Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: MIMPI MULAI TERWUJUD
#
Kamis pagi. Dyon kembali ke sekolah setelah tiga hari diskors. Masuk gerbang dengan perasaan campur aduk. Seneng karena bisa balik, tapi juga nervous. Gimana reaksi teman teman? Gimana guru guru?
Ternyata...
"DYON!" Andra lari dari arah kantin, peluk Dyon kayak nggak ketemu setahun. "Lo balik! Akhirnya!"
"Iya, gue balik," Dyon ketawa.
"Eh, lo tau nggak? Sekolah jadi rame banget gara gara lo!" Andra excited. "Semua orang ngomongin lo lawan Edward! Lo jadi... jadi kayak pahlawan gitu!"
"Pahlawan?" Dyon bingung.
"Iya! Soalnya Edward itu dibenci banyak orang. Dia sering ngejek, nyiksa anak anak lain juga. Dan lo... lo yang akhirnya bisa ngalahin dia!" Andra nyengir. "Lo keren, Bro!"
Masuk kelas. Anak anak langsung tepuk tangan. Ada yang teriak "Dyon! Welcome back!", ada yang bilang "Lo keren banget, Bro!"
Dyon malu, senyum tipis, langsung duduk di bangku paling belakang.
Leonardo udah nunggu di sana. "Yo, champion," sapanya sambil salim.
"Gue bukan champion," Dyon ketawa kecil.
"Buat gue, lo champion," Leonardo senyum. "Dan gue... gue bangga punya sahabat kayak lo."
Bel masuk bunyi. Guru masuk. Pelajaran dimulai.
Tapi... Dyon ngerasa ada yang beda di dalam dirinya.
Dulu, dia sekolah cuma buat... ya sekolah aja. Nggak punya tujuan jelas. Cuma pengen lulus, terus... entahlah.
Tapi sekarang...
Sekarang dia punya tujuan.
Dia harus lulus dengan nilai bagus. Harus kuliah. Harus jadi arsitek.
Buat Ismi. Buat masa depan mereka.
Jadi... dia mulai belajar. Serius.
***
Dua minggu berlalu.
Dyon berubah total. Bangun pagi, sekolah, pulang sekolah langsung belajar. Nggak main main lagi. Nggak buang waktu.
Ismi sering nemenin dia belajar di perpustakaan. Mereka duduk di bangku pojok yang dulu jadi favorit mereka. Buka buku, kerjain soal soal, saling bantu jelasin materi yang nggak ngerti.
"Dyon, ini rumus fisika yang tadi dijelasin Pak Agus," kata Ismi sambil nunjukin catatannya yang rapi banget. "Kamu ngerti?"
Dyon ngeliatin catatan itu. Bingung. "Ehh... nggak terlalu."
"Oke, gini lho," Ismi jelasin pelan pelan, sabar. "Jadi rumusnya itu dipake buat..."
Dyon dengerin serius. Mata fokus. Otak nyoba nyerap semua penjelasan Ismi.
Setelah dijelasin, dia nyoba ngerjain soal sendiri. Eh... bisa!
"Bener nggak?" tanya Dyon ke Ismi.
Ismi ngecek. Senyum lebar. "Bener! Pinter!"
Dyon senyum bangga.
Selain Ismi, Leonardo juga bantu. Ternyata Leonardo pinter banget di matematika sama bahasa Inggris. Dia sering ngajarin Dyon sepulang sekolah.
"Ini soal matematika tingkat olimpiade," kata Leonardo sambil kasih kertas ke Dyon. "Coba kerjain. Gue mau liat sejauh mana kemampuan lo."
Dyon ngerjain. Susah banget. Otak kayak mau meledak.
Tapi... dia nggak nyerah. Terus coba. Coret coret. Coba lagi.
Lima belas menit kemudian... selesai.
Leonardo ngecek. Mata melebar. "Astaga, Yon. Lo... lo bisa ngerjain ini? Ini soal level tinggi lho!"
"Beneran?" Dyon nggak percaya.
"Iya! Lo pinter, Bro! Lo cuma kurang latihan aja. Kalau lo terus belajar kayak gini... lo bisa jadi juara kelas!" Leonardo excited.
Dyon senyum. Hati hangat.
*Mungkin... mungkin gue emang bisa.*
***
Satu bulan berlalu.
Ujian tengah semester. Dyon duduk di kelas dengan kertas soal di depannya. Deg degan. Ini ujian pertama setelah dia belajar serius.
*Semoga... semoga gue bisa.*
Mulai ngerjain. Soal pertama... bisa. Soal kedua... bisa juga. Soal ketiga... agak susah, tapi dia inget rumusnya yang diajarkan Ismi. Coba hitung... bisa!
Dua jam kemudian, selesai. Dyon kumpulin kertas jawaban ke guru.
Napas lega.
*Gue... gue udah kasih usaha terbaik gue.*
Seminggu kemudian, hasil ujian keluar.
Pak Agus, guru fisika, masuk kelas dengan setumpuk kertas. "Baik, anak anak. Ini hasil ujian kalian. Saya panggilkan satu satu."
Nama nama dipanggil. Ada yang senyum, ada yang cemberut.
"Dyon Syahputra," panggil Pak Agus.
Dyon maju, ambil kertasnya.
Lihat nilai.
85.
Delapan puluh lima!
Mata Dyon melebar. Nggak percaya.
"Bagus, Dyon," kata Pak Agus sambil senyum. "Nilai kamu naik drastis. Ujian sebelumnya cuma 45. Sekarang 85. Kamu belajar keras ya?"
"I... iya, Pak," jawab Dyon, masih shock.
"Pertahankan. Kamu bisa lebih bagus lagi," Pak Agus tepuk bahu Dyon.
Dyon balik ke bangku dengan senyum nggak bisa ilang. Andra langsung nyenggol.
"Berapa, Yon?"
"Delapan puluh lima."
"ASTAGA! SERIUS?!" Andra teriak. Anak anak pada nengok. "Gue cuma dapet 60, Bro! Lo keren banget!"
Leonardo dari depan noleh, senyum bangga. "Gue bilang juga kan? Lo pinter!"
Ismi yang duduk beberapa bangku di depan noleh juga, senyum manis. Dia angkat jempol, bangga.
Dyon senyum balik. Hati... penuh kebahagiaan.
*Gue bisa. Gue... gue beneran bisa.*
***
Dua bulan kemudian.
Ujian akhir semester. Hasilnya keluar.
Dyon... ranking 5 dari 40 siswa di kelasnya.
Ranking lima!
Dari yang dulu ranking paling bawah, sekarang jadi lima besar.
Guru guru pada kaget. Kepala sekolah denger kabar ini.
Suatu hari, Dyon dipanggil ke ruang kepala sekolah.
*Ada apa lagi?* Dyon nervous.
Masuk ruangan. Pak Budi duduk di kursi, senyum hangat.
"Duduk, Dyon," katanya.
Dyon duduk.
"Aku panggil kamu karena... karena aku mau kasih kamu sesuatu," kata Pak Budi sambil ngeluarin amplop dari laci meja.
"Apa ini, Pak?" tanya Dyon.
"Buka."
Dyon buka amplop. Isinya... surat.
Surat beasiswa.
"Beasiswa Prestasi Penuh dari sekolah," kata Pak Budi. "Kamu... kamu anak yang luar biasa, Dyon. Dari kondisi yang sulit, kamu bisa bangkit. Kamu buktikan kalau background nggak tentuin masa depan. Usaha... usaha yang tentuin."
Dyon nggak bisa ngomong. Tenggorokan kayak tersumbat.
"Beasiswa ini akan cover semua biaya sekolah kamu sampai lulus. SPP, buku, seragam, semuanya," lanjut Pak Budi. "Dan kalau kamu terus pertahankan prestasi, kamu juga akan dapat rekomendasi beasiswa kuliah dari sekolah."
Air mata Dyon jatuh. Nggak bisa ditahan lagi.
"Pak... ini... ini beneran?" suaranya gemetar.
"Beneran," Pak Budi senyum. "Kamu pantas dapat ini, Dyon. Kamu... kamu inspirasi buat banyak siswa di sini."
Dyon nangis. Keras. Kayak semua beban di pundaknya tiba tiba hilang.
"Terima kasih, Pak," katanya sambil nangis. "Terima kasih... terima kasih banyak..."
Pak Budi berdiri, jalan ke Dyon, tepuk bahunya. "Jangan kasih terima kasih ke saya. Kasih terima kasih ke diri kamu sendiri. Kamu yang kerja keras. Kamu yang pantang menyerah."
Dyon keluar ruangan dengan amplop beasiswa di tangan. Mata masih basah.
Di koridor, Ismi, Andra, sama Leonardo udah nunggu. Mereka tau Dyon dipanggil.
"Gimana?" tanya Ismi cemas.
Dyon tunjukin amplop. Senyum lebar meskipun masih nangis.
"Gue... gue dapet beasiswa. Beasiswa penuh."
Hening sebentar.
Terus...
"YEAAYYY!" Andra teriak, peluk Dyon, angkat dari tanah, puter puter.
"Congratulations, Bro!" Leonardo ikut peluk.
Ismi nangis bahagia, peluk Dyon dari samping. "Aku... aku bangga sama kamu. Bangga banget."
Mereka berempat peluk bareng. Di koridor sekolah. Nggak peduli orang orang liat.
Dyon... akhirnya ngerasain gimana rasanya... dihargai.
Bukan karena uang. Bukan karena status.
Tapi karena usaha. Karena kerja keras.
Dan itu... itu terasa lebih berharga dari apapun.
***
Malam itu, di gubuk, Dyon duduk di kasur sambil pegang surat beasiswa. Baca berkali kali. Nggak percaya ini nyata.
Dia lihat foto orang tuanya di dinding.
"Mama... Papa," bisiknya sambil senyum, air mata turun, "Dyon... Dyon mulai wujudin mimpi. Dyon dapet beasiswa. Dyon... Dyon akan kuliah. Jadi arsitek. Kayak yang Dyon pernah bilang ke Mama dulu."
Dia peluk foto itu. Erat.
"Terima kasih udah jadi orang tua terbaik. Meskipun... meskipun kalian udah nggak ada. Tapi... tapi Dyon ngerasa kalian selalu ada. Di hati Dyon."
Malam itu, Dyon tidur dengan senyum.
Mimpi tentang masa depan yang cerah.
Tentang kuliah.
Tentang jadi arsitek.
Tentang... Ismi.
***
BERSAMBUNG
***
MIMPI MULAI TERWUJUD
dri andri chapter 33
"Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Ketika dunia bilang kita tidak bisa, buktikan dengan perbuatan bahwa kita bisa. Dan aku mulai melihat cahaya di ujung terowongan yang gelap."
"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Maka bersabarlah dan teruslah berusaha, karena Allah tidak akan menyia nyiakan usaha orang orang yang berusaha."