NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Aroma terapi

Beberapa jam telah berlalu, Arum melangkah pelan melewati koridor menuju kamar Reghan seperti kebiasaannya setiap malam. Dia selalu memastikan pria itu sudah tertidur, memastikan tidak ada serangan nyeri atau mimpi buruk yang sering membuat Reghan terjaga di tengah malam. Namun langkahnya terhenti di depan pintu ketika suara berat dan marah itu terdengar dari dalam kamar.

“Keluar dari sini, Alena!” suara Reghan menggelegar, keras dan penuh kemarahan yang ditahan. “Aku tidak butuh kau di sini!”

Suara itu diikuti dengan bunyi benturan sesuatu jatuh ke lantai. Arum terpaku, dadanya berdebar. Tak lama kemudian pintu terbuka dengan kasar. Alena keluar tergesa, matanya sembab, baju tidurnya berantakan seolah baru saja diseret badai. Dia menunduk, tak berani menatap siapa pun, hanya berlari menjauh di sepanjang koridor dengan wajah ketakutan.

Arum menatap ke arah Alena menghilang di ujung lorong, lalu menoleh ke pintu kamar Reghan yang setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara napas berat serak dan tertahan, seperti seseorang yang sedang menahan sakit dan amarah sekaligus.

Tanpa pikir panjang, Arum masuk. Pemandangan yang ia lihat membuat jantungnya mencelos. Reghan terjatuh di lantai, tubuhnya gemetar, tangan kirinya menopang pada kursi roda yang terguling, sementara tangan kanannya berusaha menggapai meja kecil. Otot kakinya bergetar lemah, namun jelas Reghan sedang berusaha berdiri.

“Tuan Reghan! Astaga, jangan dipaksa...”

“Jangan dekati aku!” bentaknya keras, namun suaranya serak, bukan karena marah melainkan karena putus asa. “Aku bilang jangan!”

Arum mengabaikannya. Dia berlari dan menangkap tubuh Reghan tepat saat pria itu hampir kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka bertumbukan ringan, napas Reghan terasa panas di bahunya. Dia bergetar, keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Lepas, Arum!” geram Reghan, menahan napas berat. “Aku tidak butuh dikasihani...”

“Siapa yang mengasihani Anda, Tuan?” Arum menatapnya, suaranya bergetar tapi tegas. “Aku cuma tidak mau Anda jatuh!”

Reghan terdiam sesaat, pandangannya kabur antara amarah dan kebingungan. Tubuhnya masih bergetar, dan di saat itulah Arum baru menyadari sesuatu yang aneh. Udara kamar itu terasa lebih berat dari biasanya. Ada aroma menyengat, bukan wangi biasa. Seperti parfum tajam bercampur zat kimia.

“Tuan Reghan…” bisik Arum perlahan. “Aroma di kamar ini … Kenapa berbeda? Siapa yang terakhir kali ke sini?”

Reghan tidak menjawab, wajahnya memerah, napasnya cepat, matanya sedikit mengabur seolah menahan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada rasa malu. Arum menatapnya penuh tanya, lalu tangannya bergerak refleks menyentuh dahi Reghan, yang terasa begitu panas.

“Berapa lama Anda begini?” suaranya nyaris berbisik, tapi tajam. “Tuan Reghan, Anda demam atau…?”

Reghan memejamkan mata, rahangnya mengeras. “Pergi, Arum. Sekarang juga!”

“Tidak sebelum Anda menjawab,” ucap Arum tegas, meski dadanya berdebar.

Reghan membuka matanya perlahan, tatapannya liar dan penuh tekanan. “Aroma itu … dia sengaja menyemprotkannya.” Suaranya parau, tertahan antara rasa malu dan marah. “Begitu aku selesai dari kamar mandi, Alena duduk di ranjang dan menungguku,"

Arum terdiam, dia menatap pria itu dengan ngeri dan iba sekaligus. Segalanya kini masuk akal tatapan aneh Alena, wajahnya yang ketakutan, pengharum yang menyengat. Itu bukan pengharum biasa.

“Tuan Reghan,” bisik Arum, “apa yang dia lakukan padamu?”

Pria itu menggertakkan giginya, matanya berkilat di bawah cahaya lampu. “Sesuatu yang membuatku ingin menghancurkan semuanya."

Reghan berusaha berdiri, dan kali ini tubuhnya benar-benar mampu. Arum terperangah, matanya membulat ketika pria itu, yang beberapa hari terakhir hanya bisa duduk di kursi roda, kini berdiri tegak di hadapannya. Napas Reghan terengah, namun matanya menyala, campuran antara emosi, keterkejutan, dan sesuatu yang menakutkan.

“Tuan Reghan … Anda … Anda berdiri?” suara Arum gemetar, antara kagum dan takut. Tanpa sadar, Reghan menggenggam bahu Arum dengan kuat. Dorongan kecil saja membuat Arum kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke kasur di belakangnya. Bukan karena kekerasan, tapi karena refleks panik dari Reghan yang tak mengerti bagaimana menahan tenaganya sendiri.

“Aku bisa berdiri, Arum…” bisiknya rendah, nyaris tak terdengar. “Aku bahkan bisa merasakan lagi ... seperti dulu.” Pandangan mata Reghan ke arah bawah. Tepat di bawah sana Reghan merasakan sesuatu yang berdiri. Arum menatapnya tak percaya. “Selama ini … Anda berpura-pura lumpuh?”

Reghan menggeleng pelan, wajahnya menegang menahan emosi. “Tidak, Aku sungguh lumpuh. Tapi malam ini … entah bagaimana … tubuhku bereaksi.” Dia menatap tangannya, lalu menunduk dengan napas berat. “Mungkin Tuhan sedang mengujiku.”

Arum menarik napas panjang, menatapnya dengan campuran iba dan bingung. “Atau mungkin Tuhan menunjukkan kau masih bisa sembuh … dengan cara yang tak kau duga.”

Beberapa saat kemudian aroma terapi di kamar itu makin pekat wangi kayu manis dan cendana memenuhi udara, seolah menyelimuti keduanya dalam ruang yang terpisah dari dunia luar. Arum menatap Reghan yang masih berusaha menstabilkan napasnya. Wajah pria itu memerah, matanya mulai kehilangan fokus antara sadar dan tidak.

“Tuan Reghan, Anda harus duduk dulu,” bisik Arum, berusaha menenangkannya. Dia berusaha bangun namun, kedua tangan Reghan menahan bahu Arum yang membuatnya terkejut. Sentuhan itu panas dan bahkan terlalu panas. Arum membeku, menatap mata pria itu yang kini menatapnya tajam.

“Aroma ini … membuatku sulit bernapas, Arum.” gumam Reghan pelan. “Tapi saat kau mendekat … rasanya lebih parah.”

Arum tak mengerti. “Apa maksudmu?”

Reghan menggeleng, suaranya parau. “Aku tidak tahu. Tapi sejak kau datang, semuanya berubah. Tubuhku … pikiranku…” Ia berhenti, menunduk dalam kebingungan dan rasa frustrasi yang tak tertahankan. “Aku tidak bisa mengendalikannya.”

Saat Arum hendak menjauh, Reghan malah menariknya lebih dekat, dan itu terlalu dekat hingga Arum bisa merasakan hembusan napasnya di wajahnya sendiri.

"Tuan Reghan...”

Namun kalimat itu terputus ketika Reghan, tanpa sadar dan tanpa rencana, mencondongkan diri. Jarak di antara mereka menghilang dalam satu gerakan yang terlalu cepat, terlalu bingung untuk disebut berani. Bibirnya menyentuh bibir Arum dengan lembut, seperti sebuah kesalahan yang terjadi karena keputusasaan.

Arum membeku, waktu seakan berhenti. Hanya detak jantung mereka yang terdengar berlomba dalam keheningan.

"Tuan Reghan..." Arum memberontak ingin melepaskan diri. Namun, Reghan tak membiarkannya pergi, rasa panas itu seakan membunuhnya malam itu.

'Jika ini bisa membayar semua harga yang kamu berikan aku rela, Tuan Reghan. Ku relakan semua itu hancur malam ini,' bisik Arum dalam hatinya, air matanya mengalir saat Reghan dengan sekuat tenaga tak melepaskan genggaman kedua tangan Arum.

'Arum, aku tahu aku salah! Tapi aku tak bisa menahannya. Tubuh ini bereaksi saat kamu dekat,' ciuman itu yang semula kasar kini melembut, kedua mata Reghan terpejam sejenak saat merasakan tak ada lagi penolakan dari Arum.

1
Mamah Dini11
lagian arum blm tentu mau pula ng me RUMAH ITU , RUMAH ITU Saksi terlukanya hat I seorrang arum yg di siksa dgn gk pd pun ya hati , Kalau arum mau blk lgi berrarti luka lama nya pasti kambuh lgi bayangan dia di seret paksa di ikat di Tiang lalu di cambuk tanpa am pun , apakah arum lakan lupa itu semua, ten. tuuu tiiiiidaaaaak
Mamah Dini11
mulai encer otaknya so OMA duly mungkin msh kntal blm mencair
Mamah Dini11
nenek peot itu juga kenapa baru peuduli sekarang , 3 tahun di mana anda NY on ya peot
Mamah Dini11
orang jahat dn licik di piara di mana letaknya kluarga terhormat itu perbuatan si alena saja kalian di biarkan saja sampai saat ini msh aman2 saja tuh manusia busuk mlh bisa hidup mewah bergeling harta , sedangkan yg benar yg baik kalian siksa tanpa peduli semuanya ter masuk si suami dn si peot. hartati yg katanya sayang sm arum , dasar kalian semuanya juga manusia berbulu domba. yg salah dipiara yg benar di biarkan terluka dn terlunta2 bertahun2 .mana ke adilan nya buat arum. gk ada , tapiii ingat karma pasti menjemputmu alena tunggu pd waktunya.
Mamah Dini11
orkay bodoh semua. , reghan juga gk berusaha cari tau kebenaran nya teteo aja diam , ya gk marah gimana si arum yg membuat dia terluka sampai. sekarang hidupnya tenang2 wae su alena yg menjebak arum di biarkan aja begitu nyaman hiupnya , nyaman dari perbuatan liciknya., itu gk adil buat arum. harusnya si alena di masukan ke jeruji besi atau dia harus membayar dgn karmanya
Mamah Dini11
apakah segala ucapanmu. benar tuan reghan , biasanya cuma ucapan di mulut saja kebenaran ny bertolak belakang. semoga yg ini benar2 dari hatimu yg paling dlm. karna iti arum sulit. percaya pdmu
Mamah Dini11
udh biasa di novel mh si pemeran arum di buat ke susahan terus moga cepet nemukan pedonornya.
Mamah Dini11
sudah benar2 menjauh tpiii sepertinya takdir berkata lain, tpii moga aja arum gk pergi ke rumah itu lgi , rumah neraka yg arum hindari , jgn kau injakan kakimu di rumah yg membuat kmu trauma sampai skarang moga ajak ktemu suami plin plan nya di RS aja
Mamah Dini11
perasaan apa2 hjn emang musimhjn ya waktu itu
Mamah Dini11
kluarga aneh tanpa bukti main cambuk aja dn si regan suami macam apa dia ,masa di rumah besar nan mewah gk ada cctv. pergi aja rum selamanya untuk apa bertahan di rumah itu gk ada pembelaan untuk kmu arum dn si omah peot bkn nya sayang sm kmu tpi mlh kaya mendukung kmu di cambuk , dasar rumah neraka itu mh, buat si reghan menyesal se umur hidupny arum pergilah kmu gk di hargai sedikitpun di rumah itu
Mamah Dini11
bahkan si arum berbohong, lucu , jelas2 ktemu si elion kurang ajar itu. emang kmu gk mau jujur sm si reghan , aneh
Mamah Dini11
kmu itu reghan si alena iti istri si elion , kenapa jadi kmu yg nolong dia sedangkn istrimu sendiri kau biarkan. begitu saja arum punya mata arum punya hati tuan , alena iti sekarang mantan kmi reghan , pantas aja arum memilih pergi , caramu salah reghan dasar pria gk tau terimakasih ..
Mamah Dini11
kalau kmu gk suka arum membantu ACARA SI elion , kmu kan suaminya suruh berhenti aja bawa arum menjauh dari tempat itu kmu berhak reghan
Mamah Dini11
mungkin si alena memberi obat sm kmu reghan atau di aroma terapi itu si alena mencampurkan sesuatu.
Mamah Dini11
rumah megah itu gk pantas di sebut rumah pantasnya di sebut NE RA KA
Mamah Dini11
nikah udh mrn tpii blm pesta kali
Mamah Dini11
nanti kalau udh bucin ke si arum baru nyaho tuan reghan yg terhormat , ku tunggu monen itu 🤭👍
Ray
kasihan Arum pasti trauma berat😭
nadya_hime
Sangat bagus, FL nya walau lemat tapi karakternya kuat, tegas dg sikapnya, tinggal tunggu momen badassnya bangkit.. hehehe../Grin/
nadya_hime
Keputusan tepat Rum, 1x kesempatan Reghan dulu, ke 2 adalah batasannaya, saat batasan itu dilanggar tentukan sikap, jika kau bertahan kau akan hancur lebih parah, pergi maka kau menyelamatkan dirimu dg kewarasan.
Plis jangan ketemu terlalu cepat walau bukti sudah terbuka didepan mata & smuanya tau kebenaran sebenarnya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!