Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Hanya Tiga Hari
Suasana pagi itu di kediaman Erlaga tidak ceria seperti biasanya. Padahal, sinar mentari pagi sedang sudah mengintip dari balik gorden dengan cahayanya yang cerah. Erlaga sudah bangun sejak subuh, bukan untuk olahraga ringan seperti biasa, melainkan untuk mengecek perlengkapan tempur di dalam ransel besarnya.
Syafina duduk di tepi ranjang, matanya masih sedikit sembab karena baru saja bangun. Ia menatap punggung suaminya yang sedang mengencangkan tali sepatu botnya. Seragam PDL motif loreng yang dikenakan Erlaga pagi ini memberikan aura yang berbeda, ia terlihat lebih dingin, lebih tegas, dan mengingatkan Syafina bahwa pria ini adalah milik negara sebelum menjadi miliknya.
"Pagi, Sayang, kamu sudah bangun?" sapa Erlaga hangat. Ia menghampiri sang istri menarik Syafina ke dalam pelukannya.
Syafina menyandarkan kepala di dada bidang Erlaga yang keras karena terhalang kain seragam yang tebal. "Pagi, Kak... Kakak sudah mau berangkat?"
"Iya, tapi sebelum itu...." Erlaga menggantung kalimatnya, ia mengangkat dagu Syafina dan memberikan kecupan dalam di kening, lalu turun ke bibir dengan sedikit lama.
"Kak... nanti telat," protes Syafina lemah, meski ia sendiri menikmati kecupan itu.
Erlaga terkekeh, ia mengusap perut Syafina dengan gerakan melingkar yang lembut. "Kakak harus 'isi bensin' dulu sebelum berangkat latihan luar kota selama tiga hari. Rasanya berat sekali meninggalkan kamu sendiri di rumah ini."
Mendengar kata "tiga hari", jantung Syafina berdebar. Ini pertama kalinya mereka akan berpisah setelah resmi menjadi suami istri. "Tiga hari? Di mana?" Wajah Syafina terlihat sangat sedih.
Erlaga membenahi tubuh Syafina, supaya berhadapan dengannya. Lalu ia berlutut di hadapan Syafina, menggenggam kedua tangan mungil itu yang terasa dingin.
"Iya, Sayang. Hanya latihan taktis di perbukitan luar kota. Tidak jauh, tapi Kakak harus standby di sana. Ponsel mungkin akan Kakak matikan atau disimpan di pos karena prosedur latihan," ujar Erlaga lembut.
Syafina menghela napas berat. Ia menyeka air mata yang sempat jatuh. "Kenapa tugasnya tiba-tiba banget? Rasanya aneh saja. Kita kan baru saja...." Syafina tidak melanjutkan kalimatnya, wajahnya terlihat sangat sedih dan tidak terima.
Erlaga terharu, ia menarik Syafina ke dalam pelukan hangatnya. Ia pun sama, sangat sedih harus meninggalkan Syafina malam ini, karena tugas yang mendadak ini. "Kakak juga berat, Sayang. Rasanya ingin bawa kamu saja di dalam ransel ini kalau bisa."
Pagi yang melankolis itu, tetap saja tidak bisa menghalangi hasrat Erlaga yang membara. Bahkan ia tidak peduli seragam lorengnya kusut lagim
Erlaga sudah berhasil menguasai tubuh Syafina. Ia benar-benar menunaikan 'mengisi bensin' sepuasnya pagi ini, meskipun Syafina sempat sedikit protes.
Syafina benar-benar tidak habis pikir. Seragam loreng yang sudah rapi menempel di tubuh kekar itu, kini terlucut dengan tergesa, hanya untuk memenuhi kebutuhan batinnya yang akan terdampar selama tiga hari di wilayah bukit.
"Kak... seragamnya kusut lagi." Syafina protes.
Erlaga tidak peduli, yang jelas pagi ini sebelum ia benar-benar pergi, tangki batinnya harus terisi penuh. Penyatuan pagi itu benar-benar syahdu sekaligus haru. Karena Syafina akan berpisah beberapa hari dengan sang suami.
Kini keduanya sudah berada di dapur. Aroma mentega yang terpanggang dan wangi teh melati memenuhi dapur pagi itu. Erlaga, dengan seragam PDL yang sudah rapi kembali, tampak lihai membolak-balik roti di atas teflon. Meski tangannya biasa memegang senjata, ia tetap terlihat telaten menyiapkan sarapan.
"Sarapannya sudah siap. Makan yang banyak, Sayang. Jangan sampai sakit selama Kakak tidak ada. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi ajudan Kakak atau Mama Syafana," pesan Erlaga protektif. Ia meletakkan kunci cadangan tambahan di atas meja. "Kunci semua pintu kalau malam, jangan terima tamu sembarangan."
Syafina mengangguk patuh. "Iya, Kak. Kak Laga jangan khawatir."
"Tapi, kamu tenang saja. Kakak akan panggil seorang ART, yang masih saudaranya Bi Dasim. Untuk menemani kamu selama tiga hari.
Syafina mengangguk. Dia merasa terharu dengan segala perhatian Erlaga yang total, sebelum pergi.
"Kakak harus berangkat sekarang, Sayang. Truk sudah di depan," pamit Erlaga dengan wajah yang sedih.
Syafina mengantar Erlaga sampai ke gerbang depan. Sebuah mobil dinas dan truk militer sudah menunggu dengan mesin yang menderu pelan. Syafina meraih tangan suaminya, mengecupnya dengan takzim dan penuh doa.
"Hati-hati, Kak. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan," bisik Syafina sedih.
"Kamu juga, Sayang. Sampai jumpa tiga hari lagi," jawab Erlaga. Sebelum naik ke mobil, ia menyempatkan diri mengusap kepala Syafina yang terbalut hijab rumahan, memberikan satu tatapan dalam yang seolah ingin membawa wajah istrinya ke dalam mimpinya di tenda nanti.
Begitu mobil itu melaju dan menghilang di belokan kompleks, Syafina masih berdiri di depan gerbang. Ia menatap jalanan yang kini kosong. Perlahan, ia menutup gerbang dan menguncinya.
Klik.
Suara kunci itu terdengar begitu nyaring di telinganya. Syafina berbalik menatap rumah mereka yang luas. Tiba-tiba saja, rumah yang semalam terasa hangat dan penuh tawa itu berubah menjadi bangunan yang sunyi dan hampa.
Syafina kembali memasuki rumah, Ia merasa bingung harus melakukan apa. Biasanya, jam-jam begini Erlaga akan mengganggunya di dapur atau mereka akan duduk bersama menonton berita. Ia mencoba menyibukkan diri dengan membereskan kamar. Namun setiap sudut ruangan justru mengingatkannya pada suaminya.
Ketika kembali kamarnya. Bantal di sisi Erlaga masih meninggalkan bekas lekukan kepala dan aroma parfum yang tertinggal di sarung bantalnya. Syafina merebahkan diri di sana, menghirup aroma itu dalam-dalam.
"Baru dua jam, Kak Laga. Kenapa rasanya sudah kehilangan banget ya?" gumamnya pada bantal itu.
Siang berganti malam, dan kesunyian itu semakin mencekam. Syafina mencoba mengerjakan draf skripsinya di ruang tengah, namun konsentrasinya buyar setiap kali mendengar suara motor lewat di depan rumah. Ia berharap itu adalah Erlaga yang tiba-tiba pulang karena latihan dibatalkan, namun tentu saja itu mustahil.
Malam harinya, Syafina tidak bisa tidur nyenyak. Rumah pribadi yang tadinya ia banggakan karena privasinya, kini terasa terlalu luas untuk ia huni sendirian. Ia menyalakan semua lampu di lantai bawah agar tidak merasa terlalu sepi.
Ia memeluk bantal Erlaga erat-erat, mencoba mencari kenyamanan di sana. Ia baru menyadari bahwa menjadi istri seorang perwira berarti ia harus bersiap untuk "berbagi" suaminya dengan negara. Tiga hari ini adalah ujian kecil, sebuah latihan bagi mentalnya sebelum nanti menghadapi tugas yang mungkin berbulan-bulan.
"Aku harus kuat. Kak Laga di sana sedang berjuang di hutan, aku tidak boleh cengeng," motivasi Syafina pada dirinya sendiri.
Namun, air mata tetap saja menetes. Kerinduan sebagai pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya memang tidak bisa diajak kompromi. Syafina hanya bisa memeluk tas kecil pemberian Erlaga yang berisi kunci peluru perak, memegang benda itu sampai akhirnya ia terlelap dalam doa agar sang suami selalu dalam lindungan-Nya.
Kesunyian malam itu menjadi saksi bahwa cinta Syafina telah tumbuh begitu dalam, jauh melampaui apa yang ia bayangkan saat pertama kali mereka bertemu. Tiga hari tanpa Erlaga terasa seperti tiga tahun yang abadi, namun ia tahu, pertemuan mereka nanti akan menjadi jauh lebih manis setelah rintangan rindu ini terlewati.