Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Terucap
Pagi di lereng Gunung Lawu terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin membawa bau abu dan hujan yang belum turun, tapi tidak ada suara burung atau binatang liar. Hanya hembusan pelan yang seolah membawa nama Kirana dalam setiap nafas.
Mereka tidak langsung berangkat ke puncak. Banda duduk di batu besar dekat makam kecil yang mereka buat semalam—gundukan tanah sederhana dengan kalung matahari Kirana tertancap di atasnya seperti tanda. Jatayu berdiri di sampingnya, goloknya tertancap di tanah, tangannya memegang bahu Banda tanpa kata.
Bayu duduk agak menjauh, memandang ke bawah lembah. Wajahnya pucat, tapi matanya kering—ia sudah menangis semalam sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa.
“Kita tidak bisa tinggal lama di sini,” kata Bayu pelan, suaranya serak. “Naga Tanah mungkin sudah tahu kita punya tiga kristal. Kalau dia bangkit lagi…”
Jatayu mengangguk tanpa menoleh. “Kita tahu. Tapi kita tidak bisa pergi begitu saja. Kirana… dia pantas mendapat penghormatan lebih dari sekadar gundukan tanah.”
Banda menatap kalung itu lama. “Dia bilang dia ingin melihat kita bahagia. Tapi bagaimana kita bisa bahagia kalau dia tidak ada di sini?”
Jatayu berlutut di samping Banda. “Kita tidak bahagia sekarang. Kita berduka. Tapi kita lanjut karena itu yang dia inginkan. Dia tidak mati supaya kita berhenti. Dia mati supaya kita bisa melanjutkan.”
Banda menoleh ke Jatayu. “Kau… kau tidak marah padaku? Aku yang hampir membunuhmu. Aku yang—”
Jatayu memotong dengan pelukan erat. “Bukan kau. Itu kutukan. Dan Kirana tahu itu. Dia memilih melindungi kita berdua. Bukan karena dia tidak takut mati… tapi karena dia takut kalau kita mati karena saling membenci.”
Bayu bangkit pelan. “Aku… aku tidak terlalu dekat dengannya. Tapi aku tahu dia orang baik. Dia selalu kasih aku makanan cadangan meski aku cuma nelayan biasa. Dia… dia tidak pernah lihat aku sebagai beban.”
Jatayu melepaskan pelukan, menyeka air mata yang jatuh tanpa sadar. “Kirana selalu seperti itu. Dia yang paling lembut di antara kami Phoenix. Dia penyembuh, bukan pembunuh. Tapi dia rela jadi perisai demi orang yang dicintainya.”
Banda bangkit juga. Ia meletakkan tangannya di atas kalung matahari itu. “Aku janji, Kirana. Aku akan lindungi Jatayu. Aku akan lindungi dunia yang kau ingin selamatkan. Dan aku… aku akan coba maafkan diriku sendiri.”
Angin bertiup pelan, seolah membawa jawaban dari Kirana—hembusan hangat yang menyentuh wajah mereka bertiga.
Mereka akhirnya berangkat ke puncak. Jalur semakin curam, udara semakin tipis. Kristal ketiga di tas Banda berdenyut lebih cepat, seolah merasakan kedekatan dengan kristal cahaya terakhir.
Saat hampir tiba di puncak, kuil cahaya terlihat: bangunan batu putih yang sudah retak-retak, tapi masih memancarkan cahaya samar seperti bintang yang terperangkap di bumi. Di pintu kuil, Naga Cahaya berdiri—tubuhnya ramping bersisik perak, mata seperti matahari redup. Tapi sisiknya retak, dan dari retakan itu mengalir darah hitam pekat—kutukan Naga Tanah sudah merembes masuk.
“Kalian datang,” suara Naga Cahaya seperti angin yang berbisik melalui cahaya. “Tiga kristal sudah kalian bawa. Tapi cahaya terakhir adalah milikku. Dan aku… sudah tidak lagi murni.”
Banda maju, kristal ketiga di tangannya menyala putih. “Kami datang untuk mematahkan kutukan. Bukan untuk bertarung denganmu.”
Naga Cahaya menggeleng pelan. “Kutukan sudah terlalu dalam. Aku sudah melihat masa depan. Satu dari kalian harus mati. Kalau tidak… dunia akan kembali ke kegelapan abadi.”
Jatayu melangkah ke samping Banda. “Kalau itu benar… biarkan aku yang mati. Aku sudah siap.”
Banda menarik Jatayu ke belakang. “Tidak. Tidak ada yang mati malam ini.”
Naga Cahaya tertawa pelan—suara yang seperti kristal pecah. “Kau masih tidak mengerti. Kutukan bukan hanya memaksa pilihan. Ia memaksa pengorbanan. Dan pengorbanan itu sudah dimulai sejak Kirana mati. Sekarang… giliran salah satu dari kalian.”
Tanah di sekitar kuil retak lagi. Tangan lumpur muncul—Naga Tanah tidak mau kalah. Ia muncul dari bawah, tubuh raksasa lumpur dan batu yang lebih besar dari sebelumnya, mata hijau beracun menyala terang.
“Kalian pikir kalian bisa mengalahkan aku?” raung Naga Tanah. “Aku adalah tanah itu sendiri. Aku adalah akhir dari segalanya. Dan anak campuran… kau akan menjadi senjataku.”
Banda merasakan kutukan mencapai puncak lagi. Tubuhnya berubah: sisik muncul penuh, mata berubah hijau, dan tangannya mengarah ke Jatayu. Air membara muncul dari tanah, kali ini lebih besar—ombak yang siap menenggelamkan segalanya.
Jatayu tidak mundur. Ia malah memeluk Banda erat, api Phoenix-nya menyala penuh.
“Ingat aku,” bisiknya. “Ingat kita. Ingat Kirana yang mati untuk kita. Jangan biarkan kutukan menang.”
Banda berjuang melawan suara di kepalanya. “Aku… aku tidak bisa… aku tidak mau…”
Bayu berteriak dari belakang. “Banda! Lawan itu! Kau lebih kuat dari kutukan!”
Tapi tubuh Banda sudah tidak lagi miliknya. Ombak membara meluncur ke arah Jatayu.
Jatayu tidak menghindar. Ia hanya memeluk lebih erat.
Dan saat ombak itu hampir menyentuh, cahaya dari kristal ketiga meledak—putih murni, menyilaukan. Naga Cahaya menggeram kesakitan, tapi cahaya itu menyelimuti Banda dan Jatayu.
Di dalam cahaya itu, visi terakhir muncul: Garini, ayah Banda, Kirana kecil, dan Naga Cahaya muda berdiri bersama. Garini berbisik: “Kalau suatu hari kutukan mencoba memisahkan api dan air… ingat: cahaya lahir dari kegelapan. Dan cinta lahir dari pengorbanan.”
Cahaya memudar. Ombak membara surut. Tubuh Banda kembali normal. Naga Tanah meraung terakhir, tubuhnya runtuh kembali ke tanah—kali ini benar-benar hancur, meninggalkan hanya retakan besar dan abu.
Naga Cahaya berdiri di depan mereka, sisiknya mulai pulih. “Kalian… mematahkan bagian pertama kutukan. Tapi Naga Tanah bukan satu-satunya ancaman. Ada kegelapan yang lebih besar di luar empat raja. Dan kristal cahaya… adalah pintu ke sana.”
Ia menunduk, meletakkan kristal cahaya putih murni di depan Banda.
“Ambil. Tapi ingat: cahaya bukan akhir. Ia adalah awal dari perang baru.”
Banda mengambil kristal itu. Cahaya putih menyatu dengan ketiga kristal lain—menghasilkan bola cahaya emas yang melayang di antara mereka.
Jatayu memeluk Banda erat, air mata mengalir. “Kita… kita selamat.”
Banda memeluk balik. “Untuk Kirana. Untuk Garini. Untuk kita.”
Bayu tersenyum lelah. “Dan sekarang… apa selanjutnya?”
Bola cahaya berputar pelan, lalu membentuk visi baru: dunia di luar empat raja—kegelapan yang lebih besar, makhluk yang lebih tua, ancaman yang belum terlihat.
Naga Cahaya berbisik sebelum menghilang kembali ke kuil: “Perang baru dimulai. Dan kalian… adalah harapan terakhir.”
Mereka bertiga berdiri di puncak Lawu, memandang langit yang mulai cerah.
Tapi di hati mereka, duka atas Kirana masih membara.
Dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.