanan. "Aku sedang di rumah Mama... Tidak, tidak ada yang berubah. Rencananya tetap sama."

​Deg!

​Jantung Arunika berdegup kencang. Rencana tetap sama? Apa maksudnya?

​"Dengar." lanjut Abimana lagi, suaranya terdengar frustrasi. "Pernikahan ini hanya soal status. Aku tidak mungkin membantah Mama. Kamu tahu itu. Sabarlah sedikit."

​Arunika mengepalkan tangannya di balik pilar. Matanya berkilat marah namun juga penuh tekad. Sekarang ia tahu dengan pasti posisi dirinya di mata Abimana: sebuah "status" untuk menyenangkan orang tua.

​"Jadi itu rencanamu, Pak Abimana?" bisik Arunika lirih, nyaris tak terdengar. "Kamu ingin menjadikanku pajangan sementara hatimu milik wanita lain? Baiklah. Aku akan memastikan rencana itu hancur berantakan. Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini membelengguku. Sebaliknya, aku akan membuatmu memohon agar pernikahan ini menjadi nyata."

​Arunika segera kembali ke arah ruang tengah sebelum Abimana menutup teleponnya. Ia harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi di dalam kepalanya, ia sudah menyusun langkah pertama untuk membuat Abimana benar-benar bertekuk lutut.

​Setelah selesai, Arunika pamit untuk pulang.

​"Nika pamit pulang ya, Tante! Sampai ketemu nanti malam." seru Arunika sembari mencium tangan Liana dengan takzim.

​"Iya sayang! Kamu hati-hati di jalannya, sampai ketemu nanti malam." jawab Liana dengan senyumnya yang ramah.

​Langkah Arunika keluar menuju mobil diikuti oleh Abimana yang masih tampak gusar. Suasana di dalam mobil kembali hening, namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih berat bagi Abimana.

​Mobil sedan hitam itu membelah jalanan sore yang mulai macet. Abimana fokus pada kemudi, namun sesekali matanya melirik Arunika melalui spion tengah. Gadis di sampingnya itu tampak terlalu tenang. Arunika hanya menatap keluar jendela, senyum tipis masih tertinggal di bibirnya, seolah ia baru saja memenangkan sebuah undian besar.

​"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Abimana ketus, memecah keheningan. "Jangan berpikir karena Mama menyukaimu, posisi kamu aman."

​Arunika tidak menoleh. Ia tetap menatap barisan pohon yang mereka lewati. "Posisi saya memang sudah aman sejak awal, Pak. Yang seharusnya khawatir itu Bapak. Bagaimana jika nanti malam, di depan keluarga besar, saya tidak sengaja menyebut nama... siapa tadi? Claudia?"

​Citt!

​Abimana menginjak rem sedikit mendadak saat lampu merah, membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan. Ia menoleh dengan tatapan yang sangat tajam, kilat kemarahan terpancar jelas di sana.

​"Kamu menguping?" desisnya dengan suara rendah yang berbahaya.

​Arunika akhirnya menoleh. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia menantang tatapan dosennya itu. "Rumah Mama Bapak itu besar, tapi suara Bapak cukup keras untuk sampai ke telinga saya. 'Hanya soal status', ya? Menarik sekali."

​"Dengar, Arunika—"

​"Tidak, Bapak yang dengar." potong Arunika dengan nada yang sangat berwibawa. "Saya tidak keberatan dengan perjodohan ini, tapi saya keberatan jika dijadikan pajangan untuk menutupi hubungan gelap Bapak. Jadi, mulai sekarang, mari kita buat kesepakatan. Jangan coba-coba mengintimidasi saya lagi, atau saya tidak akan segan-segan menghancurkan sandiwara yang Bapak bangun di depan orang tua kita."

​Abimana terpaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kehilangan kata-kata. Gadis yang selama ini dianggapnya remeh, kini justru memegang kendali atas dirinya.

​"Turunkan saya di depan sana, Pak. Saya ingin mampir ke toko buku sebentar." ucap Arunika santai saat mobil kembali melaju.

​Abimana hanya bisa menuruti keinginan Arunika dalam diam. Saat Arunika turun dari mobil, ia sempat mengetuk kaca jendela Abimana. Begitu kaca diturunkan, Arunika berbisik pelan, "Sampai jumpa nanti malam, Calon Suami. Jangan lupa siapkan senyum terbaikmu."

​Abimana memukul kemudi mobilnya begitu Arunika menjauh. "Sial! Dia benar-benar sudah berubah." umpatnya frustrasi.

​Malam itu, suasana di kediaman keluarga Arunika terasa sangat hangat bagi para orang tua, namun terasa seperti medan perang dingin bagi kedua calon mempelai. Abimana duduk tepat di hadapan Arunika. Ia tampak rapi dengan kemeja batik, namun matanya terus menghindari tatapan Arunika yang kini tampak begitu memukau dengan gaun sederhana namun elegan.

​Bagas berdehem, membuka pembicaraan setelah hidangan utama selesai dinikmati.

​"Begini, Abi, Nika..." Bagas memulai dengan senyum penuh arti. "Tadi sore, Ayah dan Om Bima baru saja berbincang dengan pihak gedung dan keluarga besar."

​Abimana meletakkan sendoknya, perasaannya mulai tidak enak.

​"Kami merasa, tidak ada gunanya menunda-nunda hal baik." sambung Bima, ayah Abimana. "Awalnya kita berencana menikahkan kalian bulan depan, tapi setelah kami pertimbangkan, bagaimana jika akad nikah dan resepsinya dipercepat menjadi akhir minggu ini?"

​Uhuk!

​Abimana tersedak air yang tengah diminumnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak pucat. "Minggu ini? Tapi Pa, persiapan Abi di kampus sedang padat, dan—"

​"Semua persiapan sudah kami ambil alih, Abi." potong Liana dengan semangat. "Kalian hanya tinggal datang tanpa perlu mempersiapkan apa pun. Lagipula, bukankah lebih cepat lebih baik untuk menghindari fitnah? Kalian juga sudah terlihat sangat serasi."

​Abimana melirik ke arah Arunika, berharap gadis itu akan ikut protes atau setidaknya terlihat terkejut. Namun, ia justru mendapati Arunika tengah tersenyum sangat manis ke arah kedua orang tua mereka.

​"Nika setuju-setuju saja, Yah, Ibu." ucap Arunika dengan suara yang lembut, namun matanya yang berkilat menatap tajam ke arah Abimana. "Jika Pak... maksud saya, jika Mas Abi memang sudah siap lahir batin untuk bertanggung jawab, Nika tidak keberatan."

​Abimana mengepalkan tangannya di bawah meja. Kata-kata "tanggung jawab" yang diucapkan Arunika terdengar seperti sebuah ancaman di telinganya.

​"Bagaimana, Abi? Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Bagas memastikan.

​Abimana terjebak. Di depan kedua keluarga, ia tidak mungkin menolak tanpa alasan yang masuk akal, apalagi ia sudah berjanji untuk menjadi putra yang penurut. Dengan berat hati dan rahang yang mengeras, ia terpaksa mengangguk.

​"Iya, Om. Saya setuju." jawabnya singkat, suaranya terdengar sangat tertekan.

​Arunika tersenyum lebih lebar. "Baguslah kalau begitu. Semoga Mas Abi tidak mendadak sakit karena terlalu... bersemangat menyiapkan hari pernikahan kita ya." sindir Arunika halus.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!