Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang penting status dulu
POV Erick.
Akhirnya aku resmi menjadi pacarnya, apapun alasan dibalik status ini, aku hanya perlu meyakinkannya sedikit lagi, ya hanya sedikit lagi.
"Pesawat kamu berangkat jam berapa besok Rick?", tanya papa.
"Jam 6.30 pa."
"Bareng saja sama papa, papa besok ada meeting pagi."
"Ok pa."
"Kamu kenapa sih senyum-senyum melulu dari tadi?", tanya mama.
"Kak Erick baru dapat undian ma", celetuk Belva.
Sudah kuduga, Belva pasti sudah menginterogasi Jeny begitu ia sampai di rumah. Aku langsung menoyor kepalanya karena mulutnya yang suka seenaknya.
"Ishh...", protes Belva sambil membulatkan matanya padaku dan aku hanya tersenyum puas.
Aku menantikan beberapa jam kedepan, saat itu semua orang akan masuk kamar, jadi aku bisa kangen-kangenan sama Jeny. Semenjak kami masuk ke rumah tadi siang, Jeny selalu disabotase oleh penghuni rumah ini, kalau ga Belva, ya mama, atau Jenny sendiri yang berada di area umum, dimana mba rumah terbiasa lalu lalang. Aku sungguh tidak menyukai harus merahasiakan hubungan kami.
Tok tok... Jenny membukakan pintu untukku. Aku segera masuk ke dalam dan mengunci pintunya. Jeny hanya membelalakkan matanya padaku.
"Supaya ga ada yang ganggu Jen.", ia menggelengkan kepalanya mendengar jawabanku.
Aku langsung memeluknya erat lalu berkata, "aku kangen Jen."
"Kan barusan juga makan bareng kita."
"Iya tapi aku maunya cuma berdua sama kamu kaya sekarang."
"Jen aku kok ga dipeluk balik sih!"
Lalu aku marasakan kedua tangannya mulai naik memeluk pinggangku.
"Nah... kaya gini... sebentar aja ya Jen, aku mau pelukan kaya gini sebentar lagi."
"Udah ah kak, cukup, ayo duduk aja."
Terpaksa aku melepaskan pelukanku dan mengikutinya duduk disampingnya diatas tempat tidur.
"Jen aku besok pergi seminggu ke Surabaya terus terbang lagi seminggu ke Medan ."
"Hmmm..."
Ya ampun Jeny memang suka jual mahal, jawabnya singkat banget, keluhku dalam hati.
"Kamu kangen aku ga? Eh tunggu... aku ganti pertanyaannya. Kamu harus kangenin aku ya, jadi aku akan lebih sering menghubungi kamu mulai sekarang."
Ia hanya tersenyum dengan ucapanku.
"Eh Jen, aku lupa aku banyak meeting selama 2 minggu depan, akhhh aku ga bisa sering dengar suara kamu deh... ", keluhku, dan lagi-lagi hanya senyuman sebagai tanggapannya.
"Jen aku boleh pinjam salah satu baju kamu ga? Atau sweater kamu ada yang muat di aku ga ya?"
"Hah... untuk kakak pakai? Mana muat."
"Iya ya hehehehe...., aku lihat isi lemari kamu boleh Jen?"
"Boleh"
Lalu saat aku turun dari tempat tidur, tiba-tiba Jeny berteriak "eh jangan kak!"
"Kenapa? Kamu simpan rahasia apa di dalam?", tanyaku curiga, saat ini tubuhnya berdiri menutupi pintu lemarinya.
"Bukan rahasia sih... cuma masa kak lihat barang pribadi aku."
"Barang pribadi apa? Kamu nyimpen barang pemberian dari senior kamu ya?"
"Bukan kak, maksudku pakaian dalam aku",, ucapnya sambil menunduk.
"Ya ampun Jen, kamu gemes banget sih, kakak jadi ingin..."
Ia memandangku dengan wajah penasarannya, lalu aku mengambil kesempatan itu dengan menciumnya. Namun bibirku hanya sekilas merasakan kelembutan bibirnya, ia sudah mendorongku menjauh.
"Kata kakak, kakak ga akan mencuri ciuman dari aku. Ini namanya apa?", ucapnya sambil menunjuk bibirnya.
"Tapi kita kan pernah berciuman sebelumnya, lagipula aku kan sekarang pacarmu Jen."
"Saat itu kesadaranku agak hilang, sekarang aku gugup belum siap untuk itu."
"Baiklah, tapi kalau pelukan boleh kan Jen?"
Ia menganggukkan kepalanya.
"Mau sampai kapan kita pelukan begini?", tanyanya sesaat kemudian.
"Ok ok baiklah, tapi aku minta baju kamu dulu, buat obat kangen.", aku berusaha membuka lemarinya.
"Ga ah kak, ga usah aneh-aneh deh."
"Kamu sembunyiin hadiah dari cowok lain ya Jen? Senior kamu yang kasih?."
"Udah sekarang kakak balik ke kamar ya."
"Kenapa? Atau jangan-jangan kamu buang gelang pemberianku ya?"
"Ga kak."
"Ya udah, aku temenin sampai kamu tidur ya, baru aku kembali ke kamar."
"Ga boleh."
"Ayolah Jen, pleaseee..."
"Ga kak Erick!"
"Ok ok... tapi jangan kunci kamarnya ya, supaya besok pagi aku bisa pamit sama kamu dulu sebelum aku pergi. Kamu pasti masih tidur nanti Jen"
"Ga mau, kan kakak udah biasa pulang pergi Jakarta Surabaya, lagian biasanya juga telepon."
"Tapi kan sekarang statusnya beda, aku butuh pamitan donk sama pacar sendiri."
"Alasan aja nih kakak, kalau aku ga kunci kamar aku, kakak pasti masuk untuk berbuat yang aneh-aneh deh"
"Aneh-aneh gimana, aku kan bukan orang aneh Jen."
"Ya, kakak pasti curi kesempatan buat cium aku lagi."
"Bukan mencuri namanya Jen kalau udah pacaran."
"Udah ah sana kakak balik ke kamar", ucapnya sambil mendorongku ke arah pintu.
"Ok ok aku pergi. I love you Jen."
"Ya kak.", lalu ia menutup pintunya, terdengar dari luar ia juga menguncinya.