NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Pagi itu, suasana di meja makan Mansion Aditama terasa sedikit berbeda. Udara yang biasanya pekat oleh aura permusuhan dan ketegangan kini terasa jauh lebih ringan untuk dihirup.

Di sudut ruang keluarga, tiga koper besar bermerek Louis Vuitton dan Dior sudah berdiri tegak memantulkan cahaya lampu gantung kristal. Dua asisten rumah tangga tampak tergopoh-gopoh mengangkat koper-koper berat itu ke arah pelataran, bersiap memasukkannya ke dalam bagasi mobil Alphard putih yang sudah memanaskan mesin.

Putri dan Kinan turun dari tangga lantai dua dengan langkah berisik bak model di atas catwalk. Penampilan mereka sangat mencolok untuk ukuran sarapan pagi. Kacamata hitam Gucci bertengger angkuh di atas kepala mereka, gaun summer berbahan sutra tipis melekat sempurna di tubuh ramping mereka, dan aroma parfum Baccarat yang menyengat langsung menguar memenuhi ruang makan, menutupi aroma roti panggang, selai stroberi impor, dan kopi arabika yang baru saja diseduh.

"Kalian sudah siap?" tanya Pak Aditama sambil melipat koran pagi yang sedang dibacanya, menatap kedua putrinya dari balik kacamata bacanya dengan raut kebapakan.

"Sudah dong, Pa," jawab Putri riang, menarik kursi dan duduk dengan gemulai. "Pesawat kita ke Bali jam sepuluh nanti. Rombongan teman-teman arisan sosialita Putri udah pada kumpul di lounge VIP bandara. Pokoknya liburan kali ini harus perfect."

"Iya, Pa," sahut Kinan, sibuk memoles lip gloss di bibirnya menggunakan pantulan layar ponsel mahal terbarunya. "Kita bakal nginep di vila private di Seminyak selama lima hari. Acaranya padat banget, ada yacht party juga di tengah laut bareng artis-artis ibu kota. Makanya Kinan bawa baju banyak banget, takut kurang buat konten."

Citra, yang sedang berdiri mematung sambil menuangkan susu ke dalam gelas Pak Aditama, diam-diam menajamkan pendengarannya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tangannya yang memegang gagang teko nyaris gemetar. Lima hari? Ke luar kota?

"Hati-hati di sana," pesan Pak Aditama dengan nada memperingatkan yang tegas, seolah tahu tabiat anak-anaknya. "Jangan pulang terlalu malam, jangan membuat keributan yang bisa mencoreng nama baik keluarga. Dan Putra, pastikan black card adik-adikmu limitnya cukup untuk keadaan darurat."

Putra yang duduk di seberang ayahnya hanya mengangguk pelan sambil menyesap kopi hitamnya yang pekat. Matanya menatap layar tablet, sama sekali tidak peduli. "Sudah aku urus, Pa. Biarkan saja mereka bersenang-senang menghamburkan uang, asal tidak membuat masalah di sana dan tidak meneleponku tengah malam."

Kinan melirik sinis ke arah Citra yang masih berdiri di dekat ayahnya. Senyum mengejek terukir jelas di bibir berpoles merah mudanya. Ia sengaja mencari gara-gara sebelum pergi.

"Aduh, enak banget ya kita bisa liburan ke Bali, lepas penat dari rumah yang hawanya mulai nggak enak ini," sindir Kinan dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Citra mendengarnya jelas. "Nggak kayak orang itu, yang cuma bisa diam di rumah jadi penunggu panci dapur. Sedih banget hidupnya nggak pernah ngerasain naik pesawat first class, apalagi liburan mewah. Paling mentok juga liburannya ke alun-alun kota mungut sampah."

Putri tertawa renyah, tawa melengking yang selalu sukses membuat bulu kuduk Citra berdiri. "Hush, Kinan. Biarin aja. Lagian kalau dia ikut, yang ada malah bikin malu kita di depan teman-teman sosialita elit. Bisa-bisa dia disangka pembantu baru yang disuruh bawain tas atau ngelap sepatu kita kalau habis main pasir."

Citra hanya menundukkan pandangannya, mencengkeram gagang teko erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Ia membiarkan hinaan tajam itu menabrak gendang telinganya lalu menguap begitu saja. Anehnya, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di neraka berkedok rumah mewah ini, rentetan ucapan menyakitkan dari kedua adik iparnya itu sama sekali tidak menggores hatinya.

Mengapa? Karena di balik hinaan murahan itu, terselip sebuah tiket kebebasan sementaranya.

Setelah sarapan usai, Putri dan Kinan berpamitan pada ayah dan kakak mereka dengan pelukan hangat. Namun saat melewati Citra, mereka melenggang pergi begitu saja, sengaja menyenggol bahu Citra seolah gadis itu adalah tiang tak kasat mata yang menghalangi jalan keluar mereka.

"Dah, Papa! Dah, Mas Putra!" seru mereka bersahutan dari ambang pintu.

Blam.

Pintu utama dari kayu jati solid itu tertutup rapat, seolah mengunci segala kebisingan di luar. Suara deru mesin mobil Alphard yang membawa mereka menuju bandara perlahan terdengar menjauh, membelah jalanan komplek elit, hingga akhirnya benar-benar hilang ditelan jarak.

Citra berdiri terpaku selama beberapa detik, seolah ingin memastikan bahwa suara mesin itu sungguh-sungguh hilang dan bukan sekadar halusinasinya. Di dapur yang kini terasa begitu sepi, luas, dan damai, Citra meletakkan teko susu di atas meja kabinet marmer.

Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Otot-otot leher dan bahunya yang selalu menegang kaku setiap kali berada satu ruangan dengan iparnya, kini perlahan mengendur. Tanpa sadar, ia menghembuskan napas panjang yang sedari tadi menggumpal dan menyesakkan rongga dadanya.

Napas lega. Sangat, sangat lega hingga matanya sedikit berkaca-kaca.

Beban batu raksasa yang selalu membebani kedua bahunya seolah terangkat terbang begitu saja. Selama lima hari ke depan, ia tidak perlu bangun dengan perasaan was-was, memikirkan makanan apa yang akan dikritik dan dibuang ke tempat sampah. Ia tidak perlu takut ada piring yang sengaja dijatuhkan ke lantai untuk ia pel sampai tangannya lecet. Ia tidak perlu mendengarkan caci maki yang merendahkan silsilah keluarganya setiap kali Pak Aditama beranjak ke kamar mandi.

Rumah raksasa yang tadinya terasa seperti penjara dengan penyiksaan psikologis tanpa henti ini, tiba-tiba terasa jauh lebih terang, bersahabat, dan sangat damai.

"Bi," panggil Citra pada asisten rumah tangga yang sedang mencuci piring. Senyum kecil yang benar-benar tulus dan tanpa beban akhirnya terukir di bibir Citra, membuat wajahnya yang pucat kembali memancarkan rona kehidupan. "Hari ini masak siang apa, Bi? Sini, Citra bantu potong-potong sayurnya."

Si Bibi menatap Nyonya Mudanya dengan pandangan heran, namun perlahan ikut tersenyum maklum melihat perubahan drastis itu. "Iya, Non Citra. Wajah Non hari ini kelihatan segeran dan berseri, deh. Tumben ceria begini pagi-pagi."

Citra tersenyum semakin lebar hingga matanya menyipit. Tentu saja ia segar. Absennya Putri dan Kinan adalah detoksifikasi mental dan fisik terbaik yang tak pernah ia sangka akan ia dapatkan.

Meskipun Putra masih ada di rumah, dan pria itu masih sama dingin dan kejamnya di dalam kamar setiap malam, namun di siang hari, Putra biasanya mengurung diri di ruang kerjanya yang kedap suara, sibuk dengan tumpukan berkas. Ditambah lagi dengan keberadaan Pak Aditama yang masih Work From Home dan selalu memantaunya, Citra tahu betul bahwa lima hari ke depan akan menjadi masa-masa paling aman baginya di mansion ini.

Untuk pertama kalinya sejak ia dipaksa masuk ke dalam kehidupan keluarga konglomerat ini, Citra melangkah menuju kulkas dua pintu itu dengan langkah kaki yang teramat ringan, nyaris seperti sedang menari kecil. Setidaknya, untuk seratus dua puluh jam ke depan, ia bisa bernapas selayaknya manusia merdeka, tanpa ada dua iblis kecil bergaun mewah yang mengintai di setiap sudut rumah.

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!