~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 - Pedang dan Rahasia yang Terjaga
...----------------...
Dini hari masih membalut desa dalam keheningan. Udara dingin menusuk, membuat napas siapa pun yang bergerak di luar mengepul seperti asap tipis.
Salju tipis yang turun semalam menutupi jalan setapak yang mengarah keluar desa, membuat setiap pijakan terasa lebih lembut namun licin.
Sora berjalan di belakang ayahnya dengan penuh semangat, meski hawa dingin menggigit kulitnya. Hari ini adalah hari pertama pelatihannya yang sesungguhnya. Ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Di punggung Abirama, sebilah katana terselip di antara jubahnya, dibalut dan diikat bersama dengan satu pedang kayu. Sebuah benda yang biasanya tidak pernah terlihat di desa yang damai ini.
Mereka baru saja melewati rumah-rumah penduduk ketika suara hiruk-pikuk terdengar dari arah pasar. Beberapa pedagang mulai bersiap, menata barang dagangan mereka meski matahari masih enggan menampakkan dirinya sepenuhnya.
Di antara kesibukan itu, sepasang mata biru jernih menangkap keberadaan mereka.
“Sora?”
Suara itu terdengar ceria dan penuh rasa ingin tahu.
Sora menoleh dan mendapati Liliane berdiri tidak jauh dari sana, mengenakan mantel bulu tebal dengan kerah tinggi. Rambut pirangnya yang terurai tampak bercahaya di bawah cahaya fajar.
Di sampingnya, orang tuanya tengah sibuk mengatur barang dagangan mereka, sementara dua orang pengawal berdiri tidak jauh, mengawasi dengan penuh kewaspadaan.
Sora mengerjapkan mata. Ia tidak menyangka akan bertemu Liliane sepagi ini.
Liliane menghampirinya dengan langkah ringan, ekspresi wajahnya penuh keingintahuan.
“Kau mau pergi ke mana pagi-pagi begini?” tanyanya.
Sora sedikit terdiam, lalu melirik Abirama. Ayahnya tetap tenang, tapi ia bisa merasakan bahwa Ayahnya tidak ingin percakapan ini berlangsung terlalu lama.
Sora menggaruk kepalanya. “Hanya keluar sebentar…”
Liliane menyipitkan mata. “Kenapa harus sepagi ini?”
“Karena… aku punya urusan penting.”
Liliane memiringkan kepalanya. “Apa itu?”
Sora tersenyum kecil. “Rahasia.”
Liliane mendengus pelan, lalu menyilangkan tangan di depan dadanya. “Kau menyebalkan.”
Sora hanya tertawa kecil. Namun, sebelum mereka bisa berbicara lebih lanjut, salah satu pengawal keluarga Liliane melangkah maju.
Matanya yang tajam memperhatikan sosok Abirama.
Atau lebih tepatnya, pedang yang diselipkan di punggungnya.
Abirama tetap tenang, seolah tidak menyadari tatapan itu. Namun, Sora tahu, ayahnya sepenuhnya waspada.
Pengawal itu—seorang pria paruh baya dengan janggut pendek dan tubuh berotot—memiringkan kepalanya sedikit.
“Tuan,” katanya dengan suara ramah, meski ada nada kehati-hatian di dalamnya. “Saya perhatikan Anda membawa senjata sungguhan.”
Abirama berhenti sejenak, lalu menoleh perlahan. Ekspresinya tetap datar, nyaris tak terbaca.
“Hanya sebuah pedang tua,” jawabnya santai. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Sang pengawal tersenyum tipis, tapi sorot matanya tetap tajam.
“Maafkan saya,” katanya. “Sebagai seorang pengawal, sudah tugas saya untuk memperhatikan hal-hal semacam ini.”
Abirama mengangguk kecil. “Wajar.”
Sora menelan ludah. Ia bisa merasakan ketegangan tipis di udara.
Sementara itu, Liliane menatap pengawalnya dengan ekspresi bingung.
“Ada apa?” tanyanya.
Pengawal itu hanya menggeleng. “Bukan apa-apa, Nona. Hanya percakapan biasa.”
Liliane menatap Sora lagi, lalu kembali ke Abirama. Kemudian, dengan bahunya yang kecil terangkat, ia memutuskan untuk mengabaikan suasana aneh ini.
“Baiklah, kalau kau tak mau memberitahuku ke mana kau pergi, setidaknya pastikan kau tidak menghilang terlalu lama.”
Sora mengangkat alis. “Kenapa?”
Liliane menjawab santai, “Karena aku butuh seseorang untuk menemani jalan-jalan.”
Sora terkekeh. “Jadi aku ini pengawal pribadimu sekarang?”
“Bisa dibilang begitu.” Liliane tersenyum lebar.
Sebelum percakapan bisa berlanjut, Abirama meletakkan tangan di bahu Sora.
“Kita harus pergi,” katanya singkat.
Sora mengangguk. “Baik, Ayah.”
Ia menoleh kembali ke Liliane. “Sampai nanti.”
Liliane hanya mengangguk kecil, sementara Sora dan Abirama mulai melangkah menjauh.
Namun, saat mereka bergerak, Sora bisa merasakan tatapan pengawal tadi tetap mengawasi mereka.
Bukan dengan niat buruk, tapi dengan kewaspadaan.
Sora tidak tahu pasti apa yang ada dalam pikiran pria itu, tapi satu hal yang jelas—kehadiran Abirama dengan pedangnya telah menarik perhatian lebih dari yang mereka inginkan.
Dan itu mungkin akan menjadi masalah di kemudian hari.
......................
Sora berjalan di samping Abirama, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. Ia tidak bisa mengabaikan rasa penasaran yang menggelitiknya sejak tadi.
Setelah melihat bagaimana pengawal keluarga Liliane bereaksi terhadap pedang ayahnya, ia semakin sadar akan sesuatu—di desa ini, tidak pernah sekalipun ia melihat seseorang membawa senjata seperti ayahnya.
Ia akhirnya membuka suara.
"Ayah," panggilnya pelan.
"Hm?" Abirama tetap berjalan tanpa menoleh.
"Kenapa di desa ini tidak ada yang membawa pedang?"
Abirama tetap diam selama beberapa saat, seakan mempertimbangkan jawabannya. "Karena desa ini bukan tempat untuk bertarung," akhirnya ia berkata.
Sora mengerutkan dahi. "Tapi bukankah di tempat lain... orang yang kuat akan selalu ada? Bahkan jika ini hanya desa kecil, pasti ada seseorang yang bisa disebut sebagai pendekar, kan?"
Abirama menghela napas, kali ini ia benar-benar berhenti melangkah dan menatap anaknya. Matanya tajam, namun tidak menunjukkan kemarahan—hanya kelelahan dari seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan kebenaran untuk dirinya sendiri.
"Sora," katanya, suaranya rendah namun penuh makna. "Kau benar. Bahkan di tempat sekecil ini, pasti ada orang yang memiliki pengalaman bertarung. Tapi ingat ini baik-baik... Tidak semua orang yang bisa bertarung ingin menjadi pendekar. Dan tidak semua pendekar ingin menunjukkan siapa dirinya."
Sora menatap ayahnya, mencerna kata-kata itu. Ia berpikir sejenak sebelum bertanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih ragu.
"Kalau begitu... apakah mereka tahu bahwa Ayah adalah seorang pendekar?"
Abirama tidak langsung menjawab. Ia memandang lurus ke depan, ke jalan setapak yang mulai membawa mereka keluar dari desa. Angin dingin musim dingin berhembus lembut, membuat jubahnya berkibar sedikit.
"Tidak," katanya akhirnya. "Setidaknya, tidak secara langsung."
Sora mengernyit. "Maksud Ayah?"
Abirama melanjutkan langkahnya kembali, kali ini lebih pelan. "Kepala desa mungkin mencurigai sesuatu. Beberapa orang tua di desa mungkin juga merasakan sesuatu yang berbeda dari ayah. Tapi mereka tidak pernah bertanya, dan ayah tidak pernah memberi mereka alasan untuk bertanya lebih jauh."
Sora masih tidak puas. "Kenapa mereka tidak bertanya?"
Abirama tersenyum tipis, meski tatapannya tetap serius. "Karena manusia lebih suka menerima kenyamanan daripada mencari kebenaran."
Sora tidak mengerti sepenuhnya, tapi ia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di balik kata-kata itu.
"Dan..." Abirama melanjutkan, "karena ayah tidak pernah menunjukkan kekuatan ayah. Jika ayah tidak mengangkat pedang ayah, maka bagi mereka, ayah hanyalah seorang pria biasa yang membawa beban masa lalu."
Sora menundukkan kepala, pikirannya berkecamuk.
"Jadi, aku juga harus melakukan hal yang sama?" tanyanya pelan.
Abirama menatapnya. "Untuk saat ini... ya."
Sora menggigit bibirnya. Ia tidak suka harus menyembunyikan sesuatu, apalagi tentang dirinya sendiri. Namun, ia juga tahu bahwa ayahnya tidak akan mengatakan ini jika tidak ada alasannya.
Akhirnya, ia menghela napas dan mengangguk. "Baiklah."
Abirama menepuk bahunya. "Bagus. Sekarang, mari kita pergi berlatih."
Mereka berdua pun meninggalkan desa, melangkah ke tempat di mana rahasia mereka masih bisa tetap tersembunyi.