Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. liburan pertamaku
Setelah makan, aku langsung ke kamar. Jantungku masih berdebar, tanganku bergerak lebih cepat dari biasanya. Aku membuka lemari, menarik koper kecil, lalu berhenti di tengah ruangan.
“Aku harus bawa apa?” gumamku sendiri.
Aku memasukkan baju seadanya—terlalu banyak kaus, sedikit terlalu panik. Aku bahkan memasukkan sandal dua pasang sebelum akhirnya mengeluarkannya lagi. Di luar kamar, aku bisa mendengar suara Haruka berjalan pelan, sesekali berbicara di telepon dengan nada rendah yang tidak bisa kutangkap isinya.
Saat aku keluar dengan koper yang sudah tertutup, ia menoleh.
“Udah?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Kayaknya.”
Ia menatap koper itu sebentar, lalu kembali menatapku. “Kayaknya?”
Aku nyengir. “Ini liburan pertamaku.”
Sudut bibirnya terangkat sedikit. “Kelihatan.”
Kami berangkat naik mobil malam itu juga. Jalanan tidak terlalu ramai, lampu kota berkilau seperti garis panjang yang tak pernah habis. Aku duduk di kursi penumpang, tubuhku sedikit condong ke arahnya.
“Kita ke mana, sih?” tanyaku.
“Belum waktunya,” jawabnya.
“Berapa jam perjalanannya?”
“Nanti juga tau.”
“Cuacanya gimana?”
Ia melirikku sebentar. “Kamu wawancara aku?”
Aku tertawa kecil. “Aku penasaran.”
Ia menggeleng pelan, tapi aku bisa melihat ia menikmatinya. Tangannya tetap mantap di kemudi, sementara aku terus bertanya hal-hal kecil—tentang negara itu, tentang makanan, tentang apakah aku perlu jaket tebal.
“Tenang aja,” katanya akhirnya. “Aku ada.”
Kalimat itu entah kenapa membuatku diam sebentar.
Bandara terlihat berbeda di malam hari. Lebih sepi, lebih sunyi, tapi juga terasa… besar. Aku melangkah di samping Haruka, menyeret koper kecilku, mataku berkeliling ke mana-mana.
Baru beberapa langkah masuk, aku berhenti.
“Eh,” kataku sambil menahan lengannya. “Tiketnya beli di mana?”
Ia menoleh ke arahku, tidak langsung menjawab. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia menggenggam tanganku dan mulai berjalan ke arah yang tidak kukenal—bukan ke loket, bukan ke antrean.
“Haruka?” panggilku bingung.
Ia tetap berjalan, langkahnya tenang. Aku hanya bisa mengikutinya, sedikit gugup.
Kami berhenti di dekat sebuah pintu khusus. Seorang pria berseragam menoleh, lalu tersenyum saat melihat Haruka.
“Selamat malam.”
Haruka mengangguk singkat. “Kita berangkat.”
Aku menatap mereka bergantian. “Berangkat… sekarang?”
Pintu terbuka.
Dan saat aku melihat pesawat kecil berwarna gelap terparkir tidak jauh dari sana, langkahku benar-benar berhenti.
“Haruka…” suaraku mengecil. “Itu—”
“Jet,” katanya singkat.
Aku menatapnya. “Pribadi?”
Ia mengangguk, seolah itu hal biasa.
Aku terdiam beberapa detik. Lalu menatap pesawat itu lagi. Lalu menatap Haruka.
“Jadi… kita nggak beli tiket?”
Ia menoleh padaku, matanya sedikit menyipit, geli. “Nggak.”
Aku menutup mulutku sendiri. “Kok—”
Ia tertawa kecil. “Ayo.”
Dan di detik itu, aku benar-benar kagum. Bukan cuma karena pesawatnya. Tapi karena caranya membuat hal yang luar biasa terasa… sederhana.
Ini adalah pertama kalinya aku naik pesawat.
Saat kami masuk, aku langsung duduk di samping Haruka, tanganku refleks mencengkeram lengannya.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Aku takut,” jawabku jujur.
Ia menoleh, lalu tertawa pelan. “Serius?”
Aku mengangguk cepat. “Jangan ketawa.”
“Tanganmu dingin,” katanya, tapi tetap membiarkanku berpegangan.
Saat pesawat mulai bergerak, aku menutup mata. Tanganku semakin kuat mencengkeram lengannya.
“Tenang,” katanya pelan. “Lihat aku.”
Aku membuka mata perlahan. Tatapannya tenang. Tidak ada keraguan di sana.
“Aku di sini,” lanjutnya.
Saat pesawat akhirnya lepas landas, perutku terasa aneh. Aku menarik napas tajam, lalu membuka mata ke arah jendela.
Dan dunia di bawahku menjauh.
Lampu-lampu kota mengecil, berubah jadi titik-titik cahaya. Jalanan seperti garis tipis. Rumah-rumah seperti mainan.
“Haruka…” suaraku bergetar. “Ini…”
Ia menoleh. Melihat ke luar jendela juga.
“Indah,” katanya.
Aku mengangguk pelan. Rasa takutku perlahan berubah jadi kagum. Tanganku masih menggenggam lengannya, tapi sekarang lebih longgar.
Aku tersenyum sendiri.
Ini pertama kalinya aku pergi sejauh ini.
Pertama kalinya aku terbang.
Dan pertama kalinya… aku liburan, bukan sendirian.
Beberapa jam berlalu tanpa benar-benar kurasakan. Aku terlalu sibuk menatap dunia dari balik jendela—awan yang seperti kapas, langit yang terasa tidak nyata, cahaya matahari yang jatuh miring di sayap pesawat. Kadang aku menoleh ke Haruka, memastikan dia masih di sana. Dia selalu ada. Tenang. Seolah ketinggian, jarak, dan waktu tidak pernah jadi masalah baginya.
Tanpa kusadari, getaran halus mulai terasa di bawah kakiku.
Aku menoleh ke jendela. Lampu-lampu muncul lagi. Bukan seperti kota yang kutinggalkan—ini berbeda. Lebih teratur. Lebih luas.
Pesawat menurun perlahan.
“Haruka…” panggilku pelan.
“Kita sudah sampai,” katanya.
Jantungku berdebar. Rasanya seperti baru saja bermimpi panjang, lalu tiba-tiba terbangun di tempat yang sama sekali asing.
Saat pintu pesawat terbuka, udara yang berbeda menyentuh kulitku. Lebih dingin. Lebih bersih. Aku melangkah turun bersama Haruka—dan di situlah aku benar-benar berhenti.
Ada banyak orang.
Terlalu banyak untuk sekadar penjemputan biasa.
Mereka berdiri rapi, berbaris, berpakaian formal. Wajah-wajah serius, sorot mata penuh perhatian. Beberapa mobil hitam berkilau terparkir tak jauh dari sana. Dan di antara mereka… ada sosok yang langsung kukenal dari berita, dari buku, dari layar televisi.
Aku menelan ludah.
“Haruka…” bisikku, refleks menarik lengan bajunya. “Itu—”
“Aku tahu,” katanya singkat.
Ia mengajakku melangkah mendekat.
Langkah kakiku terasa ringan tapi gemetar. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Semua mata tertuju ke arah kami—lebih tepatnya, ke arah Haruka.
Begitu kami berhenti di depan mereka, seorang pria melangkah maju. Ia membungkuk sedikit, gesturnya penuh hormat.
Seorang pria melangkah maju. Tubuhnya tegap, ekspresinya serius tapi penuh hormat.
“Welcome, Mr. Haruka. We’ve been expecting you.”
Ia sedikit menundukkan kepala. Orang-orang di belakangnya mengikuti, serempak.
Haruka berhenti, lalu mengangguk kecil.
“Thank you.”
Hanya dua kata. Tidak lebih.
Lalu seorang pria lain maju. Lebih tua. Wibawanya terasa berbeda. Saat aku menyadari siapa dia, jantungku hampir berhenti.
Pemimpin negara ini.
“It’s an honor to have you here,” katanya.
“We truly appreciate your presence.”
“Likewise,” jawab Haruka singkat.
Nada suaranya tetap datar. Tidak gugup. Tidak terkesan. Seolah-olah orang di depannya hanyalah seseorang yang setara—atau bahkan… bukan siapa-siapa.
Aku berdiri di sampingnya, diam, mencoba menyembunyikan keterkejutanku.
Kemudian, perhatian mereka beralih padaku.
Seorang perempuan dengan senyum hangat menatapku.
“Welcome. We hope you’ll enjoy your stay here.”
Aku refleks tersenyum dan sedikit membungkuk. “Thank you. I’m really happy to be here.”
Suaraku terdengar sopan, meski dadaku masih berdebar.
Aku tahu. Sambutan itu bukan sepenuhnya untukku.
Itu untuk Haruka.
Dan lagi-lagi aku dibuat benar-benar kagum.
Haruka berdiri di tengah orang-orang penting itu dengan ekspresi yang sama seperti saat ia berdiri di dapur rumah—tenang, terkendali, tanpa sedikit pun rasa canggung. Seolah-olah mereka semua hanyalah bagian kecil dari dunianya.
Setelah beberapa menit percakapan singkat dengan mereka, Haruka menoleh padaku.
“Ayo.”
Kami berjalan menuju sebuah mobil sport yang terparkir tak jauh dari sana. Hitam, mengilap, desainnya tajam dan elegan. Aku menatapnya tanpa sadar.
dan aku masuk ke dalam mobil itu bersamanya.
“Ini mobil siapa?” tanyaku.
“Punya perusahaan,” jawabnya santai.
Aku masuk ke kursi penumpang, masih sedikit terpaku. Begitu mobil melaju, aku langsung memutar badan ke arahnya.
“Haruka.”
“Hm?”
“Barusan itu siapa aja?”
“Orang-orang yang perlu tahu aku datang.”
“Dan yang tadi—yang kelihatan di TV itu—”
Ia melirikku. “Pemimpin negara ini.”
Aku menutup mulutku. “Kamu kenal dia?!”
Ia tertawa kecil. “Sedikit.”
“Sedikit?!”
Mobil melaju mulus di jalan yang lebar. Gedung-gedung tinggi mulai bermunculan, rapi dan modern. Aku tidak berhenti bertanya—tentang negara ini, tentang orang-orang tadi, tentang kenapa semua terlihat begitu… besar.
Haruka hanya menjawab seperlunya. Kadang menghindar. Kadang mengganti topik.
Tanpa kusadari, mobil melambat.
Kami berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan kaca tinggi, logo-brand mewah terpasang jelas. Di sekelilingnya, deretan toko dan kantor perusahaan berdiri megah.
Aku menoleh cepat. “Kita berhenti kenapa?”
Haruka mematikan mesin. “Turun.”
“Turun?” aku menatap sekeliling. “Ini di mana?”
Ia membuka pintu. “Ikut aja.”
Aku turun dengan ragu. Begitu kakiku menyentuh lantai, aku sadar tempat ini… bukan sembarang mall. Orang-orang berpakaian rapi, etalase penuh barang yang bahkan namanya saja sulit kusebut.
“Haruka,” kataku pelan, mendekat. “Ini toko baju mewah.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma bawa baju seadanya,” lanjutku cepat. “Dan aku nggak—”
Ia menoleh, memotong kalimatku. “Makanya.”
Tanganku refleks mencengkeram lengan bajunya. “Kita ke sini buat apa?”
Ia menatapku, lalu tersenyum tipis. “Liburan.”
Aku terdiam.
Ia menggenggam tanganku, lalu mengajakku masuk. Begitu pintu terbuka, suasana berubah. Interiornya luas, tenang, dan… mahal. Beberapa staf langsung mendekat, wajah mereka berubah cerah saat melihat Haruka.
“Haruka,” kataku pelan, “ini serius?”
Ia menatapku, lalu tersenyum kecil—senyum yang jarang ia tunjukkan ke orang lain.
“Ini liburan pertamamu.”
Dan entah kenapa, di detik itu, aku tahu—
perjalanan ini baru saja dimulai.