Tahun 2050, Bencana Besar menyatukan benua dan melahirkan Gelombang Binatang Buas—monster yang memusnahkan dunia lama dalam hitungan bulan. Umat manusia bertahan di balik Kota Basis, benteng raksasa yang menjadi satu-satunya perlindungan dari dunia liar di luar dinding.
Harapan datang dari pulau misterius yang membawa energi kosmik dan seni bela diri, menciptakan para petarung super sebagai tameng terakhir peradaban. Namun ancaman monster purba masih mengintai, menunggu keseimbangan runtuh.
Di Kota Basis 5, Arga hanyalah siswa SMA biasa yang menghadapi ujian hidup-mati masa depan. Tak seorang pun tahu, di dalam dirinya bersemayam sebuah sistem yang perlahan membangkitkan kekuatan terlarang—dan mungkin, nasib baru bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zylan Rahrezi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertumbuhan dan Energi Mental
Arga tidur dengan tenang malam itu. Lagipula, dia bukan tipe protagonis yang harus mati-matian berlatih siang dan malam demi menjadi kuat.
Yang ia butuhkan hanya satu hal—waktu.
Keesokan paginya, Arga memeriksa statusnya:
[Tuan: Arga
Fisik: 0.4
Spiritual: 0.4]
Sesuai dugaan dari sistemnya yang luar biasa, atributnya kembali berlipat ganda. Kini ia memiliki 400 kg kekuatan baik secara fisik maupun spiritual. Gelombang vitalitas mengalir di tubuhnya—ia merasa lebih ringan, lebih tajam, dan lebih hidup dari sebelumnya.
Setelah membersihkan diri, ia keluar kamar dan mendapati sarapan sudah tersaji di meja. Sebuah catatan terletak di samping piring. Itu dari ibunya:
“Sayang, Ibu dan Ayah harus ke kantor. Kamu makan dulu sebelum berangkat sekolah, ya?
Ibu sayang kamu.”
Membaca catatan sederhana itu, kehangatan merekah di dadanya. Perhatian kecil seperti ini—kasih sayang seorang ibu—adalah sesuatu yang tak pernah Arga miliki di kehidupan sebelumnya. Dan dampaknya jauh lebih besar dari yang ia duga.
Tersenyum pelan, ia duduk dan menikmati sarapan dengan lahap sebelum berangkat ke sekolah.
⸻
Di dalam Kelas 10—
Raka sedang menggerutu soal insomnianya, seperti biasa. Ia kembali tidur larut malam dan kini menjalani hari seperti mayat hidup berjalan.
Tiba-tiba, ia menyipitkan mata menatap Arga.
“Eh, Arga, lu kelihatan beda. Ada apa, bro? Dapet istri kecil atau gimana? Tunggu—jangan bilang Mawar akhirnya mau ngandung anak lu?” godanya dengan senyum mesum.
Arga memutar mata lalu menjitak kepala Raka.
“Andai aja itu bener,” katanya sambil tertawa kecil.
Raka mengusap belakang kepalanya, masih nyengir.
“Nggak, serius. Lu kelihatan lebih sehat. Lebih segar. Kenapa?”
Arga berpikir sejenak lalu menjawab, “Akhir-akhir ini gue latihan bela diri. Mungkin karena itu?” Nada suaranya ragu, seolah ia sendiri belum sepenuhnya yakin.
Mata Raka membelalak.
“Latihan bela diri? Serius? Bukannya kita janji jadi tuan muda celana licin selamanya? Ngapain lu mulai latihan sekarang? Mau masuk Universitas Bela Diri Aurora buat pamer ke gebetan lu?”
Arga tak membantah. Ia hanya terkekeh.
“Iya… kurang lebih begitu.”
Raka menyeringai dan menepuk punggungnya.
“Kalau gitu, gue harus nempel sama paha gede lu nanti, wahai calon jenius bela diri!”
Sebelum candaan berlanjut, Pak Ardi masuk ke kelas.
“Perhatian semuanya. Ada pengumuman,” katanya sambil menyapu ruangan dengan pandangan. “Sebelumnya, saya bilang Ujian Sertifikasi Prajurit Kuasi akan diadakan tanggal 15 Juli. Namun karena keadaan mendesak, jadwalnya dimajukan. Ujian akan dilaksanakan tanggal 7 Juli. Bersiaplah.”
Kelas langsung gempar. Ada yang bersemangat, ada pula yang panik—waktu persiapan mereka jauh berkurang.
Raka mengeluh, “Sialan… bokap gue baru kemarin nyuruh gue daftar gym. Gue bahkan baru mau datang. Sekarang masih sempet apa nggak, coba?”
Arga, sebaliknya, tetap tenang. Ia sama sekali tak terkejut. Dengan kecepatan pertumbuhannya sekarang, ia akan melampaui standar besok—dan masih punya empat hari tersisa.
⸻
Sepulang kelas, Arga dan Raka pergi makan siang di kantin. Saat mengantre, seseorang tiba-tiba mendorong Arga dari belakang, mencoba menyerobot ke depan.
Tanpa berpikir, Arga menangkap pergelangan tangan orang itu dan memutarnya ke belakang dalam satu gerakan halus dan naluriah.
“Teriakan melengking terdengar.”
“Aaah! Lepasin! Lepasiiin!”
Itu Bagas Silva—penguasa kecil sekolah. Berasal dari keluarga kaya, kakeknya tak lain adalah Erik Silva, seorang Ahli Bela Diri ternama.
Arga tak peduli semua itu. Ia hanya membalas dorongan barusan.
Bagas meronta sambil berteriak, “Dasar bodoh! Tau nggak siapa gue?! Gue Bagas Silva—cucu Erik Silva!”
Arga menyeringai.
“Oh ya? Bagus buat lu. Nama gue cuma Arga.”
Para siswa di sekitar langsung tertawa.
Wajah Bagas memerah padam karena dipermalukan. Biasanya, ke mana pun ia pergi, orang-orang berlomba menjilatnya. Tapi bocah ini—Arga—jelas tak main sesuai aturan.
“Lu bakal nyesel!” geram Bagas. “Gue bakal bikin lu nyesel pernah nyentuh gue!”
Namun sebelum situasi memburuk, sebuah suara tenang namun berwibawa terdengar.
“Cukup, Bagas.”
Itu Mawar—ketua kelas. Cantik, anggun, dan dihormati semua orang. Meski berasal dari keluarga sederhana, karismanya memberinya status yang tak bisa dibeli dengan uang.
“Kamu menyerobot antrean dan sekarang terang-terangan mengancam orang lain? Mungkin sebaiknya aku laporkan ke kepala sekolah,” katanya dingin.
Keberanian Bagas langsung menguap. Wajahnya pucat. Selain takut pada kepala sekolah, ia juga sangat naksir Mawar.
Sambil mengertakkan gigi, ia pergi tanpa sepatah kata pun.
Arga menatap punggungnya, mata menyipit. Tatapan Bagas barusan… berbahaya. Dia bisa jadi duri dalam daging. Mungkin, pikir Arga, akan lebih baik menyingkirkannya sejak awal.
Ia menoleh ke Mawar dan tersenyum tulus.
“Terima kasih sudah bantu.”
Mawar membalas senyuman itu.
“Kamu hebat, Arga. Aku nggak nyangka kamu bisa menghentikan tangan Bagas bahkan tanpa melihat. Sepertinya kamu latihan bela diri dengan serius.”
Arga menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Ia sama sekali belum berlatih bela diri—itu murni refleks dari peningkatan kekuatan spiritualnya.
Di meja makan, Raka sudah kembali menggoda.
“Gila, lu lagi naik daun! Bahkan calon kakak ipar gue muji lu. Mantap, bro\~”
Arga menjitak kepalanya lagi sambil tertawa.
Mendapat pengakuan dari gadis yang ia sukai… rasanya luar biasa.
⸻
Saat Arga pulang malam itu, orang tuanya masih belum di rumah.
Ia berbaring di ranjang, memikirkan kejadian hari ini.
Ia telah mempermalukan Bagas—tipe karakter yang, dalam novel-novel, tak akan berhenti sampai balas dendam, bahkan kalau harus menghancurkan seluruh keluarga. Arga memutuskan untuk mengawasinya dengan ketat. Jika Bagas melakukan sesuatu yang ceroboh…
Dia akan membunuhnya. Tanpa ragu.
Empat hari berlalu dalam sekejap.
7 Juli.
Arga berdiri di halaman sekolah bersama siswa lainnya. Hari ini, mereka akan pergi ke cabang Asosiasi Bela Diri untuk mendapatkan Sertifikat Prajurit Kuasi.
Ia membuka panel sistemnya:
[Tuan: Arga
Fisik: 6.4
Spiritual: 6.4]
Dalam empat hari saja, atributnya melonjak menjadi 6.4—peningkatan total enam belas kali lipat.
Lebih dari itu, ia telah melanggar hukum besi: tak seorang pun seharusnya bisa melampaui 1.000 kg kekuatan sebelum membuka kunci gen.
Kini, Arga memiliki lebih dari enam ton kekuatan mengalir di tubuh dan jiwanya.
Dan ada satu hal lagi yang terbangun—energi mental, tepat setelah atribut spiritualnya melewati angka 1.
Ia kini bisa menggerakkan benda dari jarak jauh hanya dengan kehendaknya. Pada level 6, ia bisa mengendalikan total massa hingga enam ton, namun maksimal hanya enam objek sekaligus. Meski total massanya mencukupi, ia tak bisa mengontrol lebih dari enam benda pada saat bersamaan.
Namun Arga tak khawatir. Ia akan mempelajarinya seiring waktu.
Pandangan Arga menyapu halaman dan berhenti pada Bagas.
Anehya, Bagas tak melakukan apa pun selama empat hari terakhir. Itu mengejutkan Arga—namun ia tak terlalu memikirkannya.
Bagas sendiri sedang dipenuhi amarah beracun. Ia sudah mengadu pada ayahnya soal Arga, namun diperintahkan untuk menahan diri sampai sertifikasi selesai. Begitu ia mendapatkan sertifikat itu… Arga tak akan lebih dari serangga untuk diinjak.
Bagas juga telah mengonsumsi cairan penguat tubuh. Kekuatan fisiknya kini melampaui 700 kg. Ia yakin akan lulus dengan mudah.
Ia melotot ke arah Arga dan bergumam,
“Tunggu saja. Setelah hari ini, gue bakal tunjukin seperti apa neraka yang sesungguhnya.”
⸻
Pak Ardi melangkah maju, memberikan pidato singkat, lalu mengarahkan para siswa naik ke bus.
Arga tak bisa menahan rasa bersemangatnya.
Ia punya firasat aneh.
Hari ini… mungkin dia akan membangkitkan bakat.
Mari lihat apa yang akan dibawa masa depan.