Deon selalu jadi bulan-bulanan di sekolahnya karena wajahnya yang terlalu tampan, sifatnya penakut, dan tubuhnya yang lemah. Suatu hari, setelah nyaris tewas ditinggalkan oleh para perundungnya, ia bangkit dengan Sistem Penakluk Dunia yang misterius di tubuhnya. Sistem ini memberinya misi-misi berani dan aneh yang bisa meningkatkan kekuatan, pesona, dan kemampuannya. Mampukah Deon membalaskan semua penghinaan, menaklukkan para wanita yang dulu tak mempedulikannya, dan mengubah nasibnya dari korban menjadi penguasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pertama
Ruang kelas itu terasa hidup.
Udara dipenuhi energi ketika para siswa mengisi bangku mereka, saling mengobrol satu sama lain. Buku dan pulpen berserakan di atas meja, dan suara samar halaman yang dibalik terdengar di antara percakapan rendah.
Namun satu kursi tetap kosong.
Kursi Deon.
Sudah seminggu sejak terakhir kali ada yang melihatnya.
Bukan berarti kebanyakan orang peduli.
Para gadis yang dulu tergila-gila pada wajahnya dengan cepat beralih ke orang lain. Bagi mereka, Deon tak lebih dari sekadar hiasan cantik, pemborosan ruang yang indah. Sifatnya yang penakut, sikapnya yang pengecut—semua itu membuatnya tak pantas memiliki wajah seperti itu. Beberapa dari mereka bahkan menyebutnya “pemborosan wajah,” mengatakan bahwa orang lain—siapa pun—lebih pantas terlihat seperti itu daripada dirinya.
Para cowok? Mereka juga tak peduli. Bahkan, ketidakhadirannya justru membuat suasana lebih damai. Tak ada lagi kecemburuan yang mengganggu. Tak ada lagi alasan untuk memukulinya.
Tak ada yang menanyakan tentang dirinya.
Tak ada siapa pun, kecuali satu orang.
Finn.
Satu-satunya sahabat terbaik Deon.
Selama seminggu terakhir, Finn telah mencari ke mana-mana.
Rumah Deon? Terkunci.
Tempat favoritnya? Kosong.
Tempat persembunyiannya yang biasa? Tidak ada orang.
Ia bahkan pergi ke kantor polisi. Namun seperti yang sudah diduga, mereka tak banyak membantu.
Kini, duduk di dekat jendela kelas, Finn menghela napas panjang. Dagunya bertumpu di telapak tangan, jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu. Ia bahkan tak memperhatikan pelajaran.
Namun kebanyakan cowok lainnya memperhatikan.
Dan alasannya?
Dia.
Guru mereka.
Seorang wanita di akhir usia dua puluhan, Bu Mia.
Dia bukan sekadar guru biasa. Tipe wanita yang tiba-tiba membuat para siswa tertarik pada pelajaran yang biasanya tak mereka pedulikan.
Rambut hitam panjangnya yang bergelombang terurai di bahunya, menghiasi wajah sempurna dengan mata cokelat tua dan bibir yang sangat menggoda. Namun yang benar-benar membuat setiap siswa laki-laki di ruangan itu kesulitan fokus adalah tubuhnya.
Lekuk di tempat yang tepat.
Bentuk tubuh yang menggoda, membuat orang sulit untuk mengalihkan pandangan mereka.
Dan hari ini?
Ia mengenakan blus ketat yang membentuk tubuh dan membungkus dadanya sedikit terlalu pas, dipadukan dengan rok pensil hitam yang menonjolkan pinggul lebarnya.
Setiap kali ia melangkah, hak sepatunya mengetuk lantai, menarik perhatian.
Hampir seperti hipnotis.
Seluruh ruangan terpaku padanya.
Semua kecuali satu orang.
Nick.
Ia tidak memperhatikan.
Pikirannya melayang ke tempat lain.
Matanya terus melirik ke kursi kosong di belakangnya.
Kursi Deon.
Sudah seminggu sejak terakhir kali ia melihat Deon, dan rasa bersalah mulai menggerogotinya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat momen mengerikan itu lagi—Deon, terbaring di genangan darah, tubuhnya hancur, tangannya lemah terulur meminta pertolongan.
Seharusnya dia membantu.
Seharusnya dia melakukan sesuatu.
Namun ia justru lari seperti pengecut, sama seperti yang lain.
Tangannya mengepal di bawah meja. Perutnya terasa mual hanya dengan memikirkannya.
Apakah Deon masih hidup?
Apakah seseorang menemukannya?
Atau apakah ia terkubur di parit entah di mana, membusuk sementara mereka semua duduk di sini, berpura-pura tak terjadi apa-apa?
Perutnya berputar membayangkan hal itu.
Lalu—
Sebuah gerakan di luar jendela menarik perhatian Finn.
Ia sedikit menoleh, melirik ke luar.
Apa yang ia lihat membuat napasnya tercekat di tenggorokan.
Seorang pria berjalan menuju sekolah, tasnya disampirkan santai di bahu. Langkahnya sedikit aneh—tak stabil, hampir tak wajar—namun ia terus melangkah maju.
Mata Finn terbuka lebar.
Jantungnya berdegup kencang.
Sebuah nama meluncur dari bibirnya bahkan sebelum ia sadar telah mengucapkannya.
“D-Deon?”
Setiap kepala di kelas langsung menoleh ke arahnya.
Dan kemudian—ke arah pintu.
Ruangan itu hening ketika mereka melihat Deon melangkah masuk.
Gelombang keterkejutan menyebar di antara para siswa.
Bisik-bisik pun pecah hampir seketika.
“T-Tunggu… A-Apakah itu Deon?”
“Dia kembali?”
“Tapi lihat dia…”
Finn bukan satu-satunya yang menyadari ada sesuatu yang aneh.
Deon terlihat… berbeda.
Tubuhnya tidak sama seperti sebelumnya.
Dia lebih tinggi.
Lebih lebar.
Lebih berotot.
Seragam sekolahnya, yang dulu longgar, kini pas membungkus tubuhnya, menampilkan bentuk dada dan lengannya yang ramping dan berotot. Garis rahangnya tampak lebih tajam dari sebelumnya, matanya membawa kedalaman yang tak pernah ada sebelumnya.
Bisikan-bisikan semakin keras.
“Bajingan ini jadi semakin tampan?”
“Sialan, apa ini keberuntungan? Dia menghilang selama seminggu dan dan saat kembali dia malah kelihatan lebih keren?”
“Anjing! Mungkin kalau ibuku tidak ngentot sama bajingan jelek itu, aku pasti bisa sama seperti dia juga.”
Mulut Nick terasa kering saat menatap Deon.
Ada sesuatu yang janggal.
Sesuatu pada matanya.
Deon sebenarnya tidak benar-benar melihat mereka.
Ia berdiri kaku di ambang pintu, tatapannya terkunci pada sesuatu yang tak bisa mereka lihat.
Cahaya biru yang berkedip-kedip terpantul di pupilnya, seperti layar digital.
Bibirnya sedikit terbuka, napas pelan keluar darinya.
Dan kemudian—
[Misi]
[Raba pantat seseorang]
Seluruh tubuh Deon menegang.
Matanya membelalak dalam ketidakpercayaan murni.
Jari-jarinya sedikit bergerak saat ia membaca pesan itu lagi, pikirannya berusaha memproses apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Ia merasakan denyut nadinya meningkat.
Jantungnya menghantam tulang rusuknya.
Ruangan itu masih dipenuhi bisik-bisik, namun ia tak bisa mendengar apa pun.
Yang bisa ia lihat hanyalah satu baris itu.
[Raba pantat seseorang]
Bibirnya bergerak dengan sendirinya.
“…Apa-apaan ini, sialan.”
Deon berdiri di ambang pintu kelas, kakinya terasa aneh seperti tenggelam ke lantai. Tubuhnya sedikit menegang, masih berusaha mencerna semuanya—pesan-pesan aneh itu, pemulihan yang mustahil, serta gumaman dan bisik-bisik yang mengelilinginya.
Sebelum ia sempat berpikir terlalu jauh, sebuah suara lembut namun tegas menariknya keluar dari lamunannya. “Deon, apa kau baik-baik saja?”
Suara Bu Mia terdengar lembut, dipenuhi kekhawatiran tulus, matanya mengamatinya dengan saksama. Kedua lengannya terlipat, sebatang kapur masih berada di antara Jari-jarinya. Jarang sekali seorang guru secara terbuka menunjukkan kepedulian pada muridnya, apalagi pada seseorang seperti Deon—seseorang yang kebanyakan orang abaikan atau ejek. Namun Bu Mia berbeda. Dia bukan hanya cantik, dia juga baik hati, meski tak pernah menunjukkan pilih kasih.
Deon berkedip, menyadari bahwa ia telah berdiri di sana terlalu lama, pikirannya berlari liar. Ia berdehem, lalu dengan cepat meluruskan posturnya. Tepat saat itu, pesan di hadapannya—teks melayang bercahaya yang telah menyiksanya sejak ia masuk ke ruangan—menghilang.
Napas lega lolos dari bibirnya.
‘Akhirnya, hilang juga.’
Misi aneh dan konyol itu telah menghalangi di penglihatannya selama beberapa menit, menghalangi pandangannya dan membuatnya merasa seperti kehilangan akal sehat. Namun kini setelah menghilang, ia bisa melihat dengan jelas lagi, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di kamarnya, dia merasa normal kembali. Mungkin ia bisa kembali ke kehidupan biasanya tanpa harus mengkhawatirkan Sistem dan misi-misinya yang aneh.
Namun kemudian—
Kata-kata Bu Mia berikutnya membuat perutnya berputar. “Deon, kenapa kau tidak masuk sekolah selama satu minggu penuh?”
Pertanyaan itu menghantamnya seperti tamparan mendadak. Pikirannya berpacu saat ia mencoba mencari jawaban.
‘Apa yang harus aku katakan? SIALAN!!’
Bahwa ia mengalami kecelakaan? Bahwa ia hampir mati di jalan sementara para siswa di ruangan ini meninggalnya begitu saja? Bahwa ia terbangun dalam kondisi pulih total dengan sebuah sistem aneh yang memaksanya menjalani misi-misi konyol?
Tidak. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Dan kenapa satu minggu, bukankah rasanya baru kemarin.
Jarinya bergerak menggaruk dahinya saat ia cepat-cepat menyusun alasan yang masuk akal. Sesuatu yang normal. Sesuatu yang tidak membuatnya terdengar gila.
“Aku sakit parah,” akhirnya ia berkata, suaranya jelas dan tenang. “Aku di rumah sakit sepanjang waktu.”
Bu Mia menatapnya sejenak, seolah mencoba memastikan apakah ia berbohong, namun setelah beberapa detik, ia mengangguk kecil.
“Itu masuk akal,” katanya, suaranya kini lebih lembut. “Apa kau sudah merasa lebih baik?”
Bibir Deon melengkung membentuk senyum kecil. “Aku sudah baik-baik saja sekarang.”
Begitu kata-kata itu keluar dari bibirnya, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Bu Mia merasakan kehangatan samar merambat ke lehernya saat matanya sesaat tertuju pada wajah Deon. Reaksi itu singkat, nyaris tak terlihat, namun selama sedetik, ia mendapati dirinya sedikit terpengaruh oleh senyum itu.
Itu konyol. Dia adalah guru dan Deon adalah murid.
Dia cepat-cepat berdehem, berusaha keluar dari keadaan itu sebelum seseorang menyadari ada yang aneh.
“Baiklah, silahkan duduk,” katanya, mengalihkan pandangannya.
Deon mengangguk kecil sebelum berbalik menuju kursinya, gerakannya halus namun terasa aneh dibanding sebelumnya. Dulu, ia akan berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, menghindari tatapan siapa pun, takut dengan apa yang akan dikatakan para siswa laki-laki, dengan bagaimana mereka akan mengejek atau menatapnya dengan iri.
Tapi sekarang?
Ia bahkan tidak mengakui keberadaan mereka.
Seolah-olah mereka tidak ada.
Tak ada kegugupan dalam langkahnya, tak ada ketakutan di matanya. Ia hanya berjalan melewati mereka, mengabaikan tatapan dan bisikan.
Namun suasana kelas sama sekali tidak tenang.
Bisik-bisik telah berubah menjadi percakapan penuh, para siswa berusaha memahami apa yang mereka lihat.
“Gila, orang ini balik-balik jadi lebih berotot.”
“Nggak mungkin, bro. Dia sebenarnya pergi ke rumah sakit atau ke gym rahasia?”
Nick, yang duduk paling dekat dengan kursi Deon, merasakan tekanan aneh di dadanya. Jari-jarinya sedikit mencengkeram tepi mejanya, jantungnya berdetak semakin cepat saat Deon akhirnya sampai di kursinya dan menoleh menatapnya.
Dan kemudian—
Deon tersenyum lebar.
Seluruh tubuh Nick menegang, hawa dingin menjalar di tulang punggungnya. Ini bukan Deon yang ia kenal—bocah lemah dan penakut yang mereka rundung selama bertahun-tahun. Ada sesuatu yang berbeda sekarang.
Napasnya menjadi tak beraturan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan ketakutan.
Dan bukan hanya dia.
Di seberangnya, Tate, Kyson, dan Andy—tiga temannya yang bersamanya hari itu—juga membeku di tempat. Wajah mereka pucat, tangan mereka sedikit gemetar.
Mereka semua tahu apa artinya ini.
Deon seharusnya tidak berada di sini.
Deon seharusnya sudah mati.
Namun sekarang dia kembali.
Dan jika dia mengingat apa pun—jika dia tahu apa yang telah mereka lakukan—
Maka mereka benar-benar dalam masalah besar.
Sementara itu, Deon perlahan duduk ke kursi, senyum itu akhirnya menghilang dari bibirnya. Jarinya sedikit melengkung mencengkeram tepi meja saat ia bergumam pelan, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri. ‘Ada apa denganku?’
Ia tak pernah tersenyum pada siapa pun seperti itu sebelumnya, apalagi pada Nick.
Namun entah kenapa, saat mata mereka bertemu, sesuatu di dalam dirinya berubah, sesuatu bangkit dari dalam sana.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya.
semangat terus bacanya💪💪