NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Pagi harinya, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit mendung menggelayut rendah, dan rintik hujan mulai membasahi aspal ibu kota saat mobil yang membawa Ayyan dan Namira melaju menuju tempat seblak legendaris yang dijanjikan.

Namira sibuk bersenandung kecil, memeluk kantong plastik berisi camilan untuk di pesawat nanti sore. Sementara Ayyan fokus mengemudi, sesekali melirik Namira melalui spion tengah dengan senyum tipis.

"Mas, nanti kalau udah sampai di pesantren, aku mau bagi-bagi seblak kering ini ke santriwati ya? Biar mereka tahu rasa seblak Jakarta itu pedasnya beda!" cerocos Namira riang.

"Boleh, asal jangan bikin mereka sakit perut massal. Nanti Mas yang repot lari-lari cari obat," sahut Ayyan tenang.

Tepat saat mereka berada di sebuah persimpangan besar dekat lampu merah, suasana berubah dalam sekejap. Dari arah samping, sebuah truk besar bermuatan berat melaju kencang, tampak kehilangan kendali karena rem blong di jalanan yang licin.

"Mas! Itu truknya...!" teriak Namira histeris saat melihat raksasa besi itu meluncur ke arah pintu penumpang—tepat ke arahnya.

Ayyan tidak punya waktu untuk berpikir. Refleksnya sebagai pelindung bekerja lebih cepat dari rasa takutnya. Dengan banting setir yang sangat ekstrem, ia memutar posisi mobil agar sisi pengemudi—sisi tempat duduknya—yang menerima hantaman keras dari truk tersebut, demi menjauhkan Namira dari titik benturan.

BRAAAKKK!!!

Suara logam beradu hebat memekakkan telinga. Mobil itu terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti dalam kondisi ringsek parah di bagian depan kanan.

Hening. Asap putih mengepul dari kap mobil yang hancur.

Namira terbatuk, kepalanya pening luar biasa karena benturan ringan di kaca samping, tapi ia masih sadar. Dengan tangan gemetar, ia menoleh ke arah kursi pengemudi.

"Mas... Mas Ayyan?" panggilnya dengan suara serak.

Jantung Namira rasanya berhenti berdetak. Ayyan terkulai lemas di atas kemudi yang sudah mengeluarkan kantung udara (airbag).

Darah segar mengalir dari pelipisnya, membasahi baju koko putih yang kini berubah warna menjadi merah pekat.

"Mas! Mas Ayyan bangun! Jangan bercanda Mas!" Namira berteriak histeris, berusaha menggapai tangan Ayyan yang terkulai. Ia mencoba membuka pintu mobil, tapi pintunya macet total karena ringsek.

Orang-orang di sekitar mulai berlarian menolong. Suara sirine ambulans terdengar di kejauhan, tapi bagi Namira, suara itu terasa sangat jauh. Ia hanya fokus pada wajah pucat Ayyan yang tidak memberikan respon sedikit pun.

"Tolong! Tolong suami saya!" jerit Namira sambil terisak hebat.

Rumah Sakit Pusat Jakarta

Namira duduk di kursi tunggu depan ruang IGD dengan baju yang masih menyisakan noda darah suaminya. Tubuhnya gemetar hebat, matanya sembab, dan kedua tangannya terus bertautan melakukan doa yang tidak terputus.

Bunda dan Ayah Namira yang sudah sampai lebih dulu langsung memeluk putri mereka.

"Bunda... Mas Ayyan, Bun... dia sengaja banting setir buat jagain aku," isak Namira di pelukan Bundanya. "Harusnya aku yang kena, Bun. Harusnya bukan Mas Ayyan."

"Ssst... istighfar, Nak. Mas Ayyan itu imam yang kuat. Dia pasti selamat," bisik Bunda sambil menangis.

Tak lama kemudian, pintu IGD terbuka. Dokter keluar dengan wajah yang sangat lelah. Namira langsung berdiri, hampir tersandung kakinya sendiri.

"Dokter, gimana suami saya?!"

Dokter menghela napas panjang. "Gus Ayyan mengalami benturan hebat di bagian dada dan kepala. Tulang rusuknya ada yang patah dan menyebabkan pendarahan internal. Saat ini beliau dalam kondisi kritis dan harus segera dipindahkan ke ruang ICU."

Dunia Namira terasa runtuh. Ia terjatuh lemas ke lantai rumah sakit. Pria yang biasanya berdiri tegak melindunginya, pria yang baru saja ia ajak bercanda soal seblak, kini sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.

"Mas Ayyan... bangun Mas. Katanya mau nungguin aku hafal Jurumiyah sampai selesai..." gumam Namira perih, suaranya nyaris hilang ditelan kesedihan.

Lantai rumah sakit yang dingin terasa seolah menyedot seluruh energi dari tubuh Namira. Pandangannya mulai kabur, suara hiruk-pikuk di koridor rumah sakit perlahan berubah menjadi dengungan yang jauh dan tak jelas.

Bayangan Ayyan yang tersenyum tipis sambil memegang senter untuk kontennya semalam terus berputar-putar di kepalanya.

"Mas... jangan tinggalin aku sendirian..."

Suara Namira semakin mengecil. Kepalanya terasa sangat berat, dan oksigen di sekitarnya seolah menipis. Saat perawat mendorong ranjang Ayyan keluar dari IGD menuju ruang ICU—memperlihatkan sekilas tubuh suaminya yang dipenuhi kabel dan alat bantu napas—pertahanan Namira runtuh sepenuhnya.

"Mas Ayyan!"

Tubuh Namira ambruk. Sebelum kepalanya menyentuh lantai, Ayah Namira dengan sigap menangkapnya. Namira pingsan dalam keadaan air mata masih mengalir di sudut matanya, tak sanggup menahan kenyataan bahwa belahan jiwanya kini berada di ambang maut.

Tiga Hari Kemudian – Ruang Tunggu ICU

Namira terbangun di ruang perawatan biasa beberapa jam setelah pingsan, namun ia menolak untuk tinggal di sana. Sejak saat itu, ia hampir tidak pernah meninggalkan bangku di depan ruang ICU. Matanya yang dulu selalu berbinar jahil, kini terlihat redup dan bengkak.

Umi Fatimah dan Abah Kyai sudah tiba dari Jawa Timur. Melihat menantunya yang biasanya ceria kini menjadi pendiam dan terus memeluk mushaf Al-Qur'an kecil milik Ayyan, hati Umi Fatimah hancur.

"Mira, makan sedikit ya, Sayang? Nanti kamu sakit," bujuk Umi sambil mengusap punggung Namira.

Namira hanya menggeleng lemah tanpa melepaskan pandangannya dari pintu kaca ICU.

"Aku belum lapar, Mi. Aku baru mau makan kalau Mas Ayyan sudah bangun dan minta seblak buatan aku, walaupun nanti dia bakal ngomel karena pedas."

Abah Kyai duduk di samping Namira, suaranya tetap tenang meski guratan kesedihan terlihat jelas. "Mira, Ayyan itu pejuang. Dia sedang berjuang di dalam sana. Tugas kita di luar sini adalah menjadi 'pasokan' energinya lewat doa. Jangan putus asa dari rahmat Allah."

Namira menunduk, air matanya jatuh tepat di atas sampul mushaf. "Abah... Mas Ayyan koma karena aku. Dia sengaja banting setir supaya sisi dia yang kena hantaman truk itu. Dia menyelamatkan aku dengan nyawanya sendiri."

"Itulah cinta seorang imam, Mira," ucap Abah lembut. "Sekarang, tunjukkan pada Ayyan kalau makmumnya ini juga kuat. Dia pasti sedih kalau melihat kamu seperti ini."

Namira terdiam lama. Ia kemudian menghapus air matanya dengan ujung khimarnya. Ia teringat janji Ayyan: belajar bareng-bareng. Ia teringat syarat Ayyan: hafal kitab.

Pelan-pelan, Namira membuka kitab Jurumiyah kecil yang selalu ia bawa. Dengan suara bergetar dan parau, ia mulai merapal hafalannya di depan pintu ICU. Ia tidak lagi peduli pada orang yang lalu lalang. Ia hanya ingin suaranya sampai ke telinga Ayyan yang sedang tertidur lelap di dalam sana.

"Al-Kalamu huwa al-lafzhu al-murakkabu al-mufidu bi al-wadh'i..."

Namira membacanya terus-menerus. Setiap kali ia mulai terisak, ia berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu melanjutkannya lagi. Ia menghafal seolah-olah setiap kata yang ia ucapkan adalah obat untuk luka-luka suaminya.

Malam keempat, seorang perawat keluar dari ruang ICU dengan langkah tergesa-gesa. Namira langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

"Keluarga Gus Ayyan?"

"Saya istrinya, Sus! Ada apa dengan suami saya?!" tanya Namira panik.

"Ada respon dari pasien. Detak jantungnya sempat tidak stabil, tapi saat ini Gus Ayyan mulai menggerakkan jemarinya. Beliau terus menggumamkan sebuah nama... sepertinya nama Anda."

Namira hampir jatuh terduduk lagi, tapi kali ini karena rasa syukur. "Mas Ayyan..."

"Dokter mengizinkan satu orang masuk untuk memancing kesadarannya. Silakan pakai baju pelindungnya, Ning."

Namira masuk ke dalam ruangan yang dingin dan penuh bunyi mesin itu. Ia melihat Ayyan yang tampak sangat rapuh. Ia meraih tangan Ayyan yang dingin, menempelkannya ke pipinya yang basah.

"Mas... ini aku, Namira. Aku udah hafal bab selanjutnya, Mas. Aku udah nggak berisik lagi, aku udah jadi Ning yang penurut. Bangun ya, Mas? Aku janji nggak bakal minta martabak tiap hari lagi, asal Mas bangun..."

Tiba-tiba, jemari Ayyan bergerak pelan di dalam genggaman Namira. Bibirnya yang pucat bergerak sangat tipis, nyaris tak terdengar.

"Na... mi... ra..."

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!