“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”
Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.
Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.
Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.
Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.
Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPMM6
Aldrick baru saja tiba. Dia meletakkan barang belanjaannya di atas meja ruang tamu, lalu mengambil sebotol air larutan penyegar. Kemudian membawanya menuju ke kamar.
Botol air yang sudah terbuka, disodorkannya pada sang istri. “Di minum dulu, Dek,” ucapnya. Namun, tatapan tajam dari Melodi membuat dirinya tertegun.
Melodi menatap Aldrick tajam dan dalam. Ia ingin melontarkan semua pertanyaan yang selama ini menghantuinya, tapi lidahnya terasa berat. Apa aku benar-benar siap untuk tahu jawabannya? pikirnya. Tapi bagian lain di dalam dirinya berteriak: Kamu harus tahu. Kamu berhak tahu.
“Kamu selingkuh?” kata Melodi akhirnya. Suaranya pelan, tapi tegas. Tatapannya menusuk.
Aldrick tersentak. Nyaris botol dalam genggaman nya terjatuh. “Apa?” tanyanya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Budeg? Kamu dengar apa yang aku bilang!” ujar Melodi, lebih keras kali ini. “Aku tanya, kamu selingkuh, ‘kan?!”
Aldrick meletakkan botol ke atas nakas dengan hati-hati. Ia menatap Melodi dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Kamu dapat pikiran dari mana?”
Melodi tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya.
“Rambut, noda lipstick, aroma parfum wanita. Dan ... anting di dalam tas kerja ....” Katanya dengan nada dingin, sambil melempar anting yang ia temukan ke dada Aldrick. Dan dengan gesit Aldrick menangkap benda berhias permata merah itu.
“Aku mungkin masih bisa bertahan dengan sikap dingin mu yang tanpa sebab itu, Mas. Tapi ... untuk diselingkuhi? Sorry, aku nggak bisa hidup sama pengkhianat!” Melodi berlalu sambil menabrak lengan si pria berwajah datar.
Aldrick meraih tangan Melodi, menggenggam erat jemarinya. “Mel, kamu salah paham.”
Melodi menoleh, menatap sengit. “Aku? Salah paham?”
Aldrick mengangguk. “Anting itu milik Karin, Dek. Kema—”
“Karin lagi, Karin lagi! Sebegitu terpesonanya kamu sama wanita liar itu?! Sampai antingnya pun kamu tau!” Melodi menarik kasar jemarinya. Namun, genggaman Aldrick jauh lebih kuat. Dia benar-benar takut kehilangan Melodi.
“Dengerin dulu, Dek,” mohon Aldrick. “Antingnya Karin jatuh di sekitar ruangan kerja ku, dia minta tolong cariin. Aku jumpa anting itu waktu mau beres-beres pulang kerja. Mau langsung ngasih ke orangnya, tapi, ternyata Karin udah pulang. Waktu aku hubungi, Karin bilang di bawa pulang saja dulu, besok baru kasih langsung ke dia. Kamu salah paham, Dek.” Suara Aldrick begitu lembut, berusaha untuk menenangkan. Tetapi, Melodi malah tertawa sumbang.
Melodi mendengus. Ia merasa darahnya mendidih. “Aku yang salah paham atau kamu yang salah bersikap selama ini, Mas?” Telunjuknya mengacung tepat di depan wajah Aldrick. Membuat pria itu membeku di tempat.
“Sekarang, lepasin tangan aku! Kamu mau nyakitin aku lebih—lebih lagi?!” Melodi menatap genggaman Aldrick yang semakin erat, begitupun Aldrick.
Sedetik kemudian, genggaman yang tak jauh beda dengan cengkraman itu pun terlepas. Aldrick gelisah, wajahnya pias. Firasatnya terlalu buruk.
Melodi berjalan menuju lemari, menggeser pintu lemari besi dan mengeluarkan beberapa pakaiannya. Kemudian, dia menarik koper yang bersandar di sisi ranjang. Melihat itu, Aldrick melangkah cepat ke arahnya. Degup jantungnya tak menentu.
“Kamu mau ke mana, Dek?!” tanya Aldrick. Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya, seperti ada sesuatu yang menahan di tenggorokannya.
Melodi tak langsung menjawab, ia menatap Aldrick. Tapi, tatapannya tidak goyah. “Pergi dari rumah ini.”
“Ke mana?!” Aldrick semakin gelisah.
“Ke mana aja. Aku butuh nenangin diri sebelum ngambil keputusan yang tepat!”
“Keputusan? —Keputusan apa?” jantung Aldrick semakin berdebar.
“Kamu nggak sebodoh itu sampai nggak tau maksud dari perkataan ku, Mas.” Sinis Melodi sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper satu per satu.
Aldrick mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia seperti sedang mencoba menenangkan dirinya. “Kamu mau pergi ke mana malam-malam begini?”
Melodi tertawa sinis. “Kenapa? Mentang-mentang aku udah sebatang kara, nggak punya orang tua, jadi kamu kira nggak ada yang mau nampung aku?”
“Ya, Allah.” Aldrick menatap Melodi dengan tajam. “Kamu kok ngelantur kemana-mana ngomongnya, Dek?”
Melodi tidak menjawab, wanita itu memilih untuk membuka laci nakas. Kemudian menyambar tiga lembar foto USG di dalam sana dan memasukkannya ke dalam koper.
Melihat foto USG itu, Aldrick tertegun dan mematung di tempat. Hatinya patah kembali. Ia menatap Melodi dengan sorot mata yang berubah. Ada sesuatu di sana—rasa bersalah, mungkin, tapi terlambat untuk diungkapkan.
“Kita dulu sering makan malam sambil ngobrol. Nggak ada HP, nggak ada laptop. Kita cuma berdua, saling cerita tentang hari kita,” kata Melodi tiba-tiba, suaranya mulai bergetar. “Tapi sekarang, aku bahkan nggak tahu apa yang ada di pikiran kamu. Kamu duduk di depan aku, tapi rasanya kayak kamu ada di dunia lain. Dan sekarang? Harus ditambah dengan dugaan-dugaan buruk lainnya. Maaf, —aku nggak sanggup.”
Aldrick menunduk, tidak menjawab. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya suara hujan di luar jendela yang terdengar, seperti irama pelan yang mengiringi hati mereka yang hancur.
Melodi akhirnya menggenggam mantap gagang kopernya. Ia menatap Aldrick dengan mata yang basah, tapi, sorotnya tegas. Melodi tahu, pria itu sedang berpikir keras. Tapi, hal itu justru membuat hatinya semakin perih. Sudah begitu lama ia menunggu Aldrick memikirkan hubungan mereka, tapi, baru sekarang lelaki itu tampak benar-benar terguncang.
Melodi menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan dirinya. Keputusan ini sudah bulat. Ia tak bisa terus bertahan di rumah ini, di antara tembok yang dingin dan tatapan Aldrick yang semakin tak bisa ia pahami.
Aldrick menatapnya, mencoba mencari jejak emosi di wajah sang istri. Namun, seperti biasa, berujung ia tak tahu harus berbuat apa.
“Kamu nggak perlu khawatir, aku nginap di rumah Nadia,” ujar Melodi.
Aldrick ingin menjawab, ingin mencegah. Namun, ia takut salah bicara. Dan sekali lagi, Aldrick memilih diam sejenak agar tak semakin memperkeruh suasana. Namun, tindakannya semakin membuat Melodi terluka.
“Berapa lama?” tanya Aldrick akhirnya, meski pertanyaan itu terasa seperti pisau yang menusuk dirinya sendiri dan juga Melodi.
Wanita berwajah pucat itu mengangkat bahu kecil. "Aku nggak tau, aku cuma ... butuh waktu buat mikir. —Mungkin, aku akan kembali kalau udah bisa nentuin keputusan yang tepat ...,” lirihnya.
Hening lagi. Hanya suara hujan yang terdengar, mengisi ruang yang semakin terasa sesak. Aldrick ingin berkata sesuatu, apapun yang bisa membuat Melodi tetap tinggal. Tapi, lidahnya terasa kelu.
Melodi mulai melangkah ke arah pintu, tapi sebelum ia sempat keluar, suara Aldrick menghentikannya.
“Melodi,” panggil Aldrick. Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Melodi berhenti, tapi ia tidak berbalik. "Apa?" tanyanya, suaranya dingin.
Aldrick menggigit bibirnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Tapi ia tahu, apapun yang ia katakan sekarang mungkin tidak akan cukup.
“Jangan terlalu lama,” katanya akhirnya.
Melodi menutup matanya rapat-rapat. Ia berharap Aldrick mengatakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa membuatnya berubah pikiran. Tapi, itu tidak terjadi.
“Aku nggak janji.” Jawabnya, sebelum melangkah keluar. Susah payah ia menelan getir seorang diri.
*
*
*
bagus banget.
Aku setiap baca 😭🤣😭🤣😭🤣😭
Sukses terus kak othor/Determined/
,, penyesalan,, membuat sesak di
di dada, dalam penyesalan hanya
dua kata sering di ucapkan,
,, andaikan dan misalkan,, dua
kata ini tambah penyesalan.
thanks mbak 💪 💪