Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kelas 10. A berlokasi paling dekat dengan kantin, di bandingkan langsung pulang dan berdesak-desakan dengan banyak orang di koridor, Astra lebih baik menunggu di kantin sambil memesan beberapa makanan untuk nya makan di kostan.
Sreek...
Suara kursi di tarik dan seseorang duduk di depan Astra membuat Astra mengalihkan perhatian nya dari Handphone mini nya.
Astra menatap sosok laki-laki ganteng dengan daya tarik mata biru yang mempesona selama tiga detik, setelah menscan wajahnya dan memasukkan nya ke dalam otaknya, dia memutuskan pandangan dan tetap beralih pada Handphone mini nya.
Dion, laki-laki itu hanya tersenyum. Masih berpikir Astra hanya jual mahal, tanpa canggung karena di abaikan-- Dion memangku dagu nya sambil menatap Astra.
Perilaku yang bisa membuat beberapa perempuan pada umumnya salting karena di tatap intens oleh laki-laki tampan.
"Hape kecil lo lebih menggoda ya, daripada cowok ganteng di hadapan lo?"
Astra tidak bereaksi sedikitpun, membuat senyum tampan Dion jadi agak canggung. "Ehm, lo lagi apa disini?"
Sekali lagi, boro-boro menjawab, menatap pun tidak. Dion merasakan aura cuek yang tidak di buat-buat dari gadis cantik di hadapan nya. Membuat nya terasa ingin melangkah lebih jauh karena tertantang.
Tidak lama setelah itu seorang Ibu kantin mendekat dengan membawa kantung plastik putih yang terisi makanan. "Ini non, Nasi, Opor Ayam, sayur bayam sama es susu nya."
Astra berdiri, "Makasih bi, berapa semuanya?"
"50 ribu Non"
"Gue bayarin!" Dion buru-buru merogoh dompet nya di saku celana, namun kalah cepat dengan Astra yang sudah menyerahkan uang 50 ribu kepada Ibu kantin.
"Gak usah, ini Bi" Bibi kantin itu segera pergi, merasa tidak enak jika NPC sepertinya masuk ke dalam alur utama.
"Gue ucapin makasih sama niat baik lo, tapi gue gak ada waktu buat ngobrol sama lo, cari orang lain aja." Ucap Astra menggendong tas nya lalu pergi.
Dion terdiam sebentar seolah membatu, ucapan Astra yang satu ini membuat pandangan nya tentang Astra gadis cantik yang jual mahal seketika terhapus. Jantung nya berdetak dengan sendirinya, pipinya memerah dia tiba-tiba tersenyum.
"Jadi seperti ini rasanya," dia memeluk tubuh nya sendiri seolah benar-benar menikmati perasaan seperti ini.
Saat berada di pintu keluar, dahi Astra berkerut. Melirik ke belakang dengan ekor matanya, lalu buru-buru berjalan pergi meninggalkan kantin. 'Masokis' pikirnya.
Koridor sudah cukup sepi, hanya terlihat beberapa yang seperti dirinya menunggu jalan sepi agar tidak berdesak-desakan.
Dengan memakai kembali topi hitamnya agar wajahnya sedikit tersamarkan dan menentang kantung plastik, dia jadi cukup di perhatikan sepanjang perjalanan.
Tinggi nya yang standar dengan model, kaki jenjang nya dan tubuh nya yang terlihat seperti gitar Spanyol meskipun tanpa pakaian seksi yang ketat membuat beberapa mata melihat nya sekilas dan seolah malu hingga memutuskan pandangan.
"Si Dion mana?" Tanya Arka.
"Kantin" jawab Gabriela singkat.
"Kok lama? Harus di susul nih, tu anak pasti lagi godain cewek lagi." Seru Arka, namun tatapan nya melihat Astra yang berjalan menuju nya.
"Eh, Astra. Kenapa ke sini?" Tanya Arka dengan senyum ramah.
"Lewat" ucap Astra tanpa berhenti berjalan dan tanpa melihat ke arah Arka.
"Eh, cuek banget sih" keluh Arka namun Astra tidak merespon.
Melewati Arka dan Gabriela, lalu pandangan nya bertemu dengan pandangan mata Samuel yang dingin. Sebelum Astra memutuskan kontak mata dengan nya, Astra bisa melihat bibirnya yang senyum miring sambil menatap nya.
Kamar mandi.
Astra menggerak-gerak kan jarinya seolah menghitung, dan makin kesini, dahinya semakin mengkerut. "Sial!" Pikirnya.
Ilmu meramal dengan menggerakkan jari seolah menghitung di sebut juga dengan Daktilomansi. Praktik yang menggunakan gerakan jari sebagai ritual untuk memusatkan pikiran dan mendapatkan wawasan gaib, di mana setiap ketukan atau gerakan diyakini sebagai cara untuk menafsirkan takdir atau masa depan seseorang.
Itu yang Astra lakukan, ia menghitung takdir orang-orang yang ia temui tadi. Beruntung takdirnya dengan Riel cukup baik, namun tidak dengan 4 orang itu, dia tidak tahu apa pastinya namun dia memiliki keterlibatan takdir dengan ke empat orang itu, dan isinya kurang baik semua.
Astra membasuh wajahnya, saat dia mendongakan kepalanya dia melihat pantulan wajah seseorang yang di kenalinya dari cermin.
Dengan tenang Astra mengelap wajah nya dengan tisu yang ada di sana, Astra merasakan hawa dan kekuatan gaib di belakang tubuhnya, dia berpikir mungkin inilah takdir buruknya dengan orang ini.
Greta merasa bingung sendiri, melihat Astra yang terlihat santai-santai saja dengan kehadiran nya. Seharusnya, dalam ingatan nya, orang akan merasa merinding dengan kehadiran nya yang tiba-tiba dan perasaan horor dari auranya.
Astra berbalik menghadap nya dan bertanya dengan pembawaan yang terkesan santai. "Ada apa?"
Melihat gadis di hadapannya bisa sesantai itu, Greta menjadi marah. "Gue udah peringatan sama lo, jangan genit-genit sama Arka, dia miliki gue!"
Yeah, sepertinya siapapun yang bermasalah dengan gadis ini itu karena mereka yang mungkin sedikit banyaknya memiliki hubungan dengan Arka. Pikir Astra.
Dengan gelagat santai tapi malas, Astra menatap Greta. "Gue tanya sama lo lagi, pandangan apa yang menurut ko ke gue, kalo gue genit sama cowok lo itu."
Pandangan dan ekspresi wajah Astra terlihat serius, terlihat lebih menakutkan dari Greta yang membuat gadis itu cukup terkejut dan mundur, namun gadis itu tidak gentar. Di hadapan Bos sekolah sebenarnya dia tetap berteriak seperti kepribadian nya.
"Gue tau ya! Arka ngajak lo ngobrol pas gue pergi, bahkan dia nyapa lo dengan senyum manis yang ke gue pun gak pernah!" Teriak histeris nya.
Bukan takut, namun Astra malah merasa lucu. Sebenarnya Greta ini siapanya Arka sih? Pacarnya? Atau Sasaeng yang dalam bahasa Korea artinya penguntit yang berlebihan?
"Terus, Lo cemburu?" Wajahnya tetap cuek menatap Greta.
"Sialan!" Dengan kedua tangan nya, Greta meraih leher Astra dan mencekiknya. "Mati Lo!! Arghhh"
Greta terlihat seperti orang gila berteriak nyaring dan mata seperti psikopat. Meskipun lehernya di cekik, nyatanya Astra tidak dalam posisi terdesak.
Dia menatap Greta dengan pandangan seolah berkata. 'Lo yang ngelakuin kekerasan duluan, jangan salahin gue'
Bugh!
Kaki nya menyiku perut Greta, membuat gadis yang terlihat gila itu melepaskan cekikikan nya karena terdorong, menggeram kesakitan sambil memegang perutnya.
Astra sebenarnya cukup iba dengan gadis itu, dia tidak benar-benar gila. Hanya ambisi nya yang tersentuh oleh kekuatan gaib negatif yang ada dalam tubuh nya sendiri.
***
Setelah baca harus like!
Setelah like harus komen!
Biar apa? Biar author semangat update dan gak kesepian~
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶