Dina Aurelia, seorang wanita berusia 24 tahun yang harus menerima kenyataan pahit hamil anak mantan pacarnya.
Dina mencoba meminta pertanggungjawaban kepada Ernando Ari, mantan kekasihnya. Akan tetapi, justru penolakan yang diterima Dina. Nando tak mengakui anak yang dikandung Dina dan justru menuduh Dina telah bermain dengan pria lain.
"Tidak, aku tak pernah melakukan itu padamu! Mengapa kamu melakukan fitnah padaku? Pasti anak itu bukan anak ku, tetapi anak dari pria lain. Kau tau kan kalau aku akan menikahi wanita yang aku cinta, mana mungkin aku melakukan hal itu padamu."
- Ernando Ari -
"Baiklah, jika kau tak mau mengakuinya. Aku tak masalah. Namun, satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah menyesal di kemudian hari, jika anak ini lahir ke dunia tak mengakui kamu sebagai Ayahnya.
- Dina Aurelia -
Bagaimana nasib Dina? Jalan apa yang akan Dina pilih? Akankah Dina ikhlas atau memilih berjuang mendapatkan Nando, walau Nando telah berstatus suami orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Rian
"Anak Ayah pasti sudah kenyang, sekarang bobo ya! Biar Bundanya juga bisa istirahat," ujar Rian sambil merapikan tempat tidur Dina kembali dan menyelimuti Dina.
"Selamat tidur, semoga tidur yang nyenyak."
Sebenarnya Rian ingin sekali memberikan kecupan di kening Dina. Namun, dirinya sadar kalau saat ini dirinya belum resmi menikah. Lagi pula, setelah menikah. Rian tak akan menyentuh Dina sampai anak itu lahir ke dunia.
Bukannya memejamkan mata, diam-diam Dina justru memperhatikan Rian. Dia masih merasa bingung dengan apa yang dilakukan Rian kepadanya. Setau dia, Rian itu memiliki sifat cuek. Namun, kini dirinya benar-benar berubah.
"Hayo lagi mikirin apa? Sudah sana tidur! Tenang saja, aku tidak akan menerkam kamu," ledek Rian membuat wajah Dina memerah menahan rasa malu.
Untuk menutupi perasaan malunya, Dina berpura-pura memejamkan matanya. Hingga akhirnya dia benar-benar tertidur pulas. Rian yang belum tidur saat itu, hanya bisa tersenyum melihat wajah Dina yang begitu menggemaskan.
"Aku akan menerima kamu apa adanya, walaupun kondisi kamu saat ini sudah berbeda. Setelah kamu boleh pulang, aku akan bicarakan sama kedua orang tua aku tentang rencana pernikahan kita. Semoga orang tua aku bisa menerima kamu. Untuk kebaikan, aku tak akan cerita kepada orang tua aku kalau saat ini kamu sedang mengandung anak laki-laki lain," gumam Rian dalam hati.
Melihat Dina yang sudah tertidur pulas, Rian pun mulai membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan Dina. Saat ini Rian tinggal di sebuah perumahan yang letaknya cukup jauh dari kantor, sehingga harus memakan waktu 1,5 jam dengan menggunakan mobil dan 40 menit jika menggunakan motor.
Rian memilih untuk hidup mandiri, dan membeli sebuah rumah dari gaji yang dia kumpulkan selama bekerja di perusahaan itu. Meskipun bukan di kawasan elit, tetapi rumahnya sangat nyaman dan bersih. Rumah dengan bentuk minimalis menjadi pilihannya.
"Kasihan kamu. Demi menunggui aku di sini kamu rela menginap dan mengeluarkan uang untuk membeli kebutuhan kita selama di sini," gumam Dina saat dirinya terbangun dan hendak buang air kecil.
Dina berusaha turun dengan pelan-pelan. Agar Rian tidak terbangun. Dia tak ingin mengganggu Rian dari tidurnya. Dina berusaha untuk melakukannya sendiri.
"Awww," ringis Dina yang merasa sakit, karena jarum infusnya ketarik kakinya saat hendak turun dari ranjang. Membuat infus itu terlepas dan membuat darah mengalir dari tangannya. Mendengar ada pergerakan dan mendengar suara wanita merintih, membuat Rian terkaget dan langsung membuka matanya.
Rian terlihat panik, melihat tangan Dina bercucuran darah segar. Rian langsung berlari keluar mencari perawat yang bertugas, untuk segera melakukan tindakan untuk wanita yang dia cintai. Setelah memberitahu kepada perawat yang bertugas, Rian segera kembali ke ruangan Dina.
"Sayang, kamu kenapa? Mengapa bisa seperti ini," tanya Rian lembut. Rian mencoba memberikan pertolongan pertama. Dia langsung bergegas mencari sapu tangannya untuk menghentikan darah yang terus mengalir.
Dina menceritakan kepada Rian asal muasal penyebab hal itu terjadi. Dia tidak sengaja tersangkut selang infus, saat dirinya hendak turun. Dina menjelaskan kalau dirinya ingin sekali buang air kecil.
"Ya ampun, Yang. Lain kali kamu jangan seperti itu lagi ya! Ingat kamu itu sedang hamil, harus lebih berhati-hati. Untung saja tak terjadi dengan kandungan kamu. Kamu tau tidak, betapa paniknya aku tadi melihat darah bercucuran mengalir dari tangan kamu," ungkap Rian.
"Lain kali kamu minta tolong aku ya, jangan lakukan sendiri lagi! Fungsinya aku di sini, untuk menjaga kamu. Kamu tak perlu sungkan meminta tolong kepadaku," cerocos Rian dan Dina hanya menganggukkan kepalanya.
"Terus sekarang kamu masih ingin buang air kecil, sini aku bantu," ujar Rian, dan Dina mengatakan tidak. Keinginan dirinya untuk buang air kecil sudah hilang begitu saja.
"Tidak perlu takut aku bantu. Aku tidak akan mengintip," goda Rian.
Bukannya takut yang Dina rasakan, entah mengapa dirinya merasa malu dengan Rian. Dia merasa minder, karena Rian sudah tahu tentang dirinya. Percakapan mereka harus terhenti, karena dua perawat datang menghampiri Dina.
"Ibu masih merasa pusing, lemas tidak?" tanya salah seorang perawat.
Dina mengatakan tidak. Dia sudah merasa baik. Perawat akan mencoba konsul ke Dokter yang bertugas memeriksa Dina. Kedua perawat tersebut, tak lagi memasangkan infus ke tangan Dina untuk sementara waktu sampai Dokter datang memeriksa Dina.
"Semoga hari ini aku sudah diperbolehkan pulang," ujar Dina.
"Padahal aku justru berharap kamu bisa dirawat lama, agar kita bisa terus bersama berduaan," ujar Rian membuat wajah Dina memerah menahan perasaan malu.
Untuk menghilangkan perasaan malunya, Dina mencoba mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Dina berniat menghubungi Sania. Rian hanya melirik ke arah Dina yang asyik memainkan ponselnya. Suasana terasa hening.
"Aku mau mandi. Bajunya di mana? Dari kemarin tidak mandi, tubuh rasanya lengket banget," ujar Dina yang kini mencoba menuruni ranjang dan menghampiri Rian menanyakan baju gantinya.
"Mandi sendiri apa mau aku mandiin," goda Rian.
"Huh maunya," sahut Dina.
Rian memang bertujuan hanya ingin menggoda Dina. Bukan semata-mata benar ingin memandikan Dina. Meskipun dirinya seorang laki-laki dewasa, tetapi dia masih memiliki tata krama. Dina bukanlah muhrimnya.
Dina keluar dari kamar mandi dengan menggunakan dress yang Rian belikan. Ukurannya sangat pas, termasuk pakaian dalam yang dibelikan Rian untuk Dina. Dirinya kini sudah terlihat lebih segar.
"Pas semua," tanya Rian. Dina menganggukkan kepalanya dengan malu. Karena Rian membelikan pakaian dalam untuk Dina.
"Aku suka kamu memakai dress pilihan aku. Kamu terlihat semakin cantik. Warnanya sangat cocok dengan kulit putih kamu," puji Rian, membuat Dina melayang ke angkasa mendapatkan pujian dari Rian.
Rian pamit kepada Dina untuk membelikan makanan untuk mereka berdua sarapan. Rian menanyakan terlebih dahulu kepada Dina, apa yang Dina inginkan. Rian berusaha untuk mewujudkannya.
"Aku ingin makan gado-gado pakai lontong, yang pedas," ujar Dina sangat antusias.
"Aku tidak setuju. Kalau siang tidak masalah. Ini masih sangat pagi. Nanti yang ada perut kamu sakit gimana. Ingat sekarang ini sudah ada dede bayi, kamu tak boleh egois," ujar Rian.
Rian sangat menyayangi Dina. Meskipun bayi yang dikandungan Dina bukan anaknya. Dia sudah menerima Dina apa adanya.
Rian datang dengan menenteng dua bungkus plastik untuk dirinya sarapan bersama Dina. Pilihan Rian jatuh pada bubur ayam dengan tusukan sate. Sedangkan untuk dirinya, dia memilih untuk membeli nasi uduk dan juga gorengan. Rian juga membelikan Dina aneka macam kue untuk Dina mengemil.