Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Arsip Hitam
Gagang pedang Bailong yang patah itu terasa panas di genggaman Li Wei, berdenyut selaras dengan sirkuit sarafnya yang mulai terbakar akibat overload energi Void. Di depannya, AI Sentinel berukuran raksasa itu mulai menggerakkan lengan meriamnya, mengeluarkan bunyi dengung magnetik yang memekakkan telinga. Pendar merah dari sensor matanya mengunci tepat pada dada Li Wei.
"Chen Xi, jangan berhenti! Berapa lama lagi?" teriak Li Wei tanpa mengalihkan pandangan dari ancaman logam di depannya.
"Tujuh menit! Enkripsi firewall ini menggunakan protokol tingkat tinggi, aku butuh sinkronisasi penuh dari terminal pusat!" balas Chen Xi, jemarinya bergerak secepat kilat di atas proyeksi virtual yang berkedip-kedip di depannya.
"Aku akan menahannya. Xiao Hu, pastikan jalur daya ke terminal tetap stabil!"
"Siap, Kak! Aku sedang menjepit sirkuit bypass-nya agar tidak meledak!" Xiao Hu menjawab dengan suara gemetar, tangannya yang mungil memegang tang pengunci pada kabel-kabel yang mengeluarkan percikan listrik biru.
Robot penjaga itu melangkah maju, lantai beton di bawah kakinya retak akibat beban tonase logam berat. Dengan satu gerakan mekanis yang kaku, ia melepaskan tembakan energi kinetik pertama. Li Wei tidak menghindar. Ia mengangkat sisa bilah pedangnya, membiarkan energi ungu pekat menyelimuti dirinya dalam bentuk perisai kinetik yang tipis namun padat.
Dentuman keras bergema.
Li Wei terseret mundur beberapa meter, tumit sepatunya meninggalkan parutan dalam di lantai ruang arsip. Dadanya terasa sesak, oksigen di dalam bunker yang menipis membuat paru-parunya mulai protes. Namun, ia tidak boleh tumbang sekarang. Di belakangnya, kebenaran tentang klan Li sedang ditarik dari kegelapan.
"Subjek teridentifikasi sebagai ancaman biologis kelas empat," suara AI Sentinel bergema datar, memantul di antara rak-rak data yang berdebu. "Memulai protokol pembersihan termal."
"Sini kau, rongsokan!" geram Li Wei. Ia berlari maju, memanfaatkan momentum dari getaran lantai. Saat meriam robot itu bersiap menembak lagi, Li Wei melakukan manuver rendah, menyapu kaki logam robot tersebut dengan tebasan energi Void.
Percikan api memancar saat bilah patah itu bergesekan dengan baja anti-termal. Robot itu goyah, namun sistem keseimbangannya segera melakukan kompensasi. Di tengah kekacauan itu, terminal di belakang Chen Xi mengeluarkan suara bip panjang yang ritmis.
"Li Wei! Rekamannya mulai terbuka!" seru Chen Xi.
Di tengah ruangan, sebuah proyeksi hologram raksasa muncul. Cahaya biru pucatnya menerangi wajah Li Wei yang penuh jelaga dan luka gores. Di sana, berdiri sesosok pria dengan jubah militer tua, wajahnya sangat mirip dengan Li Wei namun dengan gurat kelelahan yang lebih mendalam. Itu adalah Lin Li, sang ayah.
"Jika rekaman ini aktif, artinya protokol pengkhianatan klan telah dimulai oleh Kekaisaran," suara hologram itu terdengar statis, namun kehangatan ayah yang telah lama hilang tetap terasa di sana.
Li Wei mematung sesaat, membiarkan robot penjaga itu kembali berdiri tegak. "Ayah..."
"Putraku, kau harus tahu bahwa loyalitas kita selama ini adalah tumbal," lanjut rekaman Lin Li. "Project Zero bukan dibuat untuk keamanan Kekaisaran. Itu adalah pabrik untuk memanen frekuensi saraf murni dari garis keturunan kita. Ibumu... dia bukan tewas di medan perang. Dia adalah spesimen pertama yang berhasil mencapai sinkronisasi absolut."
"Apa katamu?" Li Wei mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Selama ini mereka membohongiku? Mereka menyuruhku membunuh orang-orang di sektor luar dengan alasan martabat klan, sementara mereka menyiksa ibuku?"
"Li Wei, awas!" teriak Xiao Hu.
Robot penjaga itu mengayunkan lengan bajanya yang masif ke arah kepala Li Wei. Dengan insting yang murni didorong oleh kemarahan, Li Wei menangkap lengan logam itu dengan tangan kirinya. Suara tulang yang berderak terdengar, namun ia tidak melepaskannya. Energi ungu dari sarafnya meledak keluar, merambat masuk ke dalam sistem robot, mencoba membajak paksa sirkuit logika mesin tersebut.
"Kau... tidak akan... menyentuh data ini!" teriah Li Wei, giginya bergeletuk menahan beban komputasi yang menghantam otaknya melalui kontak fisik tersebut.
"Dekripsi mencapai delapan puluh persen!" Chen Xi berkeringat deras, wajahnya pucat karena tekanan mental yang luar biasa. "Li Wei, hentikan! Jangan menyerap energi AI itu, sarafmu akan hancur!"
"Biarkan saja! Jika aku harus menjadi monster untuk menghancurkan mereka, maka biarlah!"
Di layar hologram, Lin Li terus berbicara, mengabaikan pertempuran yang terjadi di hadapannya. "Kekaisaran butuh inang murni untuk AI Tian-Ming. Mereka tidak bisa menciptakan kesadaran buatan tanpa landasan emosi manusia. Klan Li dipilih karena resonansi saraf kita adalah yang paling stabil di dunia. Kita bukan prajurit mereka, Li Wei. Kita adalah baterai organik mereka."
"Zhao Kun... dia tahu semua ini?" tanya Li Wei pada bayangan ayahnya, suaranya parau dan penuh luka.
"Zhao Kun adalah arsiteknya," jawab hologram itu seolah bisa mendengar pertanyaan anaknya. "Dia yang menyerahkan ibumu ke laboratorium ini sepuluh tahun lalu sebagai bukti loyalitasnya kepada Kaisar. Dia mentor yang mengajarimu cara memegang pedang, sambil mencuci tangannya dari darah keluargamu sendiri."
Dunia di sekitar Li Wei seolah berputar. Semua pengabdiannya, semua nyawa yang ia ambil atas perintah Zhao Kun, kini terasa seperti tumpukan dosa yang tidak akan pernah bisa ditebus. Rasa sakit di bahunya akibat luka bakar dari duel sebelumnya kembali berdenyut, namun kali ini rasa sakit itu kalah jauh dengan kehancuran di dalam dadanya.
"Aku akan membunuhnya," bisik Li Wei. "Aku akan meruntuhkan seluruh istana kristal itu dengan tanganku sendiri."
"Li Wei, terminalnya mulai overload!" Xiao Hu berteriak panik saat asap mulai mengepul dari panel daya. "Sistem keamanannya mencoba menghapus diri sendiri untuk melindungi rahasia ini!"
"Chen Xi, ambil apa saja yang bisa kau bawa!" perintah Li Wei sambil mendorong robot penjaga itu dengan seluruh kekuatannya hingga menabrak rak data di seberang ruangan. "Xiao Hu, cabut harddrive-nya sekarang!"
"Sedikit lagi... sinkronisasi selesai!" Chen Xi mencabut modul data kristal tepat saat terminal itu mengeluarkan percikan api besar dan mati total.
Ruangan itu mendadak menjadi sangat gelap, hanya menyisakan lampu darurat merah yang berputar lambat. Sosok hologram sang ayah menghilang dalam satu kedipan statis, meninggalkan kata-kata terakhir yang menggantung di udara: "Jangan biarkan mereka mengambil jiwamu, Putraku."
Li Wei berdiri di tengah kegelapan, napasnya tersengal-sengal. Tangannya gemetar hebat, sebuah tremor saraf yang menandakan bahwa ia telah melampaui batas penggunaan energi Void. Bau kertas tua yang hangus dan aroma ozon yang tajam memenuhi indra penciumannya.
"Kita sudah mendapatkan apa yang kita cari," bisik Chen Xi sambil mendekati Li Wei. Ia menyentuh bahu pria itu dengan ragu. "Kita harus pergi sebelum tempat ini menjadi kuburan kita."
"Dia memberikan ibuku kepada mereka, Chen Xi," Li Wei menoleh, matanya yang biasanya dingin kini tampak basah dan penuh bara dendam. "Sepuluh tahun aku memanggilnya guru. Sepuluh tahun aku menjadi anjingnya."
"Kita akan membalasnya, Kak Li," Xiao Hu memeluk tas berisi data kristal itu erat-erat. "Tapi tidak sekarang. Kita tidak bisa menang jika kita terkubur di sini."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong luar. Itu bukan langkah kaki robot, melainkan langkah sepatu militer yang teratur. Suara logam yang bergesekan dengan lantai beton bergema, mendekat ke arah pintu ruang arsip yang sudah rusak.
Li Wei mengangkat bilah pedangnya yang patah, memaksakan tubuhnya untuk kembali ke mode tempur. "Seseorang telah menemukan kita."
"Bukan sembarang orang," gumam Chen Xi sambil melihat sensor pada tabletnya yang kembali menyala. "Tanda panas ini... mereka menggunakan teknologi kamuflase magnetik milik faksi Naga Laut. Ini adalah unit pembunuh bayaran profesional."
"Feng Mian," desis Li Wei. "Dia tidak membuang waktu untuk mengklaim data yang tersisa."
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu baja yang telah menganga. Tiga sosok bayangan masuk dengan gerakan yang sangat efisien, tubuh mereka seolah menyatu dengan kegelapan berkat jubah kamuflase magnetik yang membelokkan cahaya. Hanya pendar tipis dari monokel taktis mereka yang menunjukkan keberadaan para pembunuh dari faksi Naga Laut tersebut.
"Target terdeteksi. Li Wei, subjek pelarian Sektor 7," suara salah satu dari mereka terdengar mekanis melalui modulator suara. "Ambil modul datanya. Eliminasi saksi mata."
"Xiao Hu, merunduk di belakang rak!" perintah Li Wei.
Tanpa menunggu serangan dimulai, Li Wei melesat maju. Meskipun tubuhnya didera tremor saraf akibat overload sebelumnya, kemarahan yang meluap setelah mendengar rekaman ayahnya memberikan energi cadangan yang mengerikan. Ia menghujamkan bilah Bailong yang patah ke arah pembunuh terdekat.
Clang!
Pisau magnetik lawan beradu dengan sisa logam pedang Li Wei. Percikan api menerangi wajah Li Wei yang tampak seperti iblis di tengah keremangan. Ia tidak lagi bertarung dengan teknik perwira yang rapi; gerakannya kasar, penuh dengan niat membunuh yang murni.
"Kalian bekerja untuk Feng Mian?" geram Li Wei sambil memutar tubuhnya, melepaskan tendangan yang diperkuat energi Void ke dada lawan. "Katakan pada tuanmu, data ini tidak akan pernah kembali ke tangannya!"
"Kami tidak menerima perintah dari mayat," balas pembunuh itu, sambil menarik pelatuk senapan stun jarak dekat.
Li Wei berguling di lantai, menghindari kilatan listrik yang menyambar rak di belakangnya hingga tumpukan cakram data kristal hancur berantakan. Di sudut lain, Chen Xi tidak tinggal diam. Ia melemparkan sebuah granat asap kognitif yang ia rakit dari sisa komponen terminal.
Puff!
Asap putih tebal memenuhi ruangan, namun ini bukan asap biasa. Asap ini mengandung partikel mikro yang mengacaukan sensor saraf dan kamuflase magnetik musuh. Sosok-sosok pembunuh itu tiba-tiba muncul ke permukaan, jubah mereka berkedip-kedip sebelum mati total.
"Sekarang, Li Wei!" teriak Chen Xi.
Li Wei memanfaatkan kebingungan lawan. Ia melompat dari atas meja besi, menghantamkan tinjunya yang diselimuti denyut ungu ke helm salah satu pembunuh. Kaca helm itu pecah, dan pria di dalamnya tumbang tanpa sempat bersuara.
Namun, sisa tenaga Li Wei mulai habis. Penglihatannya mulai kabur, digantikan oleh bayangan statis berwarna merah—gejala awal kerusakan saraf L7 yang ia paksakan tadi. Ia berlutut di atas satu kaki, menggunakan pedangnya sebagai penyangga.
"Kak Li! Kita harus pergi!" Xiao Hu berlari keluar dari persembunyiannya, menarik lengan Li Wei. "Pintu keluar darurat di belakang rak sejarah sudah terbuka!"
Chen Xi melepaskan tembakan perlindungan dengan pistol bio-nya, memaksa dua pembunuh yang tersisa untuk mencari perlindungan di balik pilar beton. "Ayo! Bunker ini akan melakukan penguncian otomatis dalam tiga menit!"
Mereka berlari menembus asap, menyusuri lorong sempit di balik rak-rak tua yang kini terasa seperti labirin kematian. Li Wei bisa merasakan detak jantungnya berpacu liar, setiap langkahnya terasa seperti menginjak duri panas. Kebenaran bahwa ia hanyalah sebuah 'baterai organik' bagi Kekaisaran terus terngiang di kepalanya, membakar sisa-sisa kewarasannya.
Saat mereka mencapai tangga darurat yang menuju ke permukaan, Li Wei berhenti sejenak dan melihat kembali ke arah ruang arsip yang kini mulai runtuh perlahan. Rak-rak data itu jatuh satu per satu, mengubur sejarah klannya yang tragis.
"Semuanya bohong, Chen Xi," bisik Li Wei saat mereka mulai memanjat tangga baja yang dingin. "Semua yang aku bela, semua orang yang aku bunuh... itu semua hanya untuk menyempurnakan penjara bagi ibuku."
Chen Xi berhenti di anak tangga di atasnya, menatap Li Wei dengan tatapan yang kini lebih dari sekadar rekan pelarian. Ada rasa simpati yang mendalam, sebuah jangkar emosi yang mencoba menarik Li Wei dari jurang keputusasaan. "Kau bukan alat mereka lagi, Li Wei. Sekarang kau tahu kebenarannya. Itu adalah senjata paling mematikan yang kau miliki."
Li Wei terdiam, jemarinya yang berdarah mencengkeram erat pegangan tangga. Ia menarik napas panjang, menghirup udara apek yang terasa berat di paru-parunya. "Aku bukan lagi perwira Kekaisaran. Aku adalah hantu yang akan menghantui mimpi buruk Zhao Kun."
Mereka terus memanjat hingga mencapai pintu keluar rahasia di lereng gunung. Saat pintu itu terbuka, angin gunung yang membeku menyambut mereka. Salju kimia masih jatuh, namun di kejauhan, lampu-lampu Megacity Neo-Naga berkedip seperti mata predator yang menunggu mangsa.
Di dalam tas yang dipeluk Xiao Hu, data kristal "Project Zero" berdenyut lemah dengan cahaya biru, menyimpan rahasia yang akan mengubah arah perang ini selamanya. Namun bagi Li Wei, beban yang ia bawa jauh lebih berat daripada sekadar data; itu adalah sumpah seorang putra yang baru saja kehilangan dunianya, namun menemukan tujuan hidup yang baru.
Langkah kaki yang berat kembali terdengar dari bawah tangga, menandakan bahwa para pembunuh itu belum menyerah. Dinding bunker bergetar hebat saat sistem penghancuran diri mulai aktif di tingkat bawah.
"Jangan menoleh ke belakang," ucap Chen Xi tegas. "Masa depan kita ada di depan sana, di dalam perut naga itu."
Li Wei menatap kota yang gemerlap itu dengan tatapan kosong yang membeku. "Aku datang untukmu, Zhao Kun."