Rasa kecewa bisa membuat orang berubah, itulah yang dialami oleh gadis bernama Karin. Kecewa pada keadaan dan keluarganya membuatnya memendam kemarahan dan melampiaskannya pada jalan hidupnya sendiri.
Bukan hanya Karin sendiri yang mengalami itu, namun juga ada beberapa orang yang hidup berdampingan dengannya, yang memilih jalan yang sama.
Tapi, akankah seterusnya jalan yang ia tempuh berlalu seperti itu?
Karin : Aku hanya manusia biasa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuya hafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jujur dan Pergi
"Aku harap kamu mengerti dengan hubungan kami. Kami tidak memaksamu untuk menerima kami seperti sebelumnya. Tapi kami berharap, kamu masih bisa menjadi teman kami." Ucapan Karin sore itu rasanya masih terngiang-ngiang di telinga Rika.
"Kami saling mencintai, jadi aku harap kamu tidak memaksa kami untuk berpisah," ucap Karin sambil menggenggam erat tangan Andara.
Rika tersenyum, senyum yang Karin dan Andara fahami bahwa senyuman itu adalah senyuman untuk menutupi kesedihan. Bibir Rika bergetar saat ia ingin memulai ucapannya.
"Aku tidak akan memaksa kalian. Tapi aku tidak ingin munafik. Aku juga berharap dan ingin melihat kalian mencintai seorang laki-laki. Tapi kalian jangan menganggap bahwa aku membenci kalian karena jalan yang kalian pilih ini. Kalian juga pasti mengerti kan dengan harapan ku ini? Aku ingin selalu menjadi sahabat kalian. Tapi maaf, aku tidak bisa menghilangkan harapanku untuk perubahan kalian. Apa kalian masih bisa menerima ku?"
Andara dan Karin saling memandang satu sama lain. Lalu Andara mengangguk pelan seolah mereka sudah melakukan telepati. Karin menatap Rika yang masih setia dengan senyuman nya. "Kita akan selalu menjadi sahabat. Terima kasih karena kamu telah menerima kami. Aku juga mengerti dengan keinginan mu. Tapi aku minta maaf karena kita tidak bisa sejalan dengan hal itu. "
Rika mengangguk. "Baiklah. Lagipula, tidak ada yang tau Tuhan berencana seperti apa atas diri kita."
Perkataan Rika sukses membuat hati kecil Andara dan Karin merasa tercubit. Rika seolah menyatakan bahwa suatu saat nanti semua bisa saja berubah. Perkataan itu juga menyadarkan mereka atas dosa yang mereka lakukan. Mereka sadar mereka telah melakukan hal yang salah, tapi keadaan saat ini tak bisa diubah begitu saja.
Mata Rika berkaca-kaca ketika mengingat hal itu. Matanya terus saja menatap wajah kedua sahabatnya yang diterangi oleh cahaya api unggun. "Sungguh aku berharap agar kalian bisa berubah. Bahkan jika ada seorang lelaki yang aku sukai dan lelaki itu malah menyukai salah satu dari kalian, aku rela melupakannya demi perubahan baik kalian. Aku sungguh menyayangi kalian. Semoga Tuhan mengabulkan permohonan ku ini," batin Rika.
Acara di tempat itu terus berlangsung hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Penghuni kost Putri saling mengingatkan satu sama lain untuk segera pulang ke kost. Mereka segera memberitahukan pada yang lain di sana karena mereka tak bisa lebih lama lagi berada di tempat itu.
Mereka sebisa mungkin ikut membersihkan sisa pembakaran dan juga merapikan kembali bekas api unggun. Mereka berhenti saat dirasa lahan itu lebih bersih dan hanya tersisa beberapa pekerjaan saja yang bisa diselesaikan oleh penghuni kost Putra dan beberapa warga di sana.
Tiba-tiba pak RT yang memang selalu ikut dalam mempersiapkan acara, memanggil para penghuni kost Putri sambil berbicara dengan seseorang di telepon."Iya,Bu. Mereka sudah mau pulang. Mereka barusan ikut merapikan kembali tempat ini. Mereka sudah jalan pulang sekarang."
"...."
"Ada sekitar empat belas orang,Bu. Memangnya mereka tidak ikut keluar semua?"
"...."
"Oh ya sudah kalau begitu. Mereka sudah pulang semua kok."
"...."
"Iya, sama-sama."
Ibu kost sudah menunggu mereka di depan gerbang. Melihat mereka satu persatu dengan tatapan yang ramah namun juga waspada. Mereka melewatinya sambil tersenyum dengan ramah. Ibu kost segera menutup pintu gerbang dan menguncinya. Menitipkan keamanan kost pada dua orang satpam di sana.
Berbeda dengan kost Putri, kost Putra memiliki aturan yang tidak terlalu ketat. Mereka bisa pulang lebih malam dan bisa keluar kapanpun saat malam, yang penting mereka pulang sebelum tengah malam.
Itu juga dikarenakan penghuni kost Putra banyak yang bekerja shift malam. Terlebih lagi penghuni kost Putra lebih bisa menjaga diri daripada para gadis yang tempat tinggalnya berdampingan dengan mereka.
.
.
.
Siang hari menjelang sore. Suasana di kost Putri tampak ramai, lebih ramai dari biasanya karena kebanyakan dari mereka berada di kost. Mereka tampak asyik berbincang di depan kost, duduk bersama di tempat duduk lebar yang sengaja dibuat untuk tempat mereka mengobrol bersama.
Hingga perhatian mereka teralihkan saat mereka melihat ada mobil yang asing bagi mereka, berhenti di depan kost Putra. Mereka penasaran, mobil siapa kah itu? Namun tidak ada satupun orang yang keluar dari mobil itu.
Sementara itu di kost Putra, seorang laki-laki sedang berpamitan pada teman-temannya. Pemuda itu adalah Roy. Roy tersenyum saat berpamitan pada teman sekamarnya. Pemuda itu tersenyum namun juga terlihat sedih.
Ditatapnya wajah Thanit yang seolah berat untuk membiarkan dia pergi. Kedua temannya melihat mereka namun tidak berkata apa-apa. Ryan sebenarnya faham dengan hubungan antara Roy dan Thanit. Namun pemuda itu lebih memilih untuk tidak ikut campur.
Berbeda dengan Joko yang seolah memiliki pikiran yang polos. Dia tidak memiliki pikiran aneh sama sekali saat melihat tatapan kedua temannya yang seolah ingin saling merengkuh itu. Pemuda itu dengan lantangnya meminta oleh-oleh pada Roy. Itu juga ia lakukan untuk memecahkan kecanggungan.Roy tersenyum pada mereka dan berjanji akan membawakan oleh-oleh untuk mereka.
Akhirnya Roy turun dari kostnya diikuti oleh Thanit di belakangnya. Sementara Joko dan Ryan hanya mengantarkan nya sampai ke lantai satu. Roy berpamitan juga pada beberapa penghuni kost Putra yang terlihat di sana. Mereka mendoakan agar perjalanan Roy lancar selancar lancarnya. Tak lupa mereka juga meminta oleh-oleh tapi dengan gaya bercanda.
Roy sampai di depan gerbang. Membuat pintu mobil yang terparkir di depan gerbang itu pun terbuka. Dari sana keluarlah seorang laki-laki yang merupakan asisten ayahnya. Pemuda itu sengaja menunggu di mobil atas permintaan Roy. Pemuda itu membungkuk hormat pada Roy. Roy menanggapi nya biasa saja.
Roy kembali menatap Thanit yang masih berdiri di belakang nya. Menatap pria itu dengan lekat. Roy memeluk kilas tubuh Thanit sambil berpamitan padanya.
"Aku pergi dulu, babe. Jaga dirimu baik-baik," ucapnya lirih.
Thanit tidak menjawabnya tapi malah menatap kepergian Roy dengan sendu. Terus dilihatnya mobil yang semakin menjauh itu. Hingga dia akhirnya mengakhiri kegiatan nya saat salah satu temannya memanggil nya. Thanit pun kembali ke kost.
Apa yang terjadi di depan gerbang itu tak luput dari perhatian penghuni kost Putri yang memang melihat semua itu secara langsung. Mereka saling memandang bingung dengan apa yang dilakukan oleh Thanit dan Roy. Tapi mereka juga penasaran, siapa kah yang menjemput Roy dan juga akan kemana perginya dia?
Mereka mengakhiri perdebatan mereka saat Andara turun bersama Karin dan juga Rika. Ketiga gadis itu menyita perhatian teman-temannya.
"Kalian mau pada kemana?" tanya salah satu dari mereka.
.
.
.
bersambung...
.
.
salam dari Yuya😘😘
kalo orang lain berubah jadi buruk karena perkataan seseorang, belum tentu seseorang itu mau bertanggung jawab
jijik atuh neng kalo dicolok mah
siapa nih yang suka ngeliatin kucing jantan berantem? 😂🙏