Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 The Forced Covenant
Hari pemakaman berlangsung di bawah guyuran hujan gerimis yang seolah ikut meratapi kepergian Eleanor Caelum. Liora berdiri di barisan paling belakang, terbungkus mantel hitam besar yang menyembunyikan tubuhnya yang kian ringkih. Ia menangis tersedu-sedu, membiarkan air matanya bercampur dengan air hujan. Baginya, Eleanor bukan sekadar majikan, melainkan satu-satunya orang yang memberinya rasa "rumah".
Leo, yang berdiri di baris depan dengan tatapan kosong, sama sekali tidak menoleh. Saat prosesi pemakaman selesai, ia melangkah pergi begitu saja melewati Liora tanpa satu kata pun, meninggalkan gadis itu bersimpuh di atas tanah basah di depan nisan Eleanor.
Satu Bulan Kemudian.
Kondisi fisik Liora mulai membaik berkat perawatan diam-diam dari Jacob dan kekuatan hatinya untuk bertahan hidup. Namun, ketenangan yang baru saja ia rasakan hancur seketika saat pintu kontrakannya didobrak paksa oleh dua pria berbadan tegap.
Tak lama kemudian, Leo melangkah masuk. Penampilannya dingin, lebih kaku dari biasanya, dengan aura otoriter yang mencekik ruangan kecil itu.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" Liora bangkit dengan waspada.
"Kemasi barang-barangmu. Kau kembali ke mansion hari ini," perintah Leo tanpa basa-basi.
"Tidak. Saya sudah bilang, tugas saya sudah selesai. Nyonya sudah pergi, dan saya ingin memulai hidup saya sendiri," balas Liora tegas.
Leo melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Liora. "Ibu meninggalkan pesan terakhir sebelum ia menghembuskan napas. Ia ingin aku menjagamu. Dan caranya adalah... kita akan menikah."
Liora tertegun, dunianya seolah berputar. "Menikah? Anda gila? Kita saling membenci! Saya tidak akan pernah setuju!"
"Persetujuanmu bukan bagian dari rencana ini," desis Leo. Ia memberi isyarat dengan tangannya.
Dalam sekejap, para pengawal Leo mulai mengemasi semua barang milik Liora buku-buku usangnya, pakaiannya yang sederhana, hingga barang-barang pribadinya dan membawanya keluar ke dalam mobil box yang sudah menunggu.
"Hentikan! Jangan sentuh barang-barang saya!" pekik Liora mencoba menghalangi mereka, namun Leo mencengkeram lengannya dengan kuat.
"Aku sudah berjanji pada Ibu di detik terakhir hidupnya. Aku tidak akan membiarkan arwahnya tidak tenang hanya karena keras kepalamu," ucap Leo dingin. "Kau akan menikah denganku, Liora. Kau akan menjadi Nyonya Caelum, entah kau suka atau tidak. Itu adalah harga yang harus kau bayar karena telah masuk ke dalam kehidupan Ibuku."
Liora meronta, air mata kemarahan mulai menggenang. "Ini bukan penjagaan, ini penculikan! Anda hanya ingin memuaskan ego Anda dengan mengurung saya kembali!"
"Sebut saja sesukamu," balas Leo datar. "Jacob, bawa dia ke mobil. Pastikan semua barangnya sudah ada di kamar utama mansion."
Liora diseret paksa meninggalkan kontrakan kecilnya. Ia menatap nanar ke arah kamarnya yang kini kosong melompong. Ia merasa terjebak dalam sangkar yang lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya. Leo menikahinya bukan karena cinta, melainkan karena sebuah janji suci yang ironisnya diberikan oleh wanita yang nyawanya diselamatkan oleh Liora sendiri.
Di dalam mobil yang melaju menuju mansion, Liora hanya bisa terdiam menatap jalanan. Ia merasa takdir sedang menertawakannya; ia memberikan hatinya untuk Eleanor agar wanita itu hidup, namun kini ia harus memberikan seluruh sisa hidupnya untuk menjadi tawanan pria yang paling ia benci di dunia.
"Pernikahan ini adalah rantai emas yang ditempa oleh janji kematian dan dibalut dengan kebencian yang murni."
"Leo melaksanakan wasiat ibunya seperti menjalankan kontrak bisnis; dingin, tanpa perasaan, dan penuh paksaan."
"Liora menyadari bahwa memberikan hidupnya untuk Eleanor berarti menyerahkan kebebasannya kepada sang monster."
"Di mata Leo, Liora adalah beban yang harus ia pikul, sementara bagi Liora, Leo adalah badai yang tak pernah usai menghancurkan dunianya."