NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Spiritual dan Logika Sains

Sekar Wening berlutut di tepi kolam mata air kecil itu, matanya menyipit tajam.

Bukan tatapan kekaguman seorang gadis desa yang lugu, melainkan tatapan penuh selidik seorang Profesor yang sedang menghadapi anomali data di laboratorium.

Air itu jernih. Terlalu jernih.

Dasar kolam yang berbatu abu-abu itu terlihat begitu dekat, seolah tidak ada jarak antara permukaan dan dasar, padahal Sekar bisa memperkirakan kedalamannya setidaknya setengah meter.

"Tidak ada sedimen. Tidak ada lumut. Tidak ada kehidupan mikroba kasat mata," gumam Sekar.

Suaranya memantul pelan di dinding bambu gubuk yang tenang.

Di dunia lamanya, air semurni ini hanya bisa didapatkan melalui proses distilasi bertingkat atau reverse osmosis mesin industri canggih.

Namun, di sini, di tengah dimensi antah berantah yang ia masuki lewat tanda lahir, air ini memancar begitu saja dari celah bebatuan.

Tanpa pipa. Tanpa filter.

Sekar mengulurkan telunjuknya. Ragu.

Logika sainsnya berteriak keras, jangan sentuh zat yang tidak teridentifikasi.

Namun, insting biologis tubuh barunya, tubuh Sekar Wening yang malnutrisi, dehidrasi, dan penuh memar, menjerit lebih keras: Ambil. Minum. Selamatkan dirimu.

Jarinya menyentuh permukaan air.

Dingin.

Namun bukan dingin yang membekukan. Itu adalah sensasi sejuk yang padat.

Sekar menarik jarinya kembali dan menggesekkan ibu jari dengan telunjuk yang basah.

Licin, tapi tidak berminyak. Ringan, tapi terasa memiliki massa jenis yang lebih berat dari H2O biasa.

Ia mendekatkan jari yang basah itu ke hidung.

Tidak ada bau klorin. Tidak ada bau tanah. Tidak ada bau logam.

Hanya aroma kesegaran murni yang menusuk langsung ke otaknya. Aroma ini mengingatkannya pada udara di tabung oksigen murni, namun bercampur dengan sesuatu yang organik. Sesuatu yang hidup.

Perutnya berbunyi keras.

Rasa perih di lambungnya akibat kelaparan kronis kembali menyerang, seolah mengingatkan bahwa dia tidak punya waktu untuk melakukan uji laboratorium lengkap. Dia tidak punya mikroskop elektron. Dia tidak punya reagen kimia.

Satu-satunya alat uji yang ia miliki saat ini hanyalah tubuhnya sendiri.

Metode paling purba, sekaligus paling berisiko.

Sekar menatap pantulan wajahnya di air. Wajah gadis 18 tahun yang seharusnya cantik, kini tampak seperti tengkorak yang dilapisi kulit kusam. Kantung mata hitam menggantung. Bibir pecah-pecah. Rambut kering kemerahan seperti jagung layu.

"Jika ini racun, setidaknya aku mati di tempat yang indah, bukan di gubuk bocor penuh tikus," bisiknya sinis.

Tangannya bergerak membentuk mangkuk.

Ia menciduk air itu.

Air itu berkumpul di telapak tangannya, berkilau seperti kristal cair.

Tanpa memberi kesempatan pada otaknya untuk berpikir ulang, Sekar mendekatkan tangannya ke mulut dan meneguknya.

Satu teguk.

Sekar mematung.

Matanya membelalak lebar.

Cairan itu tidak meluncur ke tenggorokan seperti air biasa.

Ada rasa manis yang samar, bukan manis gula atau fruktosa, melainkan rasa manis dari ikatan molekul hidrogen dan oksigen yang berpadu sempurna dengan mineral entah apa.

Begitu air itu mencapai lambungnya, reaksi kimia terjadi secara instan.

Hampir meledak.

"Ugh..." Sekar memegangi perutnya, napasnya tercekat.

Bukan rasa sakit.

Sama sekali bukan.

Itu adalah sensasi panas yang menjalar cepat, menyebar dari lambung ke seluruh pembuluh darah, seolah-olah memperbaiki setiap kerusakan di dalam tubuhnya.

Metabolisme seluler.

Otak profesornya mencatat fenomena itu dengan kecepatan tinggi meski tubuhnya gemetar hebat.

Sekar merasakan aliran hangat itu merambat ke kakinya yang pegal karena berjalan jauh. Rasa nyeri di persendian akibat mencuci di sungai dingin tadi pagi, lenyap seketika.

Ia merasakan aliran itu naik ke punggungnya, memperbaiki otot-otot yang kaku akibat tidur di lantai tanah yang keras.

Bahkan parunya, yang selama ini terasa sesak karena debu gubuk tua, tiba-tiba terasa lapang.

Sekar terbatuk kecil.

Ada rasa hangat di tenggorokannya, seolah lendir-lendir penyakit sedang dibakar habis oleh energi air tersebut.

"Ini bukan air biasa..." desisnya, suaranya terdengar lebih jernih, lebih bertenaga.

"Ini adalah konsentrat nutrisi hayati tingkat tinggi. Sebuah serum kehidupan."

Sebagai ilmuwan bio-hayati, Sekar sering bermimpi menciptakan formula seperti ini. Formula yang bisa memicu kemampuan sel tubuh untuk membersihkan diri dari komponen rusak, secara maksimal tanpa efek samping.

Dan sekarang, formula impian itu ada di depannya. Mengalir gratis di dimensi antah berantah.

Sekar kembali menciduk air itu. Kali ini dengan rakus.

Dua teguk. Tiga teguk.

Setiap tetesnya memberikan suntikan energi yang jauh lebih efektif daripada infus glukosa di rumah sakit.

Rasa lapar yang menyiksanya sejak kemarin perlahan memudar. Bukan karena perutnya penuh, tapi karena sel-sel tubuhnya telah mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan langsung dari sumbernya.

Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

Sekar mengusap dahi.

Keringat itu terasa lengket dan berbau sedikit asam.

Tubuhnya sedang membuang racun yang menumpuk selama bertahun-tahun akibat gizi buruk dan stres.

Ia membasuh wajahnya dengan air kolam itu.

Segar.

Luar biasa segar.

Sekar duduk bersandar pada tiang bambu gubuk, mengatur napasnya yang mulai stabil.

Ia mengangkat tangannya, mengamati kulitnya di bawah cahaya lembut dimensi spasial.

Tadi pagi, kulit tangannya kasar, kering, dan penuh goresan kecil akibat pekerjaan kasar.

Sekarang, goresan-goresan itu menutup. Kulitnya yang kusam perlahan terlihat lebih lembap, lebih hidup. Warna pucat mayat yang menghantuinya sudah berganti dengan rona merah muda samar di bawah kulit.

Ia meraba lehernya. Detak nadinya kuat dan teratur.

Tidak ada lagi rasa pusing saat ia berdiri mendadak.

Sekar berdiri tegak, merentangkan kedua tangannya. Tulang punggungnya berbunyi krek pelan, tanda penyusunan ulang struktur tubuh yang lebih tegap.

Ia merasa... kuat.

Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh gadis malang ini, Sekar merasa memiliki kendali penuh atas fisiknya.

Otaknya kembali bekerja tajam. Ia menatap kolam mata air itu dengan pandangan baru.

Ini bukan sekadar air minum.

Ini adalah aset.

Ini adalah modal.

Namun, euforia itu perlahan surut saat realita kembali menghantam logikanya.

Sekar menunduk melihat pakaiannya. Kebaya lusuh yang warnanya sudah pudar, kain jarik yang tipis dan hampir robek.

Tubuhnya memang sudah bugar. Luka fisiknya sembuh.

Namun, apakah air ini bisa membeli beras di pasar?

Apakah air ini bisa membungkam mulut tajam Bibi Mirna atau kekejaman Eyang Marsinah?

Dunia di luar sana tidak berjalan dengan mata uang "kesehatan". Mereka berjalan dengan uang kertas.

Sekar tidak mungkin keluar dari sini membawa ember berisi air ajaib dan berteriak, "Air penyembuh! Siapa mau beli?"

Itu hanya akan membuatnya dianggap gila, atau lebih buruk lagi, dituduh menggunakan ilmu hitam. Di desa yang masih kental dengan mistis seperti Lereng Menoreh, hal-hal yang tak masuk akal adalah tiket cepat menuju pengucilan sosial.

Dia harus cerdas.

Dia harus menggunakan logika profesornya untuk mengemas "keajaiban" ini menjadi sesuatu yang bisa diterima akal sehat, dan yang lebih penting, memiliki nilai ekonomi.

Sekar berjongkok lagi, menatap pantulan dirinya yang kini terlihat jauh lebih berwibawa meski masih berbaju gembel.

"Nutrisi," gumamnya pelan, jarinya mengetuk-ngetuk dagu.

"Jika air ini bisa mempercepat regenerasi sel manusia dalam hitungan menit... apa yang bisa dilakukannya pada sel tanaman?"

Mata Sekar berkilat.

Sebuah hipotesis baru terbentuk di kepalanya.

Di luar sana, ibunya sedang menunggu dengan perut lapar dan harapan yang nyaris putus. Di luar sana, ada tumpukan penghinaan yang menunggu untuk dibalas.

Air ini adalah kuncinya, tapi kunci itu tidak berguna jika ia tidak tahu pintu mana yang harus dibuka.

Sekar mengambil napas panjang, mengisi paru-parunya yang kini sehat dengan tekad baja.

Tubuh ini sudah siap.

Sekarang, giliran otaknya yang bekerja.

Dia akan mengubah air ini menjadi emas. Bukan emas harfiah, melainkan emas hijau yang akan membungkam semua orang yang pernah meludahinya.

1
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
nur
lanjut kan sekar
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya .... bahagianya aku 😍😍😍
gina altira
Jd tarung ga yaaaa
gina altira
Kereennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!