Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Pernikahan di percepat
Saat mereka berada di ruang tamu. Tiba-tiba bunyi ponsel Abimana menyita perhatian Arunika.
"Ma, Aku izin angkat telepon sebentar."
Liana hanya mengangguk sembari terus mengajak Arunika melihat-lihat koleksi perhiasannya.
Abimana bergegas menjauh ke arah balkon belakang yang cukup sepi. Ekspresi wajahnya yang tadi kaku kini tampak sedikit tegang saat melihat layar ponselnya.
Di ruang tamu fokus Arunika sudah tidak lagi pada perhiasan di depannya. Matanya melirik ke arah punggung Abimana yang menjauh.
"Pasti panggilan dari dia."
Rasa curiga itu membuat keingintahuannya semakin tinggi. Ia tidak ingin masuk ke dalam pernikahan yang ternyata hanyalah penjara karena suaminya masih terikat dengan wanita lain.
"Tante, maaf, boleh Nika ke kamar mandi sebentar?" dengan suara yang sangat halus agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Oh, tentu Sayang."
Arunika melangkah pelan meninggalkan calon ibu mertuanya.
Alih-alih ke kamar mandi, ia justru berbelok ke arah lorong yang terhubung dengan pintu balkon. Ia bersembunyi di balik pas bunga besar, menahan napasnya agar tidak terdengar. Dari posisi ini, ia bisa mendengar suara Abimana dengan cukup jelas.
"Sudah kubilang jangan telepon sekarang, Claudia." suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan. "Aku lagi di rumah Mama."
"Pernikahan ini hanya soal status. Aku nggak mungkin membantah Mama. Kamu tahu itu."
Deg!
Arunika mengepalkan kedua tangannya. Matanya berkilat marah namun juga penuh tekad. Sekarang ia tahu dengan pasti posisi dirinya di mata Abimana: kalimat yang selalu laki-laki itu ucapkan, soal hubungan mereka yang hanya sebuah status untuk menyenangkan orang tuanya. Ternyata memang benar.
"Jadi itu rencanamu, Pak Abimana?" bisik Arunika lirih, nyaris tak terdengar. "Kamu ingin menjadikanku pajangan sementara hatimu milik wanita lain? Baiklah. Aku akan memastikan rencana itu hancur berantakan. Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini membelengguku. Sebaliknya, aku akan membuatmu memohon agar pernikahan ini menjadi nyata."
Arunika segera kembali ke ruang tamu sebelum Abimana menutup teleponnya. Ia harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Setibanya di ruang tamu ia menghampiri calon mertuanya.
"Tante, Nika pamit pulang, ya."
"Loh, kenapa buru-buru? kamu baru aja sampai, Tante belum kasih lihat semua perhiasannya."
Arunika yang merasa tidak enak, ia mengambil salah satu kotak perhiasan secara asal.
"Aku suka yang ini Tante."
Liana tersenyum tipis melihat tingkah Arunika. "Kalau kamu suka, sekarang perhiasan itu milik kamu."
"Terima kasih, Tante."
Liana dengan senyumnya yang ramah. Merah tangan gadis itu. "Sama-sama, sampai bertemu nanti malam, Sayang."
Arunika melangkah keluar menuju mobil diikuti Abimana yang masih tampak gusar dari arah belakang.
Suasana di dalam mobil kembali hening, namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih berat bagi Abimana.
Mobil hitam itu membelah jalanan sore yang mulai macet. Abimana fokus pada kemudi, namun sesekali matanya melirik Arunika melalui spion tengah.
Gadis di sampingnya itu tampak terlalu tenang. Arunika hanya menatap keluar jendela, senyum tipis masih tertinggal di bibirnya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Abimana ketus, memecah keheningan. "Jangan berpikir karena Mama menyukaimu, saya bisa menerimamu."
Arunika tidak menoleh. Ia tetap menatap barisan pohon yang mereka lewati.
Hingga tiga puluh menit kemudian...
Mobil itu berhenti di depan rumah Arunika.
Abimana menginjak rem sedikit mendadak. Membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan. Ia menoleh dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kamu paham apa yang saya katakan?"
"Saya sangat-sangat mengerti, Pak. Jadi tenang saja saya tidak berharap lebih."
"Bahkan saya tidak keberatan dengan perjodohan ini, tapi saya keberatan jika dijadikan lelucon untuk menutupi hubungan gelap Bapak. Jadi, mulai sekarang. Jangan coba-coba mengintimidasi saya lagi, atau saya tidak akan segan-segan menghancurkan sandiwara yang Bapak bangun di depan orang tua kita."
Abimana terpaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kehilangan kata-kata. Gadis yang selama ini dianggapnya remeh, kini justru memegang kendali atas dirinya.
"Turunkan saya di depan sana, Pak. Saya ingin ke toko buku."
Abimana hanya bisa menuruti keinginan Arunika dalam diam. Saat Arunika turun dari mobil, ia sempat mengetuk kaca jendela Abimana. Begitu kaca diturunkan, Arunika berbisik pelan.
"Sampai jumpa nanti malam, calon suami. Jangan lupa siapkan senyum terbaikmu."
Abimana memukul kemudi mobilnya begitu Arunika menjauh.
"Sial! Dia benar-benar sudah berubah." umpatnya frustrasi. Lalu melajukan mobil itu meninggalkan gadis yang mulai mengusik pikirannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat malam Hari tiba, suasana di kediaman keluarga Arunika terasa sangat hangat bagi para orang tua, namun terasa seperti medan perang bagi kedua calon mempelai.
Abimana duduk tepat di hadapan Arunika. Ia tampak rapi dengan kemeja batik, namun matanya terus menghindari tatapan Arunika yang kini tampak begitu memukau dengan gaun sederhana namun elegan.
Bagas berdehem, membuka pembicaraan setelah hidangan utama selesai dinikmati.
"Begini, Abi, Nika..." Bagas memulai dengan senyum penuh arti. "Tadi sore, Ayah dan Om Bima baru saja berbincang dengan pihak gedung dan keluarga besar."
Abimana meletakkan sendoknya, perasaannya mulai tidak enak.
"Kami merasa, tidak ada gunanya menunda-nunda hal baik." sambung Bima. "Awalnya kita berencana menikahkan kalian bulan depan, tapi setelah kami pertimbangkan, bagaimana jika akad nikah dan resepsinya dipercepat menjadi minggu ini?"
Uhuk!
Abimana tersedak air yang tengah diminumnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak pucat.
"Minggu ini? Tapi Pa, persiapan Abi di kampus sedang padat."
"Semua persiapan sudah kami ambil alih, Abi." potong Liana dengan semangat. "Kalian hanya tinggal datang tanpa perlu mempersiapkan apa pun. Lagipula, bukankah lebih cepat lebih baik untuk menghindari fitnah? Kalian juga sudah terlihat sangat serasi."
Abimana melirik ke arah Arunika, berharap gadis itu akan ikut protes atau setidaknya terlihat terkejut. Namun, ia justru mendapati Arunika tengah tersenyum sangat manis ke arah kedua orang tua mereka.
"Nika setuju-setuju saja, Ayah, Ibu." ucap Arunika dengan suara yang lembut, namun matanya yang berkilat menatap tajam ke arah Abimana.
"Jika Pak... maksud saya, jika Mas Abi memang sudah siap lahir batin untuk bertanggung jawab, Nika tidak keberatan."
Abimana mengepalkan tangannya di bawah meja. Kata-kata tanggung jawab yang diucapkan Arunika terdengar seperti sebuah ancaman di telinganya.
"Bagaimana, Abi? Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Bagas memastikan.
Abimana terjebak. Di depan kedua keluarga, ia tidak mungkin menolak tanpa alasan yang masuk akal, apalagi ia sudah berjanji untuk menjadi putra yang penurut. Dengan berat hati dan rahang yang mengeras, ia terpaksa mengangguk.
"Iya, Om. Saya setuju." jawabnya singkat, suaranya terdengar sangat tertekan.
Arunika tersenyum lebih lebar. "Baguslah kalau begitu. Semoga Mas Abi tidak mendadak sakit karena terlalu... bersemangat menyiapkan hari pernikahan kita, ya." sindir Arunika halus.