“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Matahari menyelinap pelan melalui celah tirai kamar. Ning membuka mata dengan perasaan asing—hangat, ringan, lalu mendadak malu. Tangannya meraba sisi ranjang. Kosong. Hanya ada bekas cekungan bantal dan aroma Yuda yang masih tertinggal. Ia duduk perlahan, menarik selimut hingga dada, pipinya memanas mengingat kejadian pagi ini.
“Mas…” gumamnya lirih, setengah senyum, setengah menunduk. "Hukuman macam apa ini?"
Di meja kecil dekat jendela, ponselnya bergetar. Pesan singkat masuk.
Mas berangkat dulu. Kamu tidur lagi aja. Jangan kebanyakan ngalamun. ❤️
Ning menghela napas, lega sekaligus kikuk. Di sisi ranjang kruknya sudah bersandar. Ia mengulas senyum, "Bahkan dia menyimpan di sini juga."
Ia bangkit, meraih kruk itu dan berjalan pelan ke kamar mandi. Air hangat mengalir, menenangkan. Di bawah guyuran itu, Ning memejamkan mata, membiarkan pikirannya bersih. Ia mematut diri di cermin—wajahnya masih sedikit memerah, tapi ada cahaya baru yang tak ia kenal sebelumnya. Senyum kecil lolos tanpa ia sadari.
"Eh? Apa ini?" gumamnya meraba leher dan bawah tulang belikatnya.
beberapa tanda kemerahan yang sempat Yuda buat. Ning ingat, rasa sesapan kuat di sana.
"Aahh, jadi begitu cara bikinnya..." gumamnya lagi. "Jadi tanda merah itu... Enggak digigit ya?" sambungnya lagi.
Ia pernah baca komik romantis dan tentang tanda merah di tubuh si wanita. Ning sudsh memerah lagi.
"Udah, ah. Tiap kepikiran semalam dan tadi pagi, jadi malu rasanya..." gumamnya sambil menyentuh pipi, "... tapi enak..."
Setelah rapi, Ning mengenakan gamis sederhana dan jilbab lembut. Ia meraih kruknya, melangkah mantap. Ada hari yang menunggu.
Rumi’s Salon belum ramai ketika Ning tiba. Bel pintu berdenting pelan. Aroma hairspray dan parfum lembut menyambutnya.
“Assalamualaikum, Bu Rumi,” sapa Ning.
“Waalaikumsalam. Eh, Ning. Agak siang hari ini,” jawab Rumi sambil tersenyum.
"Maaf, Bu Rumi." Ning jadi tak enak hati
“Nggak apa-apa. Klien kamu juga belum datang.”
Ning menghela napas lega. “Maaf ya, Bu. Ada sedikit… urusan.”
Rumi terkekeh ringan. “Santai. Kamu siap-siap aja.”
Ning mulai merias klien pertamanya—seorang perempuan muda dengan acara lamaran sederhana. Tangannya luwes, geraknya telaten. Foundation diratakan, mata diberi sentuhan hangat, bibir diberi warna lembut. Ketika selesai, klien itu menatap cermin lama, lalu tersenyum lebar.
“MasyaAllah… ini aku?” matanya berbinar.
Ning tersenyum. “Cantik. Tinggal senyumnya jangan ditahan.”
"Iya Mbak. Sampai pangling sama wajah sendiri."
Ning tersenyum lebih lebar.
"Ini... Halus banget sapuan make upnya. Enggak menor, tapi... Gimana ya... Aduh... Puas banget dah."
"Alhamdulillah kalau Mbak puas," jawab Ning lega.
Pujian mengalir, membuat Ning hangat. Rumi melirik dari jauh, mengangguk puas.
"Nah, benar kan? Kamu emang punya bakat di rias, Ning." Bu Rumi ikut memuji.
Bel pintu kembali berdenting. Kali ini, sosok yang masuk membuat Rumi tertegun.
“Mbak Anggun?” Rumi mendekat. “Ada perlu?”
"Ya mau rias dong." Anggun tersenyum lebar—lebih ramah dari biasanya. “Aku ada arisan siang ini. Mau dirias maksimal.”
"Oh aman itu, Mbak." Rumi mempersiapkan.
"Tapi, ya Rum. Aku enggak mau sama kamu. Aku mau sama Ning aja."
Rumi melirik Ning sekilas, lalu tertawa. “Idih, udah ketagihan sama Ning sampai enggak mau sama hasil adik sendiri,” candanya setengah mencibir, "lihat Ning. Kamu udah mulai geser posisiku loh."
"Enggak, Bu Rumi, Ning masih perlu banyak belajar," elak Ning merendah.
"Dih, malah merendah. Buruan, Rias Mama." Anggun berucap santai sambil duduk. Rumi agak aneh Anggun sampai sebut 'Mama'. Tapi, dia gak mau ambil pusing, ia anggap Anggun terlalu senang sampai menyebut diri 'Mama' pada Ning.
Ning mulai merias, Anggun beberapa kali mencuri pandang.
"Hmmm, dia cantik walau tanpa make up, kulitnya juga bersih. Anaknya juga ramah..." pikir Anggun. Ia mulai membuka percakapan.
"Kamu udah setahun ya ikut Rumi?"
"Iya, Bu. Kira-kira setahun."
"Itu... Bibirmu kenapa?"
"Eh?" Ning menyentuh bibirnya.
"Habis disengat lebah ya?"
Ning langsung memerah. "Hehe, iya, Bu. Lebah jantan."
Bu Anggun langsung tertawa ngakak. Rumi sampai kaget, lalu mengeleng.
Anggun mulai tanya macam-macam hal, mulai dari rumah Ning, keluarga, sampai kaki Ning yang pincang.
Rumi yang sibuk di meja lain sesekali melirik, heran.
“Oh, jadi kakimu ini karena kecelakaan dua tahun lalu ya?” tanya Anggun, nada suaranya lembut.
Ning tersenyum tipis. “Iya, Bu.”
“Kamu enggak dendam sama yang nabrak kamu?” Anggun mengangguk pelan.
Ning menunduk. “Udah berlalu lama, semua terjadi karena ada alasannya walau Ning belum tau apa. Memang Ning jadi tidak mudah, tapi semua memang udah takdir, Bu Anggun.”
Anggun menatap Ning lewat cermin. “Aku tanya kamu enggak dendam, Ning?”
Ning menunduk, "Enggak, Bu. Ning... udah iklas."
Gadis itu tersenyum, senyum yang membuat Anggun berdesir.
"Ehem, rumah yang itu... Rumah suami kamu?"
Ning mengangguk.
Rumi tersentak. “Apa? Suami? Kamu udah nikah, Ning?"
Ning menoleh, kikuk juga.
"Eh, iya, Bu Rumi."
"Ning, kamu kok nggak bilang apa-apa sama ibu?”
“Maaf, Bu. Mendadak. Enggak bikin acara apa-apa juga kok.”
"Mendadak? Emangnya enggak ngurus dulu?"
Ning menggeleng, "Ning nikah siri."
Rumi terdiam sejenak, “Diurus dong Ning. Jangan mau dinikah siri. Harus resmi, secara hukum negara. Kasian anak kalian nanti, ngurus sekolah juga susah.”
"Iya, Bu. Terima kasih. Tapi, Ning udah cukup."
"Ning..." Rumi sedikit cemas juga. Walau hanya atasan Ning, tapi Rumi peduli.
"Suami Ning, baik kok."
"Baik, baik di awal, karena memang dia ada mau. Gimana kalau dia suami orang atau laki enggak bener?"
"Eehhem!" tiba-tiba, Anggun berdeham keras. Agak jengkel juga dia anaknya disebut laki enggak bener.
"Kamu kenapa, Mbak?" tanya Rumi heran.
"Bu Anggun mau minum?" tawar Ning yang berpikir mungkin tenggorokan Anggun kering.
"Iya, nih. Mendadak kok kayak ada yang nyangkut."
"Ning ambilin minum, ya Bu." Ning ambil minum di dispenser.
Rumi terheran pada kakak iparnya ini, "Kenapa pula itu matanya kayak sebel. Enggak terima banget," pikirnya.
"Ini, Bu." Ning menyerahkan segelas air hangat pada Anggun.
"Makasih, ya Ning."
Anggun menatap hasil riasan di cermin, lalu tersenyum puas. “Bagus sekali. Aku suka. Kamu enggak ngecewain.”
Setelah pamit, Anggun pergi dengan wajah cerah. Rumi mendekat ke Ning.
"Ning, kamu pokoknya jangan main terima aja dinikah siri. Harus ajak dia ke KUA."
Ning hanya mengangguk sungkan dan tersenyum kecil. Baginya, Yuda sudah sangat baik, dia tak ingin menuntut lebih.
“Ngomong-ngomong, Ning. Siapa suamimu?” tanya Rumi penasaran.
Ning terkekeh kecil. “Tukang ojek, Bu. Dia baik kok.”
Rumi tertawa, menggeleng. “Kalau emang baik, dia enggak akan nikahin kamu secara siri, Ning.”
"Kemarin karena Ning harus pergi dari rumah itu, Bu. Ibuk telpon suami Ning, dan dia datang langsung nikahin Ning. Tidak ada waktu buat ngurus ke KUA."
Bu Rumi yang cukup paham kondisi Ning di rumah itu hanya menghela napas pelan. Lalu mengusap lengan Ning. "Paling tidak, kamu udah enggak di rumah itu lagi. Syukurlah."
Ning mengangguk, tersenyum lebih tulus.
"Tapi, walau begitu, kamu tetap harus urus ke KUA."
Ning tersenyum lebih lebar, ia sangat tau bu Rumi sangat perduli padanya. "Iya, Bu. Insya Allah."
Ponsel Ning bergetar. Nama Yuda muncul. Ning mengangkatnya.
“Mas?” suaranya lembut.
“Kamu di mana?” tanya Yuda.
“Di salon. Ada apa, Mas?”
“Nanti Mas jemput. Selesai jam berapa?”
“Nanti Ning kabari.”
Yuda mengiyakan. Ning menutup telepon dengan senyum.
Sore menjelang. Yuda berdiri di depan gedung kantor, menatap jam. Ning masih bekerja. Ia mengingat saat istrinya membersihkan kontrakan sendirian, hatinya tak tega. Ia berbelok arah, menuju rumah utama.
"Tumben kamu ingat pulang, Yud," sindir Anggun.
"Bukannya Mama yang suruh aku pulang."
"Mana Ning? Enggak kamu bawa skalian?" tanya Papa Deni dari belakang Yuda. Dia juga baru pulang kerja.
"Enggak masih kerja dia," jawab Yuda enteng.
"Masih pula kau suruh istrimu kerja, Yud. Kek Papa dong, istri nyantai di rumah."
"Papa mau Mama kerja?" tanya Anggun.
"Enggak," jawab Deni cepat.
"Yuda bakal suruh Ning di rumah juga nanti, Pah. Tapi... Sekarang ada hal yang mendesak."
"Apa?"
Yuda tersenyum, lalu duduk di ruang utama.
"Aku mau beberapa pelayan khusus."
Alis Deni dan Anggun terangkat, "Pelayan khusus?"