NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan valenbourg

Elara mengangguk perlahan,

“Paman, menurutmu... apa Tuan Marquis muda orang yang baik?”

Alden terdiam beberapa langkah sebelum menjawab. 

“Aku tidak tahu. Dia putra tuanku, dan tugasku adalah menjaga kediamannya, bukan menilai pribadinya. Namun...” Alden melirik ke arah Elara yang tampak polos,

“kau harus berhati-hati. Dunia mereka bukan tempat bagi gadis sepertimu untuk bermain perasaan atau berandai-andai.”

Elara menunduk cepat, wajahnya memerah. 

“A-aku tidak bermaksud begitu, Paman...”

Alden terkekeh kecil. “Aku tahu. Tapi kuingatkan saja sejak awal.”

**

Pagi itu, hutan Valenbourg diselimuti kabut tipis. Embun masih bergelayut di ujung daun, sementara langkah Elara dan Paman Alden menimbulkan bunyi lembut di antara rerumputan basah.

Namun, suasana damai itu terpecah oleh suara keras yang memekakkan telinga.

Dor!

Burung-burung di pepohonan beterbangan panik, kepakan sayap mereka membelah di udara. Tak lama kemudian, suara tembakan lain menyusul, berulang kali.

Elara terhenti. Napasnya tercekat. “Paman... apa itu?” tanyanya dengan nada cemas.

Alden tidak segera menjawab. Ia memandang lurus ke depan, wajahnya datar tanpa ekspresi.

“Itu... suara senapan milik Tuan Muda dan para sahabatnya. Mereka sering berburu di pagi hari seperti ini.”

“Berburu?” Elara menatap tanah di depannya. Seekor burung kecil tergeletak di sana.

Elara berjongkok, mengangkat tubuh mungil burung itu dengan kedua tangan.

“Dia... mati,” bisiknya lirih. “Tuan Muda yang melakukannya?”

Alden mengangguk perlahan.

“Berburu adalah kebiasaan para bangsawan, Elara. Sejak dahulu. Mereka menganggapnya bagian dari kehormatan dan pelatihan keberanian.”

Namun mata Elara dipenuhi rasa iba.

“Keberanian? Bagaimana bisa menembak makhluk kecil yang tak bisa melawan disebut keberanian, Paman?”

“Dunia kita berbeda dengan dunia mereka, Nak. Jangan terlalu memikirkannya. Itu tidak akan mengubah apa pun.”

Namun Elara tetap menatap burung kecil itu lama sekali, sebelum akhirnya meletakkannya perlahan di bawah tanah, lalu mengubur nya.

“Setidaknya... biarlah dia kembali pada bumi dengan tenang,” ucapnya lirih.

Paman Alden hanya terdiam.

**

Sore harinya, Elara kembali membantu para pelayan di rumah utama.

“Cepat! Siapkan minuman untuk Tuan Muda dan para tamunya!” seru seorang pelayan senior.

Elara ikut membantu membawa baki berisi gelas kristal dan teko anggur putih. Tangannya sedikit gemetar; ini pertama kalinya ia berada begitu dekat dengan Tuan Muda Kaelmont.

Di ruang utama, suasananya riuh oleh tawa para bangsawan muda. Mereka mengenakan mantel berburu, sepatu masih berlumur lumpur, namun wajah-wajah mereka tampak puas seolah menaklukkan dunia.

Lucien Kaelmont duduk di kursi utama—punggungnya tegap, sorot matanya tajam dan berwibawa. Wajahnya masih muda, namun sikapnya menyiratkan kekuasaan yang tak bisa dibantah.

Ketika Elara masuk bersama pelayan lain, matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Lucien. Seketika langkahnya terhenti.

Tatapan itu dingin, memerintah. Tidak ada keramahan di dalamnya.

“Letakkan di sini,” ucap Lucien singkat tanpa menoleh sepenuhnya.

Elara menunduk cepat, mendekat dan meletakkan gelas di meja marmer. Ia bisa mencium aroma parfum mahal yang halus namun menusuk—aroma yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak tak nyaman.

Namun sebelum ia mundur, salah satu bangsawan muda tertawa keras.

“Lucien, hari ini kau menembak lebih banyak dari siapa pun! Aku bahkan kehilangan hitungan. Burung-burung itu bahkan sampai tak punya kesempatan untuk berlari!”

Lucien tersenyum tipis.

“Hanya permainan kecil,” ujarnya dingin.

“Hutan Valenbourg terlalu sepi tanpa sedikit suara kematian.”

Kata-kata itu menusuk Elara seperti pisau. Ia memandangnya sekilas—tak percaya bahwa seseorang bisa mengatakan hal semacam itu dengan nada begitu tenang.

“Permainan...?” bisik Elara lirih, hampir tak terdengar.

Namun Lucien mendengarnya. Ia menoleh sedikit, satu alisnya terangkat.

“Apa kau bicara sesuatu?” suaranya datar, tapi tajam seperti ujung pedang.

Elara terkejut dan segera menunduk dalam.

“T-tidak, Tuan. Maaf!”

Lucien mendengus pelan.

“Hmph. Belajarlah menahan lidahmu. Di rumah ini, bicara tanpa izin adalah kebodohan.” Ucapan itu menusuk hati Elara namun, bagaikan candaan bagi mereka.

Para bangsawan itu tertawa kecil.

Elara menggigit bibirnya, menahan amarah dan rasa malu. Ia menunduk lebih dalam, lalu mundur dengan hati berdegup kencang.

Elara tak mengerti—bagaimana seseorang yang begitu muda bisa memiliki hati sekeras batu? Bagaimana bisa ia memandang kematian makhluk kecil sebagai permainan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!