"Aku hamil" Tiara akhirnya mengatakan rahasia yang di tutupinya selama beberapa minggu ini pada atasan sekaligus kekasihnya, Rex Hamilton, setelah kegiatan panas Mereka berdua yang baru selesai beberapa menit lalu.
Rex yang tengah mengenakan kembali pakaian dalamnya, terdiam sejenak.
"Gugurkan" Ucap Pria itu datar, tanpa melirik Tiara sama sekali.
Rex memang seperti itu, sikapnya dingin dan datar pada siapapun, termasuk pada Tiara yang telah menjadi sekretaris sekaligus teman tidurnya selama 3 tahun terakhir.
"Aku ingin melahirkan anak ini"
Rex menatapnya tajam. Pria itu kemudian menghampiri Tiara dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.
"Hanya karena Kamu bisa naik ke ranjangku, bukan berarti Kamu bisa menjadi Nyonya Hamilton. Sadarlah dengan posisimu. Kamu hanyalah simpananku"
"Jika Kamu mau mempertahankan janin sialan itu, maka enyahlah dari hidupku. Tentukan pilihanmu"
"Aku akan mempertahankannya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Tidak Nyaman di Hati
Rex kembali ke Jakarta begitu selesai mengunjungi makam Zayn. Ia tampak sangat lesu dan kelelahan saat sampai di kediaman Hamilton.
Viona yang tengah menonton TV di temani dengan Jayden di pangkuannya agak terkejut melihat Rex yang pulang ke rumah ini hampir setiap hari. Meskipun Ia bisa menebak mungkin karena ada Tiara disini.
Viona dulu memang tidak menyukai Tiara karena asal-usul keluarganya yang tidak sebanding dengan keluarga Hamilton. Tapi, semenjak mengetahui tentang kenyataan yang di hadapi Tiara, tentang kematian bayinya yang ternyata adalah cucunya kini menimbulkan rasa tidak nyaman di hatinya. Apalagi Tiara sangat apatis terhadapnya meski Ia berusaha untuk sedikit dekat dengan wanita itu.
Contohnya saat ini, Dia sengaja meminta agar Jayden menemaninya menonton TV, berharap Tiara akan duduk bersamanya di ruang TV sambil mengawasi Jayden. Tapi, begitu menyerahkan Jayden padanya, Tiara langsung kabur ke dapur dan membantu pekerjaan Bi Surti.
Dia hanya akan datang jika di panggil.
"Hai Ma" Sapa Rex dengan lesu. Tumben Dia mau menyapa? Viona membatin.
Rex kemudian mengalihkan pandangannya pada Jayden yang tengah fokus melihat TV.
Bayangan makam Zayn kembali melintas di pikirannya. Apakah Zayn mirip dengan Jayden?
Orang-orang yang melihat Jayden selalu bilang bahwa Jayden sangat mirip dengannya, dan Rex tidak menyangkalnya.
Rex yang biasanya tidak perduli sama sekali pada anak itu tiba-tiba memiliki keinginan untuk menggendongnya. Tangannya terulur hendak menyentuh Jayden dan membuat Viona terkejut.
Plak!
Viona menampik tangan puteranya dengan wajah cemberut. "Kalau mau gendong Jayden, mandu dulu sana. Kamu baru pulang entah darimana, bawa banyak kuman tahu, nanti Jayden sakit, ya nak ya"
"Ck, lebay!" Rex pun mengurungkan niatnya untuk menggendong Jayden dan berbalik arah menuju kamarnya. Disaat itu tatapannya bertubrukan dengan mata Tiara yang tengah menuruni tangga.
Tidak sampai 3 detik, Tiara langsung menundukkan kepalanya setelah mengangguk hormat dan pergi ke dapur tanpa melirik keberadaannya lagi.
Rex terdiam sesaat dengan tatapan sendu. Tiara yang dulu sangat murah senyum dan wajahnya selalu penuh kehangatan, kini berubah dingin seperti bongkahan es. Dan Rex tidak bisa lagi marah karenanya. Sebab salah satu penyebab Tiara menjadi seperti itu adalah dirinya. Kematian anak Mereka berdua pasti menjadi pukulan yang sangat berat bagi Tiara. Hingga wanita itu sampai rela masuk kedalam keluarga Pria yang telah menghancurkan hidupnya untuk mendapatkan uang.
Kurang lebih Rex tahu alasan Tiara membutuhkan uang sebanyak itu. Dia pasti ingin membalas dendam, dan Rex sudah bersumpah akan membantu Tiara, meskipun Tiara pasti akan menolak bantuannya karena terlalu terlambat. Rex memutuskan untuk bertindak diam-diam. Setidaknya, jika sesuatu terjadi pada Tiara ataupun orang-orang yang membantunya, Rex siap mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindunginya. Bagaimanapun caranya. Dan mungkin saja, dengan begitu, suatu saat nanti Tiara akan bersedia memaafkannya?
***
"Tiara, besok Jayden harus di imunisasi, tapi Saya ada pekerjaan di luar kota seperti kemarin, jadi Kamu yang pergi ya, Rex tahu tempatnya, nanti Kamu pergi sama Rex ya?"
Tiara yang tengah berdiri sambil menggendong Jayden terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya. Rex yang tengah menikmati makan malamnya diam-diam tersenyum tipis. Setidaknya, Dia bisa pergi berdua dengan Tiara.
Viona mengangguk puas lalu berkata pada putranya " Jam 9 harus udah berangkat ya Rex, soalnya dokter anak langganan mama itu hanya praktek seminggu 3 kali, jadi bakalan ramai, Dia juga nggak peduli mau kamu punya status apa, Kamu bakalan tetep antri"
"Ya" Jawab Rex singkat tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun. Viona hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah itu Tiara naik ke atas untuk mengganti baju Jayden dengan pakaian tidur dan bersiap menidurkan bayi berusia 5 bulan itu.
"Sebulan lagi Kamu udah boleh makan MPASI, nanti sus Tia yang masakin buat Kamu ya, dulu Kakak Zayn paling suka masakan Sus Tia"
Ucap Tiara sambil menatap Jayden dengan datar. Setelah mengalami banyak hal sejak Zayn meninggal, Tiara sudah lupa bagaimana caranya tersenyum dan berekspresi. Dia tidak memiliki nafsu untuk melakukan hal itu.
Jayden yang masih membuka mata, memandangi wajah Tiara dengan matanya yang jernih dan bersinar. Tampak polos dan lugu.
Bayi ini seperti fotocopyan Zayn. Setidaknya, Tiara mencoba menghibur diri dan menganggap Dia kembali ke masa lalu untuk mengurus Zayn dengan lebih baik karena bisa menjaganya 24/7. Sementara saat bersama Zayn dulu, Tiara sering meninggalkannya bersama budhe Arni karena Tiara harus pergi bekerja.
"Tok tok" Tiara menoleh ke arah pintu. Tiba-tiba perasaannya tidak enak, takut kalau orang yang berada di balik pintu adalah Rex.
Sebenarnya, Dia tidak takut, hanya malas saja melihat wajah Pria itu.
Ceklek.
"Tia, ini Bibi lagi bikin wedang ronde, Kamu mau ndak?"
"Wah enak nih, makasih Bi Surti..." Ucap Tiara.
"Kamu ngomong wah tapi muka kamu kayak nggak ikhlas begitu loh ngomongnya..."
"Muka saya emang begini bi...."
"Oalah, ck ck, Kamu ini cuantik loh, banyak-banyakin senyum biar nggak cepet keriput karena cemberut terus"
"Aku nggak cemberut Bi Surti" Sanggah Tiara. Dia pun berusaha untuk menyunggingkan seulas senyum tapi yang terlihat di mata Bi Surti malah seperti seringaian sinis.
"Udahlah jangan dipaksa senyum, malah serem jadinya hihihi"
"Iih, bi Surti nyebelin deh"
"Ya udah ini dibawa masuk terus diminum dulu, mangkoknya nanti bawa turun kebawah kalo pas Kamu mau turun aja"
"Iya, makasih ya Bi..."
Bi Surti mengangguk lalu kembali ke bawah, sementara Tiara masuk ke kamarnya.
Jayden sudah bisa mengoceh dengan lancar dan lantang, Tiara cukup terhibur mendengarnya. Karena bayi itu tampak tenang dengan mainannya, Tiara memutuskan untuk menikmati wedang ronde yang hangat itu di pinggir jendela sambil menikmati cahaya bulan yang temaram.
Ternyata meski waktu berlalu dengan cepat, perasaan sakitnya belum juga hilang. Saat sendiri dalam kesunyian seperti ini, kenangan-kenangan pahit itu kembali bermunculan di otaknya, menimbulkan rasa sesak dan nyeri di hatinya.
"Zayn.... Mama kangen nak..." Entah sudah berapa lama Tiara tidak menangis. Ia selalu menahan diri dan mencoba untuk berdiri kokoh demi dendam yang ingin segera terbalaskan.
Tapi, setiap melihat wajah Jayden, hatinya yang telah hancur terasa seperti di remas-remas. Wajahnya, suaranya, tawanya, tangisnya, semuanya mengingatkan Tiara pada malaikat kecilnya yang pergi tanpa sempat merayakan ulang tahun pertamanya.
Anaknya yang ceria dan lincah, yang saat itu tubuhnya mendingin dalam pelukannya.
"Ma-ma..."
Deg
Deg
Deg
Jantung Tiara berdebar kencang hingga mangkok di tangannya hampir terjatuh.
Ia kemudian menoleh ke arah box bayi Jayden, dan sekali lagi mendengar "Ma-ma ma ma"
Tiara meletakkan mangkok itu diatas meja, kemudian, menghampiri Jayden yang ternyata benar tengah mengoceh kata-kata itu.
Melihat Tiara datang, bayi itu terkekeh riang, namun hati Tiara justru semakin hancur.
Wanita itu luruh ke lantai dan terduduk lesu dengan air mata yang tidak bisa berhenti.
Dibalik pintu, Rex menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan yang sama sakitnya.
Ini salahnya. Semua ini terjadi karena salahnya...
"Tiara...." bibirnya menyebutkan nama itu, dengan sebulir bening yang mengalir dari sudut matanya.
terima kasih ya,udh buat tia tegas dan tdk menye menye. suka dgn karakter tia yg sekarang.
jgn jatuh ke lubang yg sama dan jatuh cnta lgi dgn tirex,manusia kaku,egois,kasar dan mulut tajam dan tdk peka.
lgi an ya,gw heran ama lu rex,kaga ad jiwa kebapakan lu dah,sama jayden aj kaya kaga ad ikatan batin ,minimal dekat dan sayang. darah daging sndri . 😒😒